TARGET

TARGET
BAB 22



Valery menaikkan sebelah alisnya, menatap Qween yang tampak kesal. Gadis itu menekan-nekan baksonya dengan garpu, sementara tatapannya lurus ke depan.


"Lo kenapa?" tanya Valery.


"Gue sebel sama anak baru yang songong itu!" Qween menunjuk barisan di depannya dengan dagu. Mata Valery pun mengikuti ke mana arah mata Qween.


Gista?


Valery terdiam sejenak. Lalu menolehkan kepalanya pada Qween. "Kenapa emangnya?"


"Lo gak lihat ini." Qween menunjuk pelipis dan pipinya yang di plester. "Tadi pagi gue dihajar sama dia." Qween mendengkus, sebal mengingat kejadian tadi pagi.


Seandainya tidak ada Ragas, dia hampir berhasil memukul Gista dengan sikat wc. Namun cowok itu malah datang dan mengacaukan semuannya.


"Bukannya kamu yang mulai duluan ya Qween?" celetuk Disa.


Qween melototi Disa, dia lupa jika ada Disa di sana. Si oon itu justru berkata yang sebenarnya.


Menyebalkan!


"Bener Qween?" tanya Valery.


"Lo percaya omongan dia?" Qween terkekeh. "Lo tahu sendiri, si Disa kan tulalit. Mana nyambung dia. Orang dia aja sembunyi di dalem bilik." Qween menatap Disa. "Ngaku lo!"


Disa cengengesan, menyunggingkan senyum tanpa dosanya. "Maaf Qween, gue takut soalnya. Anak baru itu berantemnya jago."


Qween mendengkus, jengah mendengarkan penuturan Disa yang justru membuatnya muak.


"Terus mau lo apa?" Qween menoleh ke Valery yang duduk di sebelahnya. "Lo mau diem aja liat Olan deket sama dia?" Valery menunjuk  meja paling depan, di mana anak Alastor berlomba mencari perhatian Gista.


"Gimana kalo kita kerjain dia?" Qween tersenyum miring. "Gue punya rencana." Dia langsung membisikkannya ke Valery.


"Kalian ngomongin apa sih, kok bisik-bisik?" tanya Disa yang sangat penasaran.


"Diem aja deh lo, lagian kalo gue kasih tau juga lo gak bakal paham," kata Qween. "Gimana lo setuju?" Valery langsung mengangguk. Keduanya bertos ria, tertawa membuat Disa seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa tapi ikut tertawa.


—————


Gista berdecak, ketika mengecek pesan dari Ragas. Cowok itu menyuruh Gista menunggu dirinya. Sementara Gista sudah berniat akan menemui Arka sepulang sekolah.


"Zee," panggil Gista.


"Apa?" jawab Zee yang tengah merapikan buku-bukunya.


"Help me, please." Zee menoleh, menatap heran Gista. Tumben sekali cewek itu memohon bantuannya. Biasanya juga ketus ngalahin mamak tiri.


Zee mengembuskan napasnya pelan, ia kembali fokus memasukkan buku-bukunya ke tas. "Giliran ada maunya aja baik, biasanya galak kaya kucing olen."


"Zee, please." Gista memegang lengan Zee. Membuat cewek itu bergidik saking kagetnya.


"Lo kenapa si Gis? Lagian mau minta tolong apaan? Tumben banget," ucap Zee akhirnya, kasian juga melihat Gista memohon seperti itu.


"Lo tahu sendiri kan, kalo kakak lo ribet orangnya. Bantuin gue, kali ini aja," mohon Gista. "Gue musti cepetan pulang. Ada urusan yang musti gue selesain. Urusan pribadi," tambah Gista.


"Oh, itu. Oke."


"Makasih, Zee lo baik deh." Gista memeluk Zee membuat Zee hampir tersedak salivanya karena syok. Seorang Gista memeluk dirinya, sungguh keajaiban. Bahkan biasanya saja Gista paling anti kalo ia gandeng.


"Udah sono buruan, keburu kak Ragas dateng. Dia kan kaya jaelangkung dateng gak diundang, tau-tau nongol."  Zee mengibaskan tangannya.


Gista yang sudah mendapat lampu hijau untuk kabur pun, tak menyia-nyiakan hal itu. Dia beranjak siap melangkah keluar saat tiba-tiba gerombolan Qween masuk ke kelasnya.


Anak-anak yang lain langsung berhamburan keluar, melihat gerombolan Qween masuk ke sana. Sudah dipastikan bakal ada keributan dan mereka memilih menyelamatkan diri sendiri.


Gista memutar bola matanya, menatap sebal Qween yang menghalangi jalannya. "Minggir!" ketus Gista.


"Eits, selow." Qween menghindar dari tangan Gista. "Gue ke sini cuma mau ngasih undangan aja kok buat lo." Qween menyodorkan selembar undangan ke Gista.


"Gak minat!" Gista melangkah melewati Qween, menabrak bahu cewek itu dengan kasar.


"Kyaaa!!" Suara lantang Qween berhasil menghentikan langkah Gista, meski ia tak berbalik menghadap Qween. "Lo gak penasaran apa yang gue lakuin ke Alisya?"


Gista menolehkan kepalanya ke bahu, melirik sinis Qween yang berjalan mendekatinya.


"Lo musti dateng, kalo mau tahu apa yang Alisya alami," bisiknya sembari menyisipkan  undangan di tangan Gista. "Ayo, girls. Masih banyak undangan yang perlu kita sebarin," ucap Qween, melangkah keluar meninggalkan Gista yang terpaku di tempatnya berdiri.


Gista menatap undangan di tangannya, meremas undangan itu dengan kasar. Lo bakal nyesel karena udah undang gue!


Gista berlari menuju parkiran, menghindari Ragas yang tengah mencari-cari dirinya. Ia sengaja mematikan ponsel, agar Ragas tak menganggunya kali ini.


Arka yang tahu situasinya langsung menancap gas, keluar dari parkiran. Mobil Aston Martin DB11 milik Arka melaju kencang, menembus jalanan ibu kota yang lenggang. Ia segera menuju ke rumahnya.


Sepanjang perjalanan, tak ada yang saling bicara. Hingga mobil Arka memasuki bangunan  mewah yang begitu megah dan besar.


Gista segera turun, mengikuti langkah Arka memasuki rumahnya. Rumah yang besar ini hanya dihuni oleh para pelayan dan penjaga. Gista sama sekali tak melihat keberadaan orangtua Arka maupun keluarganya yang lain.


"Lo tinggal sama siapa?" tanya Gista, sekedar basa basi. Keduanya tengah berjalan menaiki tangga menuju kamar Arka di lantai satu.


"Sendiri," jawab Arka, saat membuka pintu kamarnya.


"Orangtua lo?" Gista memperhatikan seksama kamar Arka yang didominasi warna abu-abu.


"Di rumah mereka." Gista mengerutkan  keningnya, berbalik menatap Arka yang tengah berdiri di depan lemarinya. "Mereka udah cerai dan punya keluarga baru." Gista hanya mengangguk, tak berniat mengetahui lebih lanjut.


"Lo bilang, lo mau kasih tahu sesuatu tentang Alisya." Gista langsung to the point. Dia tidak suka berlama-lama di kamar Arka. Ingatan buruk waktu di kamar Olan membuatnya sedikit khawatir.


Gista tidak tahu apa yang mereka rencanakan, namun ia harus tetap berhati-hati. Mengingat Arka juga salah satu dari mereka, meski selama ini cowok itu cenderung tak peduli dengannya.


"Kenapa lo pengen tahu?" Gista terkesiap, refleks berbalik ketika merasakan embusan napas Arka di lehernya.


Mata Gista melebar, mendapati Arka sudah ada di belakangnya. Bahkan cowok itu dalam keadaan bertelanjang dada.


Sial!


Mata Gista ternodai dengan bisep milik Arka yang jelas menatang. Otot perutnya yang terbentuk sempurna, membuat tubuh Arka terlihat Atletik.


"Jangan macem-macem lo!" Gista melotot saat Arka memajukan wajahnya ke depan muka Gista. "Kayanya buang-buang waktu gue di sini. Lebih baik gue pulang." Gista sudah akan beranjak pergi, namun Arka menahan pinggangnya.


"Gue punya bukti yang lo cari, tapi gue butuh alesan kenapa gue harus kasih bukti itu ke lo. Padahal lo aja gak kenal Alisya." Tatapan Arka begitu dalam, seolah mencari kesungguhan pada diri Gista.


Gista mengembuskan napasnya dengan kasar. Dia menundukkan kepala, rasa sakit kembali menyergap hatinya.


"Lo pernah kehilangan seseorang yang berharga dalam hidup lo?" Gista mengangkat wajahnya, menatap lekat mata Arka. "Lo tahu rasanya ditinggalin seorang diri? Lo tahu sakitnya dibuang dianggap gila?" Gista tersenyum miris. "Sepertinya lo gak tahu."


Arka tercekat, perkataan Gista jauh dari apa yang diharapkannya. Namun kata-kata Gista menyiratkan kesedihannya yang begitu dalam. Terlebih sorot mata gadis itu yang mulai berkaca-kaca, membuat Arka merasa bimbang.


"Gak usah ngalihin topik pembicaraan!" ketus Arka.


"Alisya gak bunuh diri, dia dibunuh. Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri ada orang lain di atap gedung."


"Apa?" Arka langsung mencengkram kerah seragam Gista. "Lo tahu siapa pelakunya?"


"Gak."


"Shit!" Arka menghempas Gista. "Lo bilang lo lihat?!" hardik Arka.


"Gue lihat, tapi gue gak bisa mastiin karena wajah orang itu terhalang silau matahari," ujar Gista.


"Orang itu pasti Riko," gumam Arka.


"Bukan." Arka memicingkan matanya, menatap Gista penuh curiga. "Bukan Riko, untuk apa dia bunuh kekasihnya sendiri."


"Kekasih?" beo Arka tampak terkejut.


"Sepertinya lo belum tahu soal ini."


Arka mengusap wajahnya dengan kasar. Ia duduk di tepi ranjang, memegangi kepalanya yang berdenyut.


"Terus alasan lo nyelidikin kasus Alisya apa? Bahkan polisi aja udah netapin Riko sebagai pembunuhnya," ucap Arka.


"Karena nyokap gue juga dibunuh. Tapi semua orang nganggep kalo nyokap gue bunuh diri." Gista tersenyum kecut. "Semua orang menyangkal ucapan bocah yang baru berumur tujuh tahun. Bagi mereka semua itu hanya bualan dan pembubuhnya hidup bebas sampai detik ini. Apa itu cukup buat jadi alasan?"


Arak terdiam memandang punggung Gista yang tampak bergetar. Meski Gista tidak menagis, Arka tahu hati cewek itu pasti hancur. Terlebih ia juga tahu kalo papa Gista sudah menikah lagi saat Gista masih kecil.


Arka menyelidiki seluk beluk informasi tentang Gista. Disaat anggota Alastor berlomba mendapatkan perhatian Gista, dia justru tertarik mencari tahu tentang kehidupan Gista.


Arka tahu betul, Olan tidak mungkin menetapkan target tanpa alasan. Termasuk Alisya, hingga saat ini ia masih penasaran kenapa Olan menempatkan Alisya sebagai target permainan yang dibuatnya.


"Lo gak jadi kasih tahu gue tentang Alisya?" Suara Gista menginterupsi Arka, ia mengangkat wajahnya menatap Gista yang sudah berbalik menghadapnya. "Kalo gak, gue mau pulang."


Arka tak menjawab, tapi ia berjalan menuju laci nakas di samping tempat tidurnya. Arka mengambil sesuatu di dalam laci itu, menyodorkannya ke Gista.


"Diari?" Gista menaikkan sebelah alisnya, heran.


Untuk apa Arka memberinya diari? Mungkinkah itu diari Arka? Atau justru di dalamnya ada fakta-fakta tentang Alisya?


"Diari Alisya," ucap Arka.