
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Beberapa menit berlalu, rasanya disini tidak akan sadar sudah malam atau diluar terjadi apa, selain ruangannya tertutup dan hanya suara musik yang terdengar serta bau alkohol dan rokok yang menguar menjadi satu menjadi bagian yang seakan penghalang orang untuk sadar jika ada sesuatu di luar sana. Termasuk aku dan Ares yang masih stay duduk disini, entah sudah berapa batang habis, aku hanya menikmatinya tanpa memikirkan apapun.
“Ibuku meninggal saat Artemis masih kecil, kecelakaan mobil, kedatangan orang baru yang menggantikannya saat kami sudah hidup masing-masing membuat kami semua tidak nyaman, apalagi dia juga memiliki anak yang seumuran dengan kami.”
Ucapan Ares membuatku menoleh, aku tidak tau kalau dia akan mengatakan hal itu dengan sangat putus asa.
“Sama seperti Apollo, aku ingin mengejar impianku menjadi seorang atlet renang, tapi aku anak pertama yang harus mewarisi seluruh perusahaan keluarga, aku harus belajar menggantikan posisi daddy.”
Mungkin ini efek dari alkohol dan narkoba yang Ares konsumsi, dia berada di titik sedang mengungkapkan semuanya dengan santai.
“Aku sama sekali tidak berpikir kalau ibuku akan menghancurkan hidupmu dan juga adik-adikmu.” Jawabku, aku sendiri merasa bersalah pada Ares dan saudara-saudaranya, karena kedatanganku dan ibu mengubah segalanya.
“Tidak ada yang perlu disalahkan, Artemis seperti itu sejak dulu, Apollo suka menyendiri juga sejak dulu, dan aku seperti ini karena pilihanku. Tapi kedatanganmu membuatku sadar kalau aku punya harapan untuk bahagia, aku punya harapan untuk menjadi diriku sendiri dan tidak sepertimu, kamu hanya tidak punya kekuatan untuk sendirian, sedangkan aku punya, tapi aku tetap pecundang yang tidak ingin kemana-mana selain menerima.”
“Ares.” Aku menyentuh tangan Ares lembut, sambil menggeleng, aku tidak ingin dia menghisapnya lagi. “Cukup.”
“Hahaha... hidupku ternyata lebih lucu dari mu.”
Aku memeluk tubuh Ares erat, menepuk punggungnya lembut. Untuk pertama kalinya aku menjadi orang yang paling bodoh sedunia karena merasa hidupku paling tidak bahagia di dunia ini, sekarang aku merasakan bagaimana perasaan Michael saat memelukku saat aku berada dalam keterpurukan.
Ares melepaskan tubuhku, memegang kedua pundakku sambil menatap wajahku lekat-lekat, Aku merasa sangat tersihir dengan ketampanannya dan tatapan tajamnya. Aku tidak sadar, lebih tepatnya aku juga menginginkan saat Ares mendekatkan wajahnya ke arahku dan menempelkan bibirnya di bibirku. Rasa wine berpadu dengan rokok menjadi satu saat kami mulai menikmati ciuman satu sama lain, tangan Ares meremas pundakku, aku hanya mengalungkan tanganku ke lehernya untuk memperdalam ciuman kami, ini benar-benar ciuman pertamaku yang benar-benar terasa ciuman yang sesungguhnya.
Kami saling melepaskan, Ares menatapku lembut, aku hanya memalingkan wajah dan kembali pada posisi dudukku sebelumnya sambil menyalakan rokok kembali, aku sangat gugup dan aku tidak ingin Ares menyadarinya.
“Ares.” Suara perempuan membuatku dan Ares menoleh ke sumber yang sama.
Perempuan cantik dengan rambut panjang hitam dan tubuh seksi serta pakaian yang minim menghampiri kami, lebih tepatnya menghampiri Ares karena perempuan itu duduk di antara kami berdua sambil bergelayut manja di pelukan Ares.
Aku tidak nyaman berada di sebelah mereka, aku memutuskan untuk berdiri dan pergi dari ruangan ini untuk keluar. Di luar sudah mulai gelap, tapi banyak orang yang mulai berdatangan masuk kedalam, aku menikmati rokok di luar sendirian sambil melihat langit-langit.
“Hei, sendirian?.”
Seorang laki-laki tidak terlalu buruk, juga tidak tampan menghampiriku sambil tersenyum. Aku hanya membalas senyumannya tanpa mengatakan apapun, tapi laki-laki itu tiba-tiba merangkul pundakku seakan akan kami sangat dekat.
“Saya tidak ingin berbincang dengan siapapun.”
Aku tidak nyaman dan aku lebih suka sendirian.
“Sombong banget, kamu sama siapa kesini?.”
“Oke.” Laki-laki itu pergi tanpa protes apapun saat melihat Ares.
“Kenapa keluar sendiri? Bukannya aku menyuruhmu jangan kemana-mana.”
“Aku mencari udara segar di luar.”
Sebenarnya aku hanya ingin menghindari Ares karena tidak nyaman berada di antara mereka, Ares dan perempuan yang menghampirinya tadi. Aku pikir mereka sangat dekat dan serasi, kemungkinan juga Ares ada hubungan dengannya.
“Dia mantanku, tidak lebih.”
“Aku tidak bertanya.”
“Aku memberitahumu karena kamu sangat tidak nyaman.”
“Ya mungkin kamu berpikir seperti itu, tapi aku keluar untuk mencari angin.”
“Baiklah terserah, mau ikut denganku?.”
“Kemana?.”
“Tempat yang lebih seru daripada disini.”
Lagipula aku tidak ada tujuan selain mengikuti Ares, aku bersamanya jadi aku juga harus pulang bersamanya kecuali aku tidak berniat untuk pulang malam ini. Aku mengikuti langkah kaki Ares meninggalkan tempat ini menuju ke mobil yang sebelumnya di parkir di pinggiran jalan bersama dengan mobil lainnya.
“Aku akan menyetir, tinggal berikan arah.” Aku mengambil kunci mobil Ares dan masuk ke kursi kemudi, alasannya sudah jelas kalau Ares sedang tidak baik-baik saja, aku tidak ingin mati konyol dengannya walaupun aku juga tidak punya alasan untuk hidup lebih panjang.
Beberapa kali didalam mobil Ares mengarahkan jalan untukku, walaupun dengan kesadaran yang minim.
“Didepan nanti berhenti saja di pinggir jalan, disana buntu.” Ucap Ares yang kemudian dia menutup matanya.
Sungguh aku akan mengatakan kalau laki-laki ini gila, tempat yang sangat sepi hanya ada hutan dan pohon-pohon tinggi, bahkan setelah menghentikan mobil, jalan sudah tidak ada lagi alias apa yang dikatakan oleh Ares ada benarnya kalau didepan buntu. Sekarang dia malah kehilangan kesadaran dan tidur, meninggalkanku dengan banyak kebingungan, entah apa yang harus aku perbuat lagi.
Aku melihat di ponselku sudah menunjukkan pukul 7 malam, sekitar sangat sepi, aku sendiri takut jika keluar dari mobil, bukan takut dengan hantu, tetapi lebih takut jika ada hewan buas yang berkeliaran disini. Selama perjalanan yang aku temui bukanlah jalanan beraspal melainkan masih dengan tanah yang banyak dijatuhi dedaunan kering, bau kayu pun masih tercium jelas, pertanda kalau tempat ini hampir tidak pernah dijamah oleh manusia.
“Ares sialan.” Umpatku.
Sinyal pun tidak ada di sini, antara memang berada di mobil atau memang tidak ada sinyal di tempat ini.
Ares terlihat mulai membuka matanya setelah satu jam aku menunggu disini berdiam diri berusaha mengikuti Ares yang tidur.
“Sudah sampai?.”
“Dari satu jam yang lalu.”
Dan sekarang sudah jam 8 malam lebih tapi terasa seperti tengah malam karena berada di tengah hutan. Ares membuka pintu mobilnya sambil menyalakan flash dari ponsel, dia menungguku untuk keluar dari mobil, aku berada di belakangnya sambil memegang ujung kemeja yang dipakai sebagai outer.
Ares menghentikan langkahnya hingga membuatku harus menabrak bahu kekar laki-laki itu, di kira dia tidak keras, punggungnya cukup keras membuat dahiku sakit. Ares membalik badan dan menggandeng tanganku, jika seperti ini kenapa harus datang ke tempat bodoh disini, lebih baik pulang kerumah, karena aku juga sudah lapar karena belum makan malam, konyol.