Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 38



WARNING 18+!


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from a good children who lives here, I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



“Aku akan tetap menikahi Viola tanpa persetujuan kalian.”


“Ares dengarkan dulu kalau ibumu bicara.”


“Lima tahun yang lalu, tante sudah membicarakan pada daddy, daddy mengatakan kalau kamu adalah tipe anak yang sangat penurut tapi sejak kenyataan menghampirimu semua berubah, daddy mu tau bagaimana kamu sangat menyayangi Apollo dan Artemis sebagai adikmu, dia tidak ingin merenggut kebahagiaan dan mimpimu kembali. Tante menawarkan sesuatu padanya, jika hak asuh Viola akan pindah ke ayahnya yang otomatis dia tidak masuk dalam keluarga kita sehingga-.”


“Kalian setuju?.” Ares kembali berbicara, ada rasa tidak percaya yang aku dengar dari pernyataan ibu setelah dia banyak memberikan peringatan secara pribadi.


“Ares...”


“Sehingga tante pikir kemungkinan kalian memang akan menikah walaupun belum pasti, ternyata memang benar. Tante senang kamu meminta putri pertama tante dengan sangat bertanggung jawab.”


“Daddy setuju dengan pernikahan kalian.” Ucap ayah Ares mengakhiri ucapan ibu.


Entah kenapa air mataku tiba-tiba jatuh, aku bahagia, sebahagia itu saat mendengarkan penjelasan Ibu, dia tidak pernah menyalahkanku selama ini, dia selalu menyayangiku walaupun tidak pernah diungkapkan secara lantang.


Aku memeluk Ibu erat, menenggelamkan kepalaku ke pelukannya yang hangat “Maafkan ibu ya sayang...”


Aku menggeleng dalam pelukannya sambil terus terisak tidak bisa mengatakan apapun selain menangis. Ibu menarikku dan menatapku lembut, setelah sekian tahun berlalu aku merindukan tatapan ini, jarinya mengusap air mataku yang jatuh ke pipi. Hari ini akan menjadi hari permulaan kebahagiaan yang aku rasakan, walaupun di luar dugaan, tapi aku sangat bersyukur berakhir dengan baik.



Aku menjadi sangat sibuk dengan persiapan pernikahanku dengan Ares, banyak media yang mencuri-curi mengenai identitasku dan aku harus lebih berhati-hati karena itu. Ares juga lebih sibuk dengan pekerjaan kantornya karena harus mengurus cuti honeymoon, sehingga menyelesaikan pekerjaan lebih awal. Aku memakluminya toh aku juga sibuk dengan fitting pakaian pengantin, memilih dekorasi secara pribadi bahkan menu makanan juga aku memilihnya secara pribadi. Pernikahan ini hanya akan terjadi sekali seumur hidupku, jadi aku ingin membuatnya lebih istimewa dengan pilihanku semuanya.


Bukan ibu yang mengantarku melihat pakaian atau memilih dekorasi, melainkan Ibu Ares, dia datang hanya untuk membantuku dan mengantarkan putranya menikahiku. Selama kurang lebih satu bulan lamanya sebelum pernikahan, Ibu Ares lah yang sangat sibuk menyiapkan ini dan itu untukku, dari hal simpel hingga hal paling rumit. Sedangkan Artemis belum bisa menemaniku, dia masih menetap di Amerika, hanya akan datang hari dimana pernikahanku berlangsung, mengingat pekerjaannya yang sangat padat.


“Dress pesanan waktu itu sudah siap?.”


“Sudah nyonya, hanya tinggal fitting terakhir saja. Mari saya antarkan.”


Aku mengikuti Ibu Ares dan pergi menuju ke ruangan belakang untuk fitting gaun pengantin, dia secara pribadi memilihkan butik ini untuk dress pengantin yang aku pakai. Dressnya sangat indah, aku tidak percaya bahwa gaun panjang putih itu sesuai dengan apa yang aku impikan di pernikahanku nanti.


“Bagaimana menurutmu Viola?.”


“Bagus ma.”


“Mau di coba dulu nyonya, biar saya bantu.”


Aku mengangguk dan masuk kedalam ruangan yang ditutup oleh kelambu abu-abu, mereka para pelayan membantuku berpakaian, nyaman, tidak berat atau membuatku kesal dengan banyaknya hiasan tapi masih memiliki kesan simple dan elegan.


Sraakk


Kelambu terbuka, disana aku melihat Ares yang tengah memandangiku dari atas hingga bawah, sejak kapan Ares ada disini, padahal sebelumnya dia mengatakan harus menghadiri rapat penting hari ini sehingga tidak bisa menemaniku. Senyuman Ares saat melihatku, berhasil membuatku malu.


“Cantik.” Sebut Ares saat menghampiriku, memperhatikan pakaian yang aku pakai dengan seksama “Kamu sangat cantik memakai pakaian pengantin.”


Bergantian Ares yang mencoba pakaiannya, sama seperti pakaian pengantin laki-laki pada umumnya, tapi selalu berbeda jika itu sebuah pakaian pengantin, Ares terlihat lebih tampan berkali-kali lipat dari biasanya, walaupun biasanya juga sudah sangat tampan.


Setelah melakukan fitting pakaian, sekarang waktunya pergi ke beberapa lokasi. Untuk gedung semuanya Ares yang mengurus karena kemungkinan akan menggunakan salah satu hall property milik keluarga Cystenian, namun masalah dekorasi dan lain-lain semuanya di serahkan padaku dan Ibu Ares yang bertanggung jawab penuh.


“Ma, aku langsung balik ke kantor, tolong titip Viola ya.”


“Apaan sih Ares.” Aku sedikit protes pada Ares yang dengan santainya menitipkanku pada ibunya, sekarang saja aku masih tidak nyaman dengan ibunya.


Ibu Ares hanya tertawa melihat kelakuan anaknya yang selalu terlihat anak-anak dimatanya. Setelah Ares pergi, tinggalah aku bersama dengan Ibu Ares yang akan pergi ke beberapa toko bunga memastikan bunga yang kami pesan memiliki kualitas yang sangat baik untuk dekorasi.


“Bagi mama, Ares itu masih anak mama yang manja dan sering menangis karena hal kecil, mungkin efek mama yang pergi padahal dia waktu itu juga belum besar.”


Aku melihat ibu Ares yang tersenyum sambil membayangkan masa lalunya saat masih bersama anak-anaknya yang masih kecil.


“Ares akan tetap menjadi anak mama yang manja dan baik.”


“Terimakasih sudah menerima Ares dengan baik, maaf kalau dia mengecewakanmu, tapi mama harap dia selalu mencintaimu sayang.”


“Mama nggak perlu berterima kasih pada Viola, Viola yang berterima kasih pada mama karena melahirkan seorang Ares.”


Ibu Ares tersenyum padaku, mengakhiri perbincangan kami di dalam mobil yang akhirnya berhenti di depan sebuah toko bunga yang cukup besar. Aku dan ibu Ares turun dari mobil, masuk kedalam toko bunga tersebut, mereka sudah sangat hafal denganku dan Ibu Ares yang beberapa kali datang membeli bunga dan menjadi pelanggan tetap disini.


“Nyonya Savira... Selamat datang. Kami memberitahukan beberapa bunga baru yang nyonya pesan, ternyata bunganya ada, apa sekalian dimasukkan ke dalam daftar?.”


“Lily orange?.”


“Benar nyonya.”


“Bagaimana menurutmu Viola?.”


“Bagus ma, boleh.”


“Masukkan saja kedalam daftarnya.”


“Baik nyonya.”


Aku memilih beberapa bunga biru untuk kubeli, sebagai hiasan di apartemen Ares yang gelap. Selama berada disini, Ibu Ares tinggal di rumah lama keluarganya, aku pikir mereka memang dilahirkan kaya raya, Ibu Ares tidak miskin seperti keluargaku, dia juga lahir dari keluarga terpandang, rasanya sangat tidak nyaman berada di keliling orang-orang kaya seperti ini.


“Mama dengar dari Ares, kamu bekerja di galeri nyonya Alexa.”


“Iya ma.”


“Mama kenal baik dengan nyonya Alexa sejak pindah ke Amerika, dia yang memilihkan beberapa lukisan di rumah sana.”


“Benarkah? Nyonya Alexa memang orang yang sangat hebat, dia yang mengajariku banyak hal disaat aku hanya lulusan sekolah lukis biasanya, mengenalkanku pada banyak perspektif mengenai lukisan.”


“Bagaimana reaksinya saat tau kamu akan menikah dengan putraku?.”


“Sedikit aneh, tapi akhirnya dia tau bagaimana cerita hubunganku dengan Ares, nyonya Alexa bahkan baru mengetahui kalau Ares itu Putra pertama mama.”


“Dia memang tidak tau kalau aku menikah dengan keluarga Cystenian, mengingat kami bertemu di Amerika tidak lebih dari 10 tahun setelah aku berpisah dengan ayah Ares.”


Ibu Ares menceritakan banyak hal mengenai keputusannya meninggalkan ketiga anaknya saat masih kecil, aku sedih sekaligus tidak bisa mengatakan apapun saat mendengar bahwa dia memiliki sakit yang tidak bisa disembuhkan, selain itu pernikahannya dengan ayah Ares hanyalah sebuah perjodohan keluarga, sehingga dia akan sangat memperjuangkan putra putrinya untuk menikah dengan orang yang mereka cintai.