TARGET

TARGET
BAB 21



Gista terdiam, memandang Valery dan Tristan yang duduk di hadapannya, secara bergantian. Banyak pertanyaan yang bercokol di otaknya, bahkan Gista terus memikirkannya semalaman.


Apa sebenarnya peran Valery dan Tristan?


Mungkinkah mereka dalang dibalik kasus ini?


Tapi atas dasar apa? Bahkan Gista tak bisa mengetahui motif mereka? Semakin ke sini justru bertambah rumit. Membuat otaknya serasa ingin meledak.


"Ngapain lo ngeliatin Kak Tristan?" Suara ketus Valery menyadarkan Gista dari lamunannya.


Gista memutar bola matanya, ketika semua orang menatapnya. Bahkan Tristan tak berhenti memandanginya dengan tatapan aneh.


"Pede banget lo, ngapain juga gue ngeliatin Kakak lo! Yang ada mata gue katarak!" Gista mendesis, mengabaikan tatapan tajam Tristan yang tak suka mendengar ucapannya.


"Kamu bilang apa?"


Gista mendengkus. Gak anak, gak emaknya. Sama-sama menyebalkan. Gista langsung beranjak dari duduknya, menatap mama tirinya.


"Tante perlu ke Dokter THT kayanya." Gista tersenyum miring, mencibir tatapan mama tirinya yang kebakaran jenggot akibat perkataannya yang kurang ajar.


"Kyaaa!! Anak kurang ajar!" Rosalind sudah akan bangun dari duduknya, namun William mencegahnya. "Pah!" protes Rosalind.


"Biarkan saja, ayo lanjut sarapan." Rosalind mendengkus, namun ia tak membantah.


Sementara Gista berdecak, sama sekali tak merasa bangga karena tindakan papanya. Dia tetap melangkahkan kakinya menuju gerbang, mengabaikan  sapaan para pegawai di rumahnya.


"Ragas mana si?" Gista melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.


Baru saja Gista ingin menghubungi Ragas, tiba-tiba mobil Olan berhenti di depannya. Gista mengembuskan napasnya, sama sekali tak berharap paginya akan hancur karena kedatangan cowok itu.


"Ngapain lo?" ketus Gista, menatap sebal Olan yang berjalan menghampirinya.


"Jemput cewek cantik." Gista mendesis, bualan Olan benar-benar menyebalkan. "Gak usah nungguin Ragas, dia lagi ada dibengkel. Kalo gak percaya telepon aja."


Gista pun langsung menelepon Ragas, tak lama langsung diangkat oleh cowok itu.


"Halo. Kamu di mana?" Gista melirik Olan, ternyata ucapan cowok itu benar. Ragas memang sedang ada di bengkel, karena mobilnya mogok. "Yaudah, gue duluan. Oke, bye."


"Jadi gimana?"


"Gimana apanya?" Gista mengerutkan keningnya.


"Lo mau kan bareng gue?"


"Terpaksa!" Gista mendengkus, berjalan menuju mobil Olan.


Sepanjang perjalanan, Gista merasa muak mendengar bualan Olan. Cowok itu terus membanggakan dirinya sendiri dan Gista sangat benci orang seperti itu.


Sesampainya di parkiran, Gista langsung keluar. Dia tak akan mengulang kesalahan kedua kalinya. Tampak jelas wajah Olan yang kesal karena gagal mencium Gista.


******!


Gista bersorak dalm hati, tersenyum puas melihat wajah frustasi Olan. Dia melangkahkan kakinya ke toilet. Gista masuk ke bilik, setelah itu keluar mencuci tangannya di wastafel.


Tiba-tiba saja segerombolan anak masuk. Gista tersentak ketika pintu toilet dikunci. Dia memicingkan matanya, menatap lewat cermin gadis yang berdiri di belakangnya.


Qween?


Mau ngapain dia?


"Jadi ini targetnya Alastor?" Qween berdecak, memandangi Gista dari atas sampai bawah.


Gista memutar bola matanya, enggan menggubris ucapan Qween yang sengaja memancing emosinya. Gista bergegas merapikan pakaiannya, bersiap untuk keluar.


"Mau ke mana lo?" Qween menahan lengan Gista. "Gue belom kelar ngomong."


"Gak penting!" Gista menghempas tangan Qween.


"Kyaa!! Belagu banget si lo!" bentak Qween, sama sekali tak membuat Gista gentar.


Gista justru berbalik, menatap tajam Qween. Dia melangkah maju, refleks Qween berjalan mundur.


"Mau apa lo?" Qween tampak panik. "Yaaa!! Kenapa lo semua malah ngeliatin, sikat!" perintah Qween pada kroni-kroninya.


Otomatis gerombolan cewek tadi langsung menyerang Gista. Bahkan mereka tak segan, menggunakan peralatan yang ada seperti sapu dan alat pel.


Gista menggerakkan  kepalanya, melakukan perenggangan. Sepertinya dia akan sedikit melakukan olahraga pagi.


"Kyaaa!!!"


Bugh! Bugh! Bugh!


Satu persatu dari mereka berhasil Gista tumbangkan dengan mudah. Mereka sama sekali tak ada apa-apanya. Bahkan sekalipun mereka menggunakan alat. Kini tersisa Qween, dia tampak ketakutan. Merapatkan diri ke dinding.


"Mau apa lo?" Qween panik, karena Gista menghampirinya langsung mencengkram kerah seragam Qween.


"Apa ini yang lo lakuin ke Alisya? Membully dia? Dasar pembunuh!"


Qween tercekat, bagaimana Gista tahu soal Alisya. Sejauh mana dia mengetahui soal dirinya dan Alisya?


—————


Gista memandangi wajah Ragas, cowok itu sedari tadi mengomel terus. Tangannya telaten mengobati sudut bibir Gista yang berdarah.


"Gue gak papa. Lo gak perlu khawatir." Gista menyentuh tangan Ragas, membuat cowok itu tertegun dan beralih menatapnya.


Sejak kejadian jalan kemarin, Gista dan Ragas memang semakin dekat. Bahkan kini Gista mulai membuka diri untuk Ragas. Cowok itu terlihat tulus padanya. Itulah alasan Gista menerima Ragas menjadi patnernya untuk mengungkap kasus ini.


"Gue khawatir tau, waktu denger lo berantem sama gerombolannya Qween," ucap Ragas, kembali melanjutkan mengobati Gista. "Mereka itu terkenal bar-bar, suka main tangan. Ini buktinya lo ampe berdarah gini. Pasti sakit?"


Gista terkesiap, ketika Ragas memajukan wajahnya untuk meniupi sudut bibir Gista yang terluka. Entah perasaan apa, tapi tiba-tiba hatinya menghangat. Hingga mata mereka saling bersitatap.


Gista memejamkan matanya, saat Ragas semakin menepis jarak wajah mereka. Baru saja Ragas akan mencium Gista, tiba-tiba saja pintu UKS terbuka lebar diiringi suara teriakan nyaring.


"Gistaaa!!!"


Gista dan Ragas terperanjat. Kedunya melebarkan mata saat melihat Zee berlari menghampiri mereka. Ragas langsung menarik tubuhnya, duduk di kursi. Keduanya tampak salah tingkah.


"Kak Ragas ngapain di sini?" tanya Zee, menatap curiga kakanya. "Terus tadi kalian mau ngapain?"


"Anak kecil diem aja lo? Lagian ngapain si lo ke sini? Bukannya lagi pelajaran?" cecar Ragas. Terlihat sangat kesal, karena Zee mengacaukan momen romantisnya.


"Udah istirahat kali, emang gak denger suara bel?" Zee mencebikkan bibirnya. "Gis, kantin yok. Laper nih," ajak Zee, menggoyangkan tangan Gista.


"Dasar bocah! Ganggu aja," gerutu Ragas.


"Apaan si Kak Ragas? Lagian nih ya, gak boleh cewek cowok dalam satu ruangan. Nanti ketiganya setan!" seru Zee.


Ragas dan Gista memandangi Zee, membuatnya merasa ada yang tidak beres.


"Kenapa?" tanya Zee. "Emang bener kan ketiganya, setan!"


"Iya, dan setannya itu lo!" balas Ragas.


"Kyaaa!! Kak Ragas!" Ragas langsung kabur karena Zee mengejarnya.


Gista yang melihat tingkah kakak dan adik itu pun hanya geleng-geleng kepala, mereka sangat lucu di mata Gista. Seandainya dia punya saudara, pasti hidupnya takkan kesepian.


Gista melangkah keluar, hendak menyusul Zee dan Ragas. Baru saja melewati ambang pintu, tiba-tiba seseorang mencekal lengannya. Refleks Gista berbalik.


"Arka?" Gista terkejut, karena Arka sudah berdiri di belakangnya.


"Ikut gue." Arka menyeret lengannya, namun Gista langsung menepisnya.


"Apa-apaan si lo?"


"Ikut gue, ada yang mau gue omongim." Arka kembali meraih tangan Gista, tapi dengan cepat Gista menghindar.


Arka menghela napasnya, yang berat. Mengusap wajahnya secara kasar. Dia bersandar, mendongak ke atas. Hal itu membuat Gista bertanya-tanya.


Ada apa dengan Arka?


Aneh!


"Lo pengen tahu soal Alisya bukan?" Arka menolehkan kepalanya ke Gista. "Temui gue di parkiran. Gue bakal kasih tahu lo soal Alisya."


Setelah mengucapkan hal itu, Arka melangkah pergi. Meninggalkan Gista yang terpaku di tempatnya berdiri, memandangi punggung Arka yang mulai menjauh.