Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 18



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Entah hari ini aku harus bahagia atau tidak tapi rasanya harga diriku terinjak, seakan aku adalah orang paling tidak tau diri dengan ibuku. Daddy membelikan mobil yang cukup mewah untukku hanya karena aku mengatakan kalau aku tidak ingin sopir, aku bisa menggunakan mobil seadanya karena aku tidak enak jika berangkat diantarkan oleh sopir terus mengingat jadwal kuliahku tidak menentu, padahal aku juga minta bisa pinjamkan salah satu motor yang tidak dipakai. Tapi malah mobil indah berwarna pink itu menjadi hadiah untukku, mau tidak mau aku menerimanya, setidaknya mobil ini tidak semalam milik Ares, Apollo, atau pun Artemis. Kalau lebih mahal, pasti mereka semua akan membenciku.



Sore itu aku ada urusan untuk menemui Jane di salah satu cafe langgananku dan Jane tatkala mengerjakan tugas kampus. Jane sudah menunggu di sana jadi aku harus bergegas menuju ke cafe tersebut sebelum membuatnya kesal karena menunggu lama.



Sebuah panggilan masuk, aku memakai airpods di salah satu telinga kananku dan menerima panggilan dari Michael, tidak biasanya dia menghubungiku tanpa mengatakan kalau dia akan menghubungiku melalui telepon.


“Halo.”


“Aku putus dengan Selena.”


“Mic, Are you ok?.”


“No.”


“What's wrong?.”


“Selena selingkuh Vi.”


Aku bisa mendengar kalau nada suara Michael sangat berat seakan ingin menangis, tapi aku tidak bisa menghiburnya lebih lanjut, aku hanya memberikan semangat dan beberapa hal agar dia tetap baik-baik saja. Hingga aku mengakhiri panggilan dan menghentikan mobilku di parkiran cafe, terlihat Jane yang melambaikan tangannya padaku.


Setelah memesan Americano Hot dan Cup cake, aku duduk didepan Jane, meja yang sama dengan dua tab yang kami bawa. Tugasnya membuat penelitian mengenai sebuah lukisan, kami akan memilih salah satu lukisan pada pameran yang akan dilaksanakan besok di salah satu museum milik kampus, pameran dari seniman yang cukup terkenal di kota ini, aku tidak tau namanya tapi dia juga lulusan dari kampus kami.


“Mobilmu baru?.” Pertanyaan Jane membuatku menoleh ke arah mobilku yang terparkir diantara mobil lain.


“Iya biar mudah kalau pulang pergi ke kampus.”


“Kapan-kapan aku main kerumahmu dong.”


“Sorry, soalnya rumah nggak pernah menerima tamu.”


“Emangnya rumahmu dimana?.”


“Lumayan jauh.”


“Oh yaudah deh.”


Ngomong-ngomong soal Ares, beberapa hari ini aku tidak melihat batang hidungnya, aku juga menghabiskan makan malam selalu sendirian mengingat Apollo ada tugas di luar dan Artemis yang tinggal di asrama. Aku sempat bertanya pada kepala pelayan, tapi dia mengatakan kalau Ares ada di kamarnya, sedangkan aku yang hampir tiap malam merokok di balkon selalu melihat kalau balkon Ares gelap.


Aku sendiri tidak ingin bertanya lebih lanjut mengenai hal tersebut, karena tidak ingin pelayan curiga mengenai hubungan gelapku dengan Ares, hubungan yang sebenarnya tidak penting, toh kami tidak saling mencintai, lebih tepatnya Ares yang belum tentu menyukaiku walaupun aku merasa kehilangan saat ini sejak tidak pernah melihatnya.


Setelah bertemu dengan Jane, kami berpisah. Aku kembali kerumah saat hari mulai petang, jalanan yang hanya diterangi lampu-lampu jalanan di setiap 3 meter sekali. Gerbang rumah besar itu terbuka, aku menghentikan mobil di depan rumah dan memberikan kuncinya pada penjaga untuk dibawa masuk ke dalam basement lantai bawah.


Saat aku masuk kedalam rumah, keadaan sangat sepi, hanya ada pelayan yang berlalu lalang untuk menyiapkan makan malam. Aku tidak tahu kenapa mereka seantusias itu, padahal yang makan hanya aku, anak tiri yang tidak ada hubungan darah dengan pemilik rumah ini, bukankah seharusnya aku sangat ditindas disini.


“Maaf, kak Ares nya udah pulang?.” Tanya ku pada salah satu pelayan.


“Tuan Ares sudah pulang sejak 1 jam yang lalu, katanya dia tidak ikut makan malam karena sudah makan.”


“Thanks.”


Aku tidak tau apa masalah Ares sebenarnya, sejak waktu itu dia sama sekali tidak bertemu denganku, dia seakan menghindar dengan sengaja. Aku masuk ke dalam lift dan menuju ke kamarku untuk mengganti pakaian dengan pakaian rumahan.


Makan malamku sama seperti hari sebelumnya, sendirian, tapi kali ini aku mengajak para pelayan yang menyiapkan makanan untuk menemaniku makan. Rasanya sangat sepi kalau sendirian, misal dulu aku masih bisa makan di tempat kerja bersama dengan pekerja lain, aku pergi makan dengan Michael, sedangkan ini benar-benar sendirian.


Malam ini aku memutuskan untuk naik ke pembatas balkon milikku ke balkon kamar Ares setelah menghabiskan satu batang rokok. Aku memakai celana jeans dengan atasan hoodie hitam, sudah cocok di sebut penyusup.


Aku juga melihat kamar Ares yang gelap, saat aku memutar gagang pintu menuju ke balkon, Ares tidak menguncinya. Mungkin dia lupa, aku berharap Ares tidak ada di dalam, kalau ada, aku tidak tahu harus mengatakan apa.


Dug


Kakiku menabrak kotak yang ada di depanku, mataku menelusuri seluruh ruangan ini yang sangat berantakan berbeda dari sebelumnya. Aku sungguh terkejut, karena kamar ini bagaikan habis di masuki maling.


Aku akhirnya menemukan sosok yang meringkuk di sebelah ranjang sambil memeluk lututnya, kupikir itu Ares setelah aku cukup mendekat ke arahnya.


“Ares...” Panggilku lembut.


Dia menoleh ke arahku, dari cahaya rembulan, aku bisa melihat matanya yang sembab karena menangis. Aku bingung apa yang harus aku lakukan, aku ikut duduk di sebelahnya, tapi tiba-tiba Ares memelukku erat. Aku hanya diam membiarkannya mencurahkan semua yang mengganggu pikiran.


Setengah jam berlalu, lampu kamar ini sudah menyala. Aku mulai membereskan barang-barang yang berjatuhan. Sedangkan Ares duduk di sofa hanya diam belum mengatakan apapun, aku tidak ingin memaksanya jika memang dia belum ingin mengatakan apapun.


“Ibuku, dia masih hidup.”


Suaranya membuatku menoleh dan menghentikan pekerjaanku.


“Rasanya aneh saat mereka mengatakan ibuku meninggal, karena aku melihat dengan jelas kalau dia baik-baik saja kala itu. Mungkin aku akan sangat bahagia jika faktanya tidak seperti ini, karena sikap daddy yang berlebihan, dia meninggalkan rumah. Daddy tau kalau ibuku pergi bukan meninggal, demi menghargai keputusannya tanpa menyakiti hati kami bertiga, daddy mengatakan kalau ibu sudah meninggal.” Jelas Ares yang membuatku semakin terdiam.


Aku menghampirinya dan duduk di sebelah laki-laki itu, mengusap punggungnya lembut.


“Aku tidak ingin bertemu dengannya lagi.”


“Ares... aku tau bagaimana perasaanmu, silakan ekspresikan kesedihanmu tapi jangan membuat tubuhmu menderita seperti ini.


“Dia baik-baik saja seakan tidak ada masalah jika meninggalkanku, Apollo, dan Artemis yang saat itu masih kecil. Aku bisa ingat wajah ibu dengan jelas, tapi Artemis, dia hanya ingat melalui foto.”