
WARNING 18+!
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from a good children who lives here, I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Sofa empuk yang aku duduki terasa sangat dingin saat aku berhadapan dengan Ibu, wajahnya saat aku mendapatkan nilai jelek atau saat aku melakukan kesalahan tatkala di sekolah, sama seperti saat ini.
Beberapa menit yang lalu, dia masuk sendiri kedalam apartemen Ares, entah apa yang dia lakukan di apartemen anak angkatnya. Karena aku tidak berniat menanyakan hal itu padanya, karena kemungkinan ucapan ibu lebih penting daripada pertanyaan konyol dariku.
“Sejak kapan kamu berhubungan dengan Ares?.”
Aku tersenyum kecut “Ibu tidak menanyakan bagaimana kabarku? Apa aku bisa hidup dengan baik? Bagaimana kehidupanku dengan ayah disana.”
“Ibu sudah melihatmu sekarang dan kamu baik-baik saja, yang ada kamu datang memberikan masalah baru.”
Sebuah penolakan yang sudah aku dengar dari awal, bahwa Ibu tidak akan pernah menyetujui hubunganku dengan Ares, alasannya tentu karena kami bersaudara.
“Kami tidak sedarah.” Jawabku tegas tanpa menatap mata Ibu.
Hembusan nafas berat Ibu terdengar sangat jelas di telingaku, membuatku mau tidak mau menoleh ke arahnya.
“Sebenarnya yang egois itu Ibu atau kamu? Seharusnya sejak awal kamu juga tau kalau Ares kakakmu.”
“Dia bukan kakakku bu, kenapa Ibu selalu memaksaku menganggapnya kakak? Apa ibu tidak dengar apa yang Ares katakan? Terserah ibu jika menganggapku egois, karena aku akan tetap menikah dengan Ares sesuai perencanaan. Ayah setuju, Ibu Ares juga setuju, semua nya setuju.”
“Apa kamu yakin bisa mendapatkan restu kepala keluarga? Ayah kandung Ares?.”
Pertanyaan Ibu membuatku terdiam, aku bisa membantah ucapan Ibu, tapi aku tidak akan bisa membantah ayah Ares bagaimanapun keputusannya nanti. Perbincangan kami yang hanya terjadi cukup singkat dengan harapan bahwa Ibu akan mengatakan merindukanku, hanyalah sebuah perdebatan sengit yang sangat panjang dan tidak memiliki ujung.
Aku duduk sendirian dengan pandangan kosong melihat kearah jendela, aku hanya ingin diam sebentar sebelum bertemu dengan Ares, menyiapkan hati dan pikiranku yang banyak berpendapat buruk untuk masa depan.
Hingga pintu apartemen terbuka, Ares tersenyum padaku sambil membawa buket bunga mawar putih dan memberikan untukku. Aku membalas senyumannya namun sepertinya dia tau kalau pikiranku sedang kacau, ekspresi Ares berubah menatapku sendu.
“Ada masalah? Ada yang terjadi saat aku pergi?.”
Aku menggeleng dan memeluknya erat, tangan Ares mengusap punggungku lembut dan beberapa kali mengecup kepalaku dengan sayang. Aku tidak ingin mengatakan kalau Ibu datang menemuiku pagi ini yang berniat menemui Ares tapi bertemu denganku.
Dress formal hitam selutut melekat di tubuh rampingku, rambut panjang bergelombang dibiarkan tergerai, make up tipis yang memberikan sensasi fresh serta high heels dan tas selempang kecil untuk meletakkan barang-barang pribadi.
Aku sudah siap dengan penampilanku malam ini, kami akan melaksanakan makan malam bersama keluarga Ares, lebih tempatnya Ibuku, ayah Ares, dan anak mereka yang aku sendiri baru pertama melihatnya.
Ares menggenggam tanganku, membawa kami di sebuah restoran barat yang menyajikan menu makanan dari beberapa negara yang ada di wilayah barat dunia.
Klotak klotak
Suara langkah kakiku menapaki lantai marmer yang bersih, berpacu cepat dengan detak jantung. Di kejauhan aku bisa melihat sebuah keluarga, pasangan dengan satu putri kecil mereka yang tengah tertawa entah apa yang lucu. Aku seakan melihat sosokku saat kecil pada dirinya, saat ayah dan ibu masih bersama.
“Selamat malam.” Sapa Ares yang membuat mereka semua menoleh, hanya saja pandangannya tertuju padaku, bukan Ares, padaku yang bergandengan tangan dengan Ares.
“Malam, duduklah.”
Ares menarik satu kursi untukku duduk, aku hanya mengulas senyuman dingin tanpa mengatakan apapun. Rasanya sangat canggung untuk kesekian kalinya berada di tempat bersama mereka, apalagi status ku bukan lagi anak tiri, melainkan calon istri Ares.
“Bagaimana kabarmu?.” Ayah Ares melihat kearahku seakan kami sangat mengenal baik di masa lalu.
“Baik om.”
“Dia Athena, adikmu.” Aku melihat anak kecil yang tengah memainkan tablet anak-anaknya, kuncir dua, rambut panjang, dan wajah manis.
Aku mengangguk, tidak tahu harus mengatakan apa, entah ini teguran agar aku sadar posisiku atau hanya pemberitahuan karena aku baru bertemu dengannya.
“Daddy sudah mendengar konferensi pers yang kamu katakan pada publik, perusahaan kemungkinan anak membayar beberapa lembar uang untuk mengganti rugi pada keluarga Denver. Kamu sudah banyak berubah.”
“Sorry Dad.”
“Tidak apa-apa, keluarga Denver tidak ada apa-apanya ketimbang keluarga kita, tapi kenapa harus Viola?.”
Aku dan Ares saling melihat, tanganku bergetar takut. Tapi aku merasakan tangan Ares yang menggenggam erat tanganku di bawah meja. Ares kemudian menatap ayahnya dengan tenang sambil tersenyum.
“Aku mencintai Viola, sebagai seorang wanita, bukan saudara tiriku.”
“Beberapa tahun yang lalu kamu bahkan meninggalkan rumah karena ingin bersama Viola, tapi akhirnya kamu kembali kerumah untuk memperbaiki keadaan? Apa Daddy bisa memastikan kapan kamu akan berubah pikiran lagi?.”
“Maaf om, itu keputusan Viola secara pribadi-.”
“Bukan, Aku sudah dewasa sekarang, aku bisa membawa Viola ke tempat yang lebih layak, aku bisa menjadi anak pertama yang daddy andalkan sebagai pewaris perusahaan, aku tidak akan melupakan statusku sebagai putra daddy dengan baik.”
“Lalu?.”
Ares menarik nafasnya dalam-dalam “Aku ingin meminta restu pada Daddy sebagai ayahku, dan Tante Iristya sebagai Ibu kandung Viola, untuk menyetujui keputusan kami melanjutkan ke jenjang pernikahan.”
“Kita makan dulu, lalu lanjutkan pembicaraan ini.” Jawab ayah Ares dengan hembusan nafas beratnya.
Aku menjadi sangat takut, aku gugup bahkan tidak sanggup mengisi perutku dengan makanan yang tersedia di meja makan. Beberapa kali Ares menguatkanku tapi rasa gugupnya sama sekali tidak kunjung hilang, pandanganku dan Ibu juga sering bertemu, tapi kami memilih terlarut dalam pikiran masing-masing.
Waktu yang ditunggu-tunggu pun datang, makan malam berakhir dan jawaban telah ditunggu dengan baik.
“Tolong titip Athena ya.” Ibuku menyerahkan Athena pada pengasuhnya, meninggalkan kami berempat di meja makan yang terasa lebih dingin dari sebelumnya.
“Kamu ingin bicara dulu sayang?.”
“Iya.” Ibu melihatku dan menyiapkan banyak kalimat yang akan di lontarkan padaku. “Aku dan Viola sudah bertemu sebelumnya, aku mengatakan sangat jelas kalau hubungan kalian tidak akan pernah bisa, kamu anak Ibu, dan Ares anak ayah tirimu, yang otomatis kalian bersaudara walaupun tidak sedarah. Itu adalah kenyataan yang harus kalian terima.” Ucap Ibu sangat lembut.
“Tapi tante tidak pernah melahirkanku sebagai kakak kandung Viola.” Jawab Ares tegas.
“ARES!.” Bentak ayah Ares.
“Tante tau kalau sampai kapanpun kamu tidak akan pernah menerima tante sebagai pengganti mama mu.”
“Aku akan tetap menikahi Viola tanpa persetujuan kalian.”