
Bismillah.
"Kita pergi sekarang." ajak pak Kasim pada 3 anak muda yang sudah dikuasai oleh dendam, terhadap orang yang sama sekali tidak memilik salah apapun pada mereka.
Yang ada malah mereka, sudah sering sekali berbuat salah, sesuka hati menindas yang miskin. Mereka pikir kaya segalanya. Kaya bisa berkuasa?
Mereka lupa ternyata roda saja akan selalu berputar jika digerkan, apalagi roda kehidupan. Tidak selalu yang diatas akan tetap berada di atas, yang dibawah juga tidak akan selalu di bawah.
Ibarat buah kepala, buah kelapa itu tidak akan selamanya berada di atas, pasti ada waktunya buah kelapa itu jatuh ke bawah. Begitu juga dengan sebuah tanaman baru. Tak mungkin tanaman itu akan tumbuh kebawah. Pasti tanaman tadi akan tumbuh terus menjulang tinggi sampai keatas.
Pak Kasim, Saga dan kedua teman Saga, Lion dan Anton segera mengikuti pak Kasim menuju gedung indah. Mungkin selama ini pak Kasim selalu bekerja sama dengan orang-orang munafik yang berada di dalam gedung indah.
Baru disadari oleh Zidan dan yang lainnya, kalau gedung indah beroprasi selama 24 jam, tanap henti waktu libur pula jarang sekali ada. Mungkin bisa dikatakan setahun, hanya 4 atau 5 kali saja. Walaupun begitu gedung Indah tetap buka saja.
Tak butuh waktu lama pak Kasim, Saga, Lion dan Anton sudah sampai di depan gedung Indah, mereka semua turun dari mobil itu cepat menemui penjaga.
Sebelum itu entah kartu apa yang pak Kasim tunjukan pada penjaga gerbang gedung Indah yang melewati pintu belakang, hingga mereka dipersihlakan masuk ke dalam. Bukan diarena pusat perbelanjaan dan permainan, di dalam gedung hitamnya langsung yang tidak mudah diakses.
"Kalian boleh masuk." ucap penjaga yang tak terlihat sedikitpun wajahnya itu.
Masih di tempat yang sama Bagus, Rizal dan Panji tak sengaja melihat kejadian barusan. Mereka bertiga tercengang melihat ada orang lain yang akan masuk ke dalam gedung indah lewat belakang.
"Cepat video!" titah Bagus.
Bagus tidak tahu kenapa merasa ada yang tidak beres dari keempat orang yang baru saja akan masuk ke dalam gedung, bagi Bagus mereka terlihat mencurigakan.
"Sudah!" ujar Rizal menyadarkan Panji dan Bagus.
Sedangkan pak Kasim serta anak dan sahabat anaknya sudah masuk ke dalam gedung hitam.
"Ayo kita kembali ke markas, pasti Zidan sama yang lain sudah menunggu kita." ajak Panji.
Ya, Panji, Bagus dan Rizal akhirnya berhasil mengelabui orang kepercayaan Aska. Mereka mengira kalau Panji sudah tidak bernyawa lagi.
Di dalam gedung sedang terjadi kekacawan yang begitu besar. Tepatnya dimana orang-orang yang sudah diculik telah hilang tanpa jejak.
Saat ketiga orang itu akan pergi Rizal tak sengaja melihat seorang perempuan cantik tengah berlari menuju dalam gedung. Bersama dua orang pengawal di belakangnya.
"Siapa perempuan cantik itu?" tanya Rizal tanpa sadar dia terpesona pada perempuan yang Rizal maksud.
Bagus dan Panji mencari siapa orang yang Rizal maksud. Bagus ingat sekali siapa perempuan tersebut, kesal dia pada Rizal sampai memukul kepala Rizal.
Dug!
"Kamu ya! Dia Karin. Orang jahat yang sudah menipu penduduk kota bersama suaminya. Lupa!" dengus Bagus.
"Iya maaf. Aku baru ingat ada yang mau aku tanyakan, tadi apa yang ditujukan oleh bapak kepala botak pada para penjaga? sampai mereka diperbolehkan masuk."
"Mungkin saja itu kartu pengela Zal." jawab Panji.
"Sudah nanti saja diskusinya, sekarang kita kembali dulu sebelum ketahuan." ajak Bagus.
Mereka bertiga segera meninggalkan gedung hitam, untung saja mereka tak ketahuan oleh para penjaga yang ada di gedung hitam. Ketiganya berhasil menyelesaikan tugas mereka.
45 menit berlalu akhirnya 3 orang yang Zidan untuk pergi kembali ke dalam gudang hitam sudah sampai juga di markas.
"Bagaimana?" tanya Zidan the do point.
Satu persatu dari mereka menjelaskan apa yang diperintahkan pada mereka sudah dikerjakan dengan sangat baik. Tinggal sekarang mereka harus menyerbu gedung hitam secara keseluruhan.
"Baik." jawab mereka semua serentak mendengar perintah dari Zidan.
"Tunggu dulu." cegah Bagus, hingga membuat semua orang jadi mentapa dirinya.
"Apalagi sih Gus!" serang Paul.
"Aku hanya ingin memperlihatkan video yang baru saja kami ambil. Ada orang mencurgikan masuk ke dalam gedung hitam. Mereka menggunakan akses hingga mudah masuk." ucap Bagus, sambil tangannya memutar video yang berhasil direkam Rizal.
Kala video itu diputar, Zidan melotot sempura. Jelas dia kenal siapa empat orang yang bisa masuk secara bebas ke dalam gedung hitam.
"Kita ke kantor polisi sekarang!" Mereka menurut saja apa yang Zidan perintahkan.
7 orang itu berbondong-bondong pergi ke kantor polisi kota D, untuk membongkar rahasia gedung indah yang sudah bertahun-tahun menipu para warga kota.
Zidan yakin sekali kalau Aska saat ini sudah panik, dia pasti sudah tak ada lagi di kantor polisi. Aska pasti lebih mementingkan bisnis ileganya saat ini. Jika semua orang hilang sudah jelas Aksa dan Istri akan rugi dan ada di dalam masalah besar.
Tig!
(Zidan pak Kasim, Saga, Lion dan Anton pergi ke gedung hitam untuk meminta bantuan. Mereka ingin balas dendam pada Zidan)
Jelas Zidan merasa kaget, untuk dia sudah tak ada hubungnya lagi dengan orang-orang itu, kenapa mereka malah masih mencari dirinya dan berniat mencelakai dirinya.
"Kenapa begitu sistem? Aku rasa aku tidak memiliki salah pada mereka." jawab Zidan enteng.
(Kamu benar Zidan. Begini saja nanti saat menangkap Aska dan Karin. Zidan juga harus bisa menangkap pak Kasim serta yang lain)
"Akan aku coba. Aku yakin pada komandan pasti punya strategi yang apik."
3 jam telah berlalu sebelum Zidan dan Paul, pergi ke kantor polisi. Kini dua orang itu kembali menginjakkan kaki di kantor polisi.
"Aku bosan datang kesini lagi." keluh Paul.
...----------------...
Gedung Indah/ Gedung hitam.
Aska yang mendengar dari sang istri kalau di dalam gedung hitam terjadi masalah bersar. Langsung berlari menuju gedung tersebut dan tidak mempedulikan pekerjaannya di kantor polisi yang masih banyak.
Brak!
Aska menendang kuat pintu masuk ke dalam penjara bawah yang ada di gedung hitam. Sorot matanya begitu tajam dan sudah berubah warna menjadi merah. Pak Kasim dan yang lainnya juga berada di tempat itu.
Mereka menyesal karena sudah datang diwaktu yang tidak tepat sama sekali.
Brak!
"Kalian semua tidak becus!"
Dor!
Dor!
Dor!
Saking marahnya Aska langsung menembak siapa saja yang berdiri di hadapannya. Dia begitu murka. Selama bertahun-tahun memiliki gedung hitam, hari ini untuk pertama kalinya kekacauan besar terjadi di gedung ini.