TARGET

TARGET
BAB 42



Sepanjang pelajaran berlangsung, Gista sama sekali tidak memperhatikan guru yang sedang menjelaskan. Ia sibuk memainkan bolpen sembari bertopang dagu. Matangnya menatap buku yang tengah ia coret-coret asal, sementara pikirannya berkelana entah ke mana.


Waktu terasa berjalan lambat dan Gista sangat bosan harus duduk manis di dalam kelas seperti ini. Namun perhatian Gista seketika teralihkan ketika ponselnya bergetar, ia mengambilnya dari dalam tas.


Gista mengernyitkan dahi saat mendapat pesan dari nomor tak dikenal.


Unknown


Lo bisa ambil sekarang? Ponselnya disadap, sialnya juga dilacak. Jadi lo gak bisa ambil di tempat gue, kebetulan gue ada di dekat sekolah lo. Jadi mending lo temuin gue sekarang.


Tanpa pikir panjang Gista bergegas keluar, namun baru akan melangkah ke pintu suara guru lebih dulu menginterupsinya.


"Gabriella Gista Andromeda!"


Gista berhenti, memutar bola matanya lalu berbalik menghadap guru yang kini tengah menatapnya dengan mata setajam elang.


"Mau ke mana kamu?" Suara guru perempuan itu terdengar rendah namun mampu mengintimidasi lawan bicaranya.


"Toilet," jawab Gista.


"Apa kamu tidak lihat ada saya di sini?" Suara guru perempuan itu naik satu oktaf, matanya berkilat menahan amarah.


"Lihat." Gista tampak tenang, sama sekali tak takut dengan perubahan ekspresi guru itu.


"Lalu, kenapa kamu gak izin dulu sama saya?"


"Oh, lupa. Kalo gitu saya izin ke toilet Bu. Kebelet." Gista mengulas senyum lebar, lalu berbalik dan segera keluar.


Gista hanya melambaikan tangannya saat guru perempuan itu berteriak memanggilnya, Gista tak peduli. Ia terus berlari menelusuri koridor, beruntung tak ada guru yang melintas jadi Gista dengan mudah mencapai  belakang sekolah.


Susah payah Gista memanjat tembok, sebelum akhirnya ia meloncat keluar area sekolah. Gista langsung naik taksi, menuju tempat yang sudah dikirimkan oleh informannya.


Gista mengernyitkan dahi saat tiba di lokasi. Tempat bangunan tua yang sudah tidak digunakan. Gista turun dari taksi, celingukan ke sana-sini. Memastikan tempat ini aman. Ia segera menelepon informannya.


"Halo, gue udah sampai nih," ucap Gista saat sambungan telepon diangkat.


"Arah jam dua belas."


Gista berbalik, ia melangkah menuju lorong gelap. Di sana, pria itu tengah duduk sembari menyesap puntung rokok di tangannya.


"Mana?" Gista menyodorkan tangannya ke depan pria itu.


Pria itu segera mengambil ponsel di saku jaketnya dan memberikannya pada Gista. "Lo musti hati-hati, lawan lo bukan orang sembarangan."


"Lo temuin sesuatu?" tanya Gista, mengabaikan peringatan pria itu.


Pria itu mengangguk, kembali menyesap rokoknya sebelum berkata, "Kayanya dia emang udah nyiapin semua bukti itu sejak awal. Ponselnya di sadap, di lacak juga, jadi lo musti hati-hati saat hidupin. Tadi pagi rumah gue disatroni, untungnya gue berhasil kabur. Sial banget, mereka semua ngehancurin aset-aset gue!"


"Lo total aja semua, gue bakal ganti semua kerugiannya plus bayaran buat jasa lo. Thank's, gue cabut dulu." Gista sudah akan berbalik saat pria itu menahannya. "Why?"


"Gue cuma mau peringatin lo sekali lagi, jangan gegabah. Lo tahu kenapa polisi tutup kasus itu?" Gista diam, memperhatikan wajah pria itu yang tampak serius. "Karena mereka membungkamnya. Mereka punya banyak koneksi."


Gista menghela napas panjang, melepaskan tangan pria itu dari pergelangan tangannya. "Lo tenang aja, gue tahu musti gimana. Oh ya, jangan lupa lo kirim tagihannya ke gue."


Pria itu mengembuskan napas kasar, setidaknya ia sudah memperingatkan Gista. Ia pun memilih pergi dari tempat itu setelah Gista lebih dulu pergi.


——————


Gista keluar dari lift, menapakkan kakinya di lorong menuju unit apartemen Alisya. Berbekal informasi dari Richo akhirnya Gista tiba di depan pintu unit apartemen Alisya. Gista harap unitnya belum dikosongkan.


Gista melirik sekitarnya, melihat ke atas mencari letak CCTV. Sial, CCTV tepat mengarah padanya, Gista memutar otak untuk menutupi CCTV itu.


Gista celingukan, mengawasi keadaan sekitar. Sementara tangannya terus bekerja, hingga akhirnya Gista berhasil membukanya. Gista segera masuk sebelum ada orang yang melihat.


Gista mengedarkan pandangannya ke segala arah, apartemen Alisya tampak rapi. Gista segera menuju ke kamar Alisya, ia mulai mencari buku agenda yang dimaksud Richo. Gista terus mencari, membuka satu persatu laci, sampai mengcak-ngacak isi lemari tapi tak kunjung ditemukan.


Gista mulai pasrah, hingga netranya melihat kotak yang ada di atas lemari, tersembunyi di balik boneka besar. Gista menarik kursi ke dekat lemari, ia berusaha mengambil kotak itu. Tangannya berusaha menggapai kotak.


"Issh, tinggi banget si!" gerutu Gista. Ia terus menggapai-gapaikan tangannya tapi kotak itu justru terjatuh saat Gista berusaha meraihnya.


Gista mengerjapkan matanya saat isi di dalam kotak bertebaran jatuh ke lantai. Gista terdiam, memandangi satu persatu barang-barang itu.


Testpack?


Gista turun dari kursi, ia mengambil testpack yang tergeletak di lantai. Dahi Gista mengkerut ketika melihat dua garis merah di testpack.


"Alisya beneran hamil?" gumamnya.


Gista segera mengambil satu persatu barang yang berjatuhan, Gista kembali terdiam saat melihat foto-foto Alisya bersama Olan. Mereka tampak bahagia, tersenyum lepas. Tapi Gista bisa melihat jika senyuman Olan terlihat sangat palsu.


Gista juga menemukan buku agenda yang dimaksud Richo, buku itu bercampur dengan barang-barang yang tersimpan di dalam kotak. Gista duduk di tepi ranjang, membuka buku agenda milik Alisya.


25 Januari 2019, Hotel Megaprima - William Tanubrata


Nama itu begitu tidak asing bagi Gista, ia berpikir sejenak mengingat-ingat nama yang cukup familiar.


Olander William Tan.


Gista langsung mengambil ponselnya, men-searching nama pemilik yayasan sma Pelita dan yang muncul nama yang sama dengan di buku agenda.


William Tanubrata, pemilik yayasan sma Pelita. Papa Olan?


Gista tak habis pikir, jadi selama ini mr. X adalah papanya Olan. Pantas saja kepala sekolah menutupi kasus Alisya, semua ini karena papa Olan ada hubungannya.


Gista menyeringai, semua yang tercatat di buku agenda sangat jelas. Semua tertulis secara terperinci, bahkan ada catatan pertemuan antara Alisya dan kepala sekolah, juga dengan madam Alexa.


"Perfect," gumam Gista.


Tinggal mencari bukti di ponsel Alisya, maka Gista bisa menjebloskan mereka semua ke penjara. Gista terdiam, tiba-tiba ada sesuatu yang mengganjal dipikirannya.


Olan.


Ya, Gista masih ragu dengan cowok itu. Gista juga belum bisa menyimpulkan  siapa pelakunya, mungkinkah Olan? Tapi apa motifnya? Apa Olan mungkin tahu jika Alisya berhubungan dengan papanya?


Pikiran Gista mulai berkcamuk, Satu-satunya cara mengetahui siapa pelakunya adalah dengan cara mengaktifkan ponsel Alisya. Tapi haruskah Gista mengaktifknnya di sini?


Gista tampak bimbang, ia memandangi ponsel Alisya di tangannya. Jika benar ponsel Alisya di lacak, maka Gista akan tertangkap. Tapi bukankah bagus, ia justru bisa menangkap mereka semua.


Ya, Gista bisa memancing mereka semua datang dan mengetahui fakta yang sebenarnya.


Gista sudah akan memencet tombol power saat pintu apartemen terbuka, Gista seketika menoleh, matanya melotot. Gista panik, ia langsung memasukkan ponselnya ke saku rok dan bersembunyi di dalam lemari.


Gista menahan napas, membungkam mulutnya agar tak mengeluarkan suara. Terdengar suara langkah kaki memasuki kamar, Gista semakin gusar. Gista mengintip dari celah lemari, ia bisa melihat siluet seseorang.


Siapa?


Gista sangat penasaran, ia berusaha mengintip untuk melihat siapa orang itu. Gista melotot saat melihat wajah orang itu. Wajah yang sangat Gista kenali.


Olan!