Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 14



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Hari kesekian berada di rumah ini sekaligus kuliah di jurusan yang sangat aku inginkan, walaupun banyak masalah di rumah terutama menyangkut perdebatan dengan ibu dan jangan lupakan masalah bersama Ares juga. Aku cukup bahagia dan bisa mengembalikan mood setelah bertemu dengan kuas dan cat air.



Musim gugur datang, dress biru muda selutut membawaku menyusuri jalanan bersama dengan Jane, kami akan datang ke tempat yang sangat bagus untuk melukis. Ada tugas melukis bebas alam, sebenarnya aku tidak begitu ahli dalam melukis alam, aku lebih suka melukis manusia, karena memiliki struktur yang tegas. Berbeda dengan Jane, dia sangat suka melukis pemandangan alam sehingga dia memiliki banyak rekomendasi tempat yang cocok untuk lukisan kali ini.


Bisa aku katakan kalau tempat ini sangat indah, walaupun tidak seindah area rumah tapi mataku cukup di manjakan dengan dedaunan nan hijau dan juga bunga yang mulai bermekaran. Aku duduk di kursi kecil yang aku keluarkan dari dalam mobil Jane, juga kanvas sekaligus cat air serta peralatan lukis lainnya, sama dengan Jane yang juga mengeluarkan peralatan lukisnya.


Lukisan kami berdua baru selesai saat matahari mulai tenggelam karena bergantikan malam, aku dan Jane masuk kedalam mobil kembali menuju ke kampus. Alasannya tentu saja Jane harus mengantarkanku ke kampus karena sopir yang menjemputku sudah tiba.


“Thanks Jane.”


“Sama-sama, besok jangan lupa.”


“Oke, hati-hati.” Aku melambaikan tangan pada Jane yang mengendarai mobilnya meninggalkan area kampus.


Mobilnya ada di sana, aku berjalan menuju ke lokasi mobil terparkir. Tapi bukan sopir yang menjemputku, melainkan Ares, sudah lama aku tidak melihatnya, aku juga selalu mengabaikan sarapan serta makan malam bersama karena sibuk dengan lukisan yang tengah aku kerjakan di kamar.


“Ares.”


“Hai... Sopir tidak bisa menjemputmu, jadi aku yang datang.”


“Terimakasih.” Aku membuka pintu belakang tapi Ares menghentikan tanganku dan membukakan pintu depan untukku, hari ini aku akui dia sangat aneh dan aku tidak nyaman.


Aku pun masuk kedalam dan duduk dengan nyaman menunggu Ares yang masuk dan membawa mobil ini kembali pulang ke rumah.


“Kamu menghindariku?.”


“Tidak.”


“Benarkah? Kenapa?.”


“Apa aku harus mengatakan? Kamu adalah kakakku, aku harap hubungan kita sebatas itu.”


“Bukannya kamu sudah tidur denganku, apa perlu hubungan kakak beradik?.”


“ARES...”


Tiba-tiba Ares mendekatkan tubuhnya ke arahku dan menyentuh pipiku lembut, aku seakan tersihir dengan tatapannya yang tajam, tubuhku membeku, aku hanya bisa diam dan melihatnya lekat-lekat.


Ares kembali duduk dengan nyaman menyalakan mobil dan menjalankannya meninggalkan kampus.


“Daddy dan ibumu hari ini akan berangkat ke Paris untuk satu bulan kedepan, jadi ini makan malam terakhir, aku harap kamu ikut makan malam, Artemis juga datang.”


“Aneh sekali, bukannya lebih baik kalau aku tidak datang?.”


“Benar, aku pun bahagia kalau tidak melihatmu, tapi ibumu akan terkena masalah kalau kamu tidak datang, atau mungkin kamu akan kena masalah.”


“Baiklah.” Ares memang sangat menyebalkan.


Perjalanan mulai tenang karena tidak ada lagi perbincangan yang kami lakukan, hanya jalanan yang gelap dan kendaraan lain berlalu lalang. Beberapa menit kemudian yang rasanya hampir beberapa jam, akhirnya sampai di depan rumah, aku keluar dan langsung masuk ke dalam lift meninggalkan Ares. Aku tidak ingin satu lift dengannya jadi aku buru-buru masuk dan menutup pintu lift nya, sayangnya sebuah kaki menghentikan pintu yang akan tertutup, Ares berdiri disana dengan wajah dingin karena mungkin kesal aku tinggalkan. Ares masuk ke dalam lift, berada di sebelahku, aku diam dan tidak ingin mengatakan apapun padanya.


“Lebih baik kita jaga jarak.”


“Untuk apa?.” Ares melihat ke arahku dengan tatapannya yang lagi-lagi membuatku sangat gila.


“Karena tidak baik jika dilanjutkan apalagi kalau ada yang tau.”


“Hanya kita berdua, kalau ada yang tau berarti mulutnya ada di kamu atau aku.”


“Siapa tau ada yang curiga.”


Ares melirik cctv yang ada di sudut lift, dia mendekat ke arahku yang posisinya membelakangi cctv. Tubuh Ares berada di hadapanku menghimpitku pada sudut lift, aku terdiam saat merasakan nafas Ares yang membara.


“Menurutmu apakah mereka akan melihat jika aku tutupi?.”


Aku menggeleng tiba-tiba, karena reaksi yang jujur saat aku tengah berada di posisi tertekan.


“Benar, mereka tidak akan tau.” Ares menyentuh pipiku lembut.


Lift pun terbuka, laki-laki itu menarik tanganku keluar dari lift dan pergi menuju ke kamarnya, aku sempat memberontak tapi pegangan Ares lebih kuat daripada tenagaku yang berusaha melepaskan. Ruangan yang sama seperti sebelumnya, pintu kamar terkunci, Ares melempar kunci nya ke sofa. Saat aku berusaha mencari kunci tersebut, Ares menarik tubuhku dan membawa ke ranjang, ranjangnya memang empuk tapi kalau di banting tetap saja aku terkejut walaupun sedikit.


Dress yang ku pakai sedikit tersibak keatas menampakkan paha atasku, aku berusaha menurunkannya kembali dan bangun dari ranjang itu berusaha mundur. Ares terlihat menakutkan dari biasanya, dia menatapku tajam, melepaskan kaos yang dia pakai dan membuat tubuh atasnya terekspos, beberapa kali aku melihatnya, tapi reaksiku masih sama kagumnya.


Ares merangkak naik keatas ranjang, tangannya menyentuh pundakku lembut, tubuhnya tepat berada di atasku, dia itu seperti malaikat yang selalu berhasil membuatku terpana hingga aku tidak mampu untuk melakukan apapun selain diam dan mengikuti apa yang direncanakan. Perlahan Ares mengecup pundakku, memberikan banyak kecupan lembut disana, menurunkan tali dress yang kupakai.


“aaahhhh..” Aku menutup mulutku sendiri karena suara sialan yang tidak sadar aku keluarkan.


Terlihat Ares yang tersenyum senang mendengar reaksiku, seperti dia, aku merasakan hal yang sama. Nafsu yang meningkat hanya karena sentuhan tangannya di beberapa area tubuh sensitif. Masih belum malam tapi sore menuju ke malam, ruangan yang sebenarnya kedap suara ini hanya terdengar suara ******* kami bersamaan dengan hembusan nafas yang tidak teratur.


Aku berada di ranjang ini lagi, sama seperti pertama kali aku melakukannya dengan Ares, semua orang akan mengatakan kalau aku bodoh, nyatanya aku menikmati apa yang kami lakukan. Padahal mau sejauh apapun hubungan kami tidak akan bisa lebih seperti yang aku harapkan saat aku melakukan hubungan badan dengannya.


Kita hanyalah dua orang yang memiliki benteng yang tinggi tapi berusaha merangkak naik untuk saling bertemu satu sama lain.


“Aku menyukaimu.” Kalimat yang membuatku menoleh ke arah Ares, laki-laki itu menyalakan rokoknya buru-buru dan menghisapnya tidak karuan “Aku tau ini bodoh, tapi aku menyukaimu.”


“Jangan bercanda.”


Terimakasih sudah membaca cerita ini, silakan tinggalkan jejak kalian