
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Natal akan datang beberapa hari lagi, banyak kegiatan yang dilakukan ibu, dari menyiapkan beberapa cemilan yang entah untuk siapa, meletakkan hiasan di pohon natal besar, serta berkunjung dengan daddy di beberapa tempat. Selama itu pula, aku hanya di penginapan tersebut, membantu pelayan membuat kue kering, atau sekedar hanya menonton tayangan televisi bersama Artemis.
Mungkin karena sama-sama perempuan, Artemis bisa menerimaku walaupun hanya sebagai teman dan bukan saudara. Toh aku tidak pernah berharap menjadi anggota keluarganya sebagai saudara, sehingga Artemis sedikit menyukaiku ketimbang ibu.
“Lihat ini, bagaimana menurutmu?.” Artemis menunjukkan sebuah dress yang sangat cantik untuk malam pesta natal nanti, katanya akan banyak tamu yang datang entah siapa, tapi setiap tahun memang keluarganya mengadakan pesta dan kebetulan tahun ini berada di Italia.
“Bagus, tapi ini kurang cocok untukmu, terlalu simpel.”
“Benarkah? Kalau begitu aku akan cari yang lain.” Artemis menscroll terus tab nya untuk menemukan dress yang cocok “Kalau kamu, mau pakai dress apa?.”
“Aku belum menyiapkan apa-apa, lagipula tidak akan ada yang mengenalku nantinya, jadi pakai apapun tidak masalah.”
“Benar juga, ada saudara kami yang sangat tidak aku sukai, dia sombong dan menyukai kak Ares, jika kamu bertemu dengannya dan berbincang, aku yakin kamu juga tidak akan suka.”
“Siapa? Waktu pernikahan daddy mu dia tidak datang?.”
“Tidak, aku juga tidak tau, lagipula dia sibuk karena jadi model juga.” Artemis mendekatkan bibirnya pada telingaku “Model pakaian dewasa.” Bisik Artemis.
“Benarkah? Berarti dia seksi?.”
“Lumayan sih, tapi aku tidak suka kepribadiannya.”
Aku jadi penasaran dengan wanita yang dikatakan oleh Artemis, katanya masih kerabat keluarga Cystenian dan Artemis mengatakan kalau Ares pernah akan dijodohkan dengannya tapi daddy mengatakan kalau semua pilihan masa depan percintaan Ares hanya ada di tangan Ares, jadi keluarga mereka tidak bisa memutuskan apapun secara sepihak karena Ares menolak.
Setelah membantu Artemis memilih dress yang kemudian Artemis juga memilihkan dress untukku sekaligus, aku pergi ke halaman depan, salju yang turun menutupi taman yang seharusnya baik bunga indah, beberapa pelayan berlalu lalang untuk membersihkan beberapa tempat. Acara akan dilaksanakan di gedung sebelah penginapan ini, sebuah hall besar yang sangat indah.
“Sendirian?.” Suara Ares terdengar di telinga, membuatku menoleh kebelakang.
Hanya ada kami berdua disini, pelayan pun sepertinya tidak peduli karena segala hal milik tamunya adalah privasi termasuk apa yang Ares lakukan padaku, Ares mengecup bibirku, walaupun hanya sebentar, tapi terasa sangat hangat dan tulus.
“Ares!.”
“Kenapa?.”
“Gimana kalau ada yang lihat?.”
“Tidak ada yang peduli, Apollo pergi, Artemis ada di kamarnya, hanya kita berdua.” Ares menggandeng tanganku “Ada yang ingin aku tunjukkan padamu.”
“Apa?.”
“Ikut saja.”
Aku mengikuti langkah Ares masuk kedalam, lebih tepatnya masuk kedalam kamar Ares, pintu kamar tertutup. Sama seperti kamarku, kamar Ares memiliki desain interior yang sama, dengan ukuran ranjang yang juga sama, bahkan posisi kamar mandinya pun sama.
“Apa ini?.”
“Hadiah natal dariku.”
“Tapi kan belum?.”
“Aku ingin lebih awal memberikannya, buka saja.”
Aku membuka kotak tersebut dan di dalamnya sebuah high heels yang sangat indah, aku tidak pernah melihat high heels seindah ini, mungkin pernah tapi tidak akan sanggup membelinya.
“Aku ingin kamu memakainya.” Ares mendekatkan tubuhnya padaku, tangannya dari dalam saku celana mengeluarkan sesuatu, kalung yang sangat indah dan senada dengan sepatu yang dia berikan padaku.
“Apa ini-.”
“Saat aku melihat kalung ini, aku teringat dengan wajah cantikmu, aku berharap kalung ini sangat cocok untukmu.” Ares memakaikan kalung itu padaku “Benar, sangat cantik jika dipadukan dengan lehermu.”
Aku memeluknya erat, aku sangat bahagia hari ini, walaupun Ares selalu membuatku bahagia tapi kalimatnya hari ini membuatku sangat senang. Aku selalu berharap memiliki orang sebaik dan seperhatian Ares, walaupun suatu hari nanti aku tidak akan bersamanya.
Wajah kami sangat dekat, Ares mengecup bibirku lembut, mengusapkan bibirnya di bibirku, memberikan ******* kecil. tangannya tidak tinggal diam, menekan leherku agar memperdalam ciuman kami. Masih dalam posisi yang sama, Ares melepaskan pakaian yang kupakai secara perlahan, seakan mengikuti apa yang Ares lakukan, aku juga melepaskan pakaian yang dia pakai.
Tangannya meremas dadaku lembut, nafas kami saling terengah untuk mencari pasokan oksigen. Ares mendorongku ke ranjangnya yang empuk, menyingkirkan kotak hadiah yang dia berikan padaku.
Keringat membasahi badan, Ares menopang tubuhnya menggunakan siku tangan agar tidak membebani tubuhku yang berada di bawahnya. Milik Ares tertanam didalam secara sempurna, wajahnya mengerang saat merasakan jepitan yang kuberikan.
Kegiatan ini berlangsung beberapa kali hingga kami kelelahan dan akhirnya tertidur di dalam selimut.
Sebuah ketukan pintu membangunkanku dari tidur, aku melihat ke arah pintu yang tertutup dan Ares yang masih terlelap. Aku terkejut bukan main karena aku masih berada disini tanpa mengenakan sehelai benang pun, aku membangunkan Ares dan membuat matanya mengerjap lucu.
“Kenapa sayang...”
“Ada yang ketuk pintu.”Aku buru-buru turun dari ranjang, memunguti semua pakaianku dan masuk kedalam kamar mandi untuk bersembunyi.
Entah apa yang terjadi di luar tapi aku mendengar Ares berbicara dengan seseorang disana, seperdetik kemudian pintu tertutup kembali dan ketukan di pintu kamar mandi membuatku membukanya perlahan.
“Siapa?.”
“Ibumu, dia mencarimu.”
“Aku harus kembali sekarang, lebih baik datang saat makan malam dan katakan kalau tidur.”
“tapi-.”
“Dia belum masuk kedalam kamarmu, karena kamarmu hanya kamu dan aku yang bisa akses. Tenang saja.”
Ares kembali menarikku masuk kedalam selimut, sebelum makan malam berlangsung, aku kembali ke kamar untuk membersihkan badan dan mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih layak.
Tidak sadar hari terus berlalu sangat cepat, pesta yang akan di laksanakan pada malam natal itu pun akhirnya berlangsung, banyak orang berdatangan, para pelayan berlalu lalang memberikan minuman dan camilan untuk tamu. Tokoh utama hari ini adalah daddy dan ibu yang banyak di sapa oleh orang, sedangkan aku memilih berada di dekat jendela lebar yang menunjukkan suasana di luar diantara salju yang turun.
Malam natal saat ada ayah, aku selalu menghabiskan untuk minum coklat panas sambil membicarakan mengenai kereta terbang yang akan memberikan hadiah pada anak kecil. bertahun-tahun selanjutnya tidak ada perayaan natal, ibu sibuk bekerja dan aku pun harus mengambil job part time lebih padat lagi karena uangnya saat natal lebih banyak ketimbang hari biasanya.
Pakaian indah ini melekat di tubuhku dengan sepatu dan kalung yang Ares berikan, seperti telat di tunggu, sebuah mobil datang, dan seorang gadis cantik keluar dari sana bersama kedua orang tuanya, menyapa sangat manis pada semua orang. tapi tidak dengan Artemis yang menatapnya benci, sudah dipastikan bahwa dia yang Artemis katakan.