TARGET

TARGET
BAB 40



Olan berdiri kaku di depan pintu, matanya menyala mengobarkan api permusuhan. Dipandanginya cowok di depan, tangannya terkepal siap menghantam rahang. Tapi Olan masih bersikeras untuk tetap sabar pada cowok itu.


Dasar pengacau!


Olan ingin sekali memaki, padahal selangkah lagi ia bisa lebih dekat dengan Gista. Tetapi semua gagal gara-gara kemunculan si sialan, Ragas!


"Ragas?" Gista berhenti di balik punggung Olan yang menghalangi pintu, kepalanya menyembul sedikit. Gista mengedipkan sebelah matanya pada Ragas. Seolah memberikan pertanda 'help me'.


"Ada apa?" Akhirnya Olan membuka mulut, suaranya datar dan terkesan dingin.


"Gue di suruh jemput Gista sama nyokap," jawab Ragas, membalas tatapan Olan dengan tajam.


"Apa sekarang dia anak nyokap lo?" Olan menyeringai dan Ragas muak melihatnya.


"Seterah apa yang lo pikirin, gue ke sini cuma mau bawa dia pulang." Ragas menarik tangan Gista keluar menerobos Olan, tapi dengan cepat Olan menahan pergelangan tangan Gista.


"Lo gak bisa bawa dia. Bahkan bokap dia udah izinin buat nginep di sini."


"Oh ya. Sayangnya gue gak peduli!" Ragas berdecih.


"Tapi sayangnya lo harus perduli!" Olan menarik Gista sampai membentur dadanya.


"Kalo gue gak mau peduli, lo mau apa?" Ragas menarik kembali Gista hingga membentur dada.


"Bacot!"


"Bodo!"


Gista memutar bola matanya, kenapa dia jadi seperti tali tambang. Ditarik ke sana-sini, itu menyakitkan apalagi saat kepalanya berkali-kali membentur dada kedua cowok yang masih berdebat tidak jelas. Gista muak, gak ada waktu jadi rebutan keduanya.


"Cukup!!!" teriak Gista, menghempas kedua tangan yang mencengkram pergelangan tangannya.


Baik Ragas maupun Olan sama-sama tersentak, mereka berjengit mundur dan melihat Gista dengan ekspresi terkejut.


"Kalian childish banget si?!" Gista mendengus, melirik Ragas dan Olan secara bergantian. "Semua bisa di bicarain baik-baik. Gak perlu pake urat!"


Gista menghela napas, ia berbalik menghadap Olan yang masih membeku di tempat. Pandangannya tak pernah lepas dari Gista.


Gista mendekat, menangkup pipi Olan, mengusapnya pelan. "Makasih, udah kasih gue tumpangan tapi sepertinya gue harus pulang. Mungkin next time gue bisa nginep di sini."


Ragas berdecak, kesal. Ia tak suka mendengar penuturan Gista. Apa-apaan coba, apa Gista pikir Ragas buta dan tidak melihat adegan di depan matanya itu? Apa dia pikir hati Ragas sebakoh semen tiga roda? Padahal kenyataanya hati Ragas langsung ambyar melihat Gista membelai pipi Olan semesra itu.


WTF!!


"Ayo," ajak Gista pada Ragas setelah berpamitan pada Olan. "Kita pulang dulu, sampai ketemu besok di sekolahan." Gista melambaikan tangannya.


Ragas mencebikkan bibirnya, sengaja mengejek Gista dengan menirukan ucapannya barusan.


—————


Sepanjang perjalanan, Ragas memilih bungkam. Walaupun dalam benaknya berbagai pertanyaan menggunung untuk dilontarkan pada Gista. Tapi ia terlalu gengsi, Ragas masih kesal dengan Gista.


"Gas!!" teriak Gista berlomba dengan suara angin yang mengaburkan suaranya.


Ragas tak menyahut, dia terlalu fokus dengan jalanan yang sangat sepi. Hal itu membuatnya memacukan motor dengan gila-gilaan, seolah nyawanya ada sembilan.


"Ragas!!" teriak Gista tepat di belakang telinga Ragas sembari mencubit pinggang cowok itu.


Namun hal tak terduga yang terjadi, saking kagetnya Ragas sampai kehilangan kesimbangan dan nyaris jatuh. Beruntung ia berhasil menguasai kendaraannya kembali, lalu menepikannya ke pinggir jalan yang sepi. Hanya ada lampu jalan yang menerangi.


"Lo gila? Lo mau kita mati?" Ragas berbalik, melototi Gista.


"Ya maap." Gista menekuk wajahnya, tampak merasa bersalah. "Lagian lo gue panggil dari tadi diem aja."


"Sengaja."


"Apa?" Gista mengernyitkan dahinya. "Jadi, sebenernya lo denger?"


"Hm."


"Terus kenapa lo gak jawab?"


"Males."


"Males?" beo Gista dengan ekspresi galak. "Lo kenapa si?"


"Gue?" Ragas memalingkan wajahnya. "Harusnya gue yang tanya lo kenapa? Plin plan banget jadi cewek!" gerutu Ragas tak mampu mengendalikan emosi yang menggebu-gebu.


"Tunggu ...." Gista menarik bahu Ragas. "Jangan bilang lo cemburu sama Olan?" Ragas tak menjawab, dia hanya mendengus kesal dan mengedikkan bahunya.


"Iya, ada. Lo ... lo yang lucu. Lucu banget." Gista memegangi perutnya, matanya sampai berair karena terus tertawa. "Jadi lo beneran cemburu?" tanya Gista setelah tawanya mereda.


"Menurut lo?"


"Padahal gue cuma akting."


"Akting?" Ragas sontak berbalik, menatap Gista penuh selidik.


"Yupz." Gista merogoh kaus oblong yang dikenakannya, membuat Ragas refleks memalingkan muka.


"Lo ngapain si Gis?!" hardik Ragas, tak habis pikir dengan Gista yang melakukan hal itu di depannya. Apa dia tidak waras?


"Apa? Gue cuma ngambil ini." Gista menunjukkan  ponsel curiannya ke depan wajah Ragas.


"Ponsel siapa?" Ragas kembali melihat Gista. Dahinya berkerut.


"Alisya." Gista tersenyum lebar.


"Serius?" Gista mengangguk. "Gimana lo dapetin itu?"


"Ceritanya panjang, butuh perjuangan. Mending sekarang kita ke rumah sakit. Nemuin si Richo."


"Oke." Ragas sudah menyalakan motornya lagi. "Tunggu ...."


"Kenapa?" Gista mengernyitkan dahi saat melihat Ragas melepas jaketnya.


"Pake ini. Baju lo nerawang, mata gue terkontaminasi jadinya." Wajah Gista seketika bersemu merah menahan malu. Dalam hati ia merutuki Olan yang memberikan baju setipis saringan tahu.


Ragas memakaikan jaket denimnya kepada Gista, lalu menjalankan motornya menuju rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit, keduanya langsung ke ruang rawat Richo.


Richo yang baru saja akan memejamkan mata tersentak ketika mendengar suara pintu terbuka dengan kencang. Ia membuka mata dan menoleh ke arah pintu.


"Gue dapet," ucap Gista, terengah-engah setelah berlarian di sepanjang koridor. "Bener ini kan?" Gista menyodorkan ponsel yang tadi diambilnya dari rumah Olan.


Richo bangun, bersender di kepala ranjang. Ia mengambil ponsel yang di sodorkan Gista. Richo terdiam cukup lama, memandangi ponsel yang kini ada di tangannya. Itu memang ponsel Alisya.


Richo menyalakannya dan profil di depannya pun foto mereka berdua waktu di taman saat bermain ayunan. Richo kembali larut dalam kenangan masa lalu, hingga suara Gista menginterupsi menyadarkannya kembali.


"Lo tahu password-nya?" Richo sontak menoleh pada Gista. "Gue udah coba, tapi gue gak tahu password-nya."


Richo pun mencoba membuka kode sandi di layar ponsel, tapi gagal. Ia sama sekali tidak tahu. Berkali-kali Richo mencoba dan hasilnya sama. Gagal.


"Kayanya lo juga gak tahu," celetuk Gista.


Richo mengembuskan napas kasar. Meletakkan ponsel itu ke atas nakas. "Gue bilang juga percuma, usaha lo bakal sia-sia. Mending lo nyerah aja."


"Gak, gue gak bakal nyerah. Gue tahu siapa yang bisa buka sandinya." Gista meraih ponsel itu dan berbalik hendak keluar. Namun saat ia akan menarik knop pintu suara Richo menghentikannya. Gista menoleh ke belakang, melihat ke Richo yang sedang menatap dirinya.


"Gue lupa satu hal."


"Apa?" tanya Gista.


"Apa apartemen Alisya udah dikosongkan?"


Gista mengedikkan  bahunya. "Entahlah."


"Gue harap belum. Alisya punya buku jurnal pribadi, dia selalu nulis catatan  penting setiap harinya di buku itu."


"Maksud lo buku diari?" Richo menggeleng.


"Agenda pertemuan dan transaksi penting. Alisya pernah bilang, dia mencatat semua orang yang terlibat dalam hidupnya meski dalam hal sekecil apa pun dan dia menulisnya di buku jurnal. Gue harap buku itu masih ada. Mungkin lo bisa nemuin siapa aja orang-orang yang pernah Alisya temuin," jelas Richo.


"Perfect." Gista menyeringai. "Gue bakal temuin buku itu." Gista bergegas keluar tapi sebelum itu ia berkata, "Richo, thank's."


"Udah?" tanya Ragas yang duduk di kursi tunggu saat melihat Gista keluar dari ruangan Richo.


Gista mengangguk. "Udah."


"Yaudah ayo pulang." Ragas mengulurkan tangannya.


"Ayo, tapi mampir ke tempat biasa ya?" Gista mendengus geli ketika wajah Ragas berubah masam.


"Harus banget?" Gista mengangguk.


"Ayo." Gista menggandeng Ragas.


Ragas hanya bisa pasrah mengikuti langkah Gista.