Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 31



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Banyak lukisan terpajang di dinding putih, aku tersenyum ke banyak pengunjung yang menyapaku secara langsung, Sweet Like The Devil. Salah satu lukisan yang aku kerjakan kurang lebih selama 2 tahun setelah kehilangan seseorang paling berharga dalam hatiku.


Dua orang sejoli terikat benang merah yang di gambarkan tengah menyalakan korek api dengan rokok di ujung bibir masing-masing. Aku menoleh saat seseorang menepuk pundakku.


“Iya?.”


“Nona Viola?.”


“Ya benar.”


“Saya Miranda, presdir tertarik dengan lukisan anda yang berjudul sweet like the devil, apa saya bisa bicara dengan anda secara pribadi?.”


“Tentu, mari ke kantor.”


Aku mengajaknya ke ruangan pribadiku yang ada di gedung ini, ruangan yang aku tempati sejak 1 tahun yang lalu.


“Silakan duduk.”


Aku mengambilkan minuman yang ada di meja sudut, dan menyeduhkan untuknya, wanita cantik dengan pakaian kerja rapi, seperti ibu dulu saat bekerja di perusahaan.


“Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, presdir ingin membeli lukisan anda dengan harga $70.000 dollar.”


“Apa? Apa dia yakin?.”


“Benar.” Miranda mengeluarkan sebuah cek yang sudah di tanda tangani, serta menyodorkan surat perjanjian pembelian lukisan.


70.000 dollar bukan uang yang kecil, aku bisa membeli satu unit rumah sederhana di negara asalku atau membeli apartemen pribadi di pusat kota.


“Apa saya bisa bertemu dengannya secara langsung?.”


“Iya, tapi presdir sedang sibuk, dia hanya ada waktu luang nanti malam. Jika anda setuju, maka anda bisa bertemu dengan presdir untuk menyerahkan lukisan itu secara langsung.”


“Baik, saya setuju.”


Aku menandatangani surat-suratnya dan menerima cek tersebut, Miranda tersenyum padaku, tangan kami saling berjabatan.


“Hotel Apollo lantai 10 kamar 230.”


Aku mengangguk mengerti, rasanya terburu-buru menjualnya tapi sepertinya aku pantas memberikan lukisan itu pada orang yang paham dengan lukisanku, dan aku merasa atasannya itu paham sehingga menghargai lukisan yang kubuat dengan harga yang tidak murah.


Setelah menutup galery lukisan, aku meninggalkan gedung menggunakan mobil yang baru kubeli beberapa tahun yang lalu. Mobil yang Ayah suka dan aku pun suka mobil antik seperti ini, aku ingat mobil pink waktu itu, rasanya menyenangkan mobil seperti ini karena hasil kerja kerasku.


Sampai di loby hotel, aku mematikan mesin dan keluar, aku menyerahkan kunci mobil milikku pada penjaga didepan pintu. Sepertinya aku memang sudah di tunggu karena seorang pelayan datang mengantarkanku sampai di depan pintu bertuliskan nomor 230.


Aku mengatur detak jantungku yang tidak beraturan, melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 9 malam di pergelangan tanganku. Aku menekan bel yang ada di pintu, menunggunya beberapa saat dan pintu terbuka.


Bau yang sangat aku rindukan, lidahku kelu, saat aku melihat wajah dan mata teduhnya. Waktu seakan berhenti berjalan, setelah sekian lama, sangat lama hingga aku tidak ingat banyak hal buruk tentangnya.


Aku mencoba tersenyum “anda ingin bertemu dengan saya?.”


Dia mengangguk dan mempersilakanku untuk masuk kedalam, sama seperti hotel mewah lainnya, aku duduk di sofa yang nyaman tapi rasanya dingin dan meresahkan.


Ares, aku tidak menyangka kalau dia orang yang membeli lukisanku. “Saya datang untuk menyerahkan lukisan.” Aku mencoba bersikap profesional, membuka kotak lukisan tersebut dan menunjukkan padanya.


“Sebuah memori yang terlukis sangat indah.” Jawaban yang keluar dari mulutnya membuatku menoleh. “Bagaimana kabarmu?.”


“Apa?.”


“Saya baik-baik saja.” Aku mencoba tersenyum dengan ramah, cukup terkejut karena Ares terlihat memiliki pemikiran lebih dewasa dari terakhir kali kita bertemu. “Bagaimana denganmu?.”


Ares melihat kearahku dengan pandangan yang sulit di artikan, tapi aku tau kalau dia terkejut.


“Sudah lama.” Aku tersenyum.


“Aku tidak baik-baik saja.”


Mata kami bertemu satu sama lain, seakan aku mencoba menjelajah jauh pikiran Ares tapi tidak menemukan tempat keluar nya atau pintu akhirnya. Apa dia baik-baik saja, apa dia makan dengan baik, semua ingin aku tanyakan tapi bibirku memilih untuk menutup rapat-rapat.


“Aku senang mendengarmu baik-baik saja.” Ucapnya sambil tersenyum.


Aku mengambil minum yang ada di meja dan meneguknya, aku hanya ingin memutus hubungan kami tidak ada perasaan, hanya pertemanan, pekerjaan, dan saudara.


“Itu aku?.” Ares melihat kearah lukisan dan melihatku sambil menunggu jawabanku.


Aku memutuskan untuk diam “Waktunya sudah habis, saya harus kembali.” Aku berdiri dari dudukku, melangkah sebelum menjawab pertanyaannya.


“Viola, perasaanku masih sama seperti lima tahun yang lalu.” Langkahku terhenti.


Aku mengabaikannya, membuka pintu kamar hotel ini dan pergi. Aku tidak ingin kejadian yang telah terjadi terulang walaupun hatiku sangat ingin berlari dan memeluknya erat, aku merindukannya sangat besar dan aku seakan tidak punya pilihan untuk mengungkapkannya.


Mobil ini membawaku menuju ke klub yang biasa aku datangi, Barom kembali menyapaku seperti malam-malam sebelumnya.


“Apa yang terjadi?.”


Aku datang dan menelangkupkan kepalaku diantara tangan diatas meja, air mataku jatuh, aku merindukannya tapi aku tidak boleh mengatakan padanya.


“Apa ada yang membuatmu sakit? Ada yang bilang lukisanmu jelek?.”


Aku mengangkat kepala dan melihat kearahnya tajam “kamu pikir aku seniman amatir?.”


“Terus?.”


“Aku bertemu kembali dengannya setelah sekian lama.”


“Apa? Kamu yakin?.”


Aku mengangguk.


“Dia menyakitimu?.


“Tidak, hanya saja perasaannya membuatku sangat tersiksa, apa boleh aku menyukainya dengan lantang seperti pasangan lain?.”


“Viola.”


“Kamu bahkan tau kalau aku tidak boleh melakukannya.”


“Bukan seperti itu, tapi bukankah itu hanya akan menyiksamu kembali.”


Aku mengerti apa yang di katakan Barom memang ada benarnya, aku menyalakan rokok dan memesan minuman seperti biasanya, tapi hari ini aku minum lebih banyak dari yang aku kira.


Ayah memarahiku kembali karena mabuk di antarkan oleh Barom, dia mengenalku sangat baik termasuk dengan Ayah, mungkin karena Barom tinggal sendiri disini, dia tidak memiliki keluarga sehingga Ayah sudah menganggapnya seperti anak sendiri.


Pagi itu Ayah menyiapkan sup penghilang pengar untukku, dia ingin marah tapi menahannya, aku paham ayahku sendiri sejak lima tahun terakhir bersamanya, terlihat jelas kalau dia ingin marah kembali tapi memilih untuk diam.


“Maaf soal semalam yah.”


“Kamu bertemu dengannya lagi?.”


“Apa?.”


“Ares, kamu bertemu dengannya lagi?.”


Aku mengangguk.


“Ayah harap kamu tidak bersamanya.”


“Iya yah.”


Setelah makan, aku mengganti pakaian dan pergi ke galery seperti hari sebelumnya. Nyonya Alexa menemuiku saat aku baru saja tiba dengan mobilku di parkiran.


“Nyonya.”


“Ada yang ingin bertemu denganmu.”


“Siapa?.”


“Sepertinya sangat mengenalmu.”


Aku pergi ke ruangan Alexa, dimana aku melihat Ares lagi disana, apa dia tidak lelah menemuiku setelah perbincangan kami semalam.


Aku mencoba tersenyum dan menyapanya dengan baik. “Selamat pagi tuan.”


Ares melihat kearahku “Selamat pagi, maaf tidak mengatakan lebih awal untuk bertemu denganmu.”


“Tidak apa-apa tuan. Ada yang bisa saya bantu?.”


“Aku ingin membuka berinvestasi di bidang seni, bagaimana menurutmu?.”


“Apa?.”


“Aku sudah mengatakan pada Alexa perihal ini, aku harap kamu bisa menjadi penasehat yang baik untuk beberapa lukisan.”


Aku melihat kearah Alexa yang sepertinya sangat antusias dengan penawaran Ares, apa maksud sebenarnya Ares, apa dia benar-benar ingin atau hanya sebuah trik.