
WARNING 18+ !
Before reading this story, make sure you are over the age of 18.
Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.
‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.
Thank you
Aku baru saja membuka mata saat cahaya matahari mengenai wajahku, yang kulihat pertama kali saat membuka mata adalah kamar lain, bukan kamarku yang soft melainkan kamar yang juga nyaman dengan bau maskulin. Aku melihat ke samping saat wajah tampan Ares terpampang bersamaan dengan ingatan semalam yang membuatku semakin gila.
Ares mengambil apa yang seharusnya tidak dia ambil sebagai seorang kakak walaupun kita tidak sedarah. Terlihat pakaianku berserakan dimana-mana bahkan juga bajuku sobek di lantai. Aku keluar dari selimut, berusaha melangkah keluar setelah memakai beberapa pakaianku yang masih bisa dipakai, walaupun menahan rasa sakit di area bawah aku tetap berjalan meninggalkan kamar Ares.
Katakanlah aku sangat bodoh, karena aku menikmati apa yang Ares lakukan, aku menikmati sentuhan dan ciumannya yang dalam. Suara yang keluar dari bibirnya saat memujiku, aku bodoh karena mengakui bahwa aku menikmati semalam padahal sebelumnya aku mengatakan kalau aku bukan perempuan murahan. Setelah ini aku tidak akan berani bertemu dengan Ares lagi walaupun hanya sedikit, aku menganggap semalam hanyalah sebuah mimpi yang tidak pernah terjadi.
Semua akan menjadi panjang saat aku menuntut Ares untuk bertanggung jawab atas apa yang kami lakukan, lagi pula kami sama-sama dewasa dan hal itu sudah biasa terjadi disini. Tidak ada yang salah dan aku akan melupakannya seperti angin yang lewat dan menghilang. Dibawah guyuran air dingin membasahi tubuhku yang penuh dengan bercak merah, aku tidak ingin masuk kuliah hari ini, aku hanya ingin didalam kamar dan diam tanpa melakukan apapun.
Pakaian santai, membawaku duduk di atas sofa sambil memakan cemilan yang diantarkan oleh pelayan. Aku tidak melihat Ares saat membuka pintu kamar untuk mengambil camilan beserta minumannya. Kemungkinan Ares masuk kuliah hari ini, aku duduk sendirian, beberapa kali Jane mengirimiku pesan tapi aku hanya membalasnya sekali mengatakan kalau aku sakit sehingga aku tidak bisa masuk kelas hari ini. Padahal yang aku lakukan hanya bersantai sambil menonton film.
Entah sampai jam berapa sekarang saat aku baru saja bangun tidur, di luar sudah gelap, seharian yang kulakukan hanya tidur. Aku menutup tirai jendela dan membuka pintu setelah meminta makan malam untuk diantar ke kamar saja.
“Makasih.” Aku menerima makanan dalam nampan, pelayan sepertinya sangat khawatir padaku, aku hanya mengatakan kalau aku baik-baik saja, aku memang ingin bermalas-malasan hari ini.
Saat aku masuk kedalam kamar kembali, aku menemukan Ares yang duduk di sofa setelah masuk melalui balkon, buktinya pintu kaca arah balkon terbuka. Dengan sangat santai Ares menyalakan rokoknya di dalam kamar, padahal dia sendiri mengatakan kalau tidak boleh karena baunya akan tinggal di dalam dan lama hilangnya.
“Apa yang kamu lakukan disini?.”
Kalimat yang keluar dari bibirku membuat Ares melihat ke arahku dengan tatapan tajamnya, namun seperti biasa dia menelanjangiku dengan mata itu dan membuatku sangat tidak nyaman. Aku menarik jaket dan memakaikan ke tubuhku sambil melihat ke arahnya gugup.
“Kenapa tidak kuliah? Kamu juga tidak keluar kamar sejak pagi.”
“Aku tidur, aku ingin istirahat hari ini.”
“Bukannya kamu menghindariku karena semalam? Itu yang pertama untukmu? Aku pikir kamu akan tidur sembarang melihat bagaimana kehidupan dan penampilan itu.” Ares kembali melirik tubuhku.
“Kita sama-sama sudah dewasa, aku harap kamu melupakan kejadian semalam dan menganggapnya tidak pernah terjadi. Aku ingin kita hidup masing-masing.”
Ares beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan ke arahku dengan pelan tapi pasti menuju ke arahku, aku memundurkan badan hingga benar-benar tidak memiliki celah untuk kemanapun saat punggungku bertabrakan dengan dinding.
“Jika kita sama-sama dewasa, berarti kita bisa melakukan kapanpun dan dimanapun.” Jarakku dan Ares sangat dekat, aku sama sekali tidak bisa bergerak.
Tangannya menyentuh pundakku lembut, jari-jari itu membuatku membatu dengan hasrat yang tiba-tiba naik. Tatapan matanya masih tertuju padaku, bukan kearah lain.
“Sejak kapan? Kamu memangnya lahir dari rahim ibuku, memangnya ayahku adalah ayahmu? Bukan! Kita tidak akan pernah menjadi saudara sampai kapanpun!.”
“Kenapa? Kenapa kamu melakukan ini?.”
“Karena aku mau.”
Aku tidak bisa lagi menahan semuanya, ini terlalu membuatku bingung dan aku tidak tau reaksi apa yang harus aku lakukan. Apa yang dikatakan oleh Ares tidak salah, aku dan dia bukan saudara, kami tidak akan pernah menjadi saudara seperti apa yang diinginkan oleh Ibu. Aku merangkulkan kedua tanganku di lehernya, ukuran tubuhnya yang lebih tinggi membuat kaki ku sedikit berjinjit untuk menggapai bibir itu.
Bibir kami bertemu satu sama lain, aku memejamkan mata saat lidahnya menyapu bibirku dengan lembut. Ares membalas ciuman yang telah aku mulai, tangannya berada di pinggangku, masuk ke dalam pakaian sembari menyentuh kulitku lembut.
Nafas kami terengah, ciuman itu terlepas tapi jarak wajah kami masih sangat dekat. Saat bersamaan membuka mata, mataku dan Ares bertemu. Dengan tatapan hangatnya dia membawa tubuhku, mengangkatnya menuju ke ranjang yang ada di sudut, menjatuhkannya disana. Dia berdiri melepaskan kaos polos yang dia pakai, otot-otot tubuhnya yang sedikit terbentuk sangat indah seperti patung dewa.
Malam itu terlalu gelap saat aku bisa menyadari kalau Ares adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna, semuanya dari segi manapun dia adalah laki-laki dengan tubuh yang indah.
Perlahan Ares menyentuh kakiku, mengusapnya lembut memberikan banyak kecupan disana, sesekali melihat ke arahku yang semakin gila karena menahan nafsu. Ares terus melakukannya hingga naik ke atas, menyentuh celana pendek yang aku pakai, dan melepaskannya.
Bersamaan dengan siang menuju malam, aku berada di kamar ini bersamanya memadu kasih, entah bisa di sebut bercinta atau tidak, karena nyatanya sudah jelas bahwa di antara kami sama sekali tidak ada cinta, hanya nafsu yang sangat besar.
Malam hari saat aku membuka mata, terlihat Ares yang duduk di pinggiran ranjang sambil menghisap rokoknya, bau rokok sudah menyebar dimana-mana padahal pintu balkon dibuka sempurna agar angin bisa masuk ke dalam menggantikan asap itu. Punggung kekar Ares menjadi pemandangan yang mengesankan dan membuatku terpaku untuk sebentar.
“Kamu sudah bangun?.”
“Emm iya.”
“Aku akan kembali ke kamarku.”
“Tunggu.”
Ares menoleh ke arahku kembali.
“Kenapa?.”
“Sebenarnya apa yang kamu inginkan? Kenapa kamu melakukan ini?.”
“Aku tidak ingin apapun, aku hanya mengikuti apa yang kamu inginkan.” Ares menghampiriku yang masih berada di ranjang, dia menyentuh lembut dada atasku.
“Ssshhh...” tanpa sadar aku mengeluarkan suara sialan itu lagi.
“Kamu menginginkannya, kita hanya saling menguntungkan satu sama lain, jika kamu tidak mau melakukannya, maka sejak awal kamu sudah menolak.”
Aku terdiam, tidak ada yang bisa aku katakan karena apa yang dikatakan oleh Ares benar.
“Makanlah, makananmu sudah hampir dingin.”
“Ini yang terakhir.” Ucapku yang membuat Ares menghentikan langkahnya saat akan keluar menuju ke balkon, dia tidak menjawab dan terus berjalan meninggalkanku sendiri. Kebodohan untuk kedua kalinya, lebih konyol dari yang aku kira.