Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 39. Ending



WARNING 18+!


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from a good children who lives here, I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you






Aku berdiri di depan kaca besar yang menampakkan seorang wanita sangat cantik memakai pakaian pengantin putih lengkap tudungnya yang belum menutupi wajah. Rasanya ingin menangis, pada akhirnya hari ini datang, sebuah pernikahan sakral untuk mengikat perempuan dan laki-laki dalam janji suci untuk hidup sampai mati.


Pintu terbuka, membuat kepalaku menoleh ke arah sana. Ayah berdiri dengan gagah mengenakan setelan jas hitam berdasi nya, tersenyum padaku sangat lembut.


“Apa putri ayah gugup?.”


Aku mengangguk, Ayah berjalan kearahku pelan, menyentuh pundakku sambil mengulas senyuman hangat. “Pernikahan itu selalu gugup, karena tau akan bahagia setelahnya, Ayah yakin kamu bisa bahagia, tidak seperti ayah dan ibu. Maafkan Ayah karena belum bisa jadi Ayah yang baik untukmu. Sekarang tugas Ayah sudah selesai, sudah saatnya kamu hidup dengan pasanganmu, pria yang akan mencintaimu hingga akhir.”


Entah kenapa air mataku jatuh “Jangan menangis, anak Ayah itu kuat, nanti nggak cantik lagi loh.”


“Ayah.” Aku memeluk Ayah erat, sudah bertahun-tahun tapi rasanya sangat sebentar, aku membutuhkan waktu lagi untuk hidup dengan Ayah, tapi sudah saatnya aku bisa mandiri dan menemukan jalanku sendiri.


Jam sudah menunjukkan pukul 7 lebih 30 menit, Ayah membawaku masuk kedalam altar suci. Pemandangan pertama kali yang aku lihat adalah jalan lurus dengan banyak tanaman yang menghiasi di kanan dan kiri, seperti berjalan di aliran sungai yang hangat. Pandanganku tertuju pada Ares yang berdiri sangat jauh dariku, di ujung sambil tersenyum tapi matanya berkaca-kaca, di sebelah Ares ada Apollo yang menepuk pundak Ares sambil tersenyum bahagia juga.


Tepat berdiri di depan Ares, ayah memberikan tanganku pada Ares “Aku titipkan putriku satu-satunya padamu, Aku harap kamu tidak pernah membuatnya menangis sedih atau membuatnya menderita, jika memang suatu hari kamu tidak menginginkannya lagi, kembalikan padaku seperti kamu memintanya padaku untuk menikahinya, pintu rumah akan selalu terbuka untuk putriku, kapanpun itu.”


“Saya janji akan menjaga dan tidak membuat Viola menangis sedih, setiap detik, saya akan membuatnya bahagia disisi saya.” Jawab Ares menggenggam tanganku hangat.


Ayah tersenyum dan benar-benar melepasku, sekarang adalah bagian kami untuk berjanji pada Tuhan mengenai cinta kami dan juga sumpah suci kami atas sebuah ikatan pernikahan.


Ares mengucapkan janjinya dengan lantang, kemudian diikuti janjiku yang sama dengan apa yang Ares katakan. Terakhir kami berhadapan satu sama lain, Ares membuka tudung kepalaku, tersenyum padaku dan mendekatkan wajahnya untuk mencium bibirku lembut. Suara tepuk tangan yang cukup meriah mengakhiri acara sakral hari ini. Aku tersenyum pada semuanya orang dan mengatakan kalau aku bahagia, disana duduk paling depan ada Ibu kandungku beserta Athena, Ayah Ares, Apollo, Artemis, Jane, Ibu Ares, juga Ayahku. Mereka semua bahagia termasuk para tamu undangan dari kerabat terdekat kami yang menghadiri acara ini secara khusus.


Acara pernikahan ini dibagi menjadi dua waktu, yang pertama adalah paling sakral yaitu upacara pernikahan yang dilaksanakan di gereja. Dilanjutkan dengan pesta pernikahan yang mengundang banyak kolega kerja juga kerabat lainnya yang belum mendapatkan kesempatan menghadiri upacara pernikahan.


Aku berada di tempat yang sangat nyaman, sebuah ruangan dengan ranjang king size banyak hiasan ala-ala pengantin, bunga yang cukup banyak serta hidangan dan wine pelengkapnya. Ares tengah berada di luar, disini hanya ada aku yang berusaha melepaskan pakaian pengantinku tapi sejak tadi gagal terus, aku memutuskan untuk menghapus make up terlebih dahulu dan merapikan rambut.


Malam ini dressnya warna ungu perpaduan hitam elegan dengan tas dan sepatu senada, aku menunggu Ares datang membantuku melepaskan gaun pengantin yang kupakai. Aku naik keatas ranjang dan mengambil ponsel yang ada di nakas, kemudian mulai melihat beberapa video lucu di medsos sambil mengurangi rasa grogi akibat pernikahan ini.


Ceklek


Aku melihat kearah pintu dan menemukan Ares yang baru saja masuk sambil melepaskan jas putih yang masih melekat di tubuhnya. Ares melihat ke arahku dengan tatapan bingung, “Aku membutuhkan bantuanmu, aku tidak bisa melepaskan resletingnya.”


Kreeekkkk....


Sampai bawah, Ares menyentuh pundakku lembut, meninggalkan banyak kecupan disana membuat pandanganku meremang merasakan geli sekaligus sebuah kenikmatan tersendiri. Ares menanggalkan gaun yang kupakai, menyisakan bra dan ****** ***** tipis bahkan sangat nerawang, lebih tepatnya bisa disebut lingerie melihat bentuk dan bahannya.


Dari belakang, Ares meremas dadaku perlahan, membiarkan tangannya menjelajahi tubuh bagian depan atas milikku.


“Ahhhh...” aku bahkan tidak bisa menahan desahanku hanya karena Ares.


Pria itu membalik tubuhku berhadapan dengannya, mengecup bibirku lembut, melepaskan seluruh benang yang tersisa di tubuhku. Sangat buru-buru dia juga melepaskan semua pakaiannya, terlihat jelas milik Ares yang sudah sangat membengkak lebih besar dari ukuran biasa.


Aku duduk di pangkuan Ares, membiarkan milik kami menyatu. Keringat mengalir deras padahal suhu ac sudah sangat dingin harusnya, tapi kami masih merasa bahwa ruangan ini sangat panas, kegiatan kami berlangsung menghabiskan waktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat.


Setelah 3 ronde permainan kami, akhirnya Aku dan Ares masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badan sebelum keluarga berdatangan untuk memanggil karena tokoh utama pestanya telat.


dress indah itu melekat di tubuhku, dengan rambut yang dibiarkan terurai begitu saja, juga tak lupa dengan make up tipis. Aku sengaja tidak menggunakan MUA, karena kalian tahu sendiri kalau kami hampir telat, minimal aku bisa menghabiskan setengah jam untuk MUA saja, jadi aku memutuskan untuk make up sendiri, aku tau mama akan marah karena melihatku tidak memakai MUA.



Ares menggandeng tanganku, dia tersenyum mengulas senyuman padaku sampai berada di antara para tamu. Menyapanya satu persatu yang mengucapkan selamat pada kami berdua, aku menghampiri Jane terlebih dahulu yang baru saja datang dengan Apollo.


“Jane.”


“Selamat.” Jane memelukku erat, kami berteman walaupun tidak bersahabat.


Setelah kehadiran Jane, orang lain yang aku tunggu adalah dia yang tengah menggandeng putranya, Michael.


Aku tersenyum, aku tidak menyangka kalau akhirnya aku bisa bertemu dengan Michael kembali.


“Mic.”


“Vi.”


Kami saling berpelukan, aku bahagia karena semua hadir, aku sangat bahagia akhirnya aku bisa bertemu dengan sahabatku kembali.


“Selamat atas pernikahan kalian.” Michael menjabat tangan Ares.


“Terimakasih.”


“Oh iya ini anak dan istriku, kamu pasti belum pernah bertemu dengannya.”


Aku tersenyum dan memperkenalkan diri serta memeluknya, sebagai orang yang selalu mendengar keluh kesah Michael sejak dulu, melihat wanita itu, dia bukan tipe Michael tapi sepertinya dialah yang terbaik untuk Michael. Dan putranya, benar-benar mirip Michael, seperti satu sosok yang dibelah jadi dua.


Aku melihat sekitar dengan bahagia, Ayah Ibu, Kedua orang tua Ares, Apollo, Artemis, Jane, Michael serta keluarga, terakhir pria di sebelahku, ARES.


Terkadang aku harus sabar untuk menerima sebuah takdir bahagia, jika memang kami berjodoh, Tuhan tidak akan setega itu memisahkan kami berdua.