Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 22



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Apa kalian tau apa yang tidak bisa di ubah dalam hidupku, yaitu aku mencintai kakak tiriku sendiri. Aku mungkin akan sangat membencinya atau bahkan bisa dengan mudah melupakannya kalau dia hanya mempermainkan perasaanku, nyatanya sampai hari ini tidak sedikitpun Ares memperlakukanku buruk seperti dulu, dia adalah orang paling hangat yang ada dalam hidupku.


“Kamu ada hubungan apa sama kak Ares?.” Suara Jane tepat di telinga membuatku sangat terkejut.


“Jane!.”


Belum sempat menjawab pertanyaan Jane, Ares lebih dahulu menampakkan batang hidungnya didepan pintu kelas.


“Viola.” Panggilan Ares membuat aku dan Jane menoleh bersamaan.


“Kak Ares.”


“Aku duluan ya Jane.” Aku buru-buru keluar dan menghampiri Ares sambil menariknya masuk ke dalam lift.


Hanya kami berdua yang ada di dalam lift, Aku melihat kearah Ares yang tengah memperhatikanku. “Kenapa?.” Tanyaku bingung melihat wajahnya.


Ares menyentuh surai rambutku sambil tersenyum “Aku merindukanmu.” Ucapnya lirih sambil mencium rambutku, menghirup dalam-dalam.


Kalimat itu membawaku dan Ares menuju ke rumah pohon yang pertama kami datangi sebelumnya, ternyata bayanganku mengenai tempat ini benar, kalau siang lebih indah karena bisa melihat sekeliling yang sangat rindang dan sejuk, banyak pepohonan berdiri kokoh dan juga di ujung ada sebuah danau kecil, tapi aksesnya hanya bisa berjalan kaki mengingat hutannya penuh pepohonan.


Ares memeluk tubuhku erat, wajah kami sangat dekat, aku tidak bisa menahan godaan wajah Ares yang menatapku dengan hangat. Bibir kami bersentuhan menyalurkan banyak kerinduan yang telah lama, padahal setiap hari kami selalu bertemu, aku tidak pernah berpikir bisa melupakan Ares walau hanya sedikit saja.


Ares menyentuh pinggangku, menelusupkan jari jemarinya kedalam pakaianku, menyentuh kulitku lembut. Tanpa sadar aku mengeluarkan *******, mendengar itu membuat Ares semakin gencar melancarkan aksinya, melepaskan pakaian yang kupakai, hanya menyisakan pakaian dalam saja.


“Tubuhmu sangat seksi.” Kalimat menggoda yang keluar dari bibir Ares kembali membuatku menciumnya lebih dalam.


Kejadian selanjutnya hanya diisi ******* kami yang panjang hingga hari mulai gelap saat kamu baru membuka mata.


Ares memakai kaosnya dan keluar dari dalam rumah pohon menuju ke area depan untuk merokok, aku pun memakai pakaianku lengkap dan mengikutinya yang duduk di depan. Tanganku mengambil satu batang rokok yang ada di kotak bungkus rokok milik Ares, mendekatkan wajahku ke arah Ares untuk menerima sentuhan bakar dari rokok milik Ares.


“Sejak kapan kamu merokok?.” Pertanyaan Ares membuatku menoleh.


“Aku hampir lupa, tapi itu sudah sangat lama.”


“Apa karena ibumu?.”


“Aku tidak mau mengatakan karena ibuku, tapi mungkin iya, aku hanya ingin ibuku memperhatikanku mengingat hanya dia yang kupunya. Aku mendapatkan banyak penghargaan tapi sama sekali tidak membuatnya bangga, tapi saat aku melakukan kejelekan, ibu akan memarahiku walaupun hanya sebentar dan itu membuatku yakin kalau Ibu masih menyayangiku.”


“Apa kamu tau kalau dia menikah dengan daddy hanya karena agar kamu mendapatkan fasilitas yang seharusnya di dapatkan oleh anak seumuranmu.”


“Kenapa kamu mengatakan seperti itu?.”


“Aku pernah mendengarkan pembicaraan mereka sebelum menikah, ibumu hanya ingin kamu bahagia tanpa kerja kesana-kemari, dia sebenarnya tidak ingin menikah karena takut gagal menjalin hubungan lagi, tapi lamaran daddy seakan tidak bisa ditolak.”


“Kenapa kamu tidak memberitahuku sejak awal?.”


“Bukankah sejak awal aku sudah memberitahumu walaupun caranya tidak benar? Aku pikir yang dikatakan mereka ada benarnya, kamu membutuhkan semua ini, kamu pintar, sayang kalau tidak berada di tempat yang seharusnya.”


“Aku tidak pernah ingin ibu melakukan pernikahan yang tidak dia inginkan.”


“Ibumu sudah sadar kalau Daddy sangat baik, mereka pasti bahagia.”


Aku hanya diam, kenapa aku tidak tau sama sekali, dan kenapa aku seakan mengerti kehidupan ibuku, selama ini kami hanya berada dalam pikiran masing-masing dengan pendapat masing-masing yang tidak diungkapkan satu sama lain.


“Viola... jangan pikirkan apapun, aku berharap bisa bersama mu, tapi cinta tidak berjalan seperti itu.”


“Aku tau kok.”


Malam itu Apollo sudah kembali kerumah dan makan malam bersama kami semua, hanya tinggal Artemis yang tidak ada, mungkin Artemis tidak akan pernah ada jika dia tidak sedang liburan atau acara penting di rumah mengingat dia yang tinggal di asrama sejak dulu.


Setelah makan, aku memutuskan untuk melukis dan halaman belakang rumah, lampunya lumayan terang karena aku sudah memesan tempat ini untuk melukis di malam hari. Apollo menghampiriku dan duduk di sebelahku untuk pertama kalinya saat kami bertemu.


“Bagaimana kabarmu?.”


“Baik kak, kak Apollo bagaimana?.”


“Seperti yang kamu lihat, apa kak Ares memperlakukanmu tidak baik?.”


“Kak Ares selalu baik padaku.”


“Kabar mengenai kedekatanmu dengan kak Ares dibicarakan banyak pelayan, apa kamu tidak ingin mengatakan apapun?.”


Tanganku berhenti tatkala mendengar ucapan Apollo, aku pikir Apollo tidak akan peduli dengan gosip seperti itu. Aku kemudian mengulas senyuman padanya “Kami hanya dekat karena tidak ada teman, lagipula kak Ares sangat baik, lebih baik juga aku berteman dengannya.”


“Pelayan ada yang berlebihan kalau menggosipkan majikannya, aku akan minta daddy untuk mengganti orang yang banyak bicara.”


“Bagaimana kegiatan kak Apollo?.”


“Berjalan sangat baik, kamu mau mendengarkan lagu baruku?.”


“Tentu saja aku sangat senang mendengarkannya.”


“Tapi apa aku mengganggumu?.”


“Tidak, aku biasa mendengarkan musik kalau sedang melukis, live musik dari musisi hebat mungkin akan memiliki kesan yang menakjubkan.”


Apollo mengambil gitarnya dan kembali duduk tidak jauh dari ku, petikan gitar mulai terdengar lembut di telinga. Apollo memang sangat ahli dalam musik, wajar kalau dia banyak mendapatkan penghargaan bidang musik.


Suaranya yang merdu melantunkan lirik yang indah dari bibir, jika aku wanita normal yang belum menyukai siapapun, kemungkinan aku langsung jatuh cinta padanya, pada suaranya juga pada dirinya yang sempurna saat memainkan musik.


Tiba-tiba Ares duduk di sebelah Apollo, membuat Apollo menghentikan musiknya karena diganggu Ares.


“Sialan! Kamu menggangguku kak!.” Kesal Apollo


“Suara musikmu lebih menggangguku dari atas.”


“Bagaimana Vi?.” Apollo bertanya padaku, menyadarkan lamunanku yang memperhatikan ketampanan Ares.


“Apa?.”


“Bagaimana pendapatmu tentang musikku?.”


“Sangat indah.”


“Tentu saja, thanks.”


Ares tertawa seakan mengejek keahlian Apollo, walaupun mereka berdebat tapi terlihat perdebatan itu hanya lah bercandaan antara saudara saja. Ares terlihat suka menggoda Apollo yang tidak nyaman saat di ganggu. Apollo meninggalkan halaman, sekarang hanya ada aku dan Ares saja.


“Apa yang kamu lukis?.”


“Pemandangan malam.”


“Seharusnya kamu membawa kaca dan melukis dirimu sendiri, karena lebih indah dari pemandangan.”


Blush. Ares berhasil membuat wajahku memanas hanya karena ucapannya saja.