
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Kisah yang sangat indah diceritakan dalam sebuah keluarga yang terlihat harmonis, orang tua lengkap dengan 4 anaknya yang beranjak dewasa. Meja makan yang tenang dan hanya diiringi senyuman kepada masing-masing anggota, aku sama sekali tidak terbiasa dengan hal seperti ini, kegiatanku biasanya jam segini makan makanan seadanya di tempat kerja. Lalu satu jam lagi berangkat ke club bersama Michael, kabarnya Michael sekarang sudah punya pacar, aku ikut senang walaupun nasibku tidak sebaik dia. Waktu Michael yang dihabiskan mengobrol denganku di telepon sekarang semakin dan sudah banyak berkurang, kami hanya mengirim kabar melalui pesan chat atau sesekali berbincang kalau benar-benar tidak sibuk.
Posisi duduk meja makan berbeda dari pertama kali makan malam bersama, posisi utama untuk Hades, ayah tiriku. Kemudian di sebelah kanan depannya ada ibu, lalu aku dan terakhir Ares. Sedangkan di sebelah depan kiri ada Artemis dan disusul sebelahnya ada Apollo. Apollo berhadapan denganku sedangkan Artemis berhadapan dengan ibu.
Artemis sendiri sangat tidak peduli padaku, dia hanya membenci ibu terlihat dari tatapannya saat ibu berbincang dengan ayahnya. Setelah makan malam berakhir, sebelum melanjutkan kegiatan masing-masing. Masih ada perbincangan yang akan dibicarakan oleh kepala keluarga, kami semua harus stay di meja makan sambil memakan makanan penutup.
“Daddy sama Ibu akan pergi ke Paris satu bulan, Sebenarnya daddy ingin kamu tinggal di rumah, Artemis, tapi semua keputusan ada ditanganmu, apakah kamu mau atau tidak kembali kerumah.”
“Tidak bisa Dad, banyak tugas yang harus dikerjakan.”
“Besok aku juga ada acara dari kampus yang mengharuskan pergi ke luar kota beberapa minggu.” Apollo ikut memberikan suara.
Hades menoleh ke arahku, menunggu kegiatan apa yang harus aku kerjakan.
“Aku dirumah, ada tugas tapi tidak mengharuskan menginap di tempat lain.”
“Aku juga akan dirumah.” Ares ikut memberikan suaranya.
“Baiklah kalau begitu kalian bisa melakukan apapun yang ingin kalian lakukan.”
“Memangnya daddy tidak bekerja setiap hari honeymoon.” Artemis menatap tidak suka pada ibu.
“Pekerjaan bisa dikerjakan dimana saja.”
Perbincangan kami di meja makan berakhir, aku kembali ke kamar sendirian karena Ares masih harus menemui ayahnya. Beberapa menit di dalam kamar ingin mengganti pakaian dengan pakai tidur, suara ketukan pintu mengurungkan niatku untuk berganti pakaian, aku membukanya, ibu berada di depan kamar.
“Masuk.”
Kami duduk di sofa empuk yang ada di kamarku, setelah honeymoon pertama aku belum pernah bertemu dengan ibu lagi. Dan sekarang dia harus liburan untuk kedua kalinya ke Paris, walaupun kami tidak dekat tapi disini aku hanya punya ibu yang setidaknya mengenalku lebih dari yang lain.
“Apa ada masalah selama dirumah?.”
“Tidak ada.”
“Kamu merokok? Kenapa ada bau rokok disini? Atau kamu bawa laki-laki ke kamar mu? Ibu nggak mau sampai kamu bikin malu.”
“Aku yang merokok.” Suara Ares terdengar di luar membuat pandanganku dan Ibu tertuju pada balkon, dimana Ares bersandar di pembatas antara balkon kamarku dan kamar nya. Dia tersenyum sambil melambaikan tangannya yang membawa rokok.
“Ares, apa yang kamu lakukan disitu?.” Pertanyaan ibu sangat lembut membuatku sungguh iri, sejak bercerai dengan Ayah, ibu tidak pernah bersikap lembut padaku kalau tidak ada yang dia inginkan, apalagi jika aku mendapatkan masalah.
“Merokok, apa lagi.”
Ares menjawabnya sangat santai, tapi pandangan kami bertemu, aku mengalihkan ke tempat lain karena tidak ingin melihatnya.
“Ibu besok pagi berangkat, kamu baik-baik dirumah.”
Aku mengangguk, setelah itu ibu benar-benar menghilang di balik pintu yang tertutup. Aku menoleh kebelakang, Ares masih ada di balkon sambil tersenyum padaku, tanpa membalas senyumannya, aku menutup pintu yang menuju ke balkon dan menutup tirainya sekaligus. Aku hanya ingin istirahat dan memulai hariku kembali besok, mengganti pakaian terlebih dahulu lalu bersiap untuk menemui mimpi indah yang panjang.
Pagi itu saat aku membuka mata, matahari masuk melalui celah tirai yang terbuka sedikit, aku turun dari ranjang dan masuk kedalam kamar mandi. Tidak ada hal yang spesial bisa aku lakukan pagi ini selain mandi dan bersiap untuk berangkat ke kampus menyelesaikan lukisanku yang tinggal finish untuk segera dikumpulkan.
Rok jeans pendek dipadukan dengan crop top yang membentuk tubuhku menjadi pilihan outfit yang aku pakai pagi ini. Lumayan seksi tapi memang seperti ini pakaianku sejak dulu, aku tidak ingin munafik dengan memakai pakaian vintage yang ibu siapkan, toh ibu sudah berangkat sejak pagi buta, sehingga rumah kemungkin sangat sepi hanya ada pelayan saja yang berlalu lalang.
Setelah siap dengan semua penampilan dan tas jinjing kecil yang kubawa, aku keluar dari kamar. Lorong ini sepi, biasanya aku sering berpapasan dengan Ares yang kebetulan berangkatnya bersamaan. Aku menekan lift, lift terbuka, disanalah aku kembali bertemu dengan Ares yang sepertinya habis lari pagi, padahal dia punya alat untuk gym sendiri, tapi sepertinya berlari di pagi hari sambil menghirup udara segar rasanya berbeda.
Ares tidak keluar, aku pun tidak masuk.
“Kenapa diam?.” Dia masih disana membuka mulutnya untuk bertanya padaku.
“Kamu tidak keluar?.”
“Suka-suka aku.”
Aku pun masuk ke dalam lift karena jam terus berputar kalau aku menunda nya untuk tidak masuk karena ada Ares.
Pintu lift tertutup, padangan Ares terlihat memperhatikan penampilanku. Aku hanya dia sambil sesekali memainkan kaki karena merasa kalau lift ini semakin lama padahal hanya 3 lantai saja.
Ares mengikis jarak diantara kita berdua, “Kamu belum menjawab pertanyaanku semalam.” Bisik Ares sambil menghembuskan nafasnya di leherku.
Aku hanya diam berusaha untuk tidak merespon apapun, Ares semakin melancarkan aksinya, menarik pinggangku untuk lebih mendekat ke tubuhnya yang berkeringat, tapi walaupun begitu, wangi tubuhnya sama sekali tidak berubah dan tidak membuatku tidak nyaman.
Wajah Ares mendekat kearah wajahku, mataku terpejam, merasakan bibirnya yang bersentuhan dengan bibirku. Jujur aku sangat menikmati apa yang aku lakukan dengan Ares, jika kami bukan saudara, maka sejak semalam aku akan menerimanya untuk datang ke kehidupanku. Tapi nyatanya aku masih tidak bisa menjawab apapun walaupun aku juga menginginkannya.
Ciuman kami terlepas, Ares tersenyum padaku “Aku tau apa yang kamu pikirkan, selama kita saling menguntungkan, tidak perlu orang lain tau mengenai hubungan kita berdua.” Ares mengusap pipiku lembut.
Aku hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.
“Baiklah.” Ares tersenyum padaku. “Setelah selesai kuliah, jangan kemana-mana sebelum aku menjemputmu.” Cupp sebuah kecupan lagi mengenai bibirku.
Setelah itu lift terbuka di lantai satu, aku langsung keluar meninggalkan Ares yang tersenyum padaku di dalam lift, aku tidak tau kenapa akhirnya aku menyetujui permintaannya, dia tidak memiliki perasaan padaku, dia hanya menginginkan tubuhku dengan mengatakan kalau dia menyukaiku. Tapi aku tidak bisa menolak Ares sama sekali, ada banyak hal yang aku kagumi darinya selain keburukan yang dia miliki.