Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 7



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Di hari pertama masuk kuliah setelah tidak ada persiapan sama sekali mengenai kuliah, aku pikir aku akan masuk di tahun kedua atau ketiga setelah mendapatkan pundi uang, jujur aku tidak menggunakan uang saku dari ibu sejak masuk SMA, mungkin nominalnya sudah lumayan bisa untuk deposit unit apartemen kalangan menengah kebawah. Tapi seperti niatku sebelumnya, aku tidak akan menggunakan uang itu dan akan mengembalikan pada ibu lagi nantinya.


Tabunganku sendiri tidak banyak tapi juga tidak cukup untuk menyewa apartemen kecil ataupun biaya kuliah, aku harus sabar mengikuti apa yang sudah ibu persiapkan untukku terlebih dahulu, lagipula aku hanya ditugaskan untuk kuliah dengan baik di jurusan yang aku inginkan, bukan jurusan lain yang sama sekali tidak ada basic disana.


Atasan lace cami hitam dipadukan leather skirt dengan biker jacket dan fancy boots, penampilan biasa yang selalu aku terapkan dalam kehidupanku sebelumnya, siapa yang peduli dengan pendapat orang lain, menurutku masih tergolong bukan bikini juga, masih taraf sopan dan sebenarnya banyak yang memakai penampilan seperti ini sekarang.



Lagi-lagi aku keluar kamar bersamaan dengan Ares yang keluar dari kamarnya, dia tidak jauh berbeda denganku dengan pakaian anak muda pada umumnya, kaos dipadukan celana jeans dan jaket denim. Ares melihat kearahku, mataku yang sebelumnya melihat ke arahnya berusaha mengalihkan pandangan menuju ke ponsel. Kemudian berjalan ke arahnya, bukan kearahnya karena memang jalan menuju ke lift melewati kamarnya.



Tidak ada perbincangan di antara kami, menyapa pun tidak dilakukan. Sampailah di dalam lift yang sama, aku hanya melihat sepatu boots yang dipakai sesekali menggerakkannya karena merasa kalau lift semakin lama saat aku bersama Ares.


Lantai 1, saat lift terbuka, hanya ada para pelayan yang berlalu lalang entah membersihkan sisa semalam atau sedang menyiapkan sarapan. Ini masih tergolong sangat pagi, tapi semua sudah siap di meja makan, ibu juga tidak terlihat sama sekali, aku tidak peduli karena selama ini bisa dihitung jari berapa kali aku bertatap muka dengan ibu saat dirumah.


“Aturan di rumah ini setiap anggota keluarga tidak boleh melewatkan sarapan dan makan malam saat Daddy dirumah.” Ucapan Ares membuatku menoleh.


“Daddy tidak ada.”


Aku mengabaikan apa yang dikatakan Ares dan langsung keluar rumah, aku tidak peduli lagi, aku hanya akan datang ke kampus sebagai mahasiswa baru kemudian belajar layaknya pelajar lainnya yang menuntut ilmu.


Sampai di depan rumah, ada beberapa mobil berjejer rapi. Aku terdiam karena semua membukakan pintu untuk dimasuki, Ares melewatiku dan masuk kesalah satu mobil paling mahal di sana, tapi bedanya dia mengendarai mobil itu sendiri.


Pintu mobil Ares terbuka dan pelayan menyuruhku masuk ke mobil itu bersama dengan Ares, walaupun aku menolak tapi pelayan itu tampak ketakutan saat aku menolaknya dan berharap aku ikut mobil Ares. Mau tidak mau aku masuk kedalam mobil itu dan duduk di kursi sebelah kemudi, jangan tanyakan kemana Apollo dan Artemis. Apollo masih tidur karena katanya semalam dia mau bolos dulu karena mau istirahat, sedangkan Artemis mungkin sudah kembali ke asrama sejak setelah pesta berakhir.


“Lebih bagus kalau kamu menjaga sikap selama di rumah.”


“Apa pedulimu.”


Aku melihat sekitar dari dalam jendela mobil, mengabaikan ucapan Ares, entahlah tapi tiba-tiba tangan Ares menyentuh paha ku lembut. Satu hal yang bisa aku sebut dengan lantang, dia mesum tapi ganteng, jadinya ga ilfil.


“Bukankah aku sudah memberitahumu untuk memakai pakaian yang benar.”


Aku bingung dengan jalan pikiran Ares, apa hubungan antara pakaian yang kupakai sebiasa ini dengannya.


“Apa nafsumu serendah itu?.” Aku sedikit menaikkan rok yang kupakai hingga lebih mengekspos pahaku, bahkan aku juga sedikit membuka jaket yang menutupi pakaian atasku.


Ares meminggirkan mobilnya di jalanan yang sangat sepi, jalanan ke rumah keluarga Cystenian memang sangat bagus tapi sekelilingnya hanya hutan dan jurang. Kalau semua orang menyebutnya istana Cystenian, letakkan di pinggiran kota, tentu tidak ada kendaraan umum yang berhenti, tapi kalau lewat masih ada tapi jarang. Wajar kalau semua memakai kendaraan pribadi masing-masing dengan sopir masing-masing, itu juga alasan Artemis lebih betah di asrama yang semuanya di lakukan sendiri ketimbang di rumah dengan banyak pelayan, alasannya karena di asrama lebih dekat dengan hiburan kota.


Tanpa mematikan mesin mobil, Ares melepaskan seat belt yang melindungi tubuhnya. Laki-laki itu mulai mencondongkan tubuhnya ke arahku, semuanya seakan membeku, aku tidak tau harus memberikan reaksi apa selain sedikit memundurkan badan walaupun aku sadar kalau tali seatbelt masih menahan tubuhku.


Kepalanya masuk ke leherku, rasanya aneh saat kulit bibirnya menyentuh kulit leherku, bukannya aku mendorong tubuh Ares, tapi aku malah membiarkannya melakukan apa yang dia lakukan sekarang. Aku sedikit mendongakkan kepala seakan memberikannya akses lebih jauh, “Arrgghhh...” Ares menghisap leherku.


Aku mendorong tubuhnya agar menjauh, dia tersenyum dan kembali duduk di kursinya untuk memakai sabuk pengaman lagi dan menjalankan mobil. Sedangkan aku menyentuh bekas yang Ares tinggalkan di leher, dari kamera ponsel terlihat memerah, pasti semua salah paham jika melihatnya.


“Shit!.” Umpatku yang kemungkinan Ares mendengarnya mengingat wajahnya nampak sangat puas dengan reaksi kesalku.


Perjalanan jauh ini akhirnya berhenti juga di parkiran kampus, aku buru-buru keluar tanpa mengatakan apapun padanya. Aku tidak peduli dengan Ares lagi, aku harus menemukan supermarket terdekat untuk mendapatkan plaster.


Tidak jauh dari kampus, aku melihat sebuah minimarket yang buka 24 jam, aku berlari ke arah sana dan langsung masuk menuju ke tempat plaster, segera membelinya sambil menutupi bekas gigitan Ares yang terlihat seperti kissmark, memang kissmark. Aku juga meminjam toilet disana untuk merapikan penampilanku, setelah semua selesai, aku kembali menuju ke gedung kampus untuk pertama kalinya kakiku melangkah di tangga utama.


Harapanku hanya aku bisa selesai di kampus terbaik ini dengan baik dan bisa hidup sendiri, tanpa ibu dan siapapun itu. Aku tersenyum kemudian melanjutkan langkahku untuk masuk ke gedung, berbeda dengan sekolah menengah atas, disini aku bisa langsung masuk kelas baruku, tanpa memperkenalkan diri didepan semua anak yang ada di kelas.


Aku duduk di salah satu kursi yang masih kosong, di sebelahku ada gadis dengan penampilan simpel dan juga tumpukan buku bacaan di mejanya, dia bahkan membawa tas yang lumayan besar untuk meletakkan semua barang-barangnya.


“Hai..”


Gadis itu menoleh ke arahku saat aku menyapanya, dia tersenyum padaku.


“Hai.”


“Viola.”


“Jane.”


“Salam kenal Jane.”


“Juga.”


Jane ini sepertinya tipe gadis baik-baik yang introvert, pantas saja dia mengambil jurusan seni, tidak perlu banyak bicara hanya mengutarakan semuanya melalui karya seni yang diciptakan.


“Maaf, itu di lehermu kissmark?.”


“Apa?.” Aku tarik kembali soal Jane yang gadis baik-baik, aku belum bisa mengidentifikasi dia benar-benar gadis baik yang polos atau gadis baik sikapnya yang baik. Tapi aku benar-benar tertarik untuk berteman dengannya, karena dia tidak aneh-aneh dilihat dari case nya.


“Maaf jika tersinggung, sudah biasa kok.”


Terimakasih yang sudah membaca, silahkah tinggalkan jejak kaki


Bright V as Ares


Mlnhe as Viola