
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Ares duduk di kursi yang sudah disediakan sebagai model lukisan hari ini, aku tidak mengira bahwa model yang kami tunggu sejak tadi adalah Ares. Laki-laki itu memiliki tubuh yang sangat bagus bak dewa yunani. Tubuh atasnya yang telanjang dada berhasil menghipnotis semua orang, wajah tegasnya, mata tajamnya, semua nampak sangat sempurna. Aku bahkan bisa melukis detail tubuhnya, sesekali aku melihat kearah ares sambil menggigit bibir bawahku, sejak awal tatapan Ares tertuju padaku, membuatku sangat gugup.
Imajinasi liarku saat melihatnya membuat buyar konsentrasi, aku menghentikan kegiatanku dan ijin ke toilet sebentar. Aku mengatur deru nafas, melihat penampilan di kaca, make up tipis lumayan hilang karena kegiatanku dengan Ares, memoleskan kembali lipstik ke bibir lalu kembali ke studio lukis.
Hanya beberapa orang tersisa di sana, sebagian sudah menyelesaikan lukisannya, aku buru-buru duduk kembali melanjutkan lukisanku yang hanya tinggal beberapa bagian saja. Sekitar pukul 4 sore, aku baru selesai bersama dengan anggota lainnya, aku berjalan ke halte bus, kalau bertanya dimana Ares, aku keluar lebih awal sehingga Ares kemungkinan masih ada di dalam.
Aku sudah meninggalkan nomor ponsel baruku padanya, lagipula aku harus segera pulang karena ini hari pertamaku bekerja part time di minimarket dekat rumah. Granny memberikan pekerjaan itu padaku untuk berjaga di malam hari mengingat aku ada kelas di siang hingga sore hari.
Bus yang akan membawaku pulang akhirnya tiba, aku masuk kedalam dan memilih tempat duduk yang masih kosong. Tiba-tiba bus berhenti kembali, aku tidak peduli karena kemungkinan ada orang yang telat masuk. Hingga aku menemukan Ares berada didepanku.
“Kosong?.”
Aku mengangguk, Ares memposisikan duduk di sebelahku.
“Apa yang kamu lakukan?.”
“Mengantarmu pulang.”
“Aku bisa pulang sendiri, ayah akan terkejut jika mengetahui anaknya bersama dengan laki-laki.”
“Kalau begitu buat agar dia tidak terkejut di kemudian hari.”
“Ares.”
“Apa kamu tau kenapa aku bisa ada disini sekarang?.”
Aku menoleh ke arahnya, aku bahkan belum menanyakan banyak hal pada Ares, terutama kabar ibuku di rumah.
“Aku tidak pernah berpikir aku miliki keluarga sebelumnya, hanya Aku, Apollo, dan Artemis yang saling menjaga satu sama lain. Hanya sebatas saudara, mereka menganggapku seorang kakak yang akan melindungi dalam hal apapun. Aku tidak memiliki pilihan sehingga aku mengikuti apa yang daddy katakan untuk belajar bisnis dan akan mengelola perusahaannya. Hingga aku bertemu denganmu, semua hal yang nampak sangat datar itu menjadi bergelombang dan penuh tantangan, hanya saja aku menemukan hasil di finish.” Ares menarik nafasnya dalam-dalam “Selain aku sekarang memiliki tujuan, aku punya hal yang layak aku perjuangkan hingga akhir. Aku sudah memberitahukan semua orang, termasuk Ibumu bahwa aku sangat mencintaimu Viola, lebih dari hidupku sendiri. Kamu sudah bisa menebak bagaimana reaksi mereka, sama dengan apa yang ada dalam pikiranmu bahwa hubungan kita tidak akan pernah bisa diperjuangkan, tapi aku memutuskan untuk berjuang untukmu. Aku meninggalkan semua yang ada di rumah dan memilih untuk mencarimu disini.”
Entah kenapa aku tidak bisa mengatakan apapun selain memandangnya lekat-lekat, jalanan yang mulai gelap seakan terlupakan, hanya ada kami berdua yang berada dalam pandangan masing-masing.
“Aku memilih meninggalkan rumah dan memilih keluar dari keluarga Cystenian.”
“Kenapa? Kenapa kamu melakukannya?.” Aku mengubah nada bicaraku menjadi tinggi, karena itu keluarganya dan aku takut.
“Apa kamu takut bersama dengan laki-laki miskin sepertiku?.”
“TIDAK, aku bahkan memilih untuk tidak memiliki apapun tapi bahagia ketimbang aku sama sekali tidak nyaman dengan banyak fasilitas yang bisa aku dapatkan. Tapi Ares, mereka adalah keluargamu satu-satunya.”
“Bukankah kita bisa membangun sebuah keluarga sendiri?.”
“Aku tidak yakin.”
Begitulah ceritanya hingga sekarang aku melihat ayah yang tengah bermain catur dengan Ares, Ares sudah mengatakan secara jujur niatnya dan statusnya pada Ayah. Awalnya aku pikir Ayah akan langsung mengusirnya, tapi ternyata dia mengajak kami makan malam bersama. Ayah mengatakan banyak hal padaku dan Ares, mengenai kehidupan di masa depan yang tidak semudah dalam bayangan.
“Aku menyetujui hubunganmu dengan Viola, tapi jika kamu menyakitinya sedikit saja, jangan harap kamu bisa mendekatinya kembali.”
“Saya berjanji om.”
Ares mengantarkanku ke tempat kerjaku, dia bahkan menunggu sampai minimarketnya benar-benar tutup di jam 12 tengah malam. Beberapa kali aku memperhatikannya yang duduk di luar sambil bermain game di ponsel, aku yakin Ares sangat bosan sehingga aku memberikan makanan ringan untuknya.
Saat tidak ada pengunjung datang, aku menghampirinya dan duduk di depannya dengan nyaman “Kamu tinggal dimana?.”
“Aku? Rumah teman, karena aku belum memiliki tempat tinggal, masih mencari.”
“Jika kamu mau, kamu bisa tinggal di studio lukisku di rumah, ayah mengijinkan jika memang kamu belum ada tempat pulang.”
“Tapi aku tidak nyaman dengan ayahmu.”
“Ayah bekerja sampai pagi.”
“Baiklah.”
Jam 12 lebih sedikit, aku dan Ares berjalan pulang ke rumahku. Rumah itu nampak kosong di malam hari, karena Ayah bekerja sampai pagi, dia hanya ada dirumah saat pagi hingga siang, lalu dia akan kembali bekerja dan pulang lagi saat makan malam, setelah itu bekerja shift malam setiap hari.
Aku menyalakan lampu dan meletakkan makanan di meja makan, tiba-tiba Ares memeluk tubuhku dari belakang.
“Aku belum mandi.”
“Aku suka bau tubuhmu.”
Ada sensasi geli saat Ares menghembuskan nafasnya di leherku, dia memutar tubuhku menghadap ke arahnya dan mengecup bibirku lembut. Aku menariknya menuju ke kamarku, disanalah kami menghabiskan sepanjang malam untuk saling menyentuh dan memberikan kenikmatan. Ares memeluk tubuhku erat sambil melihat langit-langit kamar berwarna coklat, rumah ini sangat kecil, tapi aku menemukan kebahagiaan disini.
“Viola, bagaimana kalau kita menikah?.”
Aku melihat ke arahnya terkejut, bukan aku ingin menolak, aku dengan Ares bahkan bisa menikah kapan saja jika ayahku setuju. Tapi aku belum siap dengan banyak tanggung jawab, sebagai seorang istri dan kemungkinan juga menjadi ibu rumah tangga.
“Aku akan membeli rumah di Amerika jika perlu.”
“Bagaimana kamu bisa mendapatkan uang?.”
“Aku memang dari kalangan berada, ketika semua fasilitas di ambil, bukan berarti aku tidak memiliki apapun untuk di kembangkan.”
“Maksudmu?.”
“Sebelum lulus kuliah, aku sempat beberapa kali pergi ke Amerika untuk mengunjungi teman sekaligus rekan kerjaku, aku menginvestasikan beberapa uang untuk perusahaan yang kami bangun bersama, bukan perusahaan besar tapi setidaknya cukup untuk kehidupan kita di masa depan.”
“Aku bersyukur jika memang seperti itu, tapi alasanku belum siap menikah karena Ayah, aku masih ingin tinggal dengan ayah lebih lama. Lagipula kita terlalu muda untuk sebuah pernikahan.”
“Baiklah aku mengerti, kapanpun kamu siap. Aku akan selalu menunggumu.”
“Ares... Kenapa kamu melakukan ini semua?.”
“Jika aku jawab, aku mencintaimu akan terasa seperti palsu. Yang pasti aku tidak tau alasan jelasnya apa, aku hanya ingin hidup bersama mu dan membagi suka duka ku hanya denganmu.”
Terimakasih sudah membaca Sweet Like The Devil