
WARNING 18+
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from a good children who lives here, I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Seperti yang seharusnya karena Alexa adalah orang yang sangat berjasa atas karir hingga hari ini, aku tidak bisa menolak apa yang dia katakan apalagi ini menyangkut pekerjaan. Tidak ada yang tau mengenai hubunganku dengan Ares sebelumnya, karena semua orang tau nya, aku dan Ares sekarang hanya lah rekan kerja yang saling terikat kontrak selama Ares berada di Amerika, aku harap dia segera menghabiskan waktunya disini dan kembali ke asalnya.
Aku mengikuti Ares yang berjalan lebih dahulu di depanku, namun tiba-tiba pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arahku, aku yang bingung hanya menatapnya bertanya-tanya.
“Kamu adalah penasehatku, jadi bisakah kamu berjalan di sebelahku, aku tidak tau harus memilih yang mana?.”
“Ahh itu ya, maaf tuan.” Aku melangkah menjelaskan beberapa lukisan dengan arti masing-masing yang aku ketahui, mengenai konsep yang akan Ares danai. Rasanya agak aneh karena Ares melakukannya sendiri.
“Bagaimana kalau aku membuka perusahaan disini?.”
Aku menoleh ke arahnya “Apa? Kenapa?.”
“Rasanya aku lebih nyaman disini.”
Aku hanya tersenyum, ingin segera menyelesaikan pekerjaan ini dan istirahat, rasanya lebih melelahkan saat otak dan hatiku bekerja bersamaan. Setelah beberapa jam berlalu, pekerjaan pun berakhir di jam makan siang, Ares harus mengurus pekerjaan lain, sehingga hari ini dia hanya bertemu denganku sampai jam makan siang.
“Aku ingin mengajakmu makan siang.” Ucap Ares padaku di depan mobilnya.
“Tapi tuan-.”
“Kamu masih bekerja sampai jam makan siang berakhir, masuklah.”
Mau tidak mau, aku masuk kedalam mobil Ares, mengikutinya entah makan siang dimana. Mobil ini membawaku dan Ares menuju ke salah satu restaurant bintang lima di hotel tempatnya menginap.
“Makan siang disini lumayan enak, aku harap kamu akan menyukainya juga.”
“Terimakasih.”
Aku mengikuti Ares duduk di salah satu meja kosong, Ares sudah tidak asing lagi dengan tempat seperti ini, tapi bagiku ini adalah tempat yang menghabiskan banyak uang hanya untuk makanan.
Tidak ada yang bisa di bicarakan di antara kami berdua, aku maupun Ares sibuk dengan makanan masing-masing dan berkelana dalam pikiran masing-masing. Makan siang pun berakhir, aku memberikan salam perpisahan pada Ares sebagai atasanku hari ini.
“Viola.”
Panggilan Ares membuatku menoleh kembali “Iya?.”
“Masalah lukisan, ada yang ingin aku tanyakan, bisa datang ke hotel nanti malam.”
“Apa tidak bisa besok saja?.”
“Pekerjaanku banyak, aku hanya ada waktu nanti malam.”
“Baiklah, saya akan datang.”
Setelah itu aku menghentikan taksi dan kembali ke kantor, ada banyak hal yang berada di dalam kepalaku, bagaimana perasaan Ares sekarang, mengingat wajah itu yang seakan semuanya tidak pernah terjadi. ini terdengar sangat lucu, karena sekarang aku berharap Ares mengakui kehadiranku yang pernah ada dalam hidupnya, padahal sudah sangat jelas aku bersikap profesional sejak awal.
Aku menarik nafas dalam-dalam, merapikan kembali dress hitam selutut yang membalut tubuh rampingku yang semakin hari semakin terlihat lebih berisi karena konsumsi makanan yang sehat dan beberapa kali olahraga untuk mengurangi rokok dan alkohol. Aku tersenyum kemudian menekan bel yang ada di sebelah pintu kamar hotel VVIP yang Ares tempati.
Tidak membutuhkan waktu lama, pintu terbuka, tapi bukan Ares yang membukanya melainkan seorang wanita berpakaian sangat minim dan terlihat berantakan.
Ares tersenyum padaku, rasanya aku sangat canggung karena kejadian barusan, aku tidak datang lebih awal atau telat dari jam temu. Aku mencoba mengabaikan apa yang telah terjadi, hubungan yang Ares lakukan dengan wanita itu. Aku duduk di sofa seperti yang Ares perintahkan. Pria itu masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaian setelah menurunkan segelas minuman untukku di meja.
Mataku melihat bekas bungkus ****** yang berada di dekat sofa, membuatku tersedak saat minum.
“uhuk uhuk.”
Ares keluar melihat ke arahku dengan wajah khawatir. “Kenapa?.”
“Tidak apa-apa.” Aku tersenyum mengatakan baik-baik saja dan kembali fokus untuk bekerja malam ini.
Beberapa menit kemudian Ares sudah berada didepanku untuk menunjukkan beberapa lukisan melalui tab nya, dia bertanya banyak hal padaku seperti yang dia katakan sebelumnya saat memintaku datang kemari. Tidak ada yang terjadi selain bekerja sesuai dengan tugasku, sekitar pukul 10 malam, aku selesai dengan pekerjaan ini.
Aku beranjak dari sofa untuk berpamitan pada Ares.
“Kalau begitu saya permisi-.”
“Ada yang ingin aku katakan.”
Aku melihatnya kembali.
“Bisa kita bicara masalah pribadi?.”
Untuk kali ini aku mengatakan iya pada Ares, sepertinya tidak baik kalau aku terus lari dari permasalahan kami di masa lalu, sudah saat aku berdamai dengan keadaan dan menganggap kalau semua akan berjalan sesuai apa yang seharusnya.
Aku dan Ares duduk di meja makan, dia mengambil satu botol wine dan dua gelas, membuka tutup botolnya dan menuangkan cairan dengan bau yang sangat enak itu kedalam gelas masing-masing.
Tring
Suara benturan gelas kami beradu, aku belum meminumnya tapi Ares sudah menghabiskannya dalam satu tegukan.
Terlihat jelas di wajah Ares, dia tengah menyiapkan kalimat panjang, matanya menatapku tajam, dibanding dia yang dulu dengan pemikiran pendeknya dan sikapnya yang selalu menggodaku, sekarang Ares lebih dewasa, hanya saja mungkin kehidupannya lebih bebas dan lebih dewasa dari sebelumnya.
“Aku tidak bisa melupakanmu hingga hari ini.”
Aku melihat kearah Ares dengan tatapan dingin sambil memegang gelas dengan kedua tanganku di atas meja “eum...” Aku sendiri tidak tahu harus menjawab apa ucapan Ares, itu sebuah pernyataan yang tidak membutuhkan jawaban melainkan sebuah pengakuan dariku juga.
Hingga bel pintu membuatku dan Ares menoleh, mau tidak mau Ares beranjak dari duduknya untuk membukakan pintu. Aku meneguk wine yang ada di gelas dengan sekali tegukan untuk mengurangi rasa gugup.
“Sorry lama, Diana udah balik?.” Suara seorang pria membuatku menoleh ke pintu.
“Udah.”
“Itu yang itu kan?.”
“Ada apa lagi?.”
“Sorry- Sorry, lanjutin. Aku ke klub aja.”
Dia kembali keluar setelah melihatku didalam, Ares menghampiriku saat pria itu sudah pergi.
“Itu Brandon, dia mau bawa balik wanitanya yang tadi.”
“Yang tadi?.”
“Sorry, kamu kayaknya salah paham, dia wanita bayaran Brandon. Kebetulan gunain kamar hotel ini, tadi aku habis mandi karena baru pulang kerja. Tidak ada hubungannya dengan wanita itu.”
Walaupun agak ribet Ares menjelaskan kejadian saat aku datang ada wanita, tapi aku paham apa yang dia katakan. Wanita itu adalah sewaan temannya, yang kebetulan saat aku datang temannya pergi karena ada urusan, sedangkan Ares baru pulang kerja dan berniat untuk mandi sebelumnya.
Aku kembali menuangkan wine ke dalam gelasku dan meneguknya hingga habis, aku menghampiri Ares dan mendekatkan tubuhku ke arahnya, wajah kami sangat dekat, ada rasa yang kembali mendebarkan dada, aku tau aku masih mencintainya sangat besar. Bibir kami bertemu satu sama lain, sebuah kerinduan yang telah lama dan ingin dilupakan.