Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 34



WARNING 18+!


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from a good children who lives here, I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Seperti yang Ares katakan sebelumnya, mereka terlihat kembali saat makan malam, namun di luar dugaan karena Ares dan Ayah nampak sangat akrab seperti ayah dan anaknya sendiri, Ares sesekali tertawa beriringan dengan Ayah menuju ke rumah. Aku langsung berlarian keluar rumah menghampiri mereka karena penasaran dengan apa yang terjadi.


“Ayah.” Ucapku, namun Ayah melihatku dengan tatapan bingungnya karena mungkin wajahku tampak ketakutan.


“Ayah mandi dulu, kamu bisa mandi pakai kamar mandi milik Viola.” Ayah menepuk pundak Ares seakan-akan mereka berdua sangat akrab.


Aku melihat ke Ares bingung sekaligus meminta penjelasan atas apa yang aku lihat barusan, bagaimana mungkin Ayahku yang selalu memaki Ares saat aku pulang dalam keadaan mabuk, sekarang terlihat lebih akrab dengan Ares seperti anak sendiri.


“Apa?.”


“bagaimana mungkin? Apa yang terjadi? apa yang kamu katakan pada Ayah?.”


“Aku mandi dulu.” Ares melenggang masuk kedalam rumah, masuk ke kamarku yang sangat dia hafal letak dan posisinya seperti rumah sendiri, padahal waktu sudah berlalu cukup lama.


Cukup lama aku menunggu Ares yang menghabiskan waktunya di kamar mandi, aku hanya penasaran dengan apa yang mereka lakukan sehingga pulang-pulang menjadi sangat akrab, aku senang karena ayah tidak ada masalah apapun dengan Ares, Ares juga mengatasi permasalah ini dengan baik dan kemungkinan bisa menyetujui hubunganku dengannya.


Pintu kamar mandi dibuka, Ares keluar dengan kaos oblong dan celana panjang sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


“Kenapa?.” Ares melihatku bingung karena aku sejak tadi terus menunggunya.


“Apa yang kamu katakan pada Ayah?.”


Ares tersenyum dan duduk di meja riasku sambil memperhatikan beberapa peralatanku yang ada di meja serta foto-foto yang dipajang diatas nakas.


“Aku hanya meminta restu dan menjelaskan semuanya, lagipula kamu juga tidak bisa melupakanku, mana mungkin ayahmu tega memisahkanmu denganku.”


“Apa?.”


“Setiap malam kamu pulang dalam keadaan mabuk dan itu membuat ayah sedih, sejak kapan?.”


“Itu tidak penting.”


“Penting untukku karena aku adalah alasan kamu seperti itu, kamu hanya merokok dan tidak lebih sebelumnya, tapi sekarang kamu juga minum karenaku.”


“Aku tidak apa-apa, lagipula sudah menjadi sebuah kebiasaan disini jika menghabiskan malam untuk minum di klub.”


“Tapi bukan kebiasaanmu Viola.”


“Makan malam sudah siap, keburu dingin.” Aku menghindari pertanyaannya secara sepihak dan melangkah keluar kamar, belum sampai membuka pintu kamar, sebuah tangan melingkar di pinggangku, bau maskulin keluar dari tubuh Ares, seperti aromatherapy untukku.


“Maaf.” Ucapan lirih terdengar di telingaku.


“Kenapa kamu meminta maaf padahal bukan kesalahanmu.”


“Aku hanya merasa harus bertanggung jawab dan memperbaiki perpisahan kita sebelumnya.”


Aku tersenyum, bukan Ares yang salah tapi dia bersikap sangat dewasa untuk mengembalikan kenangan yang sempat tertunda, kesalahan kami yang harus diperbaiki. Perbincangan singkat ini berakhir karena ayah sudah memanggil untuk makan malam bersama, di luar dugaan kembali, Ayah sangat akrab dengan Ares, dari perbincangan sederhana hingga menjurus ke pembahasan serius.


“Kapan kamu akan berencana menikah?.”


“Uhuk-uhuk.” Aku tersedak karena pertanyaan Ayah yang dilayangkan pada Ares, Ares melihatku dan memberikan segelas air minum.


“Saya sudah berniat untuk melamar Viola om.”


“Apa?.” Ares bahkan tidak mengatakan padaku sebelumnya.


“Yah...”


“Masalah ibumu, ayah akan bicarakan padanya.”


“Tapi yah...”


“Tenang aja, kamu anak ayah, ayah tau bagaimana hubungan kalian, jadi ayah akan mendukung kalian apapun rintangannya.”


“Terimakasih om.”


Acara makan malam berakhir, Ares berpamitan untuk kembali ke hotel karena dia harus segera mengerjakan pekerjaan kantornya yang menumpuk seharian ini. Aku memeluk Ares erat dan melepaskannya untuk masuk kedalam mobilnya meninggalkan rumah.



Seperti hari biasanya, aku datang ke galeri untuk bekerja, terlihat wajah nyonya Alexa yang sedikit kesal karena aku yang tidak bisa hadir kemarin. Aku tersenyum sambil meletakkan sebuah paper bag di atas mejanya, bukan kali pertama sebenarnya nyonya Alexa seperti itu mengingat kami yang sudah sangat dekat, aku menganggapnya sebagai ibuku sendiri karena kemungkinan umurnya yang tidak jauh dari umur ibuku, dia baik dan selalu menganggapku bukan hanya seorang karyawan, melainkan bagai anak sendiri.


“Kenapa tidak bilang sejak awal kalau kamu ada pekerjaan dengan tuan Ares?.”


“Maaf nyonya, mendadak karena tuan Ares menyuruhku untuk segera datang.”


“Thanks lilin aromatherapy nya, kamu tau aja kalau stok lilin habis.”


“Hehehe kelihatan mood nyonya Alexa tidak baik.”


“Hari ini aku ada acara di luar kota, kamu handel semuanya yang ada disini, ada beberapa klien yang harus kamu temui juga, daftarnya aku kirim melalui email.”


“Siap!.”


Sekitar pukul 9 pagi, nyonya Alexa meninggalkan kantor, hanya ada aku sebagai kepala pengganti saat nyonya Alexa tidak ada serta beberapa karyawan lainnya yang bekerja di bagian masing-masing.


Setelan kerja putih dengan rok pendek menjadi pilihan pakaian yang aku pakai hari ini, aku mengerjakan banyak hal karena jadwal hari ini yang cukup padat, dari bertemu dengan beberapa klien yang sudah dijadwalkan oleh nyonya Alexa hingga melihat beberapa lukisan baru yang datang hari ini sekaligus bertemu dengan senimannya secara langsung. Memiliki kesempatan berada di pameran ini dengan karya milik sendiri adalah sebuah kehormatan sekaligus pencapaian yang cukup besar, aku bekerja disini dan aku mengerti berapa standar penilaian seniman yang bisa memasukkan karyanya disini, hanya beberapa seniman lama dan  terkenal yang memiliki banyak lukisan disini.


“Viola, ada yang mencarimu di depan.” Aku melihat ke arah Yola yang berdiri di ambang pintu ruangan kerjaku.


“Siapa?.”


“Tuan Ares.”


“Baiklah, Terimakasih Yola.”


Aku mendorong kursi yang kududuki dan melangkah meninggalkan ruangan menuju ke luar gedung, terlihat Ares yang berdiri di sebelah mobilnya sambil sesekali melihat pergelangan tangannya yang terdapat jam melingkar.



Ares tersenyum padaku saat melihatku yang datang menghampirinya, aku tidak ada janji dengan Ares hari ini, entah apa yang dia lakukan jauh-jauh mendatangiku ke tempat kerja. More information, hotel tempat tinggal Ares sangat jauh dari galeri tempatku bekerja, aku bisa menghabiskan waktu satu jam penuh saat tidak macet untuk datang kesana, hanya saja jarak antara rumahku tidak begitu jauh, lebih dekat sekitar 30 menitan.


“Jam makan siang, aku ingin mengajakmu makan siang bersama.”


“Kenapa kamu tidak bilang lebih awal?.”


“Kejutan.”


Aku tersenyum dan masuk kedalam mobilnya yang membawaku ke sebuah restoran bintang lima, restoran yang seharusnya penuh saat jam makan siang tapi ini sangat sepi, bahkan hanya ada kami berdua yang duduk di salah satu meja.


“Kenapa sepi?.” Aku mulai bertanya-tanya dengan keadaan ini.


“ehm Aku ingin mengatakan suatu hal yang penting jadi aku menyewa satu restoran penuh untuk kita.” Aku menoleh ke arahnya setelah mendengar ucapan Ares.


Pelayan datang membawa makanan yang belum kami pesan sebelumnya, tudung makanan di buka, sebuah makanan pembuka seperti biasanya. Menyalakan lilin dan memberiku buket bunga mawar yang sangat indah.



Aku melihat ke arah Ares bingung, aku tahu cepat atau lambat Ares pasti akan bersikap romantis seperti ini, tapi bukankah hari ini tidak ada acara apapun, bahkan aku juga tidak ulang tahun, apalagi Ares, aku rasa ulang tahunnya masih beberapa bulan lagi.