
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Setelah berteman lebih jauh dengan Jane, dia gadis yang banyak bicara tapi memang Jane suka membaca, dia mengambil jurusan Seni bukan karena dia mau, tapi karena kedua orang tuanya menginginkan Jane menjadi seniman hebat. Untungnya Jane mampu karena dia juga bukan gadis bodoh, Jane itu sangat pintar, dilihat dari pertama melihat pun sudah jelas kalau dia pintar.
Kami duduk di taman sambil menemaninya membaca buku dan menceritakan banyak hal yang dia tau, apalagi dia benar-benar asli dari kota ini, sangat paham bagaimana kehidupan disini, sedangkan aku hanyalah orang baru.
“Kamu tinggal dimana Vi?.”
“Aku? Emm bersama keluargaku, lumayan jauh dari sini.”
“Ohhh...”
Saat tengah berbincang, di kejauhan aku melihat Ares yang tengah berbincang dengan teman-temannya. Dia nampak sangat ceria saat tertawa bersama dengan teman-temannya berbeda dengan Ares yang aku tau beberapa hari ini.
“Itu kak Ares, katanya dia angkatan tahun terakhir di kampus ini, kaya dan populer.”
“Memang apa kerennya?.”
“Banyak, dia ganteng, kaya, bisa boxing, atlet renang dan masih banyak lagi.”
“Bukankah itu hal biasa.”
“Tidak, dia berbeda.”
Sosok Ares dan beberapa temannya semakin mendekat pada jalanan dekat aku duduk dengan Jane di taman, Aku mengalihkan pandangan, hal bodoh yang terjadi di mobil membuatku tidak bisa mengubah raut wajah malu saat bertatapan dengannya.
Tangan Jane beberapa kali menepuk pahaku tanpa mengucapkan apapun, aku melirik ke arahnya, bayangan di depanku membuat kepalaku terangkat untuk melihat kedepan, mata kami bertemu. Ares berdiri tepat di depanku, dengan tubuhnya yang tinggi dan senyuman yang menyebalkan seakan-akan tengah mengejekku.
“Hai Viola.” Ares mencondongkan tubuhnya ke arahku dan tepat berada di telingaku dia berbisik pelan “Apa kamu mau aku melakukan nya lagi? Sepertinya kamu sangat menikmati.”
Aku menelan ludah kasar, Ares ini laki-laki paling gila yang pernah aku temui, tapi entah kenapa dia satu-satunya orang yang paling menarik perhatianku saat pertama kali bertemu, bukan Apollo yang kelihatan sangat menyambutku, melainkan sosok Ares yang terlihat misterius
Aku segera mendorong tubuhnya dan berdiri sambil menyunggingkan senyuman “Lakukan kalau kamu bisa.” Tantangku dengan wajah dingin tanpa rasa takut, walaupun kalau memang kejadian mungkin aku jadi membeku.
“Baiklah jangan lupa nanti.” Ares tersenyum dan kembali bergabung bersama teman-temannya, meninggalkan Aku yang masih berhutang penjelasan kepada Jane yang sejak tadi penasaran hubunganku dengan Ares kenapa sedekat itu dan seakan-akan kami tidak baik-baik saja.
“Wow! Kalian saling mengenal? Kamu tau banyak tentang Ares?.”
Banyak pertanyaan yang Jane lontarkan padaku, terlihat jelas kalau Jane ini salah satu orang yang kagum dengan Ares walaupun dia tidak menyukai Ares sebagai seorang perempuan yang jatuh cinta pada laki-laki.
“Hanya tau, tidak mengenal baik dan dia laki-laki paling menyebalkan yang pernah aku tahu.”
“karena kamu belum mengenalnya dengan baik.”
“Memangnya kamu mengenalnya dengan baik?.”
“Terserahlah bagaimana, tapi aku tidak menyukainya sama sekali.”
Aku beranjak dari lokasi kami duduk, mengajaknya kembali ke kelas untuk mengikuti kegiatan selanjutnya. Kelas berakhir sudah lumayan sore, apalagi keadaan diluar sedang mendung akan hujan. Aku berlarian dari gedung seni menuju ke gedung kampus utama, tidak ada panggilan sama sekali, aku tidak tau bagaimana aku bisa pulang mengingat jalan menuju ke rumah itu hampir jarang di lewati angkutan umum seperti bus dan sejenisnya.
Aku melihat di depan sana mungkin jika aku berlari kesana akan tetap kehujanan, tapi ada halte, setidaknya disana lebih mudah untuk menghentikan taksi. Tanpa berpikir lebih panjang, aku berlari sekuat tenaga menuju ke halte tersebut. Dan benar, pakaianku basah walaupun tidak banyak tapi sungguh tidak nyaman lagi memakainya, apalagi rambut panjangku yang juga ikutan lepek. Tanganku merogoh tali rambut yang ku simpan di dalam tas kemudian mengikat rambutku agar lebih nyaman, memperlihatkan leher jenjangnya dengan plester kecil yang masih ada di tempatnya.
Baru duduk beberapa menit, sebuah mobil berhenti di depanku saat bukan hanya aku saja yang duduk di halte ini. Mengingat mobilnya yang cukup mewah dan jangan lupakan pengendaranya saat menurunkan kaca mobil tersebut sambil tersenyum melambaikan tangan padaku. Aku berusaha tidak melihatnya, bagaimanapun juga kalau aku mengabaikannya pasti dia akan bosan dan akhirnya pergi, tapi dugaanku salah, disaat hujan yang masih turun. Ares keluar dari mobilnya menghampiriku yang masih stay di halte berusaha tidak mengenalnya.
“Aku harap kamu tidak lupa saat aku mengatakan kata nanti.”
Kalimat yang keluar dari bibir Ares membuatku melihat ke arahnya dengan tatapan bingung.
“Kenapa masih disini, masuk atau ibumu akan marah ketika aku pulang kamu tidak ada.”
“Terimakasih atas tawarannya, tapi aku bisa naik taksi.”
“Apa kamu bercanda, tidak ada taksi yang bisa mengantarkanmu sampai kerumah.”
“Dijalan bisa.”
Tanpa memberikan arahan terlebih dahulu, tiba-tiba Ares mengangkat tubuh kecilku dan membawaku masuk kedalam mobil. Mendudukkan di kursi penumpang sebelah kemudi setelah itu memakaikan seatbelt yang melindungi tubuhku dan menutup pintunya.
Dia memutari mobil dan masuk kedalam, laki-laki itu sangat berbahaya dari yang aku kira, tapi aku tidak bisa berteman atau mengatakan bahwa aku menyerah. Aku tidak ingin menjadi orang yang seenaknya di injak-injak setelah ibu menikah dengan ayahnya.
Ares menarik sebuah handuk yang ada di belakang mobil dan melemparkannya ke arahku “Lebih baik keringkan pakaianmu atau tutupi pakai itu.”
“Hm.”
Aku mulai mengeringkan pakaian dan rambutku menggunakan handuk yang Ares berikan, padahal Ares sendiri pakaiannya basah, aku saja bisa melihat dada bidangnya dibalik kaos putih yang dia pakai.
“Kenapa?.”
Pandanganku yang terus tertuju ke arahnya ternyata disadari oleh Ares, aku segera mengubah pandanganku ke arah jalan di depan.
“Aku takut kamu tidak sadar diri dan jatuh cinta padaku, padahal sebelumnya aku sudah menawarimu untuk menjalin hubungan denganku, sekarang kamu adalah saudaraku.”
“Siapa yang peduli soal hubungan saudara, lagipula kita lahir di rahim yang berbeda.”
Aku tidak jatuh cinta pada Ares, tapi mendengar ucapannya yang terlalu percaya diri membuatku kesal dan tidak bisa tinggal diam untuk membalas.
“Kalau begitu lakukan lah jika kamu mau.”
“Aku harap kamu juga tidak jatuh hati padaku.”
“Banyak wanita diluar sana yang lebih baik darimu dan memiliki tubuh lebih menggoda darimu yang siap menyerahkan seluruh hidupnya padamu. Kamu tidak ada apa-apanya ketimbang mereka semua.”
“Buktinya kamu masih mau menyentuhku.”
“Aku hanya memperingatkanmu agar tau diri, bahkan saat aku bisa melakukan apapun, kamu tetaplah orang yang hanya mengikuti kehendak orang lain. Jika memang sejak awal kamu tidak setuju dengan pernikahan ibumu dengan daddy, harusnya kamu tidak pernah menampakkan diri di hadapanku atau kami semua tidak pernah melihat kalian.”
Apa yang dikatakan oleh Ares ada benarnya, aku hanyalah anak yang mengikuti apapun yang dikatakan oleh ibuku, mungkin aku pemberontak dengan banyak masalah hidup dan berusaha untuk kabur, tapi aku tidak bisa, aku masih disini, tandanya aku bukan berusaha kabur, aku hanya mengatakan pada dunia kalau aku pergi walaupun nyatanya tidak.
Terimakasih sudah membaca cerita ini, jangan lupa tinggalkan jejak kalian
Sung Ziyoung as Jane