
Bismillah.
(Zidan bahaya mengancam kota, ini adalah misi terakhir yang harus Zidan sekalikan. Zidan harus bisa mengendalikan kota agar bisa beroprasi seperti semula)
"Sistem kenapa jadi kacau begini? Kenapa misinya keluar setelah kota terperuk. Berhari-hari aku juga sudah mencoba untuk menyelamatkan kota tapi belum ada hasilnya." Keluh Zidan.
Beberapa bulan ini Zidan dan keluarga menjalani hari-hari mereka dengan normal, Zidan juga sudah berhasil mendapatkan gajinya dari sekolah SMA 30 sebagai dokter disana. Dia dan Kanza juga sudah begitu dekat, tapi 1 bulan ini Kanza belum kembali ke kota D. Karena dia pulang ke rumah orang tuanya.
Setelah Kanza pergi meninggalkan kota D, entah kenapa tiba-tiba masalah datang satu persatu melanda kota, mulai dari banyaknya pencuri, korupsi yang dilakukan oleh para pejabat kota. Hingga kota yang sudah tidak dapat dikontrol lagi.
Keadaan kota D begitu kacau entah apa sebebanya, sudah berhari-hari, berminggu-minggu Zidan mencari cara untuk menyelesaikan kekacauan yang terjadi di kota tapi dia tidak berhasil sedikitpun. Usahnya benar-benar begitu sangat sia-sia.
Hari ini puncaknya kota semakin parah, sudah 1 minggu berlalu Zidan menunggu misi dari sistem agar bisa menyelesaikan masalah di kota. Misi dari sistem tak kunjung muncul, hingga hari ini kekacauan semakin parah barulah misi tersebut aktif.
Bukan karena ingin mendapatkan rewerd dari sistem, hanya saja Zidan tahu jika misi dari sistem aktif maka ada kemungkinan besar sistem dapat membantu Zidan membereskan kekacauan yang terjadi.
Sudah 2 minggu ini pula seluruh sekolah di kota D ditutup keseluruhan agar kekacauan tidak berdapak pada para pelajar.
Zidan bahkan melarang kedua adiknya dan bapak Hajir keluar dari rumah. Selama kekacauan terjadi semua Zidan yang mengurus kebutuhan mereka. Zidan masih bebas kesana kemari karena ada sistem yang akan melacak tempat bahaya atau tidak.
(Maafkan sistem Zidan tapi semua sudah terprogram. Sistem rasa Zidan haru mulia menyusun renacan dengan baik.)
"Sistem benar, tapi sebelum itu aku rasa tidak dapat menyelesaikan kekacauan ini sendiri. Aku harus meminta bantuan pada Herman juga yang lainnya. Sistem lihat saja selama 1 bulan ini aku mencari cara sediri untuk menyelesaikan kekacauan di kota tapi tidak ada hasilnya sedikitpun. Bahkan aku juga sudah berkali-kali menyusun rencana dengan matang." Tatapan Zidan menerawang kedepan seakan membayangkan kekacauan yang hampir 3 bulan ini terjadi di kotanya.
(Ada benarnya juga yang Zidan katakan, sekarang Zidan hanya tinggal menyuruh mereka semua berkumpul)
"Tapi sistem bukankah saat ini mereka sedang ditempatkan dipenajara yang berbeda-beda." Keluh Zidan merasa tidak ada harapan lagi, apa dia akan lepas tangan saja memberikan kota jadi berantakan sayangnya Zidan bukalah orang seperti itu.
Dia tidak dapat melihat kekacauan terus terjadi di kota, dirinya harus bisa melakukan sesuatu. Bukan untuk dipuji banyak orang, Zidan hanya ingin kotanya tenang seperti dulu lagi itu saja. Siapa yang tidak merindukan masa-masa kota damai.
Zidan begitu yakin pasti semua orang-orang di kota D merindukan kediaman yang dulu pernah mereka rasakan.
(Zidan bukankah hanya Herman dan Rizal yang berada di penajar, jadi Zidan masih bisa menemui Bagus, Aceng dan Paul. Ditambah Panji pasti akan ikut membantu, sistem juga bisa membantu Zidan agar Herman dan Rizal bisa keluar sebentar dari penajara untuk melakukan misi ini)
"Baiklah sistem Zidan akan mencobanya terlebih dahulu semoga usaha kali ini tidak lagi sia-sia."
Cepat Zidan mengirim sesuatu pada aplikasi berwarna hajiau di ponselnya, telah beres dia membuka aplikasi sistem berwarna hijau transparan lalu Zidan kembali melakukan komunikasi dengan sistem.
"Hanya tinggal Herman dan Rizal yang belum tau kabar ini, aku ingin segera menemui mereka agar misi ini tidak ditunda lagi."
(Baik Zidan, sistem akan membawa Zidan ke tempat Herman lebih dulu)
"Lakukanlah sistem jangan membuang banyak waktu."
Ting!
5 menit berlalu Zidan sudah berada di tempat yang berbeda, jika tadi dia berada di dalam kamarnya kini Zidan berada di tempat asing yang belum pernah dia menginjakkan kakinya di tempat ini. Ini adalah pertama kalinnya.
Di depan Zidan ada sebuah gedung yang bertuliskan. 'KANTOR KAPOLDA KOTA BARAT.' begitulah tulisan yang terpajang di atas pintu masuk gedung tersebut.
(Benar Zidan, Herman harus menjalankan hukumnya selama 2 tahun di kota barat.)
"Sudah jangan bahas itu dulu sekarang bagimana agar aku bisa membawa Herman pulang dari tempat ini untuk sementara waktu?"
(Zidan masuk saja ke dalam kantor katakan pada komandan kantor jika Zidan akan membawa pulang Herman dalam waktu 2 bulan, Zidan juga akan menjamin kalau Herman tidak akan pernah kabur.)
"Baiklah semoga apa yang sistem katakan berhasil dan tidak merugikan Zidan." Ujar Zidan kakinya melangkah masuk ke dalam kantor kapoda barat di depanya itu.
Tak perlu waktu lama bagi Zidan agar bisa menemui komandan di kantor tersebut. Setelah berhasil bertemu Zidan langsung mengutarakan maksudnya tanpa berpikir dua kali komandan itu langsung setuju pada permintaan Zidan.
"Herman pergilah ke markas, aku menunggu kalian semua disana." Ucap Zidan menepuk pundak Herman pelan. Dia sudah bertemu dengan Herman.
Sekarang Zidan hanya tinggal menemui Rizal yang di penjara di kota D sendiri. Setelah kepergian Zidan, Herman segera menuju markas mereka.
Ting!
Dengan bantuan sistem secepat kilat Zidan sudah berada di kota D lagi, lebih tepatnya polda kota D. Karena sudah kenal dengan pak Anton, Zidan langsung menemui bapak itu untuk membebaskan Rizal dalam jangka waktu 2 bulan.
Semua langsung Zidan utarakan kala bertemu dengan bapak Anton. Untungnya pak Anton juga mengikan keinginan Zidan.
"Terimakasih pak Anton." Ucap Zidan senang.
"Jangan kecewakan saya Zidan." Pesan pak Anton.
"Insya Allah itu sudah pasti pak." Jawab Zidan sopan.
Di markas
Semua orang sudah berkumpul termasuk panji dan Herman, hanya tinggal menunggu Zidan dan Rizal lagi.
"Baru kali ini kita bertemu lagi, bagaimana keadana kalian semua?" tanya Herman dapa anak buahnya dulu.
"Sungguh baik bos." Jawab mereka kompak
"Syukurlah,"
"Lalu bagaimana dengan keadana bos Herman sendiri?" tanya Panji.
"Hanya begini-begini saja tidak ada yang berubah sedikit pun." Jawab Herman malas.
Tak berselang lama Rizal datang seorang diri tidak dengan Zidan. Mungkin sebentar lagi Zidan akan menyusul mereka.
"Diaman Zidan? Dan bagaimana kabarmu brother?" tanya Aceng.
"Sebentar lagi mungkin Zidan akan tiba kita tunggu saja. Lagipula Zidan tidak mungkin menyuruh kita berkumpul kalau tidak akan membahas masalah penting. Mungkin saja semua ini ada sangkutannya dengan keadaan kota saat ini.)