Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 36



WARNING 18+!


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from a good children who lives here, I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Aku menyentuh cincin yang ada di jari manisku dengan gugup, hanya satu minggu setelah bertemu dengan Ibu Ares serta saudara-saudaranya dengan status meminta restu untuk pernikahan kami. Hari ini penerbangan untuk menemui Ibu kandungku dan Ayah Ares yang menjadi ayah tiriku.


Rasanya lebih gugup dari apa yang pernah aku rasakan sebelumnya, pasalnya aku akan bertemu dengan Ibu, Ibu kandungku yang aku tau bagaimana sifatnya.


“Are you ok?.” Suara Ares membuyarkan lamunanku yang entah berpikir sampai mana.


“Aku baik-baik saja.”


“Kamu gugup?.”


Aku mengangguk karena memang kenyataannya seperti itu, mau dikatakan tidak pun pasti wajahku sudah menjelaskan bagaimana perasaan gugup sekarang.


“Semua akan baik-baik saja.” Ucap Ares lembut, sedikit memberikan ketenangan walaupun masih ada rasa takut, apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengan ibu, apa yang harus aku katakan padanya, bagaimana reaksinya, semua campur menjadi satu di dalam otakku meminta jawaban yang bisa aku bayangkan dari wajah ibu nanti.


Pesawat landas setelah beberapa jam berada di awan, beberapa mobil menjemputku dan Ares. Tidak langsung pulang kerumah, karena Ares mengatakan selama berada di sini, aku bisa tinggal di apartemen pribadinya. Seorang pria dewasa setidaknya punya apartemen pribadi, bukan lagi rumah keluarga dengan banyak anggota.


Sama seperti yang aku bayangkan tentang Ares, Apartemennya sangat bersih dan tertata rapi, desain modern berwarna abu-abu dipadukan hitam menjadi fokus mata saat ini. Beberapa lukisan dipajang pada dinding termasuk lukisan yang Ares beli padaku, harusnya aku mengembalikan uang Ares, mengingat hubungan kami sekarang, tapi aku butuh uangnya juga untuk membiayai kehidupan ayahku di Amerika yang sudah tidak bekerja saat ini.


“Disini hanya ada satu kamar utama. Aku akan tidur di sofa jika kamu tidak nyaman.”


“Apa harus seperti itu? Bukannya kita sudah sering tidur bersama.”


“Aku takut tidak bisa menahan diri, apalagi perjalanan kita sangat panjang, kamu pasti butuh istirahat cukup.”


Siapa yang menolak ****, dalam keadaan apapun jika aku sudah nafsu, maka rasa lelah juga akan hilang sendiri. Aku hanya tersenyum sambil mengangguk pada Ares, masih berada didalam koper beberapa pakaian dan barang pribadiku, aku hanya mengambil pakaian nyaman untuk tidur sebentar sebelum menemui Ibu dan Ayah Ares.


Aku masuk kedalam kamar mandi, membersihkan badan dan mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih nyaman. Pakaian tidur yang sedikit terbuka berbahan satin berwarna hitam. Baru keluar dari kamar mandi, mataku langsung bertemu dengan mata Ares yang tengah duduk di sofa sambil minum wine menggunakan gelas, dua kancing atas kemeja putihnya sudah dibiarkan terbuka.


Ares meneguk ludahnya dan menatapku penuh arti, bukan Viola namanya kalau membiarkan Ares menahan nafsunya begitu saja. Aku berjalan pelan kearah Ares, mendudukkan pantatku di pangkuannya sambil menyentuh lembut area dadanya yang terbuka.


“Sayang... jangan menggodaku...” Ucap Ares parau.


Tanganku perlahan sangat lembut menyentuh milik Ares dari balik celana yang dia pakai, wajah Ares terlihat beberapa kali memejamkan mata merasakan getaran yang kemungkinan dia rasakan karena ulahku. Aku turun dari pangkuan Ares, dan menurunkan resleting celananya dan mengeluarkan milik Ares dari dalam sangkar.


Aku menyentuhnya lembut, perlahan membuatnya semakin bernafsu, bukan hanya Ares, aku juga sudah bernafsu.


“Ouuh sayangg...”


Aku memasukkan milik Ares kedalam mulutku, membiarkan lidahku memainkannya dan mengulumnya dengan lembut seperti lolipop.


“Ahh sayangg...”


Setelah puas, Ares menarik tubuhku mencium bibirku sangat kasar dan menuntut, bukan karena Ares kasar tapi nafsu membawa kami lebih terburu-buru daripada bermain lembut, dan aku menikmati semua yang Ares lakukan. Saat bibir kami bertemu satu sama lain, menyesap dan membiarkan kupu-kupu saling menyapa, ciuman Ares mulai turun ke leherku dan berakhir di dada atasku.


Sraakkk!!


Ares mengoyak pakaian yang aku kenakan, tanpa bra, tangannya meremas dadaku lembut, memainkan titik sensitifku dengan lihai. Aku memejamkan mata merasakan dinginnya mulut Ares yang membelai dada ku perlahan, menyesapnya dan meninggalkan banyak kissmark disana.


“Arrgghhh.” Racauku saat gigi Ares mengenai titik sensitif di dadaku, mengigitnya kecil dengan gemas.


Kegiatan kami terus berlangsung hingga beberapa ronde, jangan tanyakan bagaimana rasanya setelah itu, aku sangat menikmati persetubuhan kami, tapi setelah selesai, semua bagian tubuhku rasanya sakit, aku harus berendam di air hangat untuk merileks kan otot-otot ku yang kaku dipadukan dengan bau bunga mawar yang memenuhi bak mandi. Sedangkan Ares keluar sebentar karena dia ada urusan, entah apa yang dilakukan tapi aku sendirian di apartemennya.


Setelah merendamkan tubuhku, aku memilih pakaian yang nyaman untuk dipakai, celana pendek dengan tanktop senada. Aku berjalan menuju ke dapur untuk mengambil air minum dari dalam lemari pendingin, juga mengeluarkan beberapa buah-buahan segar untuk di makan, perutku rasanya meronta-ronta meminta makanan tapi aku tidak menemukan makanan frozen food di dalam lemari pendingin, lagipula mana mungkin Ares memakan makanan seperti itu.


Aku duduk di depan meja makan sambil melihat tayangan yang ada di televisi, aku tidak menyangka kalau yang aku lihat pertama kali di layar adalah berita bisnis mengenai perusahaan keluarga Cystenian yang dikelola oleh Ares. Pria itu berdiri dengan kokoh dan tegas memakai setelan rapi di hadapkan para wartawan yang siap menanyakan banyak hal padanya.


Terlihat di ujung layar bertuliskan live yang artinya Ares sedang berada disana untuk siaran langsung entah apa yang akan dia katakan pada publik. Sambil memakan potongan buah, aku melihatnya dengan seksama, suara berat Ares menjadi suara yang sangat aku rindukan walaupun tidak melihat wajahnya untuk sebentar.


“Perkenalkan saya Ares Cystenian, anak pertama dari keluarga Cystenian. Saya berdiri disini akan mengumumkan bahwa saya akan segera melangsungkan pernikahan dengan perempuan yang sangat saya cintai. Desas-desus mengenai hubungan saya dengan putri keluarga Denver itu tidak benar, kami hanya berteman baik, dan tidak lebih.”


“Jadi bukan Putri keluarga Denver yang akan anda nikahi?.”


“Bukan, dia seorang wanita yang selalu hadir dalam pikiran saya, apapun yang saya lakukan, dia mengisi hati saya bertahun-tahun dan saya sangat berterima kasih padanya karena mengijinkan dan menunggu saya datang menemuinya kembali.”


Melihat Ares berada di layar televisi mengatakan banyak hal membuat mataku berkaca-kaca bahkan berhasil mengeluarkan air mata. Seharian ini aku menunggu Ares kembali, aku ingin memeluknya, menyalurkan semua yang aku rasakan padanya.


Suara bel di pintu apartemen membuatku menoleh, aku berdiri namun aku kembali ingat kalau itu bukan Ares, Ares pemilik apartemen ini yang otomatis dia bisa masuk tanpa menekan bel di pintu.


Aku tetap berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan, mata kami bertemu, sebuah keterkejutan.


“Ibu.”