
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Apakah hari pernikahan adalah hari paling bahagia seumur hidup, sebagai anak aku tidak pernah tau dan tidak pernah ingin memikirkan hal tersebut, tapi saat melihat ibu yang sejak tadi tersenyum di ruangan pengantin untuk berdandan, sepertinya ibu sangat bahagia hari ini. Sedangkan aku terus berpura-pura bahagia melihat pernikahannya dengan laki-laki yang tergolong sangat kaya raya, bukan hanya anak-anak Hades yang berpikir kalau ibuku orang yang ingin menikmati harta ayahnya, tapi seluruh media berpikir yang sama, jika melihat pemberitaan sekaligus membaca komentar banyak orang, aku mulai sadar kalau kami jauh berbeda, tapi ibu bisa dengan santai mengabaikan itu semua.
White simple long dress dengan tali spageti di pundak dan juga punggung yang terbuka menjadi pakaian yang aku kenakan hari ini saat upacara pernikahan ibu dan Hades, pakaian ini bukan pilihanku melainkan memang sudah disiapkan, beruntung ukurannya pas di tubuhku, sedikit saja berat badanku naik mungkin tidak akan cukup aku pakai.
Acara pun dimulai, aku mengantarkan ibu sampai di depan Altar mengganti sosok ayah yang entah sebenarnya diperbolehkan atau tidak tapi ibu hanya memiliki au sebagai anggota keluarga satu-satunya. Kemudian aku duduk di kursi yang kosong dan di siapkan untukku di sebelah Apollo,
“Ibumu sangat cantik.”
Untuk pertama kalinya Apollo bicara padaku, walaupun lirih tapi dia memuji ibuku yang memang sangat cantik hari ini, aku sempat tidak percaya kalau wanita itu ibuku.
“Terimakasih.”
“Kita belum sempat berkenalan secara pribadi, aku Apollo, kamu bisa memanggilku kak seperti Artemis.”
“Viola.” Aku tersenyum pada Apollo, jika dia baik maka aku juga akan berperilaku sangat baik padanya, berbeda dengan Ares yang menurutku sangat menyebalkan, sepertinya lebih cocok Apollo sebagai kakak pertama ketimbang Ares dalam menghargai anggota keluarga baru.
Upacara pernikahan pun dilaksanakan dengan penuh haru dihadiri beberapa keluarga penting saja, walaupun sama sekali tidak ada keluarga dari pihak ibu, hanya keluarga dari pihak Hades saja kebanyakan. Rasanya tidak nyaman diantara mereka semua, saat upacara berakhir, hari dilanjutkan dengan pesta yang cukup besar dan dihadiri banyak tamu undangan, dari rekan kerja hingga bahkan rival pun sepertinya hadir di acara ini.
Berbeda dari siang tadi, sekarang aku memakai black long dress yang cukup terbuka walaupun dengan design yang sama dengan sebelumnya. Apalagi high heels yang lama-lama tidak nyaman aku pakai sejak pagi tadi, semua hanya berpindah warna dari putih menjadi hitam.
Aku berada di antara tamu yang sama sekali tidak ada yang aku kenal, berdiri sendirian sambil meminum minuman yang ada di meja dan memakan kue kecil yang sudah di siapkan untuk hidangan. Aku melihat ibu dan ayah tiriku yang tengah sibuk menyapa para tamu, kemudian pandanganku tertuju pada Artemis yang berbincang dengan teman-temannya, lalu juga ada Apollo yang tengah sibuk berbincang dengan kerabatnya, tapi aku tidak menemukan Ares sejak selesai upacara pernikahan tadi.
Mataku menelusuri seluruh penjuru, tapi tidak menemukan batang hidungnya sama sekali. Aku pun berniat untuk naik ke lantai 3 menuju ke kamarku untuk merokok, lagipula tidak ada yang mencariku mengingat ibu yang sibuk dengan para tamu.
Lift terbuka, aku segera masuk kedalam dan menekan angka 3, selama di dalam lift aku hanya diam menunggu lift berhenti di lantai 3. Pintu lift terbuka, bersamaan dengan pertemuanku dengan Ares yang berada di depan lift.
Tidak ada perbincangan sama sekali, aku keluar dari dalam lift dan Ares masuk ke dalam lift. Walaupun terasa sangat aneh mengingat Ares yang selalu menggangguku, tapi seperti ini lebih baik dan lebih nyaman. Aku berjalan menuju ke kamarku dan masuk kedalam tanpa mengunci pintunya. Mengambil bungkus rokok yang ada di laci dan membawanya ke balkon kamar setelah itu menutup pintu balkon kamar dari luar.
Karena lampu kamar dan balkon sengaja aku matikan, tidak ada yang sadar kalau disini ada orang walaupun di bawah ada yang lewat. Hingga mataku menangkap dua wanita yang berjalan di taman bawah, dia terburu-buru masuk ke dalam labirin kecil yang ada di belakang, tetapi dari lantai 3 bisa dengan jelas melihat rute labirin dan orang yang ada disana.
Saat lampu orange menyorot salah satu wajah wanita itu, dengan jelas aku mengetahui kalau dia adalah Artemis, entah dengan wanita mana mereka melakukan hal itu, tapi sekarang aku menyadari kembali bahwa Artemis tidak menyukai laki-laki, dia menyukai seorang perempuan. Mereka tertawa-tawa sambil berciuman dengan mesra, layaknya seorang penguntit, aku memilih duduk di lantai dan bersandar pada pagar balkon membelakangi area luar, itu adalah privasi Artemis dan aku tidak ingin ikut campur apalagi seakan mengetahui hal itu secara gamblang.
Krieeettt...
Suara pintu terbuka, aku melihat ke arah pintu yang ada didalam melalui pintu kaca menuju ke balkon, seseorang masuk kedalam kamarku tapi aku tidak tau siapa dia karena kamar yang benar-benar gelap, hanya siluetnya sebentar saat membuka pintu dan masuk karena mendapatkan pantulan cahaya dari luar.
Aku mulai berdiri dan membuka pintu balkon pelan, lampu pun menyala. Ares berada di depanku setelah menyalakan lampu kamarku, dia memandangku dengan pandangan bingung lalu melihat tanganku yang membawa rokok yang sudah mati.
“Apa yang kamu lakukan disini?.”
“Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu disini disaat semua ada di bawah.”
“Seperti yang kamu pikirkan.”
“Aku hanya memanggilmu untuk bergabung dengan yang lain.”
Ajak Ares dingin, kemudian berbalik badan menuju ke pintu dan membukanya. Aku mengikuti langkah laki-laki itu keluar dari kamarku setelah menyemprotkan parfume di tubuhku agar tidak ada bau rokok tercium.
“Aku mendengar suara ******* semalam? Kamu membawa wanita pulang ke rumah?.”
Ares menghentikan langkahnya dan membuatku menabrak bahu tegapnya sambil menyentuh dahiku yang sedikit sakit karena terbentur tubuh kekarnya.
“Aww!.”
Ares menoleh ke arahku “Apa kamu akan menjadi seorang penguntit disini?.”
“Apa? Tidak! Lagipula suaranya terdengar sampai ke kamarku, aku juga tidak berniat untuk mendengarkan.”
“Bukan urusanmu, tapi dirumah ini kamu tidak bisa membawa seseorang sembarangan.”
“Soal Artemis, aku harap mulutmu bisa ditutup rapat.”
“Apa? Kamu tau aku melihatnya?.”
“Diam lebih baik.”
Aku hanya mengangguk melihat wajah dinginnya, lagipula buat apa juga aku mengatakan pada semua orang mengenai Artemis ataupun mengenainya yang membawa wanita ke dalam kamar, tapi sepertinya Ares tidak membawa wanita luar ke dalam kamarnya, ah mungkin saja salah satu pelayan disuruh untuk memuaskannya. Sungguh gila keluarga ini, jangan sampai aku menemukan kegilaan lagi pada diri Apollo yang menurutku masih paling benar diantara dua saudaranya.
Nggak tau berapa Episode, kayaknya cuma dikit. terimakasih sudah membaca dan mengikuti cerita ini, semoga suka.
Lin Yi as Apollo
Iamazhai as Artemis