
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Sepertinya aku akan mengubah kehidupanku 180 derajat, apa yang aku lakukan tidak sepatutnya ditiru, selama bertahun-tahun aku tidak berhubungan dengan laki-laki selain hanya sebatas teman, aku malah jatuh di lubang yang salah, dia kakak tiriku dan aku memutuskan untuk menjalin hubungan dengannya, hubungan lebih dari saudara, hubungan yang dilakukan oleh wanita dan pria dewasa.
“Aku tidak berniat mengubah hubungan ini menjadi lebih serius karena keluarga tidak akan pernah setuju. Tapi aku ingin membagi seluruh kehidupanku denganmu, will you be my girlfriend?.”
Suara berat Ares menyadarkanku, aku tidak pernah berpikir kalau Ares akan mengatakan itu. Sejujurnya aku juga menyukai Ares entah dari kapan, tapi aku takut, bukan hanya karena kami saudara, tapi aku takut kalau Ares mempermainkanku seperti yang aku tau dia terkenal sangat playboy.
Dalam kehangatan selimut yang membalut tubuh polos kami berdua, aku diam menatapnya dalam-dalam, mencari kebohongan dari matanya, tapi selain ketulusan, aku tidak melihat hal lain. Ares sama sekali terlihat tidak bercanda, ketimbang dianggap tidak serius, dia terlihat berkali-kali lebih serius dari biasanya.
“Apa aku boleh berpikir dahulu?.”
“Kapanpun kamu bisa menjawabnya, aku bisa menunggu.”
“Thanks.”
Dari situ lah aku akhirnya memutuskan untuk menerima pernyataan cintanya, terdengar sangat aneh karena aku berpacaran dengan saudara tiriku. Hanya saja hubungan ini hanya aku dan Ares yang tau, kita melakukan banyak hal, mungkin lama-lama para pelayan di rumah sadar kalau kami ada hubungan lebih dari saudara mengingat beberapa kali mereka memergoki Ares yang keluar dari kamarku atau sebaliknya.
Sekarang aku tengah berada di kamar Ares, dia mengajariku bermain billiard untuk pertama kalinya aku memegang stik panjang itu untuk memasukkan bola kedalam lubang yang ada di sudut. Ares berada di belakang tubuhku, entah ini sekalian mencuri kesempatan atau bagaimana karena tubuh Ares sangat menempel pada tubuhku, aku bahkan bisa merasakan deru nafasnya di sampingku, jantungku mulai tidak karuan hanya karena posisi ini.
Takk
Satu bola kecil masuk kedalam lubang, aku langsung berseru senang karena bisa memasukkannya walaupun hanya satu, kalau Ares mungkin sudah semua bola masuk ke lubang masing-masing.
Tubuh kami sangat dekat saat aku berbalik menghadapnya, tatapan Ares hangat, matanya teduh melihat mataku. Seperdetik kami hanya diam memandangi satu sama lain, hingga Ares semakin mendekatkan wajahnya pada wajahku, bibir kami bersentuhan, benda kenyal itu ******* bibirku rakus. Perlahan Ares mengangkat tubuhku dan mendudukkan di meja bilyard, tangannya menyentuh pahaku, menaikkan dress yang kupakai.
Tok tok tok
Aku buru-buru melepaskan pelukannya dan melihat kearah pintu, begitu pula Ares yang menunjukkan wajah kesal karena ketukan tersebut mengganggu kegiatan kami berdua. Aku turun dari meja dan mengambil bola yang ada di bawah, sedangkan Ares menuju ke pintu untuk membukanya.
Disanalah aku melihat ibu yang berdiri berusaha mencariku di dalam kamar Ares.
“Tante.”
“Sore Ares.”
Aku menghampiri Ibu, setidaknya aku harus bersikap biasa saja “Kak Ares mengajariku bilyard karena aku bosan dikamar terus.” Jelasku pada Ibu.
“Ibu tau.”
“Kapan Ibu pulang?.” Aku menggenggam tangannya dan mengajaknya pergi ke kamarku sebelum Ibu tambah curiga dengan apa yang aku lakukan bersama Ares.
Kamar indah yang sesuai tipe Ibuku menjadi tempat duduk kami berdua, Aku tidak menyangka kalau Ibu akan pulang lebih awal, padahal seharusnya masih dua hari lagi dia pulang ke rumah bersama Daddy.
“Kenapa Ibu tidak mengatakan kalau pulang lebih awal.”
“Ada pekerjaan mendadak yang harus daddy lakukan.”
“Ibu sudah mendengar dari para pelayan kalau kamu dan Ares sangat dekat.”
“Bukannya itu yang ibu inginkan?.”
“Bukan seperti itu Viola, yang ibu maksud bukan dekat karena saudara.”
“Aku dan kak Ares hanya kakak dan adik, bukan pasangan, ibu terlalu berlebihan. Lagipula siapa lagi yang bisa aku ajak bicara saat tidak ada siapapun selain kak Ares di rumah.”
“Ibu harap kamu mengatakan jujur, jangan sampai ibu dengar kamu berhubungan dengannya hanya karena dia bukan kakak kandungmu.”
“Iya aku tau.”
“Makan malam di bawah, daddy ada.”
“Iya bu.”
Setelah itu Ibu keluar dari kamarku, aku tau apa yang dikatakan oleh ibu ada benarnya, rasanya aku sangat jahat karena berhubungan dengan Ares, tapi siapa yang mengira aku akan jatuh cinta padanya.
“Kenapa?.” Suara dari belakang membuatku menoleh, Ares disana berjalan ke arahku yang kemungkinan masuk dari pintu menuju ke balkon.
“Tidak apa-apa?.”
“Ibumu memperingatkan mengenai hubungan kita?.”
Aku mengangguk, toh dia pasti juga tau kalau kemungkinan banyak yang curiga di rumah ini.
“Tenang saja, aku akan mengurusnya.” Ares membawaku kedalam pelukannya yang hangat, pelukan yang sama seperti ayah saat aku masih sangat kecil, rasanya aku tidak ingin melepaskannya walau hanya sebentar.
Makan malam di isi sebuah keheningan, beberapa kali aku melihat ke arah Ares, begitu pula Ares. Hanya alat makan yang saling beradu suara, daddy juga tidak mengatakan apapun, di meja makan ini hanya ada aku, Ares, Ibu, dan Daddy saja.
Setelah makan berakhir, Daddy akhirnya membuka mulut, mungkin itu salah satu attitude yang sekarang dijunjung keluarga ini saat makan harus diam.
“Kapan adikmu pulang?.”
“Apollo belum mengatakan apapun dad.”
“Kamu tau soal ibumu?.”
Ares mengangguk, aku memperhatikannya yang berubah raut wajah saat daddy nya menanyakan suatu hal yang membuatnya sangat kecewa akhir-akhir ini.
“Seharusnya kamu tidak tahu apapun dan biarkan daddy saja yang tahu.”
“Setidaknya aku tau kalau dia masih hidup walaupun faktanya dia meninggalkan kami semua.”
“Ibumu tidak jahat, dia punya jalan hidup sendiri yang tidak sama dengan daddy.”
Fakta baru bahwa daddy adalah sosok ayah yang sangat baik, wajar kalau ibu jatuh cinta padanya. Entah apa alasan ibu Ares meninggalkannya, tapi melihat bagaimana reaksi ayahnya dalam mengambil keputusan, sudah jelas kalau dia tidak ingin fakta anaknya di tinggalkan ibunya sendiri di dengar, sehingga membuat anak-anaknya membenci ibu kandungnya sendiri.
“Kami tidak apa-apa jika Ibu pergi, tapi bagaimana dengan daddy?.” Pertanyaan Ares sukses membuat daddy terdiam, aku yakin dahulu daddy sangat mencintai istri pertama nya.
Ibuku menggenggam tangan daddy dan tersenyum, melihatnya membuatku membenci diriku sendiri karena memiliki hubungan dengan Ares di tengah keluarga kami yang sangat bahagia.
“Daddy sangat mencintai ibumu, tapi itu dulu sebelum kedatangan Iristya. Daddy tidak pernah berpikir bisa menikah kembali karena hanya ibumu yang bisa membuat daddy jatuh hati. Tapi ada banyak hal yang harus kamu ketahui Ares, Cinta tidak selamanya harus memiliki, jika kamu berusaha memaksakan apa yang harusnya pergi, itu bukan cinta, melainkan sebuah obsesi.”
Ya kalimat itu cukup menyadarkanku kalau aku harus melepaskan yang tidak seharusnya aku miliki.