Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 16



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Suasana kampus dengan banyak bunga bermekaran saat musim semi adalah keadaan yang sangat dinantikan, selain harum bunga yang dihasilkan dari bunga tersebut juga cuaca yang sangat mendukung untuk membaca buku sambil berdiskusi dengan teman-teman, terutama anak Seni Rupa yang semakin banyak menghiasi lapangan dekat taman hanya untuk melukis. Aku tinggal menyelesaikan beberapa detail yang kurang di studio lukis angkatanku, sendirian. Karena Jane masih ada urusan untuk bertemu dosen, dia lebih sibuk karena ditunjuk sebagai ketua kelas, gampangnya aku akan lebih mudah mengumpulkan tugas karena Jane yang bertanggung jawab.


Jendela yang mengarah ke jalanan luar saat aku disibukkan dengan tugas lukisan ini, mataku menangkap sosok yang sangat aku kenal, siapa lagi kalau bukan Ares. Fakultasnya ada di gedung sebelah itu yang paling tinggi dan modern, dia biasanya memang lewat jalan yang bisa aku lihat dari studio lukis ini. Namun pandanganku juga menangkan wanita lain yang menghampirinya, wajah itu sangat tidak asing, jika aku terus mengingat kembali, ada secuil ingatan kalau aku pernah bertemu dengan dia sebelumnya, hanya saja aku lupa bertemu dimana.


Wanita itu nampak memeluk Ares bahkan mencium pipinya sangat manja, aku merasa kesal entah kenapa, intinya aku tidak suka melihat itu sehingga aku menutup tirai jendela dan segera menyelesaikan tugas lukisanku untuk dikumpulkan..


Aku bertemu dengan Jane yang mengumpulkan tugas lukisan dari angkatan kami, dia membawanya menggunakan troli mengingat banyak sekali kanvas yang harus dibawa.


“Aku mencarimu kemana-mana, ponselmu mati?.”


“Maaf, baterainya habis, aku baru selesai, ini.”


“Thanks, oh iya kamu dicariin kak Ares dibawah.”


“Ha? Ngapain?.”


“Aku juga nggak tau, katanya kamu nggak ada hubungan sama kak Ares.”


“Emang nggak ada kok, mungkin dia mau mengatakan hal penting soal kampus.”


“Bisa jadi, jangan sampai menunggu. Aku ke ruang dosen dulu mau ngumpulin ini, nanti langsung ketemu di kantin aja waktu makan siang.”


“Oke.”


Aku berjalan masuk ke dalam lift menuju ke lantai satu, seperti yang dikatakan oleh Jane kalau Ares menungguku disana tapi bukan hanya Ares, juga wanita itu dan teman-temannya yang pernah aku lihat sebelumnya.


“Jadi dia wanita yang kamu maksud?.” Wanita itu melihatku dari atas hingga bawah, aku tidak tahu apa yang aneh dari penampilanku karena aku merasa ini biasa saja. “Alora, MANTAN PACAR ARES.” Dia memperkenalkan dirinya dengan sangat menyebalkan, tapi aku berusaha tersenyum padanya sebisa mungkin.


“Viola.”


“Aku kemari bukan untuk melihatmu berkenalan dengan Viola, aku ada urusan dengannya.” Ares menarik pergelangan tanganku dan mengajakku pergi menjauh dari teman-temannya.


Aku bingung dengan apa yang dilakukan oleh Ares “Hari ini nggak ada siapapun di rumah selain pelayan, aku akan pergi ke klub seperti sebelumnya, kalau kamu mau kamu bisa ikut, tapi aku tidak memaksamu kali ini, jika tidak kamu bisa pulang sendiri, sopir akan menjemputmu."


Rasanya aku ingin ikut dan mengetahui banyak hal mengenai Ares.


“Aku akan ikut, aku butuh suasana luar.”


“Oke, sampai bertemu nanti.” Ares menyentuh pipiku lembut.


“Kenapa kamu tidak memberitahuku melalui telepon.”


“Kelihatannya kamu bodoh, aku tidak bisa menghubungimu.”


Ares hanya diam, dia melihatku dengan tatapan sulit diartikan, tinggi kami sangat berbeda jauh, dia lebih tinggi dariku, jika aku ingin melihat wajahnya, aku harus sedikit mendongakkan kepala. Saat mata kami bertemu, Ares menyentuh rahang kepalaku, mendekatkan wajahnya dan mengecup bibirku sekilas. Setelah itu dia pergi tanpa mengatakan apapun, Ares ini suka mencium orang sembarangan, selain di cium dia juga suka mencium orang seenaknya sendiri.


Aku melihat Ares dari jauh yang bergabung dengan teman-temannya meninggalkan gedung fakultas seni. Waktu terasa sangat cepat saat aku berpisah dengan Jane di parkiran, dia langsung menuju ke mobilnya untuk pulang. Sedangkan aku menunggu Ares yang belum keluar mengingat mobilnya yang masih ada di area parkiran.


Laki-laki tampan itu melepaskan kemeja outer yang dipakai, hanya menyisakan kaos hitam polos. Dia lebih tampan tatkala memakai pakaian serba hitam apalagi dengan style yang sedikit berantakan, antara aku yang suka style laki-laki seperti itu, atau memang karena ke tolong tampang mengingat dia adalah Ares.


“Ayo.”


Aku membuka pintu mobilnya saat Ares mengajakku untuk masuk, selama dalam perjalanan belum ada perbincangan apapun hingga aku mulai memecah keheningan ini.


“Kak Apollo kapan berangkat?.”


“Udah berangkat dari tadi pagi.”


“Ohhh...”


“Kenapa?.”


“Tidak apa-apa.”


“Jangan sampai orang tua tau apa yang kita lakukan di luar, masalah pelayan, mereka akan tutup mulut sendiri.”


“Baiklah.”


Saat siang menuju malam, mobil Ares berhenti di klub yang tidak sama seperti sebelumnya, klub yang aku maksud adalah seperti ini, banyak kendaraan di depan dan terpampang jelas nama nya di atas. Ku pikir tempat ini hanya untuk kalangan atas mengingat bagaimana desain nya dan berapa banyak mobil mewah yang terparkir di depannya.


Apalagi saat masuk, semua di cek dari segala sisi, bahkan mereka juga meminta sebuah kartu yang aku tidak tahu apakah aku bisa masuk atau tidak. Aku berjalan di belakang Ares, mengekori nya seperti anak kecil yang tidak tau apa-apa.


Sampai di pintu masuk, Ares berbisik pada dua penjaga tersebut kemudian mengajakku masuk tanpa menunjukkan identitas apapun atau kartu khusus apapun. Tempat ini sangat ramai, begitu masuk, bau rokok dan alkohol menjadi satu. Ares mengajakku kedalam satu meja kosong, atau mungkin memang itu meja khusus dengan sofa yang empuk.


Di bawah ada banyak pengunjung yang menggoyangkan tubuhnya mengikuti irama musik yang terdengar sangat nyaring di telinga. Dua pelayan mengantarkan satu botol dengan dua gelas minuman beralkohol.


“Kalau kamu mau, minum aja.”


“Aku tidak minum.”


“Benarkah? Rasanya enak kalau kamu mau.” Ares menuangkan minuman beralkohol tersebut kedalam gelas kecil miliknya dan juga milikku.


Ares kemudian mengambil bungkus rokok yang ada di saku celananya kemudian mengeluarkan satu batang untuk dibakar menggunakan korek api, dia mengeluarkan satu batang lagi dan menyalakannya lalu memberikan padaku.


“Ambil aja, dari pada diam aja.”


“Thanks.”


Aku menghisap batang rokok tersebut, ternyata rasanya lebih enak dari milikku, mungkin faktor harga juga mempengaruhi, kebetulan rokok milikku sudah habis semalam, aku belum sempat membeli lagi, itu saja aku beli sebelum pindah ke rumah baru tanpa sepengetahuan Ibu.


Bau minuman yang ada di gelas kecil itu sangat mempengaruhi penciumanku, seperti menarikku untuk meminumnya, hanya saja pikiranku selalu mengatakan untuk tidak, toh aku juga belum pernah minum minuman beralkohol.


“Jika mau, minum saja.”


Akhirnya aku mengambil gelas tersebut dan meneguhkan, rasa yang manis sekaligus membuat tenggorokanku terasa terbakar, tapi ini membuatku kembali meminta di tuangkan lagi.