
Bismillah.
"Tunggu dulu Zidan!" cegah Herman.
"Apalagi?"
"Jangan gegabah, kita harus membagi tugas lebih dulu." usul Herman.
"Kamu benar juga Herman." sahut Zidan.
Zidan berpikir sejenak untuk membagai tugas mereka masing-masing, keberadaan mereka yang saat ini masih berada didekat gedung aneh yang ada tak jauh dari kantor polisi.
"Begini, kita ada 6 orang, jadi kita bagi tiga kelompok." Zidan mulai menjelaskan apa yang harus mereka semua lakukan.
Kelima orang itu mengangguk setuju, karena dari mereka semua, Zidan lah bosnya, jadi Zidan yang berhak memberikan arahan.
"Aceng dan Herman pergi kebagian utara gedung, jika dibagian utara tidak ada apa-apa atau tidak ada hal yang mencurigakan sedikitpun, maka kalian berahli ke selatan."
"Siap." jawab kompak Herman dan Athar.
"Untuk Bagus dan Rizal ke arah Barat, diasana kalau tidak salah ada banyak hal yang tidak bisa dilihat oleh orang lain, kecuali di dalam gedung itu saja, ingat kalian harus berhati-hati."
"Siap." jawab Bagus dan Rizal kompak pula.
"Untuk Paul, ikut bersamaku menuju ujung gedung ini yang ada di bagian sebelah timur."
"Siap Zidan!" sahut Paul antusias.
"Tapi kita berpisah dari pintu akses, kalau tidak salah gedung ini dipenuhi cctv, kita harus bisa merusak cctvnya lebih dulu, ingat jangan sampai ketahuan, ada yang bisa?"
Zidan menatap satu persatu pembunuh bayaran yang sedang bekerja dengan dirinya.
"Gampang masalah itu aku ahlinya." sahut Herman.
"Syukurlah."
"Ayo kita beraksi sekarang sebelum itu, pake ini dulu."
Zidan memberikan masker untuk kelima temannya, Zidan begitu ingat saat pertama kali masuk ke dalam gedung dia terkena racun. Tak lupa juga memberikan alat penghubung suara untuk mereka semua, lalu alat-alat lengkap yang mereka butuhkan.
Jangan tanya Zidan mendapatkan semua peralatan lengkap itu dari mana, tentu saja Zidan membelinya dari toko sistem.
Sudah pasti Zidan membelinya menggunakan point yang dia miliki, sebelumnya Zidan sempat berengosiasai pada sistem, agar toko sistem dapat dibeli juga dengan uang.
Zidan berhasil membuat sistem setuju, agar barang yang terdapat di toko sistem bukan hanya bisa dibeli dengan point saja, tapi juga uang tunai..
Zidan melakukan itu semua saat dia menuju gedung yang begitu terkenal di kota D. Kota dimana desa tempat tinggal Zidan terletak.
"Wih, barang kamu bagus-bagus sekali Zidan beli dimana?" tanya Aceng penasaran.
Aceng adalah seorang penggemar barang-barang aneh dan menurutnya barang-barang yang bagus.
Duk!
Herman memukul kuat kepala Aceng, "Jangan pikirkan itu dulu! Ingat misi kita saat ini."
Aceng mengelus kepalanya yang terasa sakit sambil nyengir, "Iya tahu! Kan penasaran aja."
"Sudah jangan ribu go, ikutin aku oke."
"Siap Zidan." jawab semuanya kompak.
Ternyata sistem membuat sebuh alat pelacak untuk Zidan, agara mereka bisa merasa aman saat akan melewati tempat yang akan mereka lalui alat itu bisa menditeksi tempat yang berbahaya.
Tit....tit...tit...
Mendapatkan peringatan Zidan jadi berheti mendadak, membuat mereka yang berada di belakang saling bertabrakan satu sama lain.
"Aduh, kepalaku sakit sekali!" ocah Bagus.
Sontak Paul langsung membekap mulut Bagus, agar tidak berisik.
"Diem! Jangan berisik." peringat Paul penuh penekanan.
"Iya maaf."
Tak lama Zidan kembali berjalan.
Mereka semua kembali mengikuti Zidan, sepertinya Zidan menemukan tempat yang pas dan aman agar mereka bisa masuk ke dalam gedung, tanpa ada yang curiga pada mereka.
"Jangan berisik!" ucap Zidan sambil menoleh kebelakang.
Semua orang mengangguk tanda mereka mengerti.
"Bagus cepat buka aksesnya, tapi sebelum itu Herman cctvnya sudah selesai?"
"Beres Zidan." ucap Herman sambil mengacungkan kedua jempolnya.
Bagus masih sibuk mengotak-atik akses agar mereka bisa masuk ke dalam gedung dengan mudah.
Ting!
Akses akhirnya berhasil mereka segera masuk ke dalam gedung, "Kita bertemu disini lagi nanti, ingat jika terjadi apa-apa segara beri informasi." intruksi Zidan.
Tak lupa Herman juga sudah merusak cctv yang ada di dalam gedung tersebut. cctv itu dibuat rekayasa oleh Herman. Herman juga mengajarkan Zidan cara mengecoh cctv. Agar orang yang yang berada di dalam gedung itu mengira cctv mereka tidak rusak sama sekali.
"Bagus juga ternyata alat pelacak dari sistem." puji Zidan.
(Tentu saja, semua alat dari sistem rich selalu bagus tidak pernah mengecewakan sama sekali, barang-barang yang ada di toko sistem limited edition, serba terbatas jarang sekali ada di dunia.) tentu saja sistem bangga karena barang-barang milik sistem memang sangat bagus dan membantu.
"Iya aku percaya, sistem rich ter the bast."
(Terima kasih atas pujiannya Zidan, kalian semua berhati-hatilah di dalam gedung ini, sistem baru saja mendetekasi, jika di dalam gedung ini, banyak sekali jebakan dan tipuan yang dibuat)
"Terima kasih atas informasinya sistem."
Ting!
"Tunggu semuanya jangan berpencar dulu, ada yang harus Zidan katakan pada kalian semua lebih dulu."
Mereka mendengarkan apa yang akan Zidan katakan dengan saksam, mereka berenam memang sedang masukan diri mereka sendiri ke dalam tepat yang berbahaya.
"Ingat kalian harus berhati-hati, informasi yang aku dapat kalau tidak salah gedung ini dibuat banyak jebakan, agar penyusuk tak bisa masuk dengan mudah."
"Baik Zidan kami semua akan berhati-hati."
"Ya jangan lupa selalu bismillah, agar Allah selalu melindungi kita."
"Aamiin." jawab mereka serentak
"Kita berpencar disini saja ingat pesanku tadi."
"Siap Zidan!"
Seperti sebelumnya tugas mereka yang sudah dibagi sebelumnya oleh Zidan. Jika Herman dan Aceng pergi kebagian utara dan selatan.
Sedangkan Rizal dan Bagus pergi kebagian barat, mereka semua masing-masing sudah membawa alat lengkap yang Zidan berikan tadi.
Untuk Zidan sendiri, dia bersama Paul, pergi menyusuri gedung itu kearah timur.
Dimana arah tempat itu hanya ada lorong panjang yang begitu luas, tidak ada satu orangpun disekitar lorong itu, tapi tetap saja Zidan dan Paul harus berhati-hati.
Zidan masih ingat betul, jika tempat yang saat ini dia, datangi adalah tempat yang pernah dia kunjungi sebelumnya.
"Zidan kenapa disini sepi sekali?" tanya Paul sampai begidik ngeri.
Sepertinya Zidan lupa, jika Paul adalah salah satu pembunuh bayaran yang sangat penakut.
"Tenanglah Paul, jangan panik, aku yakin kita akan baik-baik saja." Zidan berusaha menenangkan Paul.
Keduanya terus berjalan menuju timur lorong yang sedang mereka lewati saat ini.
"Kenapa lorong ini sangat panjang? Aku sudah lelah." keluh Paul.
"Bertahanlah sejenak Paul, sebentar lagi kita bisa beristirahat, tapi ingat jangan berisik." pesan Zidan.
Bruk!
Tanpa sengaja Paul menjatuhkan sebuah benda, dengan cepat Zidan segera menarik Paul agar tidak ketahuan mereka segera bersembunyi.
"Siapa itu!" teriak penjaga gedung.
"Zidan!" Paul berusaha memberontak.
"Diamlah Paul."