Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 27



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Ibu melambaikan tangannya menyuruhku untuk datang ke arah mereka yang tengah berbincang, mataku bertemu dengan mata wanita itu, dia sangat elegan dan cantik. Pakaiannya mewah dan nampak sangat baik pada siapapun.


“Ini putriku, Viola.” Daddy mengenalkanku pada mereka semua.


“Viola, ini Sazhara.”


Aku menjabat tangan wanita itu sambil tersenyum, namanya sangat indah, dia juga baik.


“Pah, aku boleh kan berbincang dengan Viola.”


“Tentu saja.”


Sazhara mengajakku pergi, wajah manis bak malaikat itu berubah dalam seketika, wajahnya dingin dan menatapku dengan kesal.


“Sejak kapan kamu berada di keluarga Cystenian?.”


“Sejak pernikahan Ibu dan Daddy.”


“Apa kamu berharap bisa jadi bagian dari keluarga kaya?.”


“Tidak sama sekali, apa kamu ada masalah denganku?.”


“Aku tidak menyukaimu.”


“Ha?.”


Bahkan aku baru bertemu dengannya, apa dia memang tercipta untuk membenci semua orang. Artemis menghampiriku dan menatap kearah Sazhara tidak bersahabat “Hai.” Sapa Artemis dengan nada yang sama sekali tidak nyaman.


“Hai... Bagaimana kabarmu? Ku dengar kamu putus dengan wanita itu.”


Artemis terdiam, wajahnya berubah dalam seketika “Apa kamu mendengar cerita bodoh lagi? Lalu bagaimana kabarmu setelah menggugurkan anak dalam kandunganmu? Pria mana lagi yang melakukannya? Aku pikir photografer yang waktu itu sangat cocok denganmu.” Sindir Artemis yang membuat Sazhara kesal.


“Jaga mulutmu!.”


“Bukankah kita harus menjaga mulut masing-masing.”


Sazhara meninggalkan Artemis dan aku disana, walaupun wajahnya sangat kesal pada kami, tapi saat bertemu dengan orang lain, dia menunjukkan ekspresi yang berbeda.


“Dia bermuka dua.”


“Apa kamu baik-baik saja?.” Tanyaku pada Artemis.


“Tenang saja, aku tidak apa-apa. Ayo, kak Ares dan kak Apollo disana, jangan disini sendirian.”


Aku mengangguk dan mengikuti Artemis yang membawaku menuju ke Ares dan Apollo yang sedang santai duduk di sofa tamu. Duduk di antara mereka di sofa, beberapa kali Ares mencuri pandangan padaku, tapi aku hanya menunduk dan sesekali minum minuman yang ada di meja.


“Sepertinya kamu sangat dekat dengan Viola?.” Apollo melihat kearah Artemis yang tadi membawaku kemari.


“Lebih baik ketimbang ibunya.” Jawab Artemis jujur.


“Kalimatmu bisa menyakiti anaknya juga.”


“Viola tidak akan sakit hati hanya karena mencaci ibunya yang tidak bertanggung jawab.”


Aku melihat kearah Artemis, apa yang dia katakan memang benar. Aku tau dia ibuku tapi saat ada yang membencinya, reaksiku sama sekali tidak berubah, hatiku baik-baik saja.


Ares beranjak dari duduknya, laki-laki itu meninggalkan sofa menuju ke arah toilet, dari sisi lain aku juga melihat Sazhara yang datang ke toilet yang sama dengan Ares.


“Emm aku mau ke toilet sebentar.” Pamitku, aku penasaran dengan apa yang mereka lakukan disana.


Aku berjalan buru-buru menuju ke toilet, berharap tidak menemukan apapun yang membuatku sakit hati. Langkahku terhenti tatkala aku melihat Sazhara yang berdiri di depan Ares, wanita itu memeluk leher Ares sambil menggodanya secara terang-terangan. Aku terdiam di sana, hingga Ares melihat ke arahku dan melepaskan pelukan Sazhara dengan kasar.


Aku buru-buru pergi sebelum Sazhara melihatku, langkah ini membawaku keluarga gadung, pada dinginnya malam natal yang menusuk kulitku, aku melangkah menuju ke penginapan kami semua, disana kosong tidak ada siapapun.


Saat aku masuk, pintu kembali terbuka dan aku melihat Ares berada di sana dengan nafas memburu karena berlarian, “Kenapa kamu pergi begitu saja?.” Tanya Ares khawatir “Di luar dingin.” Ares melepaskan jasnya dan memakaikan ke tubuhku.


“Aku tidak ingin mengganggu kalian.”


“Kita tidak ada apapun, kamu hanya salah paham.”


“Aku tau, makanya aku tidak ingin membahasnya.”


“Viola...”


Aku kembali ke kamar tanpa memperdulikan apa yang Ares katakan dibawah, mengunci pintunya rapat-rapat sekaligus menarik meja untuk menghalang pintu agar tidak bisa terbuka. Aku duduk di ranjang melepaskan sepatu sekaligus kalung yang kupakai.


Rasanya sangat lelah, lebih lelah dari kehidupanku sebelumnya. Sebuah pesan masuk kedalam ponselku, nomor baru yang belum aku kenal. Aku menghubunginya karena dia meminta ku untuk menghubungi jika aku tidak sibuk.


“Halo...”


“Viola...”


“Ayah.”


“Akhirnya  ayah bisa mendengar suaramu setelah sekian lama.”


“Ayah... benarkah ini-.”


“Maafkan ayah nak.”


“Hiks hiks.” Air mataku berhasil jatuh saat pertama kalinya setelah sekian lama aku mendengar suara ayah kembali, aku merindukannya sangat besar, aku tau ayah salah tapi aku tidak bisa membencinya karena aku sangat menyayangi ayahku. Sejak kecil aku sangat dekat dengannya, hanya ayah yang mengajariku banyak hal.


“Ayah dengan ibumu menikah dengan keluarga Cystenian.”


“Iya.”


“Apa kamu baik-baik saja?.”


“Ayah selalu tau perasaanku.”


“Jika kamu mau, kamu bisa ikut dengan ayah.”


“Bagaimana dengan istri ayah?.”


“Ayah tidak pernah menikah lagi, setelah meninggalkan kalian, ayah merasa sangat bersalah dan memutuskan untuk tinggal sendirian di Amerika.”


“Jika aku bersama ayah, apa Ayah akan lebih baik dari Ibu?.”


“Ayah tidak tau, tapi ayah tidak akan bisa memberikan fasilitas yang sama dengan pemberian ibumu.”


“Aku akan pikirkan lagi.”


Perbincanganku dengan Ayah berakhir, ada banyak hal yang terjadi dalam hidupku, aku ingin pergi, aku ingin meninggalkan semua yang ada di sini dan melupakan kejadian yang telah berlalu.


Aku sudah memutuskan, ada hal yang bisa aku lakukan lebih baik. Aku punya kehidupan yang harus aku jalani sendiri, aku punya mimpi yang harus dikejar, dan aku tidak mau kehilangan apa yang sudah hilang untuk kedua kalinya.


Hari terakhir berada di Italia sebelum kembali pada realita kehidupan sesungguhnya, aku menarik koper sendirian menuju keluar kamar, para pelayan membantuku membawa turun masuk kedalam mobil. Aku menghampiri Ibu yang sedang memberi tahu mengenai barang bawaan kami semua pada pelayan.


“Ada yang ingin Viola katakan pada Ibu.”


“Kenapa?.”


Ibu masih tidak memperhatikanku.


“Aku akan pindah ke Amerika.”


Seketika pandangan Ibu melihat ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan.


“Apa yang kamu bilang?.”


“Viola akan tinggal bersama ayah di Amerika.”


“Kapan kamu bertemu dengannya?.”


“Belum, tapi ayah menghubungiku kembali.”


“Jika Ibu tidak mengijinkan?.”


“Aku akan tetap pergi, aku bukan meminta izin tapi memberitahu pada Ibu.”


“Viola, Apa ada yang mengganggumu di sekolah?.”


“Semua baik, tapi aku ingin tinggal dengan ayah.”


Keputusan hanya ada di aku karena itu adalah hidupku, perjalanan panjang akhirnya tiba di rumah kembali. Aku belum berbincang dengan Ares sejak hari itu, dia selalu menghindariku. Aku membereskan semua pakaianku yang hanya sedikit kedalam koper, memasukkan sepatu dan kalung yang Ares berikan ke dalam kotak dan menyimpannya di kamar itu, aku tidak akan membawa apapun yang bukan milikku, tabungan yang sudah aku kumpulkan akhirnya aku gunakan untuk hidup di negara asing.


Aku menarik koper keluar kamar dan masuk kedalam lift, di lantai bawah ada Ibu yang sudah menungguku, juga ada Artemis dan Apollo.


“Aku harap kamu bisa hidup dengan baik disana.” Artemis memelukku erat.


“Terimakasih sudah menerima ku.”


“Viola, apa kamu tidak ingin berpamitan pada kak Ares?.” Pertanyaan Apollo membuatku terdiam.


Aku tersenyum “Aku sudah mengatakannya.” Jawabku berbohong, bahkan aku belum bertemu Ares setelah pulang dari Italia.