
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Hari pertama di tempat yang baru dan tahun yang baru, banyak yang aku rindukan dari tempat lama, mungkin hanya satu tahun aku berada disana tapi rasanya aku merindukan banyak hal terutama ARES. Aku menyimpan gambarnya dalam lukisan yang aku buat, ayah sangat baik hingga membuatku selalu nyaman berada di tempat ini.
Dia membuatkan studio khusus untukku dan mendaftarkan kelas khusus lukis pada salah satu pelukis yang dia kenal. Berbeda dari sebelumnya aku menempuh kelas di sebuah kampus, aku hanya menempuh kelas dengan beberapa orang hebat di sebuah studio kecil.
“Ayah akan lebih bekerja keras agar kamu mendapatkan apa yang seharusnya.”
Aku sedang menyiapkan sarapan pagi kami di rumah kecil di tengah kota, aku tersenyum pada ayah dan meletakkan panci di atas meja.
“Terimakasih banyak yah, tapi sepertinya aku akan mulai bekerja besok, aku sudah mendaftar di mini market milik Granny.”
“Kenapa? Ayah masih bisa membiayai semua kebutuhanmu.”
“Dulu aku juga bekerja paruh waktu saat kosong, aku ingin melakukan lagi, karena aku menyukainya.”
“Maaf Viola.”
“Aku bersyukur karena ada ayah di sebelahku, jadi jangan merasa apapun karena aku sangat bahagia.”
Sekarang aku sangat percaya kalau kebahagian tidak bisa dibeli dengan uang, aku bisa mendapatkan apapun yang aku inginkan sebelumnya, tapi rasanya tidak nyaman, tapi disini aku menemukan kenyamanan yang membuatku selalu tersenyum dalam hal apapun secara tulus. Kepergianku mengukir sedih saat aku mengatakan pada Michael, karena sudah pasti kita berdua tidak akan pernah bisa bertemu lagi kecuali aku benar-benar pulang atau dia datang ke negara ini.
Bahkan kami harus menentukan waktu yang pas untuk saling mengobrol hanya karena jam yang tidak sama, saat aku tidur, dia bangun, begitu pula sebaliknya.
Hari ini aku masih ada kelas sekitar satu jam lagi, aku mengambil beberapa peralatan lukis milikku dan memasukkan kedalam tas khusus, aku juga membawa kanvas yang sudah diberikan banyak coretan sebagai dasar. Perjalanan menuju ke studio belajar menempuh waktu yang cukup lama, membutuhkan 1 jam jalan kaki, tapi bisa menggunakan bus sebagai transportasi yang bisa membawaku lebih cepat.
Aku masuk kedalam bus dan duduk di salah satu bangku yang kosong, sambil mendengarkan musik yang aku suka, melihat jalanan yang ramai dengan kendaraan lain serta beberapa orang berlalu lalang. Cukup cepat aku membiasakan hidup di negara yang sebesar ini, dengan banyak ras yang berbeda.
Bus berhenti di halte terakhirku, aku keluar dan mulai berjalan 1 kilometer menuju studio belajar. Beberapa orang sudah datang dan duduk di kursinya masing-masing, hari ini pak Tommy akan memberikan tugas melukis manusia, dia juga sudah mendatangkan seorang model yang digunakan untuk melukis.
Terlihat pak Tommy yang nampak resah dan beberapa kali melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Mungkin model yang dia katakan telat sehingga dia nampak resah kali ini, padahal kami semua disini tidak begitu kesal karena menunggu.
“Mohon maaf semuanya, kemungkinan model kita hari ini datang terlambat, apakah saya bisa meminta waktu jeda selama satu jam?.”
“Tentu sir.”
Semua setuju jika menunggu lagi selama satu jam, aku keluar dari studio dan pergi ke gang kecil di dekat sana untuk menyalakan rokok. Aku belum bisa berhenti merokok seperti yang aku inginkan saat tiba di Amerika, aku gagal dalam hal ini.
Bau rokok menyebar di seluruh area sini, aku menyandarkan punggung di dinding, beberapa kali memejamkan mata saat merasakan asap rokok memenuhi mulut dan tenggorokanku. Ayah tidak tau kalau aku merokok, karena aku tidak pernah merokok saat dirumah, aku bahkan merasa sangat bersalah menyembunyikan ini darinya.
“Masih merokok?.” Sebuah suara membuatku menoleh.
“ARES.”
Ares masih sama seperti dulu, hanya saja sekitar dagunya mulai tumbuh bulu-bulu halus yang terlihat, dia mengambil rokok milikku dan menghisapnya santai.
“Bagaimana kabarmu?.” Sebuah pertanyaan keluar dari bibir Ares.
“Aku baik-baik saja, bagaimana kamu bisa ada disini?.”
“Bukankah harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kamu tidak meninggalkan apapun untukku?.”
“Apa?.”
Ares mendekat ke arahku, mengikis jarak diantara kami. Wajah kami sangat dekat, tangannya menyentuh pipiku lembut, aku terhimpit di dinding karenanya. “Kamu tidak mengatakan apapun saat pergi, bagaimana hubungan kita dan tidak ada perpisahan.”
“Bukankah sudah jelas malam itu?.”
Buughh! Ares memukul punggung tangannya pada tembok di sebelahku, wajahnya nampak sangat kesal.
“VIOLA! Kamu tidak mendengarkanku?!.”
Untuk pertama kalinya Ares menunjukkan wajah seperti itu, entah kenapa air mataku jatuh tanpa permisi, aku buru-buru menghapusnya dan melihat ke samping agar dia tidak tahu. Tapi sayangnya dia sadar kalau aku menangis.
“Maaf... Viola... maaf... aku tidak bermaksud seperti itu.” Ares menyentuh tanganku lembut, berbicara sangat pelan. Dia bahkan mengusap air mataku menggunakan ibu jarinya “Aku tidak ingin kehilanganmu sedikitpun.”
“Kenapa kamu tidak menemuiku setelah malam itu? Bukannya sudah jelas hubungan kita berakhir?.”
“Aku-.” Ares menunduk “Aku minta maaf, aku tidak bisa mengatakan apapun padamu, aku takut kamu akan mengatakan kalimat berpisah saat aku menemuimu.”
“Ares...”
Ada sebuah dorongan yang kuat saat aku menarik wajahnya dan mencium bibirnya rakus, Ares melakukan hal yang sama, menyentuh rahangku menggunakan kedua tangannya dan memperdalam ciuman kami. Saat terlepas, kami berdua saling terengah tanpa memperjauh jarak, mata kami bertemu.
Ares menarik tanganku masuk kedalam mobilnya, mendudukkan tubuhku diatas tubuhnya dan kembali mencium bibirku tanpa jeda. Tangannya mulai berjelajah ke seluruh tubuhku, melepaskan jaket hitam yang kupakai, menaikkan rok yang membalut pahaku. Ciumannya turun menuju leherku, menghisapnya, aku bisa merasakan miliknya yang tertekan dibawah.
Aku menarik resleting celananya, mengeluarkan miliknya dari dalam sangkar. Mobilnya kemungkinan bergerak saat kami melakukan di dalam sini, Ares tersenyum padaku, aku tidak bisa menahan desahanku walaupun jari Ares berada di dalam mulutku. Aku merindukannya, merindukan banyak hal darinya.
Hubungan kami terlalu jauh, aku tidak bisa keluar dari lingkaran ini dengan mudah. Jika seperti ini rasanya hubungan kami hanyalah dua orang asing yang saling memadu kasih, bukan saudara tiri yang berhubungan gelap.
Masih dengan posisi yang sama saat kami melepaskan nafsu masing-masing, Ares membawaku kedalam pelukannya, mengusap rambutku lembut dan beberapa kali mendaratkan kecupan manis.
“Aku sangat merindukanmu? Merindukan semuanya darimu.”
Jariku bergerak memutar di dada bidangnya, “Bagaimana kamu bisa menemukanku disini?.”
“Apollo mengatakan kamu pindah ke Amerika, aku mencarimu sepanjang kelas lukis di negara ini, dan menemukanmu di daftar murid pak Tommy.”
“Ahhh begitu...”