Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 17



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Malam itu aku tidak ingat apapun selain banyak minum, saat membuka mata aku berada di tempat asing yang belum pernah aku lihat sebelumnya, sebuah kamar dengan ranjang empuk dan desain interior layaknya sebuah penginapan mahal. Aku menemukan Ares berada di sebelahku tanpa mengenakan pakaian atas dan selimut yang menutupi hingga pinggangnya. Tapi saat aku melihat diriku sendiri, hanya satu kancing atas pakaianku yang terlepas, sisanya masih lengkap.


Aku keluar dari dalam selimut dengan sangat pelan, tapi sepertinya usahaku sangat gagal karena sebuah tangan memegang lenganku, menahanku untuk tetap tinggal.


“Tidurlah 15 menit lagi.” Kalimat singkat yang keluar dari bibir Ares membuatku menoleh, laki-laki itu masih memejamkan matanya.


Aku mengikuti perintah yang dia katakan, entah kenapa aku mengikutinya, hitung-hitung dia menolongku semalam dan tidak menyentuhku sama sekali, sebagai tanda maaf merepotkan dan terima kasih sekaligus.


15 menit telah berlalu, aku hanya diam sambil melihat langit-langit tempat tidur, tangan Ares masih setia memeluk tubuhku dari samping, aku sendiri merasa sangat nyaman atas perlakuan itu. Tapi semua pikiran burukku langsung ku tepis hanya karena Ares adalah kakak tiriku, dan tidak seharusnya aku berpikir mengenai hubungan kami yang dilakukan oleh orang dewasa pada umumnya. Toh banyak orang melakukan hal itu hanya one night stand, yang pada artinya hanya mengenal dan melakukan hal itu untuk satu malam saja. Tanpa perasaan, bahkan sebagian orang tidak mengenal partnernya lebih jauh, ada juga yang tidak tau namanya.


Tiba-tiba saat aku berada dalam pikiranku sendiri, Ares mengubah posisinya secara mendadak, dia berada diatasku. Wajah kami sangat dekat, wajah tampannya sehabis tidur membuatku terdiam, dia masih tampan dan terlihat sangat tampan melebihi apapun. Kulitnya yang sehat, bentuk wajahnya yang tegas, hidung mancungnya, mata tajamnya, dan jangan lupakan bibirnya yang membuatku hilang konsentrasi.


“Aku sudah membantumu semalam, bukankah saatnya kamu membalas budi?.”


“Apa?.”


“Kamu tidak ingat yang terjadi?.”


Apa yang terjadi, aku hanya menggeleng, tapi sepertinya ada sesuatu hal yang memalukan melihat reaksi Ares yang tidak enak.


“Karena itu...” Ares menarik ponselnya yang tidak jauh dari tempat tidur kami, dia menunjukkan sebuah video dimana aku menari-nari diatas ranjang dengan heboh, bahkan berusaha melepaskan pakaian, namun setelah itu video berakhir. “Aku menahanmu agar kamu tidak melepaskan pakaian, harusnya aku melakukannya semalam.”


Aku sangat malu sekarang “Apa yang harus aku lakukan?.”


Ares beranjak dari atas tubuhku, dia berjalan menuju sofa dan duduk disana dengan sangat gagah. Aku bingung saat dia melebarkan kakinya, tubuhnya yang kekar membuatku jadi hilang fokus hanya karena tidak memakai pakaian atas.


“Kemarilah...” Ares memberikan arahan padaku menggunakan tangannya, Aku berjalan menghampirinya dan berdiri tepat di depannya, rasanya aku seperti pelacur yang sangat menurut kalihat dari tuannya “Puaskan milikku dengan mulutmu.”


Ucapan Ares membuatku kesal sekaligus benci, berhubungan dengannya saja membuatku menyesal karena kami saudara, apalagi memuaskan miliknya dengan sangat sadar.


“Tidak!.” Aku berlalu meninggalkannya, namun tangan Ares menarikku hingga membuatku limbung dan jatuh ke pangkuannya, aku bisa merasakan miliknya yang sangat keras saat tanpa sengaja aku mendudukinya.


Ini hal buruk, perlahan tangan Ares menyentuh leher belakangku lembut, menyingkirkan rambut panjangku kedepan. Aku merasakan deru nafas berat menyapa kulit leherku, rasanya tidak bisa di deskripsikan, mataku terpejam merasakan sentuhan tangan Ares, tapi rasanya berbeda saat aku merasakan dingin di kulit menambah sensasi yang lebih nikmat dari sebelumnya, bibir Ares serta lidahnya memainkan kulit leherku.


“Sial!.” Ares mengambil ponsel yang tergeletak di sebelahnya, sedangkan aku buru-buru turun dari pangkuannya dan masuk kedalam kamar mandi untuk menetralkan detak jantungku yang hampir melompat keluar.


Setelah melakukan banyak hal dari membersihkan badan hingga siap untuk keluar, aku baru menyadari kalau aku dan Ares masih berada di klub yang kami datangi semalam, lebih tepatnya berada di lantai 4, dimana di lantai 4 semuanya adalah kamar VVIP khusus untuk menginap anggota kelas VVIP Klub ini, dan Ares adalah bagian dari mereka. Sehingga hal kemarin dimana Ares membisikkan sesuatu tanpa mengeluarkan kartunya karena Ares adalah salah satu anggota VVIP yang sudah dikenal pekerja serta pemilik klub tersebut.


Mobil Ares berhenti di sebuah toko pakaian wanita, aku bingung kenapa harus berhenti disini, hingga dia membuka mulut setelah melepaskan sabuk pengamannya.


“Kenapa diam? Turun, beli pakaian yang kamu mau, tidak mungkin kamu pakai pakaian kemarin saat masuk kelas.”


“Ahh iya.” Aku buru-buru melepaskan sabuk pengaman, dan mengikuti langkah Ares untuk masuk ke dalam toko tersebut yang hitungannya masih sangat pagi belum ada pembeli datang selain kami berdua.



Pertama kali masuk dan menyentuh pakaian disana, yang aku lihat adalah tag harganya, karena terlihat dari luar kalau toko ini kemungkinan memiliki harga pakaian yang tidak murah. Aku tidak ingin membuang banyak uang hanya untuk satu stel pakaian, dan benar dugaanku, pakaiannya lumayan mahal.


Aku melihat Ares yang menatapku bingung “Kenapa?.”


“Kayaknya aku ga perlu beli pakaian deh.”


“Aku yang bayar, pilih yang kamu suka.”


“Serius? Ini harganya lumayan.”


“Pilih aja, ribet banget.” Ares menarik satu stel pakaian perempuan dan memberikan padaku. “Coba itu.”


Rok pendek dengan atasan crop bunga-bunga yang terlihat sangat klasik tapi indah, aku juga suka pilihan Ares.



Aku mengambil pakaian tersebut dan masuk ke ruang ganti, setelah itu keluar kembali dengan pakaian yang sudah pas di tubuhku untuk di perlihatkan pada Ares. Ares memperhatikan penampilanku dari atas hingga bawah, dia kemudian menarik sebuah cardigan putih dan melemparkan padaku.


“Pakaian itu juga, terlalu terbuka.”


Aku menerima pakaian dari Ares dan memakainya.


“Sudah.”


“Oke.”


Ares menuju ke kasir dan membayar pakaian yang kupakai. Ares itu tipe orang yang tidak terlalu pemilih, selama cocok ya sudah itu saja. Aku membawa paper bag berisi pakaian kotorku dan masuk kedalam mobil Ares. Berbeda denganku yang harus memakai pakaian baru, Ares memilih memakai kaos hitamnya dengan ripped jeans seperti kemarin.


Mobil berhenti di parkiran kampus, aku keluar setelah mengucapkan terimakasih pada Ares. Saat aku berjalan menuju ke gedung fakultas seni, aku melihat mobil Ares yang kembali meninggalkan parkiran kampus, entah kemana, sepertinya antara Ares tidak ada kelas dan hanya mengantarku atau memang dia sengaja tidak masuk kelas karena malas.