Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 10



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Cahaya matahari menerobos masuk kedalam kamarku saat kubiarkan tirai jendela kamar terbuka, aku yang tengah tidur di sofa mulai membuka mata dan melihat ke ranjang tempat tidur. Semalam tanpa sadar aku sudah tidur selama kurang lebih 1 jam, entah bagaimana ceritanya Ares datang ke kamarku melalui balkon, dia juga yang berusaha mengetuk pintu kamar tapi aku tidak cepat membukanya, kebetulan pintu balkon tidak aku kunci karena kelupaan.


Dan di luar dugaan, Ares sudah mabuk berat, aku bahkan harus menonjok wajahnya karena berusaha menyentuhku hingga dia terkapar di ranjang sekarang. Aku tidak ingin mengatakan pada para pelayan kalau Ares disini takut ada yang salah paham, aku hanya menunggunya sampai bangun sambil mengeratkan selimut ke tubuhku.


Karena cahaya matahari seakan menusuk wajahnya, Ares mulai mengerjapkan mata sambil menyentuh kepala, kemungkinan efek alkohol masih tersisa sehingga membuat Ares merasakan pusing. Aku masih di tempat yang sama memperhatikannya dari kejauhan, Ares melihat sekelilingnya seperti orang bodoh dan menemukanku yang tengah memperhatikannya.


“Bagaimana aku disini?.”


Pertanyaan yang sebenarnya malas aku jawab karena sudah jelas dia tidak akan ingat yang terjadi semalam, beruntung Ares belum melihat sudut bibirnya yang terluka karena tonjokanku.


“Lebih baik kamu segera kembali ke kamarmu sendiri.”


Tanpa mengatakan apapun Ares beranjak dari ranjang dan keluar dari kamarku tanpa menjawab ucapanku lagi, setelah Ares keluar, aku menutup pintu kamar dan menguncinya dari dalam untuk segera mandi karena harus ke kampus pagi ini seperti biasanya.


Sebelum berangkat ke kampus, kami semua menghabiskan sarapan dengan tenang di meja makan. Terutama Apollo yang sejak tadi membaca buku, fyi Apollo itu ada di jurusan seni musik, dia suka membuat lagu makanya kamarnya pun di lorong yang sama dengan Artemis karena sudah tau kalau Artemis sejak umur 13 tahun tinggal di asrama untuk kelas modeling. Selain itu dia butuh tempat untuk mengasah ide nya dalam membuat lirik atau aransemen musik, berbeda dengan Ares, dia ini satu-satunya anak yang akan melanjutkan perusahaan keluarganya, mengingat dia sendiri yang mengambil kelas bisnis.


Hari ini tidak seperti hari sebelumnya, aku berangkat sendiri dengan sopir, sedangkan Ares. Jangan tanyakan perihal laki-laki itu padaku, karena dia menghilang setelah sarapan entah kemana perginya, tapi kalau Apollo berangkat belakangan setelahku berangkat. Sampai di kampus, aku keluar dari mobil yang mengantarku sampai ke kampus, di ujung sana ada Jane yang sudah menungguku, aku janjian dengan Jane pagi ini sebelum masuk kelas.


“Tadi di antarkan siapa?.”


“Sopir dari rumah.”


“Rumahmu sebenarnya dimana sih?.”


“Jauh hehehe, ayo masuk, keburu dosennya datang.” Aku menarik lengan Jane masuk ke kelas, mengalihkan pembicaraannya mengenai keluargaku yang sama sekali tidak ingin aku bicarakan dan kalau bisa tidak ada yang tau kalau aku sepupu tirinya Ares dan Apollo.


Di tengah-tengah penjelasan dosen, aku ijin ke toilet karena ingin buang air kecil. Aku tidak pernah menyangka kalau aku akan bertemu Ares di gedung ini karena kita beda jurusan yang tidak mungkin Ares sampai di dekat toilet gedung seni rupa.


“Kamu ngapain disini.” Aku bingung karena dia ada dihadapanku tanpa mengalihkan tubuhnya yang menghalangiku untuk kembali ke kelas. Ares mematikan rokoknya dan menginjak menggunakan sepatu mahalnya di lantai.


“Ketemu sama kamu, malam ini apa yang akan kamu lakukan? Mau jadi anak baik-baik yang di rumah aja sambil merokok diam-diam?.”


“Aku akan mengajakmu ke klub kalau kamu mau.”


“Aku tidak minum.”


“Aku tidak mengajakmu minum, kalau kamu mau, setelah kelas berakhir pergilah ke parkiran kampus, kalau kamu setuju, aku yang akan bilang ke sopir mu untuk tidak menjemput.” Setelah mengatakan hal itu, Ares pergi keluar gedung, entah apa maksudnya datang kemari hanya ingin mengatakan itu padaku.


Aku kembali ke kelas dan duduk di kursi sebelah Jane.


Kelas berakhir dengan sangat cepat, aku tidak tahu apakah aku harus ikut dengan Ares atau kembali pulang ke rumah. Bukankah lebih baik aku ikut dengannya, mengingat kami adalah saudara dan dia tidak menyukaiku dengan baik, mungkin jika aku ikut dengannya bisa memperbaiki rasa tidak sukanya padaku.


Setelah berpisah dengan Jane di depan gedung seni rupa, aku berjalan menuju ke parkiran mobil, di sana ada Ares yang tengah merokok sambil berbincang dengan teman-temannya, saat aku datang, dia baru berpisah dengan teman-temannya untuk menghampiriku.


“Aku yakin kamu akan ikut, masuk.”


Aku masuk kedalam mobilnya, ingat terakhir kali bagaimana dia memperlakukanku saat berada di dalam mobil. Aku harus lebih hati hati sekarang, jangan buat dia marah atau tidak suka padaku sehingga kejadian itu terulang kembali.


Lebih cepat dari yang aku kira saat kita sampai di tempat parkir mobil, tapi aku tidak menemukan ada club di sekitar sini. Ares keluar dari mobil sambil mengajakku keluar, aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam gang-gang kecil, barulah di belokan selanjutnya aku menemukan beberapa orang pacaran sambil ciuman bahkan bertukar rokok atau membawa botol alkohol.


Aku bingung tempat apa ini karena biasanya aku datang ke club biasa, bukan tempat seperti ini yang terkesan sangat tertutup dan mungkin kalau bukan orang sini tidak akan pernah tau kalau ada tempat ini.


Ares masuk setelah berbincang dengan penjaga pintu, dia mengajakku masuk dengan menarik tanganku. Tempat ini wajar tersembunyi, bukan hanya minuman alkohol, rokok dan ****, tapi juga narkoba kemungkinan juga ada. Terlihat beberapa orang tengah menghisap bubuk di dalam tempat kecil setelah itu mereka merasa seperti kembali hidup, di ujung juga ada yang dengan santainya melakukan ****.


“Hei!.” Seorang laki-laki menyapa Ares, kemudian melihat ke arahku. Ares berbisik padanya, entah apa yang dia katakan hingga laki-laki itu tersenyum padaku “Johan.” Dia memperkenalkan dirinya padaku dengan cukup sopan.


“Viola.”


“Nikmati saja tempat ini, terserah kalian mau ngapain.”


Ares menyuruhku duduk, dia mengambil minuman yang ada di ujung dan membawanya di atas meja yang ada didepanku.


“Kalau mau merokok, merokok saja.” Ares mengeluarkan sebatang rokoknya serta menyalakan dengan korek api yang dia bawa.


Aku pun melakukan hal sama, mengeluarkan rokok yang aku bawa, aku berniat menyalakannya tapi Ares menarik wajahku sehingga menghadap ke arahnya, dia menyalakan rokok milikku yang sudah ada di mulut.


“Nikmati saja disini, kamu bebas tapi jangan sembarangan berkenalan dengan orang.”


Aku hanya mengangguk, setidaknya dari kalimat itu aku tau kalau Ares tidak terlalu jahat seperti apa yang aku pikirkan.


Terimakasih sudah membaca cerita ini, tinggalkan komentar dan like kalau suka