Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 40. Epilog



WARNING 18+!


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from a good children who lives here, I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Sebuah bisnis selalu ada perjanjian juga pesta, walaupun kecil, tapi cukup mempengaruhi karena tempat seperti itu adalah tempat yang pas untuk menjilat. Tidak banyak dari pasangan suami istri kelas atas yang membawa anak mereka, apalagi anak yang sudah cukup umur. Seorang gadis cantik memakai dress cantik berwarna putih gading selutut dengan kacamata bertengger manis di hidung mancungnya juga rambut bergelombang yang di kepang bawah.


Mata Apollo sejak tadi memperhatikannya, dari jauh tapi Apollo bisa melihat jelas kalau dia juga bosan sama sepertinya. Dengan sedikit keberanian, Apollo melangkahkan kakinya menghampiri gadis itu.


“Hai... Apa saya boleh bergabung?.”


Gadis itu melihat ke arah Apollo “Boleh.”


“Apollo.” Apollo mengulurkan tangannya untuk berkenalan dengan gadis yang berhasil menarik perhatiannya.


“Jane.”


Dari perkenalan itu berlanjut dengan pembahasan kecil mengenai perasaan mereka berada di pesta ini. Sama seperti yang Apollo prediksi, bahwa Jane juga merasakan bosan yang aman sangat karena menunggu orang tua mereka masing-masing yang membicarakan perihal bisnis.


Sebuah panggilan membuat Apollo dan Jane menoleh, keduanya menghampiri orang tua masing-masing. Di luar dugaan kalau mereka sebelumnya sudah niat dikenalkan tapi ternyata anak-anak jaman sekarang lebih gerak cepat ketimbang orang tuanya sendiri.


“Kalian sudah berkenalan?.” Tanya Hades.


“Sudah dad.”


“Baguslah, kami berniat untuk menjadwal makan malam keluarga setelah ini. Bagaimana menurutmu?.”


Apollo melihat kearah Jane, Jane hanya tersenyum memandangi Apollo. Lagipula siapa juga yang tidak menyukai Apollo, sejak Apollo menghampirinya saja, Jane mengira dia berada di surga melihat makhluk setampan Apollo. Sekarang dia tau darimana asal ketampanan itu, ternyata Apollo adalah keluarga Cystenian, Ares, Apollo, dan Artemis.


Selama dalam perjalanan pulang, Jane tidak ada hentinya tersenyum “Kamu baik-baik saja?.” Tanya kedua orang tuanya yang khawatir.


“Apollo ganteng ma.”


“Kamu terlalu jujur ya sayang...”


“Habis nya dia ganteng banget.”


“Keluarga Cystenian yang membantu perusahaan papa, jadi sudah seharusnya membalas budi bukan.”


“Boleh, Jane juga mau kok sama Apollo.”


“Tapi dia bukan penerus perusahaan ayahnya.”


“Terus? Kan yang penting Apollo pa.”


“Baiklah, akan dibicarakan nanti.”



Kegiatan makan malam yang ditunggu-tunggu pun akhirnya datang juga, Jane sangat berbeda malam ini, dengan memakai pakaian lebih dewasa dan elegan. Dia juga mengganti kacamatanya dengan softlens biru yang memperlihatkan mata cantiknya.


Tiada henti Apollo memperhatikan wajah cantik yang ada di depannya, sesekali Hades berdehem karena putranya yang terlalu mengagumi wanita.


“Apollo ini putra keduaku, dia suka musik, sehingga kami mengijinkannya berkarya di bidang musik.”


“Bagus, anda sangat mendukung anak anda dengan baik.”


“Karena dia memiliki keahlian di bidang itu sehingga lebih baik di tekuni. Bagaimana dengan Jane?.”


“Dia berada di sekolah seni lukis, sama seperti Apollo, dia menekuni apa yang dia suka. Tapi bedanya Jane memang sejak kecil melihat kedua orang tuanya melukis, mungkin itu juga salah satu bahan motivasinya untuk melakukan hal yang sama.”


Ada waktu yang digunakan oleh Apollo dan Jane untuk berdua, mereka berjalan di taman belakang restoran tempat pertemuan kedua keluarga.


“Kamu sangat cantik malam ini.”


Jane tersenyum mendengar pujian Apollo “Terimakasih, kamu juga keren.”Jane menunjukkan dua jari jempolnya.


Apollo tidak bisa menahan senyuman saat bersama dengan Jane, padahal semua orang tau bagaimana sifat Apollo yang kelewat acuh pada apapun.


Pertemuan mereka malam ini terasa sangat singkat karena saking serunya perbincangan yang tidak punya akhir. Di akhir pekan, Apollo sudah membuat janji dengan Jane, sebuah cafe kecil di tengah kota yang menjadi tempat pertemuan mereka, kencan pertama mereka berdua.


Jane memakai pakaian simpel dan nyaman, apa adanya dia. Sebenarnya memilih pakaian itu sangat lama, bahkan merusak beberapa pakaian yang sudah tertata rapi. Pada akhirnya Jane memakai pakaian yang biasa dikenakan saat ke kampus, lebih baik seperti itu karena bagus tidaknya pakaian itu tergantung penggunanya nyaman atau tidak.



Satu meja kosong menjadi tempat Jane menunggu, padahal sekarang masih jam setengah empat sore, sedangkan Jane memiliki janji dengan Apollo sekitar pukul empat lebih sedikit. Rasanya Jane tidak sabar bertemu kembali dengan Apollo, dia memutuskan untuk memesan nanti saat Apollo datang, takut kalau minumannya habis sebelum kedatangan Apollo.


Satu jam berlalu


Tidak ada pesan masuk dari Apollo apapun, Jane sendiri tidak ingin mengganggu kegiatan Apollo sehingga tidak mengirimkan pesan kembali.


’30 menit lagi.’ Jane menyemangati dirinya sendiri dalam hati.


Jam di pergelangan tangannya menjadi objek kesayangannya sejak 2 jam yang lalu, sekarang sudah mulai malam, beberapa orang datang dan pergi, tapi Jane masih setia di tempatnya. Awalnya dia berniat tidak memesan minuman sebelum Apollo datang, tapi dia sudah tidak bisa menahan haus sehingga sekarang sudah hampir 4 gelas kosong di mejanya.


Pukul 22.00


Kalian bisa hitung sendiri berapa jam Jane menunggu kedatangan Apollo sendirian disana, dia tidak nyaman bukan karena menjadi pelanggan tidak tau diri, toh Jane juga makan dan minum. Hanya saja, para pelayan menatap Jane sangat iba, sejak awal Jane terlihat menunggu seseorang, hingga berjam-jam tidak ada yang datang menghampirinya.


Panggilan masuk dari Ibu yang membuat Jane merapikan tasnya dan memutuskan untuk pulang, pada akhirnya Jane pulang tanpa bertemu Apollo.


Baru sekitar 15 menit Jane naik taksi pulang, Apollo berlarian masuk kedalam cafe tersebut. Pandangannya tertuju pada satu meja dengan banyak gelas kosong disana. Apollo menghampiri meja tersebut dan menyentuh kursinya, ‘masih hangat.’


“Maaf tuan, tapi perempuan itu baru saja pergi.”


“Apa?.”


“Eh maksud saya, apa tuan mencari wanita berkacamata?.”


“Iya.”


“Dia baru saja meninggalkan cafe.”


“Thanks.”


Apollo keluar dari cafe tersebut, bodohnya dia yang tidak membawa ponsel saat sadar bahwa dia ada janji bertemu dengan Jane sebelumnya.


“Apollo.”


Suara yang sangat Apollo rindukan terdengar di telinganya, dia langsung menoleh kebelakang dan menemukan Jane berdiri di depannya dengan tatapan sendu.


Tanpa mengatakan apapun, Apollo memeluknya erat “Maaf, Maaf aku melupakan janji kita, aku minta maaf karena membuatmu menunggu sangat lama, Maaf Jane.”


Jane tersenyum, dia sebenarnya datang untuk membeli minuman sebelum perjalanan pulang, tapi melihat Apollo di depan cafe.


Jane membalas pelukan Apollo sembari tersenyum, berapapun lamanya dia menunggu, dia siap jika itu Apollo.


Karena malam juga mulai larut, Apollo mengajak Jane untuk menikmati kencan pertama mereka di pinggiran sungai besar, di sana banyak orang juga kencan sambil menikmati udara malam, melihat bintang di langit, ditemani makanan dan minuman hangat.


END


More information : Tidak ada pecahan cerita atau sequel mengenai Apollo dan Jane, hanya sampai di Epilog saja.


Kata Mama ku, nggak boleh panjang-panjang novelnya, karena takut bikin bosen dan alurnya jadi kabur, terimakasih semua yang sudah membaca Sweet Like The Devil, komentar positif selalu membantuku lebih baik. sehat selalu ya!!