Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 9



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Mobil Ares berhenti didepan rumah, para pelayan datang menghampiri kami berdua dengan membawa handuk dan yang lain-lain, kalau dirumah sebelumnya, mau aku sampai kehujanan menggigil serta sakit pun tidak akan ada yang peduli kalau aku tidak bilang pada Michael. Hanya Michael yang tiba-tiba datang untuk merawatku, tapi rasanya mereka melakukannya bukan karena tulus tapi karena uang, rasanya juga berbeda, aku merindukan kehidupanku sebelumnya.


“Aku bisa sendiri.” Aku mengambil handuk yang mereka berikan untuk mengeringkan tubuhku, sambil berjalan meninggalkan lantai satu menuju ke dalam lift, Ares tidak mengikutiku, dia masih berada di lantai satu dengan banyak pelayan yang membantunya.


Aku naik ke lantai 3 menuju ke kamar untuk membersihkan tubuhku sendiri, melepaskan semua pakaianku tanpa menyisakan sehelai benangpun. Setelah mengisi bak mandi dengan air hangat dan juga sabun berbau bunga mawar, aku langsung masuk untuk berendam. Memang rasanya setelah banyak beraktivitas dilanjutkan berendam itu sebuah kenikmatan.


Berada di dalam bak mandi, membuatku tanpa sadar tertidur. Bangun-bangun sudah jam makan malam saat suara pintu diketuk dari luar, aku keluar dari bak mandi tanpa membilas busa yang tersisa, mengambil jubah mandi dan memakainya. Tanpa berpikir lebih panjang aku berjalan menuju ke pintu dan membukanya, antara aku memang lupa atau dasarnya bodoh,  sebelumnya sudah pernah kejadian kalau yang selalu datang ke kamarku adalah Ares.


Dan sekarang Ares berada di depanku dengan pandangan meneliti seluruh pakaian yang aku kenakan.


“Tunggu.” Aku buru-buru menutup pintunya kembali, tapi kaki Ares berada di bawah menghalangi pintu untuk tertutup.


Tangannya mendorong pintunya kembali agar terbuka kemudian dia masuk kedalam kamarku, sambil mengeratkan jubah mandi yang aku pakai, aku berjalan mundur menghindarinya.


Mataku melirik kamar mandi yang masih terbuka, langkah kakiku berusaha berlari menuju ke kamar mandi, nasnya busa yang jatuh ke lantai membuat kakiku tergelincir, aku pasrahkan semuanya kepada Tuhan yang Maha Esa berharap aku masih hidup setelah ini.


Rasanya tidak sakit saat aku menutup mata, aku berada di atas Ares dengan jubah mandi yang sudah terbuka atasnya.


“Ares.”


Tiba-tiba Ares yang semula ada di bawahku menahan tubuhku agar tidak membentur lantai, memutar tubuhnya berpindah diatasku. Mata kami saling bertemu satu sama lain, semuanya terasa kosong, aku tidak bisa berpikir selain memuji ketampanannya untuk pertama kali.


Tangan kekarnya menyentuh lembut kepalaku, mengusap anak rambutku pelan, aku hanya bisa merasakan gerakan tangannya yang menyentuh kulitku saat aku memutuskan untuk memejamkan mata. Benda kenyal nan lembut bertemu dengan bibirku, rasanya sangat manis, perlahan Ares melepaskan bibirnya, mataku terbuka dan saling menatap saat Ares masih berada di atasku dengan lengan kanannya yang menahan tubuhku agar tidak terbentur lantai.


Matanya mengalihkan pandangan ke arah lain dan membantuku untuk bangun, aku langsung mengaitkan kembali jubah mandiku yang terbuka tidak sengaja. Tanpa melihat ke arahku, Ares bangun dari lantai.


“Cepat keluar, semua sudah menunggu untuk makan malam.” Kalimat yang keluar dari bibirnya setelah itu Ares keluar dari kamarku tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi.


Melihat reaksinya, satu hal yang aku bisa simpulkan kalau Ares tidak seburuk yang ada dalam pikiranku, jika dia orang lain apalagi status kamis berdua saudara tiri yang tidak berinteraksi lama, baru saja mengenal, mungkin dia tidak akan menahan nafsunya untuk tidak menyentuhku walaupun kami berciuman.


Selama makan malam yang diikuti oleh Ayah tiriku, Ibu, Apollo, dan juga Ares. Dalam panjangnya pembahasan yang mereka bicarakan, kepalaku tidak bisa menghilangkan bayangan tadi, apalagi saat Ares beberapa kali melihat ke arahku dan membuatku sangat gugup, beberapa kali juga ibu harus mengulangi pertanyaan yang dilontarkan padaku saat aku sama sekali tidak fokus di meja makan.


“Viola, apa kamu baik-baik saja?.” Sebuah pertanyaan membuatku menoleh ke sumber suara.


“Ah iya aku baik-baik saja.” Jawabku sambil mencoba untuk tersenyum pada Hades.


Aku melihat ibu yang sangat tidak nyaman karena Hades harus menanyakan keadaanku karena aku tidak fokus di meja makan. Setelah makan malam berakhir, ibu sengaja mengajakku untuk ke halaman belakang, entah apa yang akan ibu bicarakan padaku.


Kami saling berhadapan satu sama lain, rasanya sangat canggung walaupun wanita itu adalah ibu kandungku, orang yang mengandung dan melahirkanku.


“Daddy dan Ibu akan pergi honeymoon ke hawaii, apa kamu baik-baik saja di rumah?.”


“Sejak kapan ibu bertanya mengenai keadaanku? Jika dikabulkan aku ingin tinggal di asrama.”


“Viola... Asrama kampus mu itu mahal, ibu tidak mau meminta lagi pada Hades masalah ini, lagipula mau di asrama atau tidak kan sama-sama kamu kuliah.”


“Aku tau bu, tapi aku tidak nyaman tinggal disini.”


“Kenapa? Bukankah lebih baik disini banyak yang melayani.”


“Itu menurut ibu, tidak untukku, aku lebih nyaman dengan kehidupanku sebelumnya.”


“Lebih baik kamu turuti saja yang ada, kamu boleh melakukan apapun setelah kamu menikah, kamu boleh meninggalkan negara ini pun terserah kamu. Tapi selama masih ibu menjadi wali sah mu, maka kamu harus mengikuti jalan ibu.”


Mau sepanjang apapun aku bicara dengan ibu, akan berakhir sama saja, aku tidak akan pernah ada peluang untuk mengutarakan pendapatku sendiri. Pembicaraan kami berdua selesai, aku kembali ke kamarku dengan aktivitas yang sama yaitu merokok di balkon menjadi salah satu rutinitas yang harus aku lakukan setiap hari.


Aku melihat ke balkon kamar Ares yang sudah mulai gelap, kamarnya pun terlihat gelap. Saat itulah aku juga melihat ke bawah ada mobil yang melintasi jalanan dari gerbang utama, sepertinya ibu sudah berangkat pergi honeymoon. Tapi kemudian ada mobil lagi yang keluar dari gerbang sekitar pukul 2 dini hari, sempat berhenti di pos penjagaan, namun akhirnya beberapa menit kemudian jalan kembali.


Setelah puas dengan dua batang rokok, aku kembali masuk kedalam kamar untuk mencuci wajah dan mengganti pakaian lalu tidur.


Beberapa menit saja saat mulai terlelap, suara pintu diketuk membangunkan tidurku. Aku salahkan yang memasang pintu ini karena tidak dilengkapi dengan lubang untuk melihat orang yang ada di luar. Tanpa menyalakan lampu kamar dengan lampu yang lebih terang, aku mengambil jaket dan memakainya, kemudian berjalan untuk membuka pintu.


Ceklek


Tidak ada siapapun di luar, kosong. Aku melihat kamar Ares juga sepi, mungkin aku salah dengar. Aku kembali menutup pintu, saat memutar badan, aku dikejutkan dengan seseorang yang jauh lebih tinggi dariku berada tepat di depanku, keadaan gelap membuatku tidak bisa melihat jelas sosok itu.


bersambung...