Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 35



WARNING 18+!


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from a good children who lives here, I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Ares merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna hitam dari dalam sana, kotak kecil itu menunjukkan isinya, sebuah cincin yang sangat indah. Mataku berkaca-kaca bahkan sebelum Ares membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu.



“Aku tidak tahu bagaimana caranya mengajakmu menikah, aku sudah belajar melalui video di internet beberapa orang yang menyampaikan perasaan yang mendalam, sedangkan aku hanya tau kalau aku sangat ingin hidup denganmu, mencintaimu, dan memberikan seluruh waktuku untukmu. Viola, Will You Marry Me?.”


Aku menutup mulutku menggunakan telapak tangan karena tidak percaya kalau Ares akan melamarku secara formal, aku tidak ingin berlebihan, tapi jujur ini di luar ekspektasi yang sudah aku berikan untuknya, tanpa hal seperti ini, aku akan tetap bahagia hanya kalimat ajakan menikahnya.


Aku mengangguk.


“Yes?.”


“Yes.” Jawabku kembali.


Suara tepukan tangan dari para pelayan membuatku sangat malu sekaligus tersenyum bahagia.


Ares beranjak dari duduknya di ikuti alunan musik yang mulai terdengar, pria itu membawaku kedalam pelukannya dan menyematkan cincin indah itu di jari manisku. Mengecup tanganku lembut dan kembali memelukku erat.


Setelah ini, aku hanya memikirkan apa yang akan terjadi setelah ini, apakah semua berjalan sesuai bayangan baikku, atau akan berakhir seperti bayangan burukku sejak dulu.


Setelah makan siang berakhir, aku dan Ares bergandengan tangan sambil saling melempar senyuman keluar dari restoran tersebut. Aku harus kembali bekerja karena pekerjaanku yang cukup banyak, walaupun Ares mengajakku untuk ke suatu tempat tapi aku belum bisa hari ini karena nyonya Alexa hari ini tidak ada di kantor, aku menghandle semuanya.


“Besok aku akan menjemputmu, aku akan mengatakan pada nyonya Alexa.”


Aku mengangguk, Ares melepaskan seat belt nya dan mencondongkan tubuhnya ke arahku, bibir kami bertemu, saling mengecup dan ******* menyalurkan perasaan masing-masing. Ares mengusap rambutku lembut sambil tersenyum, aku keluar dari mobil Ares untuk kembali bekerja.



Sejak tadi siang, aku terus mengatur degup jantungku yang tidak beraturan karena Ares dengan tiba-tiba mengajakku untuk menemui ibu kandungnya, orang yang melahirkan dan mengandung Ares. Seseorang yang hanya aku lihat melalui foto saja, aku tidak pernah membayangkan kalau aku bertemu dengannya. Rasanya mobil ini berjalan lebih lambat dari biasanya tapi gugupku tidak kunjung mereda.



Dress selutut biru muda berlengan pendek dengan dada yang sedikit terbuka menjadi pilihanku hari ini, aku juga membawa bunga Lili kesukaan Ibu Ares, Ares mengatakan kalau ibunya sedang menyukai bunga Lili, lebih tepatnya sangat suka hingga sekarang sibuk-sibuknya merapikan bunga lily untuk hiasan rumah.


Ares mengatakan kalau ibunya juga tinggal di Amerika, dan dia hanya beberapa kali bertemu dengannya karena kesibukan setelah Ares menerima semua kenyataan yang menghampiri hidupnya, bahwa memaafkan masa lalu bukanlah hal yang merugikan.


Tangan Ares terulur menggenggam tanganku sambil menyetir mobilnya “Kamu gugup?.” Tanya Ares lembut.


“Tidak.”


“Kamu terlihat tidak baik-baik saja, kita bisa putar balik dan datang kapan-kapan setelah kamu siap.”


“Hari ini, aku akan menemui mama mu hari ini.”


“Viola, terimakasih. Mama pasti senang melihatmu.”


“Apa iya?.”


“Mama baik, jangan khawatir.”


Beberapa pelayan menyambut kedatangan kami, aku membawa bunga di dalam tanganku.


“Siapkan semuanya yang rapi.” Suara dari dalam rumah kembali membuat jantungku ingin keluar dari tempatnya.


Ares tersenyum padaku dan menggenggam tanganku erat.


Akhirnya kami bertemu untuk pertama kalinya secara nyata, dia cantik, sangat cantik, seperti Artemis, lebih elegan dan juga tersenyum padaku.


“Ares... selamat datang.” Wanita itu memeluk Ares, mengecup kedua pipinya bergantian kemudian melihatku dengan pandangan hangat. “Viola?.”


Aku mengangguk saat Ibu Ares menyebut namaku.


“Savira, mama Ares.” Ucapnya memperkenalkan diri.


“Viola tante.”


“Boleh tante peluk?.”


Aku mengangguk, Ibu Ares memelukku erat, mengusap punggungku lembut, hangat. Dia wanita yang sangat hangat hanya dari pelukannya yang terasa sangat tulus. “Tante senang akhirnya kamu bisa bersama dengan Ares.” Pelukan kami terlepas.


Aku tersenyum “Ini tante.” Aku memberikan bunga Lili yang sudah kubawa sebelumnya untuk hadiah kedatanganku.



“Kenapa repot-repot, tante hanya mau kamu datang dengan Ares.”


“Viola!.” Sebuah suara membuatku menoleh kebelakang, disana untuk pertama kalinya setelah sekian tahun aku tidak bertemu, yaitu Artemis dan Apollo.


Bukan hanya itu tapi juga ada seseorang yang aku sangat sesali karena aku tidak pernah mengabarinya, padahal kami sangat berteman baik, Jane. Mataku berkaca-kaca karena tidak percaya dengan apa yang aku lihat hari ini. Aku melihat Ares dan dia hanya memberikan senyumannya padaku.


Artemis berlari ke arahku dan memelukku erat, kami berteman baik walaupun hanya sebentar, aku menyukainya sebagai seorang saudara maupun seorang teman “Bagaimana kabarmu? Maaf.” Ucapan yang dilontarkan dalam pelukan Artemis, aku tau aku berlebihan tapi aku menangis sekarang, karena sangat merindukan mereka semua.


“Selalu baik, bagaimana denganmu?.”


“Aku juga.” Setelah melepaskan pelukan Artemis, aku melihat kearah Jane tanpa mengatakan apapun.


Jane tersenyum padaku hingga membuatku menangis keras, kami saling memeluk, pertemuan kami sebagai teman sangat singkat, tapi aku melihat jelas bagaimana tulusnya Jane menganggapku sebagai seorang teman baik. Aku tidak mengatakan apapun masalah identitasku, melihatnya berada disini membuatku tidak percaya.


“Kenapa tidak pernah menghubungiku?.”


“Maaf.”


“Kamu tau, kalau aku sangat khawatir sejak kamu pindah ke Amerika, aku tidak memiliki apapun untuk mengejarmu hanya meminta penjelasan.”


“Maafkan aku.”


Setelah melepaskan pelukan itu, ada banyak hal yang kami ceritakan di rumah hangat ini. Terutama kehadiran Jane disini, aku tidak menyangka kalau Jane memiliki hubungan dengan Apollo, keluarganya memang lumayan di pandang karena salah satu keluarga seniman, pertemuannya dengan Apollo bukanlah ketidaksengajaan, hanya saja perasaan mereka akhirnya tumbuh satu sama lain, awal dari pesta keluarga yang membawa Jane berhubungan dengan Apollo hingga hari ini.


“Mama sangat senang jika kalian akhirnya memutuskan untuk menikah.” Ucap Ibu Ares padaku dan Ares.


“Kak, kamu harus mendapatkan hati papa lagi?.” Artemis mulai bersuara sambil memakan camilan.


“Ares juga anak mama, jika papa mu tidak setuju, maka mama yang akan mendukung anak mama ini.”


“Terimakasih ma.”


Berbeda dengan Apollo dan Jane yang hanya liburan kesini, Artemis sudah tinggal di rumah ibunya sejak satu tahun yang lalu. Pekerjaannya sebagai model pindah ke salah satu agensi yang ada di Amerika dan itu lebih membuat Artemis populer dengan brand-brand besar.