Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 20



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Setelah dari makam nenek yang sebenarnya bersebelahan dengan makam ibu kandung Ares, Ares hanya datang ke makam neneknya mengingat fakta bahwa makam itu palsu.


“Apa kak Apollo dan Artemis sudah tahu mengenai itu?.”


“Belum, lebih baik mereka tidak tahu karena aku tidak ingin mereka juga kecewa seperti yang aku rasakan. Terutama Artemis, aku takut dia sakit hati lebih banyak dariku mengingat dia selalu merindukan sosok mama dalam hidupnya.”


Aku mengerti apa yang dikatakan oleh Ares, apa yang dikatakan Ares memang benar tapi membiarkan saudara nya tidak tau apapun lebih lama menurutku bukan pilihan yang tepat.


“Aku pikir cepat atau lambat mereka harus tau, jika berlarut lebih lama akan lebih sakit, maaf aku ikut campur.”


“Terimakasih sudah peduli.”


Di luar dugaanku, Ares menjawab kalimatku dengan ucapan terimakasih. Mobil ini berhenti di sebuah kedai kopi tidak jauh dari perkotaan, kedainya sangat sepi, entah kenapa masih buka walaupun sangat sepi.


Ares keluar dari mobil dan mengajakku untuk masuk kedalam, hanya ada satu pelayan yang merangkap menjadi barista juga, dia sepertinya sangat mengenal Ares, melihat perbincangan mereka yang sangat akrab saat aku memutuskan untuk menunggu Ares di meja kosong.



Beberapa menit kemudian Ares datang dengan membawa minuman pesananku dan pesanan dia sendiri, lalu duduk di depanku dengan wajah santai. Ada banyak yang ingin aku tanyakan padanya, mengenai sikapnya yang tiba-tiba berubah tidak menyebalkan dan tentang banyak hal yang tidak aku tau mengenai keluarganya yang sekarang sudah menjadi keluargaku, entah sopan atau tidak, aku ragu untuk menanyakan itu semua.




“Cafe ini di buka bukan untuk usaha, melainkan sebuah hobi. Disana ada Samuel, dia teman lamaku. Kami pernah satu sekolah dulu, dia sibuk sebagai penulis, tapi dia ingin memiliki sebuah kedai kecil di pinggiran kota selain mengarang cerita dengan bebas, sehingga rumah yang disewa di rubah menjadi cafe ini.” Jelas Ares yang menjawab semua pertanyaan saat baru sampai di kedai sepi ini.


Saat aku mencoba kopi yang dibuat, rasanya sangat enak, tidak pernah aku merasakan kopi seenak ini. Harusnya cafe ini ramai pengunjung mengingat bagaimana rasanya.


“Enak.”


“Dia memang ahli, sayangnya tempat ini jalur cepat sehingga tidak banyak yang mau mampir kemari.”


Ku pikir memang benar yang dikatakan Ares, jalanan didepan menunjukkan banyak kendaraan berlalu lalang terutama truk besar antar kota.


“Ares, apa aku boleh bertanya?.”


“Silahkan.”


“Kenapa kamu berubah?.”


“Apa?.”


“Maksudku, emm itu-.”


“Apa aku kurang jelas mengatakan kalau aku tertarik padamu, mungkin cara awalku salah dalam mendekatimu, tapi aku menyukaimu sehingga aku ingin berperilaku lebih baik dihadapan wanita yang aku sukai kali ini.”


“Tapi? Kita nggak bisa-.”


Aku belum bisa mengatakan kalau aku memiliki perasaan yang sama seperti yang Ares rasakan, aku takut kalau ternyata Ares hanya mempermainkanku, aku takut jika perasaanku terlalu dalam dan membuatku tidak tau diri untuk memiliki dia seutuhnya.


Setelah dari kedai kecil ini, kami melanjutkan perjalanan ke tempat selanjutnya. Tapi kebodohan yang tidak akan pernah aku lupakan dengan Ares adalah ban mobil kami mogok di tengah jalan sehingga harus menunggu sampai tukang bengkel datang.


Tapi sepertinya hari ini bukan keberuntungan kami juga karena langit mulai mendung. Ares hanya meninggalkan mobilnya disana, dia mengajakku untuk menyusuri jalan setapak yang hanya bisa dilewati satu mobil untuk mencari tempat berteduh sebelum hujan.


Akhirnya ada sebuah motel yang berdiri sendirian disana, Ares buru-buru masuk dan bertanya pada resepsionis mengenai dua kamar yang bisa di sewa sebelum malam datang, karena orang bengkel mengatakan kalau bisa datang setelah badai di kota.


“Maaf tapi hanya tinggal satu kamar yang kosong.”


Padahal tidak ada kendaraan lain disana, tapi bagaimana mungkin hanya ada satu kamar yang tersisa.


“Apa tidak bisa dua?.” Tanya Ares kembali.


“Tidak ada, hari ini penuh, jika mau silahkan di ambil, kalau tidak, mungkin akan diambil pengunjung lain melalui pesan layanan telepon.”


“Baiklah saya ambil.”


Setelah mengurus check in segala macamnya, kami mendapatkan kunci kamar tersebut dan diantarkan menuju ke lantai dua, tidak banyak kamar tapi lorongnya sepi seakan semua kamar kosong.


Saat pintu kamar terbuka dan pelayan hotel menjelaskan apa saja yang bisa kami dapatkan di dalam sini, setelah itu kami benar-benar hanya berdua saja. Aku tidak tahu harus mengatakan pada Ares, rasanya sangat canggung.



“Aku atau kamu yang mandi terlebih dahulu?.”


Aku menoleh karah Ares.


“Duluan saja.”


Setelah itu Ares masuk kedalam kamar mandi, suara air jatuh di lantai membuatku sangat gugup, apa yang akan terjadi setelah ini membuat pikiran kotorku mulai kemana-mana. Aku memukul kepalaku sendiri dan mulai membayangkan hal lain yang baik, kami hanya tidur sampai pagi setelah itu kemungkinan bantuan akan datang.


Ares keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang menutupi area bawahnya, membuatku langsung menutup mata.


“Apa yang kamu lakukan? Bukannya kamu sudah biasa melihatnya.”


Pipiku panas saat Ares mengatakan hal itu secara gamblang. Aku buru-buru masuk kedalam kamar mandi tanpa melihat ke arah Ares, Setelah menghabiskan beberapa menit di dalam kamar mandi, aku mencari handuk atau apapun yang bisa aku pakai selain pakaian kotorku.


Ketukan pintu membuatku mematikan air.


“kamu meninggalkan jubah mandimu.” Teriak Ares.


“Bisa minta tolong.”


“Ya.” Aku membuka pintu sedikit dan mengambil jubah mandi yang Ares berikan lalu menutup pintunya kembali.


Aku keluar kamar mandi hanya mengenakan jubah mandi yang sudah disiapkan oleh pihak motel. Walaupun motel ini kecil tapi pelayanannya sangat lengkap dan tempatnya juga terlihat bersih dan nyaman.


Ares duduk di sofa sambil bermain ponselnya, penampilannya masih sama seperti sebelumnya. Dia melihat kearahku yang tengah mengeratkan jubah mandi yang kupakai, seperti aku berada di kandang harimau sekarang.


Dia meletakkan ponselnya dan berjalan ke arahku, jantungku berdegup sangat kencang, aku memundurkan kaki hingga terjatuh di ranjang membuat jubah mandiku sedikit ke angkat dan menampakkan pahaku.


Aku melihat Ares meneguk ludahnya susah paya, tangannya menyentuh lembut wajahku, mendekatkan wajahnya pada wajahku hingga benda kenyal itu berhasil menyentuh bibirku. Aku terlarut dalam ciumannya yang semakin dalam, aku merasakan tangannya yang mulai menyentuh tanganku untuk melepaskan dari jubah mandi yang ku eratkan.


Tanpa melepaskan ciuman kami, Ares mulai menyentuh pundakku dan menurunkan jubah mandi yang kupakai setelah melepaskan tali pinggangnya. Malam ini menjadi malam yang panjang untuk kami berdua, aku tidak berharap ini terjadi, tapi siapa yang tidak tergoda, apalagi cuaca di luar yang gerimis menambah nafsu.