TARGET

TARGET
BAB 32



Sudah satu jam mobil Ragas terparkir di seberang jalan tak jauh dari club Lexus. Ragas yang tak tahu apa-apa mulai jengah berada di sana.


"Gis, ngapain si kita di sini?" tanya Ragas.


"Cari wangsit," jawab Gista sekenanya.


Ragas menoleh, mengembuskan napas kasarnya. "Gue serius, ini kita udah satu jam di sini."


"Lo bosen?" tanya Gista, dia tengah memantau club Lexus memakai teropongnya dari dalam mobil.


"Iyalah, lagian ngapain si lo mantau club siang bolong. Yaudah pasti sepi kaya kuburan," gerutu Ragas.


"Lo bawel banget deh Gas. Ngomong-ngomong lo udah siapin yang gue minta?" Gista menoleh ke samping.


"Udah stand by dari tadi mereka. Emang lo mau ngapain si?" Ragas penasaran, pasalnya Gista meminta Ragas untuk mengumpulkan teman-temannya yang biasa tawuran.


"Jangan bilang lo mau ngajak war?" tebak Ragas setelah tak mendapat jawaban apa pun dari Gista. "Gis!" panggil Ragas, dia mulai kesal karena terus diabaikan.


"Jalan Gas! Jalan!" Gista menepuk-nepuk pundak Ragas. Gista berdecak saat Ragas hanya diam saja. "Gas! Jalan! Ikuti mobil itu, cepetan!" Gista tampak panik.


"Oke, oke." Ragas pun segera menyalakan mobilnya dan mengejar mobil Mercedes yang baru saja melintas.


Mobil Ragas berada di belakang mobil itu, terus mengikutinya. Jalanan yang cukup padat membuat Ragas kesusahan untuk tetap berada di belakang mobil itu.


"Gas, jangan sampai ketinggalan!" Gista terus mengomel setiap kali Ragas hampir kehilangan mobil itu di tengah kemacetan.


"Emang itu siapa si Gis?" tanya Ragas setelah berhasil mengejar dan berada di belakang persis mobil itu.


"Pemilik club," jawab Gista, kini ia fokus pada tablet di tangannya. Seperti biasa Gista selalu membawa tablet itu ke mana-mana.


"Skemanya berubah?" tanya Ragas saat melihat bagan skema di layar tablet.


Gista mengangguk. "Iya, Saga udah kasih tahu semuanya. Jadi gak ada alasan buat curiga sama kalian."


"Tapi kan lo belom cari tahu soal tara sama Alfa? Apa mereka gak perlu dicurigai?" Gista menggeleng.


"Mereka itu terlalu penakut, gak mungkin ngelakuin tindakan sekonyol itu."


"Terus itu kenapa ada nama Olan? Jangan bilang lo curiga sama Olan, katanya lo udah gak curiga sama kita?"


Gista menghela napas sejenak. "Kemarin gue berhasil nangkap orang suruhannya dan lo tahu apa yang gue dapet?" Gista menoleh pada Ragas, cowok itu menggeleng pelan lalu kembali fokus ke depan.


"Emangnya apa yang lo dapet?"


"Selama ini Olan mantau Richo. Gue yakin ada yang dia sembunyiin. Waktu pertama kali gue ketemu dia ...." Gista kembali mengingat kejadian saat ia mengejar Richo ke kelas. "Dia ngelindungi Richo, gue yakin banget kalo dia yang ada di balik ini semua."


Ragas tak paham, dia masih bingung meski Gista sudah menjelaskan semuanya. Masalah ini terlalu rumit, lebih susah dari soal matematika. Kalau bukan demi cinta, Ragas gak mau melangkah sejauh ini. Berkali-kali membahayakan nyawanya sendiri, tapi dia juga tidak bisa membiarkan Gista melakukan semua sendirian apalagi Gista cewek.


"Berapa anak yang stand by?" tanya Gista saat mobil Ragas berbelok memasuki jalan yang sepi.


"Lima puluh lebih, gue si suruh Arka bawa dari luar juga buat antisipasi," jawab Ragas.


"Good. Pake senjata apa? Lo gak nyuruh mereka pake tangan kosong kan?"


"Ya alat tempur biasa yang buat tawuran, minimal pisau lipat sama tongkat baseball dari besi."


"Oke, gue gak perlu khawatir kalau gitu."


Ragas mengernyitkan dahinya. "Maksud lo?"


"Ntar juga lo tahu," ucap Gista, menyeringai ke arah Ragas.


Ragas sempat bergidik melihat senyuman Gista yang entah kenapa terlihat sangat mengerikan. Senyumannya seperti Joker.


——————


Gista turun dari mobil Ragas yang berhenti di sebuah gudang kosong, sepertinya sudah lama tak terpakai. Dia melenggang masuk sambil bersiul diikuti Ragas di belakang.


"Gimana?" tanya Ragas pada Arka yang ada di dekat pintu dan beberapa anak yang tengah di obati.


"Ada tuh di dalem," jawabnya.


"Terus mereka kenapa?" tanya Ragas saat melihat anak-anak yang terluka.


"Mereka ternyata gak sendiri, ada dua mobil yang ngikutin. Tapi untungnya gue bawa pasukan lebih, sialnya sebagian pada kena sajam. Mereka gak tangan kosong." Arka mendecih. "Badan doang gede tapi berantem pake sajam!"


"Tapi aman kan, gak ada yang luka parah?"


"Selow, lo kaya gak pernah liat mereka abis berantem. Ini mah baru luka gores belom kena samurai. Eh tapi mereka tadi bawa pistol tahu," terang Arka.


"Serius?"


Sementara Arka dan Ragas masih berbicara, Gista sudah lebih dulu berjalan ke ruang penyekapan. Dia bisa melihat di depan pintu ada sepuluh orang berbadan besar dengan pakaian serba hitam, mereka semua sudah diikat kencang.


Gista masuk ke ruang penyekapan. Dia menginteruksi dua orang cowok yang ada di dalam untuk keluar, setelah mereka keluar kini hanya ada Gista dan seorang wanita paruh bayah yang diikat di kursi dengan mata tertutup.


Gista melepas penutup kepala, wanita itu melotot saat matanya bersitatap dengan mata Gista. Dia berontak, menggerakkan tubuhnya yang diikat dan berusaha berteriak tapi mulutnya di lakban.


Gista tersenyum miring, dia melepaskan lakban di mulut wanita itu dengan kasar, sampai wanita itu memekik kesakitan.


"Siapa kamu!" hardik wanita itu, matanya menatap nyalang Gista. "Lepaskan saya!" teriaknya sambil menggerakkan kedua tangannya yang diikat ke belakang kursi.


"Ntar juga gue lepasin, tapi gue mau ngobrol dulu." Gista mengambil permen lolipop di saku celana, membukanya dan memasukkan ke mulut.


"Lepas! Apa mau kamu! Uang? Saya akan berikan berapa pun yang kamu minta, asal lepaskan saya!" Gista menggeleng, dia memainkan permen lolipop di mulutnya.


Gista mendekat ke wanita itu, menarik kursi ke hadapannya dan duduk di depan persis wanita itu.


"Lo kenal dia bukan?" Gista menunjukkan foto Alisya di layar tabletnya.



Mata wanita itu melotot, Gista bisa menangkap ekspresi terkejut dari wanita itu.


"Gue anggep jawabannya iya." Gista kembali menunjukkan satu foto lagi, kini foto kepala sekolah yang ia tunjukkan.



"Bagaimana kalau ini, lo kenal?" Mata wanita itu semakin melebar. "Ah, lo pasti kenal karena dia pelanggan VIP di Lexus. Benar begitu Madam Alexa?" Wanita itu menoleh pada Gista.


"Siapa kamu sebenarnya? Siapa yang menyuruh kamu?" Madam Alexa mulai histeris, bergerak gelisah tampak ketakutan. "Apa mau kamu? Alisya sudah mati dan saya tidak ada hubungannya!!!" teriaknya, frustasi.


"Oh ya?" Gista menyeringai, dia mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya. "Pernah dengar istilah, cara membuka mulut yang terbungkam itu dengan merobeknya." Gista memainkan pisau lipatnya, membuat Madam Alexa bergidik ngeri.


"Sepertinya itu berlaku buat Anda?"


"Mau apa kamu!" Madam Alexa panik saat Gista mendekat.


"Anda tahu, setajam apa pisau ini?" Gista menggoreskan pisau itu ke telunjuknya sendiri. "See." Madam Alexa melotot saat melihat darah segar mengalir dari telunjuk Gista. Dia semakin bergidik karena Gista menjilat darah itu. "Em ... gue penasaran, apa darah Anda akan selezat ini?"


"Jangan ... jangan, mendekat." Madam Alexa terus berontak saat Gista mendekatinya.


"Tenang, kalau Anda terus bergerak pisau ini akan melukai kulit mulus Anda." Madam Alexa melirik pisau yang ada di pipinya. Dia ketakutan setengah mati. Gadis di depannya benar-benar psikopat.


"Baik-baik, saya akan kasih tahu kamu. Tapi jauhkan benda itu dari saya," kata Madam Alexa.


"Tentu." Gista menjauhkannya. Dia duduk bersandar, melipat tangannya di depan dada dan mulai mendengarkan keterangan dari mulut Madam Alexa.


Tiga tahun lalu, ada satu orang pria yang sering datang ke club Lexus. Dia selalu bermain judi dan bermain wanita, menghabiskan semua hartanya sampai akhirnya memiliki hutang yang membengkak pada madam Alexa. Selaku pemilik club yang sering meminjamkan uangnya untuk mereka yang kehabisan uang untuk berjudi.


"Saya mohon ampuni saya Madam, saya berjanji akan membayarnya," rengek pria tua itu.


"Pake apa? Kamu saja sudah tidak punya apa-apa? Lebih bagus kamu pasrah, organ tubuh kamu cukup untuk melunasi hutang dan bungamu yang semakin membengkak."


Mendengar hal itu, pria tua itu semakin ketakutan saat dihadapkan pada kematian. Ditambah para bodyguard Madam Alexa sudah mengepalkan tangan mereka bersiap menghabisinya dengan tangan kosong.


"Jangan Madam." Pria tua itu terus berpikir, bagaimana caranya ia terlepas dari jeratan madam Alexa. "Saya punya anak gadis Madam, bagaimana kalau dia bekerja di sini tanpa dibayar."


Madam Alexa berpikir sejenak, menimang-nimang tawaran pria itu. Akhirnya dia menerimanya dan menyuruh gadis itu datang besok.


Keesokan harinya datang seorang gadis cantik, bertubuh tinggi seperti model. Madam Alexa tersenyum puas, dia mulai mempekerjakan gadis itu. Dia Alisya yang saat itu tidak bersekolah karena ayahnya tidak menyekolahkannya.


"Jadi Alisya bekerja di club?" tanya Gista. Madam Alexa mengangguk. "Sebagai pela————"


"Tentu saja tidak, dia hanya sebagai pelayan." Gista mengernyitkan dahinya, tak percaya begitu saja.


Gista kembali menunjukkan foto yang ia dapat dari Saga. Madam Alexa sangat terkejut.


"Dari mana kamu dapat itu?" tanyanya setengah panik.


"Anda menjualnya?" tuduh Gista.


Madam Alexa tidak langsung menjawab, dia menghela napasnya dengan kasar. "Ya, saya menjualnya karena waktu itu ada yang menawarnya dengan harga tinggi."


Gista menaikkan sebelah alisnya. Menatap Madam Alexa penuh selidik, namun tak ada kebohongan pada ucapannya.


"Siapa?" tanya Gista.


"Tristan Andromeda!"