
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Ares menarik tanganku, keadaan yang sangat gelap membuatku sama sekali tidak bisa melihat sekitar, hingga suara cetekan lampu membuatku menoleh dan melihat keatas. Sekarang aku dapat melihat dengan jelas bahwa disini ada hidden house yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Sebuah rumah di atas pohon yang sangat indah, aku tidak berpikir kalau Ares tipe laki-laki yang seperti ini.
“Ayo.” Ares lebih dahulu menaiki tangga kayu kokoh yang menjadi penghubung untuk sampai di atas. Aku mengikuti langkah kakinya di bawah, sampai di atas, lagi-lagi dikejutkan dengan pemandangan rumah minimalis yang terlihat sangat kecil tapi nyaman dan tenang, walaupun kalau malam keadaan sekitar benar-benar gelap.
Ares membuka pintu rumah ini dengan kunci yang dia ambil dari saku celana, saat pintu terbuka dan lampu menyala, sungguh sangat mengesankan, ruangan yang sangat nyaman dengan tempat istirahat yang empuk dan beberapa buku yang tertata sangat rapi di rak-rak kayu yang di sudut ruangan.
“Wahhh bagaimana bisa kamu memiliki tempat ini?.” Aku juga melihat beberapa photo polaroid di dinding kayu disini, potret Ares, Apollo, dan Artemis. Sepertinya keluarga ini sangat tidak cocok jika di tambah lagi, mereka adalah perpaduan yang sangat pas.
Ares duduk di karpet tebal yang ada disana sambil bermain ponselnya “Tempat ini punya keluarga Cystenian, tidak ada yang datang kemari kecuali Apollo dan Artemis, selain itu tempat ini jauh dari pusat kota, biasanya hanya Apollo yang datang kemari tapi dia saat ini tengah sibuk sendiri.”
Aku mengambil salah satu buku yang ada di rak, A Thousand Ship karya Natalie Haynes, novel yang berlatar belakang mitologi yunani. Sebenarnya aku tidak terlalu tahu dan membaca isi novel ini, tapi karena cukup terkenal, aku pun sedikit tau kalau karya Natalie Haynes yang aku pegang membahas mengenai perebutan kekuasaan.
“Ternyata bukan kalian saja yang namanya diambil dari dewa dewi mitologi yunani, tapi kalian juga suka membaca buku-buku seperti ini.”
“Itu punya mommy.”
“Sorry.”
“Tapi aku juga suka baca kalau bosan, konyol.”
Ares melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, padahal rasanya masih sangat sebentar disini. Kami juga tidak banyak bicara, Ares sibuk sendiri sedangkan aku juga harus menyibukkan diri agar tidak bosan.
“Jika sudah bosan, kita bisa kembali kerumah sekarang.”
“Ayo.”
Alasannya tentu saja karena aku butuh istirahat dan aku juga malas jika harus mengemudi tengah malam. Beberapa menit di jalanan yang sudah renggang akhirnya sampai didepan rumah, aku memberikan kunci pada penjaga yang ada di depan untuk membawa mobil Ares ke basement yang ada di bawah. Jadi rumah ini memang kesannya kayak bangunan kerajaan, tapi sepertinya sengaja mengubah ruang bawah tanah yang jatuhnya itu lantai satu menjadi basement mobil, isinya semua mobil koleksi keluarga Cystenian.
Aku dan Ares masuk kedalam rumah bersamaan, di ruang tengah masih ada Apollo yang sedang membaca buku atau memang sengaja menunggu kami datang.
“Kalian dari mana?.”
“Rumah pohon.” Ares menjawabnya singkat lalu pergi menuju ke lift, sedangkan aku masih stay disini sampai Apollo menyelesaikan pertanyaannya.
“Ares ngajak kamu kesana?.”
“Iya kak.” Karena Apollo ini hitungannya lebih tua dariku dan dia punya sopan santun yang tinggi tidak seperti Ares, aku memanggilnya dengan panggilan kakak.
“Lain kali kabarin kalau pulang telat, ibu mencarimu.”
“Ibu?.”
“Iya, kenapa? Dia menanyakan apakah kamu sudah makan malam atau belum. Oh ya kalau kak Ares tidak mengajakmu makan malam, kamu bisa minta pada pelayan untuk membuatkan makanan.”
“Oke, istirahat aja kalo gitu.”
“Selamat malam kak Apollo.”
Aku benar-benar merasa diinterogasi atas apa yang aku lakukan, padahal aku tidak melakukan apapun selain pulang telat. Setelah berbincang lebih panjang dari biasanya dengan Apollo, aku tau kalau dia sebenarnya juga tegas dan lebih baik dari Ares cara berpikirnya.
Lift membawaku naik ke lantai tiga, saat pintu terbuka, Ares masih berdiri tegak di depan pintu lift. Mata kami saling bertemu, aku ingin mengabaikannya karena sangat lelah seharian diajaknya pergi keliling, dari klub hingga rumah pohon.
“Ada yang ingin aku bicarakan.” Kalimat Ares membawaku masuk kedalam kamarnya.
Ruangan yang lebih luas dan ada banyak barang di luar dugaan, termasuk samsak dan juga alat gym lainnya di sudut ruangan. Ares juga menyimpan barang-barang lama seperti gramofon (alat untuk memutar piringan kaset vinyl). Aku tidak tahu bagaimana sifat Ares sebenarnya, melihat ruangan ini yang identik dengan warna coklat kayu, kepribadiannya pun mulai terlihat walaupun dengan kepribadian itu tidak cocok dengan sosok seorang Ares.
Tiba-tiba Ares menarikku di sudut ruangan membenturkan tubuhku di dinding, lebih tepatnya tangannya yang menahan punggungku agar tidak terbentur dinding. Mata kami saling bertemu, Ares jauh lebih tinggi dariku. Di keadaan seperti ini aku sama sekali tidak takut apalagi berpikir macam-macam tentang Ares.
“Kenapa kamu diam saja dan mengikutiku?.”
“Karena kamu memintaku ikut, apa yang akan kamu bicarakan?.”
Tangan kirinya menyentuh pinggangku lembut “Kamu sungguh tidak takut padaku.”
Sekarang aku lebih gugup ketimbang takut, bagaimana tidak jika seorang laki-laki yang sangat tampan berada di hadapanku dengan tatapan seperti itu. Aku melihat ke samping untuk menghindari tatapannya.
“Minggir kalau tidak ada yang ingin kamu katakan.”
“Ada.”
Aku melihat kearah Ares kembali, wajah kami sangat dekat, dia memiringkan kepalanya. Bibir Ares kembali menyentuh bibirku lembut, memberikan sapuan disana hingga membuatku benar-benar dibuat terlena dengan keadaan.
Tangan Ares tidak tinggal diam, dia menyentuh pinggangku erat, mengusap kaos yang aku pakai dan menaikkan ke atas untuk menelusupkan tangannya menyentuh kulitku. Aku buru-buru mendorong tubuhnya hingga membuat ciuman kami terlepas, laki-laki itu tersenyum padaku dengan tatapan yang sangat menyebalkan.
“Aku tau kamu juga menginginkannya, kenapa jual mahal?.”
Kalimat Ares benar-benar membuatku tidak punya harga diri, aku melihatnya dengan tidak suka karena sakit hati.
“Apa kamu gila? Bahkan kamu orang yang mengambil first kiss ku? Apa terlihat sangat murahan di depanmu?.”
“Benarkah? Aku pikir kamu sama seperti wanita lainnya yang tidur dengan laki-laki manapun di klub.”
Plaaakkk
Suara tamparan sangat keras mengenai pipi Ares, aku menatapnya tidak suka “Aku memang bukan orang baik, tapi bukan berarti aku tidak memiliki batasan.” Aku berjalan menuju ke pintu, tetapi Ares menarik tanganku dan menjatuhkanku di ranjangnya.
“Harusnya kamu tau diri dimana letak mu sekarang, kamu dan ibumu itu sama saja.”
Sraaakkk
Ares menarik pakaian yang kupakai hingga semuanya robek, menanggalkannya hanya menyisakan bra hitam yang masih membalut dada ku.