
Bismillah.
Beberapa serigala yang tadi mengikuti Zidan masih berputar-putar di hutan tempat Zidan bersembunyi. 4 serigala itu terus berkeliling mencari keberadaan Zidan tanpa meninggalkan tempat yang terakhir Zidan lewati.
Posisinya saat ini berada di balik pohon tepat berada di depan para serigala, para serigala tidak dapat melihat keberadaan Zidan karena dia menggunakan fitur menghilang dari sistem rich.
Walaupun Zidan sudah menggunakan fitur menghilang agar tidak ketahuan, tetap saja Zidan merasa was-was.
"Hadu bagaimana ini? para serigala itu pasti tahu kalau aku belum pergi dari tempat ini. Lihat saja mereka masih berputar-putar saja disini seperti sedang mencari sesuatu." keluh Zidan.
Sedari tadi Zidan terus memutar otaknya agar bisa mengalihkan para srigala berbulu putih yang memiliki mata amat tajam. Jangan lupakan taring panjang nan lancipnya siap menggigit apa saja.
Buntu sudah kini otak Zidan sudah 15 menit memutar otaknya Zidan tak menemukan solusi yang bagus dan pas, agar dia bisa segera menghindar dari para serigala.
"Haih! Bagaimana aku kabur? memang aku tidak terlihat oleh para serigala itu, tapi aku merasa rombongan serigala di hadapanku ini sangat peka sekali. Buktinya sampai sekarang para serigalanya belum pergi."
Terus saja Zidan mengeluh, padahal dia bisa bertanya pada sistem. Bagimana cara untuk kabur asal tidak ketahuan oleh para serigala.
Duk!
"Au...." ringis Zidan sambil memegang kepalanya.
Sudah jelas sistem yang memukul kepala Zidan majikannya. Tak mungkin juga setan karena siang bolong.
"Sakit sistem!"
(Makanya jadi orang jangan terlalu bo**h Zidan! Zidan tinggal pergi saja dengan hati-hati agar para serigala itu tidak curiga. Lewat samapaing kiri. Sedari tadi gerombolan serigala tidak memperhatikan sebelah kiri)
"Baik sistem, terima kasih sudah membantu."
(Ya!)
Zidan tercengang, baru kali ini sistem membalas perkataannya singkat sekali. Biasanya sistem akan selalu menjawab lebih dari dua kata. Kali ini Zidan tak menghiraukan hal tersebut tapi Zidan melupakan sejenak kalau sistem sedang ngambek. Yang terpenting saat ini dia bisa lolos lebih dulu dari kejaran para serigala.
Perlahan-lahan Zidan mengangkat kakinya. Sebisa mungkin langkah kaki yang Zidan buat tidak mengeluarkan suara, dia berjalan pelan sambil terus menoleh ke belakang sesekali untuk memastikan apakah para serigala itu sudah tidak mengejarnya lagi.
Tahu sekali Zidan, kalau berjalan sambil menoleh ke belakang itu tidaklah baik, mau bagaimana lagi sekarang Zidan dalam keadaan darurat.
Zidan mempercepat langkah kakinya, dia sudah berjalan sedikit jauh dari rombongan serigala tadi. Sebentar lagi Zidan hampir sampai di markas milik Herman.
"Akhirnya aku bisa selamat juga dari kejaran para serigala." Zidan merasa lebih lega kali ini.
Tubuhnya sudah kembali terlihat, karena masa fitur menghilang sudah habis. Zidan tidak sadar sejak kapan tubuhnya sudah nampak.
"Sampai juga."
Segera Zidan mengetuk pintu markas milik Herman dan kawan-kawan.
Tok!
Hanya sekali ketuk pintu itu sudah terbuka dengan sempurna, memperlihatkan wajah Bagus yang masih basah. Mungkin Bagus baru saja selesai mandi.
"Zidan, ayo masuk aku kira kamu tidak akan datang." ucap Bagus, sambil memberi Zidan ruang untuk masuk.
Zidan mengambil duduk di kuris kosong yang berada tepat di sebelah Herman. Tanpa basa-basi lagi Zidan segera membahas hal kemarin.
"Kita harus membereskan gedung ini dalam waktu sesingkat-singkatnya, kalau perlu hanya dalam waktu 2 hari saja."
Semua orang menelan ludah mereka kasar, bagimana caranya mereka bisa menjatuhkan gedun aneh itu dalam waktu yang begitu singkat.
Sebenarnya juga Zidan belum mendapatkan misi oleh sistem untuk menghancurkan gedung indah. Mau bagaimana lagi, Zidan paling tidak bisa melihat kejahatan di depan mata. Jika ada dia ingin segera memberantas dan menuntaskan kejahatan yang terjadi.
Maka Zidan tidak perlu menunggu misi dari sistem, semua bukti sudah Zidan dapatkan. Jadi menunggu apa lagi? Kalau bukan segera dituntaskan.
"Apakah ada strategis yang akan Zidan lakukan? Sebelum kita membongkar tentang gedung hitam?"
"Mungkin ada Herman, tapi sebelum itu kita harus tahu siapa pemilik gedung hitam itu, agar kita bisa lebih leluasa mengangkap pemiliknya."
"Kalau hal itu bukankah kita bisa tanyakan pada Panji. Bukan begitu Panji?"
"Kamu benar Paul, sayangnya selama bertahun-tahun aku bekerja di gedung itu, sekalipun aku belum pernah melihat bos besarnya." Panji menghela nafas pelan.
"Sudah lupakan, aku dan Rizal pernah melihat bos pemilik gedung indah, mereka suami istri. Sepertinya yang paling berpengaruh si istrinya, kalau tidak salah nama suami istri itu...." Bagus terpaksa menggantung kalimatnya, karena dia lupa nama pemilik gedung.
"Aku ingat! namanya Aska dan Karin, kedua orang itu yang dipanggil bos, oleh para orang-orang di ruangan pembuat asap hipnotos." lanjut Rizal.
Hening sejenak, entah kenapa tiba-tiba suasana di dalam markas menjadi hening. Mungkin mereka sedang menera-nerakan siapa Karin dan Aska sebenarnya.
"Aku merasa begitu familiar dengan kedua nama itu." ucap Aceng yang membuat semua mata menatap dirinya.
"Kamu kenal?" tanya Herman sambil menaikkan kedua alisnya.
"Entahlah."
"Sudah, begini saja kita selidik dulu siapa kedua orang itu, lalu setelahnya aku akan memberitahukan kalian rencana selanjutnya. Kita juga belum tahu apakah terjadi kegaduhan atau tidak di gedung indah, karena semua tawanan mereka juga hilang. Bersama satu orang penjanganya."
Kali ini Panji yang menjadi pusat perhatian, Panji hanya acuh saja pura-pura tidak melihat mereka sedang menatap dirinya.
"Kita beraksi lagi sekarang, tim masih tetap diawal untuk tim Bagus akan bertambah Panji. Tugas kalian mencari tahu siapa Karin dan Aska. Herman dan Aceng memantau situasi dan menghaimbau para warga agar tidak dekat-dekat dulu dengan gedung indah. Buat saja informasi palsu lebih dulu tentang gedung indah. Aku dan Paul akan melaporkan pada pihak berwajib. Maslahnya disini aku merasa pihak berwajib ada sangkut pautnya dengan gedung indah." Zidan bicara panjang sekali.
Mereka semua mengangguk setuju atas pembagian kelompok yang dibuat oleh Zidan.
"Kita bergerak sekarang." suruh Zidan.
Semua orang mengangguk setuju. Diantara mereka berenam tidak tahu kenapa Herman dan Aceng masih belum terlalu percaya pada Panji.
Kedua orang itu merasa Panji bukan bagian dari mereka, tapi musuh yang sedang berpura-pura ikut bergabung.
"Terus awasi Panji." pesan Herman pada Aceng, tanpa ada yang mendengar.
Panji tidak sadar kalau Aceng sudah memasang sesuatu di baju Panji. Jika Panji berkhianat pada mereka benda itu akan langsung menghukum Panji sendiri.
Herman dan Aceng melakukan hal itu, karena tidak dapat membaca gerak-gerik yang Panji tunjukkan. Mereka melakukan itu hanya untuk berjaga-jaga saja.