
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Penampilan yang indah terlihat di cermin, beberapa aksesoris menghiasi pergelangan tanganku, hari ini Ares mengajakku untuk jalan-jalan setelah pertemuan pertama kami setelah sekian lama. Rasanya aneh aku menerimanya kembali, tapi rasa suka yang masih hidup membawaku tertarik dalam benang merah yang kami buat, seakan-akan kami tidak akan pernah terpisah dengan alasan apapun.
Sebuah pesan masuk dari Ares, yang membuat raut wajahku kemungkinan berubah masam.
Dari : Ares
Sayang, maaf hari ini aku ada pekerjaan mendadak. Aku akan menjemputmu nanti sepulang kerja.
Mau tidak mau, aku mengikuti apa yang Ares katakan, hanya saja pakaianku sudah melekat di tubuh, bahkan aku siap berangkat sekarang. Ayah yang baru saja menyiapkan makan siang menghampiriku dengan bingung.
“Bukannya kamu mengatakan pergi dengan Ares.”
“Ares tiba-tiba ada pekerjaan mendadak yah, jadi Viola akan pergi sebentar.”
“Ya sudah, hati hati kalau gitu.”
Aku pun meninggalkan rumah, tanpa Ares. Langkah kaki membawaku menuju ke perkotaan yang sangat padat, jam makan siang membuatnya semakin padat apalagi kedai penjual makanan.
Baru saja mengantri di salah satu kedai makanan, aku melihat Ares berjalan buru-buru dengan seorang laki-laki menuju gang kecil. Entah kami memang ditakdirkan selalu bertemu atau sebuah keberuntungan yang merugikan. Karena pilihanku untuk mengikuti Ares adalah pilihan yang salah.
Ares berada disana menyerahkan sebuah bungkus kecil serta menerima beberapa lembar uang.
“Senang bisnis dengan anda.” Kalimat itu menjadi akhir perbincangan mereka dan Ares menoleh kebelakang tepat saat dia melihatku di balik dinding.
Aku memutar otakku untuk pergi, namun belum sempat melangkah, seseorang menahan tanganku.
“Viola.”
Aku menoleh kebelakang “Ares.”
“Tidak seperti yang kamu bayangkan.”
“Aku tidak memintamu menjelaskan apa yang aku lihat, tapi kenapa kamu melakukan ini semua?.”
“Aku butuh uang untuk hidup disini.”
“Apa?.”
“Aku hanya punya teman dari klub dan dia menawarkan sebuah pekerjaan yang cukup menjanjikan.”
Entah kenapa air mataku jatuh “lebih baik kamu pulang ke rumahmu dan nikmati semua fasilitas disana. Jadilah anak baik seperti seharusnya, kakak bagi Apollo dan Artemis, serta penerus perusahaan keluarga.”
Aku melepaskan tangan Ares, berbalik meninggalkannya.
“Viola!!.” Teriak Ares menahanku kembali.
“Kenapa? Aku tidak akan meminta apapun darimu, aku anggap kita nggak pernah ketemu, aku akan menjelaskan semuanya pada Ayah.”
“Kamu sebenarnya mengerti perasaanku atau tidak, semua yang aku lakukan ini untukmu.”
Aku mengusap air mataku kasar dan tersenyum padanya “kalau memang seperti itu, aku memintamu kembali ke tempatmu, karena aku tidak menerimamu disini.” Ucapku dingin. Aku menghempaskan tangan Ares, meninggalkannya di sana, aku tau aku tidak bisa melupakannya begitu saja, tapi aku harus melakukan itu demi kebaikan Ares.
Tanpa terasa air mataku jatuh kembali, aku menangis. Rumah kosong terlihat sangat sepi di depan mataku, aku masuk kedalam kamar dan menidurkan tubuhku di ranjang.
Seharusnya aku tidak pernah menaruh apapun pada Ares, hatiku, perasaanku, pikiranku, semuanya. Sehingga perasaan sakit tidak akan pernah datang seperti ini.
Kejadian hari itu menjadi hari terakhir aku bertemu dengan Ares hingga 5 tahun berlalu, aku menyelesaikan kelasku dengan baik dan bekerja di salah satu rumah pameran lukisan.
Pekerjaan yang cukup baik tapi tidak membuatku berada di keadaan lebih baik, aku masih merokok, bahkan aku mencuri waktu hanya untuk menghabiskan satu batang rokok di rooftop.
“Dua hari lagi.” Suara wanita membuatku menoleh ke samping, dia menyodorkan rokoknya padaku untuk dinyalakan, aku menyalakan korek dan membantunya membakar batang rokok tersebut.
“Bagaimana perasaanmu? Lukisanmu akan ada di sana untuk pertama kalinya.” Lanjutnya sambil menghisap rokok.
“Tidak bisa digambarkan, aku sangat berterimakasih pada nyonya karena mengijinkanku.”
“Lukisanku tidak memiliki potensi sebesar itu jadi jangan berharap lebih.”
“Kita tidak pernah tau.”
Aku mematikan rokok setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku.
“Aku ada acara nanti malam, jadi aku ijin pulang lebih awal.”
“Oke, have fun.”
Ijin dari nyonya Alexa setiap weekend, kegiatan wajib yang harus aku habiskan di akhir pekan, merenung di klub sendirian.
Banyak yang berusaha mendekatiku, wajar karena itu klub malam dan aku wanita yang duduk sendirian. Tapi selama bertahun-tahun aku masih dengan keadaan yang sama, ayah selalu memarahiku karena pulang dalam keadaan bau alkohol dan rokok.
Sekarang ayah memutuskan untuk membuka sebuah kedai makanan jepang di dekat rumah, sebelah studio lukis milikku, ada banyak perubahan selama tiga tahun terakhir, terutama masalah keluarga kami, aku dan ayah.
Penghasilan tidak seberapa tapi cukup untuk makan sehari-hari, ayah membuka kedai setelah aku mendapatkan pekerjaan yang aku inginkan.
Rok pendek dipadukan dengan tanktop serta jaket kulit menjadi pilihan penampilan yang aku kenakan hari ini, taksi berhenti di depan klub, aku keluar setelah memberikan beberapa lembar uang dollar.
Aku masuk kedalam klub tersebut dan duduk di kursi depan meja bartender, memesan satu gelas minuman dan menyalakan rokok kembali.
“Datang lagi.” Dia Barom, bartender yang selalu melayani pesananku, dia yang selalu hafal minuman apa yang ku minum serta dia juga yang menghentikanku jika aku terlalu mabuk.
“Seperti biasa.”
“Ok.”
Sambil menunggu minuman datang, aku mengosongkan pikiran, tanpa mengatakan apapun karena aku selalu sendiri.
“Butuh teman minum?.” Suara dari sebelah membuatku menoleh, seorang pria tersenyum padaku.
“Aku ingin sendiri, lebih baik cari wanita lain.” Ucapku tanpa menoleh ke arahnya.
Barom melirik ke arahku kemudian melihat pria yang berusaha mendekatiku seakan mengatakan sebuah rahasia sehingga membuatnya pergi.
“Kenapa kamu menolak semua pria, aku pikir yang tadi lumayan.” Ucap Barom sambil memberikan minuman pesananku.
“Bukan urusanmu juga.”
“Wahh atau jangan-jangan kamu salah satu penyuka sesama jenis.” Aku tertawa mendengar ucapannya untuk pertama kali. “Apa lucu?.”
“Lumayan, tapi aku bukan seperti yang kamu katakan.”
“Kalau begitu ada masa lalu yang tidak bisa dilupakan.” Tanganku terhenti saat akan meminum minuman yang ada di meja, pandanganku kosong.
Rasanya masih kemarin, tapi ini sudah 5 tahun lamanya aku tidak berhubungan dengan keluarga itu terutama Ares, bagaimana kabarnya? Apakah dia baik-baik saja, tiba-tiba memutar di kepalaku.
“Apa ada yang terjadi? Viola!.”
Aku menyadarkan pikiran dan minum minuman yang sebelumnya aku hentikan, aku mengulas senyuman.
“Aku benar? Siapa pria yang sudah berhasil merebut dihatimu hingga seperti ini?.”
“Seseorang yang sangat baik tapi tidak bisa aku miliki.”
“Cinta sepihak?.”
Aku menggeleng “kami terikat hal yang lebih dekat lagi, jadi tidak bisa bersama.”
“Saudara? Bodoh, kenapa kamu bisa jatuh cinta dengan saudara mu sendiri.”
“Aku tidak bisa memilih dimana hatiku menempatkan diri secara nyaman. Kami saudara tiri.” Tanpa sadar aku tersenyum saat membicarakannya.
“Akhirnya kamu bercerita setelah 3 tahun.”
“Hahaha aku pikir aku harus berdamai dengan masa lalu ku dan memikirkan semua hal baik di masa depan.”
“Aku harap kamu menemukan kebahagiaan lainnya.”
“Thanks.” Aku tersenyum, Barom itu sangat mirip dengan Michael, ngomong-ngomong soal Michael, dia sekarang lebih sibuk dengan keluarga kecilnya di dekat pantai.
Memutuskan pindah setelah menikah apalah keputusan yang berat dan seorang Michael yang tidak pernah aku yakini menikah atau berkeluarga akhirnya memilih perjalanan hidupnya untuk memulai lebih awal.
Terimakasih sudah membaca, maaf jika ada salah kata atau typo