Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 19



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Barang-barang di kamar ini mulai kembali pada tempatnya masing-masing, aku memperhatikan sebuah foto keluarga yang ada di atas meja, foto yang sebelumnya di biarkan jatuh telungkup disana dan sudah ku kembalikan ke posisi semula. Jam sudah menunjukkan jam 8 pagi tapi aku masih stay di dalam kamar ini tanpa mengatakan apapun selain memperhatikan Ares yang masih terlelap. Penampilannya tidak sekeren biasanya, dia juga nampak lusuh dengan lingkaran hitam di bawah mata. Semalam aku menemaninya untuk tidur karena dia hampir tidak tidur beberapa hari ini, pagi aku sudah bangun dan berniat kembali ke kamar, hanya saja kaki ku ragu untuk meninggalkannya.


Aku sudah menghubungi pelayan di rumah kalau Ares sakit sehingga ku harus menjaganya disini, mungkin mereka akan segera datang dengan membawa sarapan. Ada tawaran untuk memanggilkan dokter tapi aku sudah mengatakan kalau Ares hanya butuh istirahat saja.


Makanan yang aku maksud pun tiba, aku membantu pelayan yang sebenarnya tidak ingin ku bantu untuk meletakkan makanan di atas meja. Setelah itu mereka kembali keluar kamar Ares, meninggalkan aku dan Ares saja.


Sejujurnya aku tidak ingin membangunkan Ares, tapi makanan akan dingin kalau dibiarkan lebih lama, dia juga belum makan sejak kemarin, atau bisa saja sejak lusa. Aku mulai berjalan kearah Ares dan menyentuh lengannya lembut. “Ares... bangun... kamu harus makan.”


Matanya mulai mengerjap dan melihat ke arahku, dia tidak menunjukkan ekspresi apapun selain diam dan menatapku. Ares mulai bangun dan berjalan menuju ke sofa, aku hanya memperhatikannya dari jauh yang sedang menghabiskan makanan, rasanya aku tidak sedang bicara dengan sosok Ares biasanya. Dia yang suka mengganggu seakan menghilang dan tidak peduli lagi dengan keberadaanku.


“Aku harus kembali ke kamarku.” Ucapku menghentikan kegiatan makannya, dia menoleh ke arahku dengan tatapan dingin.


“Terimakasih, aku harap kamu bisa menutup mulutmu masalah semalam.”


Aku mengangguk mengerti apa yang dia katakan “Kalau butuh apa-apa, kamu bisa mengatakan pada pelayan atau kepadaku, aku hari ini tidak ada kelas.”


“Ehm.. bagaimana kalau kamu menemaniku ke suatu tempat?.”


“Apa?.”


“Aku bertanya, apa kamu bisa menemaniku ke suatu tempat?.”


“Baiklah, aku akan bersiap.”


Entah kenapa rasanya hari ini berbeda, Ares yang aku tau, menjadi seseorang yang sangat hangat di balik wajah dinginnya. Dia juga nampak ragu saat bicara padaku, dan itu membuat jantungnya berpacu lebih cepat dari sebelumnya, jika Ares bersikap seperti itu dan tersenyum tipis malu-malu seperti itu, mungkin aku akan jatuh cinta tanpa membencinya.


Saat sedang memilih pakaian yang akan aku kenakan, mataku menangkap pakaian yang terakhir kali Ares belikan untukku. Pakaian itu sangat cantik dan sesuai dengan pakaian yang aku pakai. Pas di tubuhku dan sangat cocok dengan styleku, rasanya aku tidak rela jika memakainya kembali karena sayang.


Kali ini aku jatuh pada pilihan celana jeans dipadukan dengan kaos crop dan cardigan hitam. Setelah memoles wajah dengan make up tipis, aku keluar kamar karena ketukan dari pintu. Aku segera membukanya dan melihat Ares yang sudah siap dengan pakaian rapi, wajah yang kusut semalam kembali pada wajah aslinya yang 100 kali lebih tampan dari biasanya.


Aku mengikuti langkahnya menuju ke dalam lift, tidak ada perbincangan di antara kami hingga dia membuka mulut saat berada di dalam lift.


“Aku dengar, daddy membelikan mobil baru.”


“Baguslah, daripada harus antar jemput setiap hari, pasti membosankan karena tidak bisa pergi kemanapun lagi.”


“Kamu tidak marah?.”


“Kenapa? Uangnya tidak akan habis hanya untuk membeli satu mobil.”


“Aku tau, tapi aku bukan anaknya.”


“Ibumu menikah dengannya, kamu juga menjadi anaknya.”


Benar, apa yang dikatakan Ares benar. Dan kenyataannya juga Ares bukanlah laki-laki asing yang bisa bersanding menjadi pasanganku, dia tetaplah saudaraku walaupun tidak ada ikatan darah sama sekali. Tapi perasaan ini semakin membesar setiap harinya, aku tidak tahu kapan, yang pasti aku mulai menyukai Ares, bukan sekedar kakak melainkan sebagai laki-laki dewasa.


Kami berada di mobil Ares yang meninggalkan area rumah mewah tersebut, mobil mewah ini menelusuri jalanan menuju ke area perkotaan, namun hanya lewat saja dan terus menuju jalan yang semakin lama hanya ada beberapa rumah dan kendaraan berlalu lalang. Hingga kami berhenti disebuah toko yang menjual banyak bunga segar, mengingat kami yang sudah melewati perkebunan bunga, kemungkinan bunga ini diambil dari sana juga.



Aku dan Ares keluar dari mobil, dia berjalan masuk kedalam toko bunga tersebut, melihat reaksi Ares dan pemilik toko, mereka sangat akrab seakan Ares sering datang kemari untuk membeli bunga.


Toko bunga ini sangat cantik, walaupun aku tidak terlalu suka hal yang berbau vintage, tapi melihat pemandangan seperti ini membuat hatiku nyaman. Ada secuil harapan yang pernah aku minta dalam doaku kalau aku suatu hari nanti bisa memiliki kebun bunga dan membuka toko bunga seperti ini di dekat rumah, pasti sangat menyenangkan, apalagi hidup dengan orang yang sangat mencintaiku, dan aku sangat mencintainya. Melahirkan anak-anak yang lucu dan hidup bahagia.


Apa yang aku pikirkan, itu hal paling bodoh yang pernah aku bayangkan. Toh pada akhirnya aku akan kembali pada realita kalau aku akan menjadi budak korporasi hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.



Ares keluar dari dalam toko dengan membawa buket bunga mawar putih, dia seperti laki-laki yang akan menghampiri pasangannya dengan sangat romantis.


“Kita akan kemana?.”


“Makam nenek.”


“Ahh iya.”


Untuk pertama kalinya setelah sampai disini aku bertanya kemana akan pergi, di luar dugaanku ternyata Ares mengajakku ke makam neneknya.


Sebuah tanah yang luas dengan gerbang besar di depannya, disana bisa melihat banyak nisan yang menandakan bahwa ada orang yang sangat disayangi berada didalam tanah, nama Hera tertulis di nisan yang kami datangi. Ares duduk dan meletakkan bunga yang dia beli diatas sana, laki-laki itu tersenyum pada nisan tersebut.


“Gimana kabar nenek? Lama Ares tidak datang, sepertinya daddy juga tidak datang lagi setelah menikah. Ares punya kabar baik, tapi juga kabar sedih untuk Ares sendiri karena kecewa, nenek pasti sudah tau apa yang akan Ares katakan, mama masih hidup hahaha, lucu ya nek dunia ini. Rasanya Ares hanya ingin ikut bersama nenek, dulu hanya nenek yang sangat mengerti Ares.”


Kalimat yang Ares lontarkan membuatku ikut sedih, aku menyentuh tangannya lembut memberikan kekuatan. Ares melirikku sambil mengusap air matanya yang tanpa dia sadari lolos jatuh ke tanah.


“Sekarang kayaknya Ares punya kekuatan baru selain nenek, tapi sulit, kami tidak bersama seperti pasangan lainnya nek, harusnya Ares lebih dulu mengenalnya ketimbang daddy.”


Aku terdiam, entah kenapa kalimat Ares menyatakan kalau yang dia maksud adalah aku dan ibu.