Sweet Like The Devil

Sweet Like The Devil
Episode 23



WARNING 18+ !


Before reading this story, make sure you are over the age of 18.


Please if you want to blaspheme the main character in this story, there will be no improvement in the characteristics that each main character is good at.


‘Sweet Like The Devil’ is a story that is far from the good children who live here. I want you to leave this story if it is not to your liking.


Thank you



Hari ini pada akhirnya yang biasa tidak pulang memutuskan untuk pulang entah apa alasannya, sebuah mobil box beserta mobil mewah masuk kedalam halaman depan rumah, Artemis keluar dari sana, beberapa orang membantunya membawakan barang yang cukup banyak miliknya. Harusnya dia belum lulus kuliah mengingat dia baru mengambil kelas model lagi tahun ajaran baru ini.


Artemis memeluk daddy nya tanpa menyapa ibu, aku tau itu tidak mungkin bisa diterima baik oleh anak perempuan jika ayahnya menikah lagi dengan wanita asing, apalagi wanita asing itu membawa anak yang seumuran dengannya.


Tanpa menyapaku dan Ibu, Artemis hanya memeluk keluarganya saja dan masuk kedalam kamar. Aku penasaran alasannya memutuskan untuk kembali ke rumah setelah sekian lama, aku duduk sendiri di kamarku sambil membaca buku novel yang Jane pinjamkan padaku.


Sejak keluarga lengkap berada di rumah, aku tidak sering bertemu dengan Ares secara pribadi, apalagi aku juga berangkat kuliahnya menggunakan mobilku sendiri, beberapa kali pula Ares pura-pura mobilnya rusak sehingga bisa ikut satu mobil denganku, tapi tidak banyak alasan yang bisa kami lakukan selain bertemu secara diam-diam saat malam hari. Ares selalu datang saat tengah malam dan tidur di kamarku, walaupun harus sangat hati-hati tapi Ares selalu melakukannya setiap hari.


Seperti saat ini, kala gelap menusuk ke ranjang, hanya pantulan cahaya rembulan yang memberikan penerangan. Ares membawa tubuh polosku dalam dekapannya, setelah kegiatan panas malam ini, ah lebih tepatnya sebuah kegiatan yang setiap hari kita lakukan. Ada banyak perbincangan yang bisa dibahas, dan hari ini aku sungguh penasaran dengan Artemis yang tiba-tiba pulang kerumah.


“Apa Artemis tau soal ibumu?.”


“Tidak, dia pulang karena habis putus dengan pacarnya.”


“Apa separah itu hingga dia memutuskan untuk pulang?.”


“Ku pikir iya, karena Artemis menyerahkan seluruh hidupnya untuk wanita itu. Aku sempat bertanya padanya saat kami berdua saja, dia mengatakan kalau mantannya itu akan menikah dengan seorang pria, keputusan itu membuat Artemis tidak bisa berkomentar apapun karena cepat atau lambat nantinya dia juga akan menikahi pria.”


Aku mengerti perasaan Artemis, disaat kamu mencintai seseorang lebih dari apapun tapi kamu harus melepaskannya karena takdir. Seperti aku dan Ares, kami tidak ditakdirkan untuk bersama sebagai pasangan.


“Cepat atau lambat kita harus berpisah.” Ucapku yang membuat Ares menggenggam tanganku erat.


“Beberapa kali aku bilang padamu, jangan katakan hal seperti itu.”


“Semua berjalan kedepan res, dan aku tidak mungkin bersanding denganmu.”


“Mungkin kita bisa.”


Hanya itu yang selalu Ares katakan, suatu hal yang tidak jelas, hanya abu-abu saja.


Pagi itu aku terbangun dari tidurku karena merasakan dingin yang menusuk di kulit, mataku mengerjap, aku melihat di luar yang sudah mulai turun salju di akhir tahun. Salju pertama di tempat berbeda dan suasana berbeda, Aku menyingkirkan selimut dan pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi.


Mengganti pakaianku dengan pakaian hangat, aku mengambil ponsel yang ada di nakas dan menghubungi Michael, kami masih saling berhubungan satu sama lain setiap satu minggu sekali, dia tau segalanya tentangku, tentang hubunganku dengan Ares yang terlarang.


“Halo...”


“Selamat menjelang Natal, tahun ini kamu tidak pulang?.”


“Mungkin tidak, karena kami semua akan pergi ke Italia untuk merayakan Natal disana.”


“Yah sayang sekali kamu tidak datang di acara kita biasanya.”


“Aku sedih karena belum bisa bertemu denganmu.”


“Bagaimana hubunganmu dengan kakak mu sendiri?.”


“Jangan mengatakan seperti itu, membuatku sedikit tidak nyaman.”


“Tidak perlu, kami baik-baik saja dan akan selalu seperti itu.”


“Aku berdoa untukmu semoga ada jalan untuk kalian berdua.”


“Thanks, bagaimana kabar Verona?.”


“Dia masih manja seperti biasanya.”


Perbincangan kami sangat panjang, Michael sudah memiliki kekasih lagi setelah patah hati, memang sejak kepergiaanku, Michael sedikit berubah, apalagi soal pasangan. Dari yang sama sekali tidak pernah mengenal wanita selain aku hingga banyak mengenal perempuan, dari playgirl hingga sugar baby.


Aku masuk ke dalam lift menuju ke lantai satu, beberapa hari ini sebelum libur winter, Ares ada acara di kampus yang mengharuskannya tidak pulang, beberapa hari pula aku selalu tidur sendiri.


Di meja makan sudah ada keluarga lengkap kecuali Ares, aku duduk di kursi sebelah ibu. Tatapan Artemis masih sama seperti biasanya, tidak menyukai ibu. Mungkin ibu harus lebih bersabar lagi karena sekarang ada Artemis di rumah. Setelah makan, aku pergi keluar rumah, belum banyak salju membalut halaman luar tapi udaranya cukup membuat tulangku beku.


“Hei.” Sebuah panggilan membuatku menoleh, aku menemukan Artemis di lantai dua sambil meminum minuman beralkohol. “Mau minum?.” Dia menawariku minuman seakan kami sangat mengenal dekat, aku pikir Artemis tidak seburuk yang ada dalam pikiranku.


Aku masuk kembali kedalam rumah dan menuju ke lift untuk pergi ke kamar Artemis, aku mengetuk pintu bertuliskan Artemis, berbeda dengan lorong area kamarku dan Ares, disini mendapatkan banyak cahaya dan juga lebih cerah.


Pintu terbuka, Artemis menyuruhku untuk masuk. Aku tidak takut kalau dia jatuh cinta padaku, seperti yang kutahu kalau jatuh cinta tidak semudah itu, mau sesama jenis atau lawan jenis.


Kami duduk di sofa dekat balkon “Aku tidak minum, karena gampang mabuk.”


“Kalau gitu ambil aja makanan yang kamu mau.”


“Terimakasih, ini pertama kalinya aku bicara denganmu setelah sekian lama.” Aku tersenyum karena tidak nyaman.


“Aku hanya malas bertemu siapapun, aku juga tidak suka jika daddy menikah lagi.”


“Aku tau, semua anak pasti seperti itu.”


“Ngomong-ngomong kemana ayahmu?.”


“Ayahku pergi saat aku masih sangat kecil.’


Akhirnya aku tetap mengambil minuman walaupun hanya satu teguk saja.


“Ibuku sibuk kerja karena dia harus menjadi tulang punggung keluarga, memberikanku fasilitas yang nyaman serta membuatku bisa hidup seperti anak-anak lain pada umumnya, sebagai ibu sekaligus ayah.” Lanjutku, aneh aku mengatakan pada Artemis tapi seakan ada dorongan untukku menceritakan kehidupan keluargaku, toh dia juga salah satu keluarga baruku.


“Apa kamu baik-baik saja?.”


“Tidak, Aku bukan anak yang baik untuk ibu, aku memilih jalan yang salah untuk menarik perhatiannya dari pekerjaan. Hahaha.”


“Aku tidak bisa mengatakan apapun, aku harap kamu bisa mendapatkan perhatian itu sekarang.”


“Terima Kasih, bagaimana denganmu? Aku pikir kamu tidak akan pernah kembali apalagi daddy mu sudah menikah lagi.”


“Aku pikir aku memang tidak berniat kembali, tapi keadaan menyuruhku untuk pulang. Kekasihku akan menikah, aku harus melepaskan dia demi keseimbangan dunia.”


“Aku sudah mendengar sedikit tentangmu.”


“Kamu tidak takut jika aku tertarik denganmu? Biasanya banyak yang takut karena berpikir aku bisa jatuh cinta dengannya.”


“Jatuh cinta tidak semudah itu, aku mengerti. Apa sekarang kita bisa disebut teman?.”


“Terserah.”


Artemis orangnya baik, dia tidak banyak bicara tapi sangat manja pada ayahnya, itu yang aku tau, dan kami juga sangat cocok berbincang mengenai banyak hal.