Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 24



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Sebelum perayaan natal tiba, keluarga Cystenian bersiap untuk keberangkatan ke Italia merayakan natal di sana, bukan karena disana ada keluarga, memang sudah sebuah tradisi keluarga tatkala hari natal tiba, keluarga Cystenian dan mendatangi sebuah tempat di penjuru dunia untuk merayakan natal dan tahun baru, bertepatan pada tahun ini kami semua mengunjungi Italia.


Koper-koper yang cukup banyak sudah tertata rapi di depan rumah, termasuk ada kami semua yang sudah berkumpul, mobil dibagi menjadi 4 mobil, tiga mobil di bagi untuk tumpangan manusia, dan 1 mobil lagi untuk koper-koper yang jumlahnya tidak begitu banyak. Di musim liburan ini, penerbangan lumayan padat mengingat bukan hanya satu dua keluarga yang meninggalkan rumah, hanya saja keluarga Cystenian berbeda karena mereka memiliki pesawat pribadi yang aku pikir ini pesawat paling mewah yang pernah aku naiki. Semuanya tersedia dan dilayani dengan sangat baik, aku duduk di sebelah Ares.


Sejak kepulangan Ares dari mengerjakan banyak tugas kuliah, Ares tidak banyak bicara, dia bahkan tidak menceritakan apapun padaku mengenai kesehariannya, entah apa yang terjadi disana aku tidak ingin bertanya sebelum dia mau menceritakan dengan sendirinya.


Perjalanan ditempuh beberapa jam hingga akhirnya tiba di bandar udara internasional Leonardo da Vinci, tempat yang akan menjadi rumah bermalam kami bukanlah hotel bintang lima dengan banyak pelayanan vvip, melainkan sebuah rumah besar klasik dengan banyak lukisan di dalamnya, jika bertanya apakah ada pelayan, lebih banyak yang aku pikirkan karena mereka hanya datang pagi dan pulang menjelang sore. Ibu mengatakan kalau rumah yang lebih mirip seperti villa itu salah satu bangunan milik keluarga Cystenian.


Pembagian kamar, setiap anggota keluarga mendapatkan kamar sendiri-sendiri, itu pun masih ada beberapa kamar kosong. Kecuali daddy dan ibu, mereka tentunya mendapatkan kamar utama mengingat mereka adalah orang tua. Kamar yang aku tempati bersebelahan langsung Ares dan Artemis, aku masuk kedalam kamar tersebut yang hampir mirip dengan hotel, koperku sudah ada di dalam. Sebelum aku bergabung dengan keluarga lain, aku membersihkan badan di kamar mandi.


Aku melihat area sekitar kamar mandi untuk menemukan jubah mandi atau apapun yang bisa dipakai untuk keluar, tapi aku tidak menemukan apa-apa, aku melupakan jubah mandiku yang ada di ranjang saat aku melepaskan pakaian.


“Ah sial, aku lupa.”  Mau tidak mau, aku keluar tidak memakai pakaian, toh tidak akan ada yang masuk ke kamarku karena semua pada istirahat setelah penerbangan yang panjang.


Ceklek


Saat aku melangkahkan keluar, mataku langsung melihat Ares yang duduk di pinggiran jendela sambil menghisap rokoknya dengan santai. Pandangan kami bertemu, lebih tepatnya pandangan Ares yang langsung tertuju pada tubuhku, aku bahkan melupakan kalau aku tidak memakai sehelai benang pun.


Ares mematikan rokoknya dan menarik jendela kamar agar tertutup, seakan mengerti dalam pikirannya yang terus berjalan ke arahku, aku langsung menarik jubah mandi yang ada di ranjang dan memakainya setelah membalik badan.


“Maaf aku tidak tahu.” Ucapku padanya, entah kenapa aku menjadi sangat canggung dengan Ares hanya karena kami jarang mengobrol.


Sebuah lengan melingkar di perutku, aku bisa merasakan deru nafas Ares yang berat, “Aku merindukanmu.” Kalimat pendek yang membuatku terdiam, apa yang harus aku katakan jika aku merasakan hal sama, aku tidak tau, seakan-akan tidak berhak merindukan Ares juga mengingat hubungan kami yang tidak bisa di jelaskan pada khalayak umum.


Aku memutar tubuh dan berhadapan langsung dengannya, mata Ares menatap lembut ke arah mataku. Perlahan dia membawaku duduk di ranjang tepat berada dalam pangkuannya, masih mengenakan pakaian yang sama, dengan dua kancing atas yang dibiarkan terbuka serta rambut yang sedikit berantakan, Ares selalu sangat tampan dan seksi.


Tanpa mengalihkan pandangannya pada wajahku, tangan Ares perlahan menurunkan jubah mandi yang kupakai, aku bisa merasakan sentuhan jarinya pada kulit pundakku. Jujur aku sangat menyukainya, tapi hal ini membuatku sangat malu. Ares mengecup dadaku lembut, meninggalkan beberapa kissmark disana, aku mengijinkan karena bukan leher dan meninggalkan bekas yang bisa dilihat orang lain, sekarang winter, harus memakai jaket tebal jadi tidak masalah.


Kecupan Ares semakin intens, aku menikmati sentuhan darinya setelah sekian lama. Entah sekarang jam berapa saat aku berada di ranjang bersama Ares setelah kegiatan panjang kami, sebuah ketukan di pintu membuatku terkejut, bagaimana tidak, mengingat Ares masih ada di ranjangku.


Aku buru-buru turun dari ranjang dan memakai pakaian lengkap, melihat Ares yang sangat santai mengenakan pakaiannya, berbeda denganku yang takut setengah mati.


Perlahan aku membuka pintu dan menemukan Apollo di depan pintu kamarku, dia melongok ke dalam “Kenapa?.” Tanyaku bingung.


“Tidak.”


“Itu ponsel kak Ares.” Apollo menunjuk sebuah ponsel di nakas sebelah ranjangku, aku melihatnya dengan seksama, disana ada ponselku dan ponsel milik Ares.


“Bukan.”


Tiba-tiba Apollo membuka ponselnya dan ponsel disana berbunyi “Benar itu milik Kak Ares.”


Ares pun menampakkan wajahnya dari dalam kamar mandi, “Masuklah.” Ajak Ares yang membuat Apollo akhirnya masuk kedalam kamarku. Aku menutupnya kembali dan memperhatikan mereka yang tengah berbicara di sofa.


“Kalian ada hubungan apa?.” Tanya Apollo penasaran.


“Hubungan kekasih.” Jawab Ares santai.


Aku lihat pun Apollo juga sangat santai mendengarnya, mereka berdua tidak ada ekspresi terkejut sama sekali seakan keduanya sudah tau akan reaksi masing-masing, padahal aku yang tau ada Apollo didepan pintu saja sudah terkejut setengah hidup.


“Bukannya kita saudara semua? Kak Ares juga tahu kan konsekuensi nya bagaimana?.”


“Tau.”


“Aku harap kalian mengambil keputusan yang seharusnya, aku pribadi tidak pernah ingin memiliki ibu baru, tapi bukan berarti jika daddy sudah menikah, aku tidak akan mendukungnya.”


“Aku menyukai Viola bukan karena tidak suka pernikahan daddy, tapi aku memang menyukainya.”


“Aku pikir lebih baik itu bukti pemberontakan ketimbang benar-benar jatuh cinta, kalian akan saling menyakiti karena harus menerima kenyataan, tidak ada yang bisa berubah dari hubungan adik kakak.”


“Kita tidak kandung.”


“Aku tau.”


“Terus apa masalahnya?.”


“Mau sampai kapan hubungan kalian, jika daddy tau pasti marah besar.”


“Kalau begitu jangan sampai tau.”


“Jangan sering-sering datang ke kamar Viola, ayo.”


Ares tersenyum padaku, meninggalkan kamarku bersama dengan Apollo. Banyak hak berkecamuk di dalam kepala, tapi sepertinya Ares tidak pernah memikirkan itu mengingat reaksinya yang santai, aku jadi berpikir jika kita berpisah, apakah dia akan sangat sakit, atau hanya aku yang merasakan sakit.


Makan malam diadakan sangat tenang, semua makanan lezat berada di atas meja dihidangkan dengan sangat baik. Beberapa kali aku melihat Ares yang memperhatikanku, tapi Ares mengalihkan pandangan Ares agar tidak ada yang curiga hubungan Ares denganku.