
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Italia merupakan sebuah negara yang sangat indah dengan banyak bangunan bergaya klasik, tepatnya di ibu kota yaitu Roma, keluarga Cystenian memilih tempat merayakan natal, salju di Roma tidak begitu tebal di pertengahan desember walaupun tidak banyak orang keluar rumah, hanya beberapa saja yang memang memiliki pekerjaan di luar rumah, sebagian orang memilih untuk mendekam di depan perapian bersama anggota keluarga lain untuk saling berbincang.
Berbeda dengan keluarga kami yang sepertinya datang kemari hanyalah sebuah formalitas belaka, semua sibuk dengan kegiatan masing-masing, Apollo yang terus berada di kamarnya untuk mencari ide mengenai musik, Artemis yang sedang sibuk-sibuknya menonton peragaan busana musim dingin, kedua orang tua yang lebih menginginkan kehangatan di ranjang, terakhir aku dan Ares. Kami berdua memutuskan untuk keluar mencari makanan ringan atau sekedar membeli kopi di kedai yang masih buka.
Pakaian hangat, jaket tebal, celana panjang, syal, serta sepatu both menjadi pilihan pakaianku hari ini. Kami bisa menggunakan kendaraan atau bisa di antarkan oleh sopir pribadi, tapi pilihan tetaplah ada di kami berdua yang memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke sekitar.
Ares menggenggam tanganku memasukkannya kedalam saku jaketnya, aku tersenyum atas perlakuan manis tersebut. Kami tidak lagi terlihat seperti kakak beradik, melainkan pasangan yang sedang berbulan madu, semua orang akan mengira seperti itu juga melihat kami berdua yang berjalan beriringan.
Triiinggg
Suara bel di atas pintu membawa kami masuk kedalam kedai kopi kecil dengan hiasan pohon natal di sudut ruangan, satu orang barista menyapa kehadiran kami sebagai pengunjung satu-satunya kedai tersebut melihat di dalam yang sama sekali tidak ada orang, meja dan kursinya masih sangat bersih.
“Ben arrivato.” (Selamat Datang)
Aku tidak mengerti apa arti dua kata tersebut, tapi sepertinya itu adalah bahasa Italia. Aku dan Ares menghampiri meja order untuk memesan minuman atau makanan kecil.
“Grazie, espresso caldo e cheesecake.” Aksen yang sangat bagus, aku bahkan terkejut saat Ares bisa berbahaya Italia, Ares melihatku “Kamu mau minum apa atau makanan?.”
“Eh.. emm apa ya... aku mau ini.” Aku menunjuk salah satu pancake dan americano.
“Stessi pancake a americano.”
Setelah memesan beberapa menu tersebut, Ares mengeluarkan uang dari dalam dompetnya kemudian membayar tanpa ada kesalahan sedikitpun, dia fasih berbahaya Itali, mungkin aku akan terkejut jika kami pergi ke Korea atau Jepang karena kemungkinan dia juga bisa berbahasa sana.
Salah satu meja di dekat jendela menjadi pilihan kami berdua, tidak terlalu lama menunggu, pesanan kami pun tiba. Pemilik kedai tersebut menyalakan lilin aromaterapi berbau lavender yang ada di meja kami setelah menanyakan bau apa yang kami sukai. Lavender menjadi sebuah pilihan yang pas.
Bau lavender memenuhi indra penciumanku, di tambah pancake dan kopi-kopi an yang ada di meja. Ares memesan cheese cake, karena ini hanya makanan ringan, jadi ukurannya pun tidak terlalu besar sebagai makanan pendamping kopi di sore hari. Lagu Affection milik Cigarettes After *** terdengar di telingaku, salah satu grup musik ambient pop asal El Paso, Texas, Amerika Serikat. Banyak lagu yang aku sukai dari grup musik tersebut, salah satunya yang berjudul K.
“Kamu bisa berbahasa Italia?.” Pertanyaan pertamaku saat kami berdua berhadapan dalam satu meja yang sama.
“Sedikit.”
“Aksennya sangat bagus, seperti kamu tinggal lama disini.”
“Dulu satu tahun disini sendirian.”
“Ha? Kenapa?.”
“Kamu baik-baik saja?.”
“Sorry.” Ares mengusap air matanya yang sempat jatuh, menahan kenangan yang dia terima, bahwa kenyataan lain mengatakan kalau ibunya masih hidup adalah fakta baru yang diterima secara dadakan.
“Kamu berhak mengekspresikan perasaanmu, seperti yang pernah aku katakan dulu.”
“Aku baik-baik saja sekarang.”
Setelah cukup lama kami terlarut dalam perbincangan singkat mengenai kehidupan lama kami, akhirnya aku dan Ares meninggalkan kedai tersebut dan kembali pulang. Salju mulai dingin saat malam hari, sampai di tempat menginap, keluarga lain sudah menunggu untuk makan malam.
Aku duduk di sebelah Ibu, berhadapan dengan Apollo. Apollo menatap curiga padaku dan Ares karena hampir terlambat makan malam bersama.
“Aku dan Viola jalan-jalan keluar karena kalian sibuk.” Ares memberikan penjelasan sebelum makan malam berlangsung.
“Terimakasih ya Ares, sudah mengajak Viola jalan-jalan, Ibu dengar dari daddy, kamu sempat tinggal satu tahun disini?.”
Ares mengangguk.
“Kami hanya menerima Viola sebagai teman, tapi tidak menerima tante sebagai ibu.” Ucap Artemis yang mengalihkan pandangan semua orang, Artemis menunjukkan wajah kesalnya, daddy sendiri tidak bisa mengatakan apapun selain menyentuh tangan Artemis untuk menenangkannya.
Terlihat Ibu yang sepertinya sudah mengerti keadaan Artemis yang sama sekali tidak menerima sosoknya.
Makan malam berlangsung sangat dingin walaupun perapian cukup hangat, tidak ada perbincangan selain suara alat makan yang beradu satu sama lain. Setelah menghabiskan makan malam, semua kembali ke kamar masing-masing kecuali Ibu dan daddy. Aku tau karena aku keluar kamar untuk mengambil air minum di dapur dan aku masih melihatnya di ruang keluarga tengah bersantai sambil memeluk.
Aku senang jika Ibu bahagia, tapi jika aku senang harusnya aku tidak berhubungan dengan Ares.
Saat sampai di kamar kembali, aku melihat Ares yang bersantai di ranjangku, laki-laki itu hanya memakai celana panjangnya, tanpa pakaian atas. Sambil bermain game di benda pipih miliknya.
“Apa yang kamu lakukan disini? Bagaimana kalau yang lain tau?.”
“Sudah malam, tidak akan ada yang tau.” Jawab Ares sangat santai.
Aku hanya menggeleng meletakkan air minum di sebelah nakas tempat tidur kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigi serta mengganti pakaian dengan pakaian tidur.
Pakaian tidur berbahan satin dengan belahan dada rendah menjadi pilihanku, tapi harusnya aku memakai pakaian tertutup mengingat ada Ares di luar, sayangnya aku tidak bisa tidur dengan pakaian rapi, aku biasa tidur tanpa bra dan hanya pakaian tidur tipis yang longgar.
Baru saja keluar dari kamar mandi, tubuhku langsung berhadapan langsung dengan Ares yang ada di depan pintu. Matanya memperhatikan penampilanku dari atas hingga bawah, laki-laki itu menunjukkan smirknya dan memeluk pinggangku lembut.
“Kamu sengaja memakai pakaian seperti ini hm?.”
“Tidak. Aku selalu memakai pakaian seperti itu saat tidur.”
“Aku tau, dan aku tidak menjamin kamu akan langsung tidur malam ini sayang...”
Ares menarikku hingga jatuh di atas ranjang, tangannya menyentuh kakiku lembut, dari bawah hingga terus naik keatas, menyibakkan baju tidurku ke atas, kulit tanganya menyentuh kulit tubuhku. Seperti yang dikatakan, kalau aku tidak akan langsung tidur malam ini.