
WARNING 18+
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from a good children who lives here, I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Ranjang king size dengan desain modern abu-abu hitam menjadi pemandangan mataku malam ini, dalam pelukan Ares yang hangat di antara kulit yang bersentuhan tanpa benang yang menghalangi. Membalut tubuh dengan selimut yang menutupi hingga leher, tangan Ares mengusap lenganku lembut.
“Bagaimana kabar ibu?.” Dalam keheningan aku memecahkan kesunyian ini.
“Baik-baik saja, kamu harus mengunjungi adikmu disana, Ibu mungkin merindukanmu.”
“Ibu punya anak?.”
“Lebih tepatnya kita punya adik, sekarang sudah mulai belajar berjalan. Bagaimana kehidupanmu disini? Apa kamu menikmatinya?.”
Aku mengangguk, ada rasa yang tidak bisa aku ungkapkan saat mendengar bahwa Ibu dan Daddy atau ayah Ares akhirnya memiliki anak, itu artinya kami berdua benar-benar bersaudara, padahal baru beberapa menit yang lalu kami saling melepaskan rindu di bawah keringat dan suara erangan tertahan.
“Jika kamu mau, aku ingin melamarmu, aku ingin bertemu dengan ayah kandungmu untuk mengutarakan niatku.”
“Sama seperti dulu?.”
“Mungkin sekarang akan lebih susah karena aku sudah sekali mengecewakan putrinya, kali ini aku ingin berusaha lebih baik lagi.”
“Bagaimana dengan keluargamu? Bagaimana dengan daddy, Apollo Artemis.”
“Mereka sudah tau seperti dulu, ada banyak hal yang terjadi beberapa tahun ini, aku ingin menceritakan semuanya padamu, hanya saja aku belum ingin mengatakannya, tapi jangan khawatir mengenai hubungan kita, karena mereka pasti setuju jika memang itu keputusan kita berdua.”
“Kenapa kamu masih mencariku setelah bertahun-tahun berlalu? Kenapa harus aku ketika kamu bisa memilih banyak wanita yang lebih baik?.”
“Perasaan, aku hanya mencintaimu, jadi tidak ada alasan untuk menikahi wanita lain, apa hatimu telah terisi?.”
Aku menggeleng, karena nyatanya sejauh mana pun aku berusaha melupakan Ares, aku akan tetap di hadapkan dengan satu kenyataan bahwa aku hanya mencintainya, sangat mencintainya, sehingga aku tidak akan pernah bisa membohongi perasaanku sendiri atau bermain dengan pria lain yang hanya akan menyakiti kedua belah pihak.
Ares memelukku erat, membawaku kedalam mimpi indah yang telah lama aku rindukan waktunya.
Pagi itu aku terbangun lebih awal, jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi, aku buru-buru turun dari ranjang dan memakai pakaianku lengkap. Aku sudah telat bekerja pagi ini, aku harusnya datang jam setengah 8 dan sekarang sudah setengah jam berlalu. Beberapa panggilan masuk kedalam ponselku, termasuk dari ayahku yang khawatir karena aku tidak pulang, makian dari Barom yang bertanya kemana perginya aku malam ini karena ayahku bertanya padanya, serta Nyonya Alexa yang terus menghubungiku karena aku harus bertemu beberapa klien hari ini.
“Kenapa?.” Suara berat Ares yang baru bangun tidur menyadarkanku dari keributan di ponsel, aku menoleh ke arahnya yang masih berada di atas ranjang memeluk selimut.
“Maaf, aku harus segera pergi bekerja.”
“Tapi-.”
Ares berjalan ke arahku dan menarikku kembali ke ranjang, menjatuhkan tubuhku di ranjang yang empuk dan menindih tubuhku dengan tubuh kekarnya yang tidak memakai sehelai benang pun, aku memalingkan wajah ke samping sambil menelan ludah, walaupun semalam telah terjadi kegiatan panas, tapi dalam pengaruh minuman beralkohol juga sehingga tidak ada malu-malu, tapi sekarang benar-benar dalam keadaan sadar, dan aku sadar betapa seksinya Ares sekarang.
Jari-jarinya melepaskan bra yang melekat di tubuhku, meninggalkannya sekaligus ****** ***** senda yang kupakai. Ares mulai mengecup bibirku lembut, memberikan sensasi yang tidak bisa aku gambarkan secara gamblang bagaimana rasanya, aku membalas ciuman tersebut yang semakin lama semakin panas dan menuntut.
Ciuman Ares mulai turun menuju ke leherku, meninggalkan beberapa tanda kepemilikan disana, semakin turun menuju ke area dadaku. Menyentuhnya lembut, meremasnya dan kembali meninggalkan beberapa kissmark.
Kegiatan pagi kami semakin panas dengan persetubuhan, saling memeluk dan mengecup. Sekitar pukul 12 siang, aku baru membuka mata kembali, aku melihat di sebelah, Ares sudah tidak ada namun terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Aku bangun dari tidurku dan melangkahkan kaki menapaki lantai marmer memakai kemeja kebesaran milik Ares dan berjalan menuju ke pantry kecil untuk mengambil air minum.
Satu tegukan dari gelas berisi air mineral berakhir beberapa kali tegukan hingga tidak tersisa satu tetespun, baru selesai meletakkan gelas, terlihat Ares yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya menutupi area bawah pria itu, membiarkan air yang membasahi rambut kepalanya jatuh mengenai lantai walaupun tangannya yang membawa handuk kecil sudah berusaha mengeringkan. Tubuh atletisnya terlihat lebih menggoda, membentuk beberapa kotak di bagian dada, serta lengannya yang lumayan kekar.
“Apa yang kamu lakukan disini?.” Ares menghampiriku, mendekatkan tubuhnya yang wangi kearah ku, melayangkan kecupan di bibir dan memeluk tubuhku erat.
“Aku haus.”
“Viola, Apa aku bisa bertemu dengan ayahmu hari ini?.”
“Apa?.” Aku benar-benar terkejut dengan ucapan Ares, pasalnya Ayahku tidak menyukai Ares lagi, bukan seperti dulu, jauh berbeda, aku takut Ares akan kesulitan. “Aku belum siap.”
“Kenapa? Aku sudah bisa menghidupiku dengan pekerjaanku sendiri.”
“Tapi, terakhir kali hubungan kita memberikan kesan buruk pada Ayah, aku tidak yakin.”
“Aku akan berusaha merebut hatinya kembali.”
Aku tidak bisa, dan aku tidak akan pernah bisa menolak apa yang dikatakan Ares, entah apa yang membuatku mengikuti apa yang dia katakan. Buktinya sekarang kami berhenti didepan rumahku, aku masih berada didalam mobil Ares, sangat gugup padahal Ares yang akan bicara pada Ayah.
Tangan Ares terulur menggenggam tanganku erat “Jangan khawatir.” Ucap Ares yang berusaha meyakinkanku.
Aku dan Ares pun keluar dari dalam mobil, bersamaan dengan Ayah yang keluar dari dalam rumah membawa beberapa peralatan yang entah akan pergi ke mana.
“Ayah.” Panggilku, Ayah menoleh ke arahku namun pandangannya tertuju pada Ares yang berdiri di sebelahnya. Aku meneguk ludah kasar, berharap Ares akan baik-baik saja menghadapi ayah.
“Ayah bisa bicara dengannya sebentar?.” Tanya Ayah padaku, namun kalimatnya sangat dingin.
“Bisa om.” Jawab Ares ramah.
Aku menggeleng tapi Ares memberikan tatapan kalau dia akan baik-baik saja “Kamu masuk aja istirahat.” Ucap Ares padaku dengan lembut.
Aku mengikuti perkataannya walaupun aku masuk setelah melihat mereka berdua meninggalkan area pekarangan rumah, setelah beberapa menit berlalu dengan segala kegugupanku di dalam rumah, Ares mengirimi pesan untuk membuatkan makan malam karena mereka akan kembali saat makan malam.
Aku sedikit berpikir kenapa harus kembali saat malam hari, padahal sekarang masih cukup siang, banyak hal yang berkecamuk di dalam kepalaku tapi aku tetap melakukan apa yang Ares suruh untuk membuat makan malam.
Beberapa bahan makanan yang tersisa didalam lemari pendingin seluruhnya aku keluarkan untuk diolah menjadi makan malam simpel, karena aku juga belum belanja mingguan untuk membeli beberapa sayuran atau daging segar.