
Bismillah.
"Sekarang kemana lagi?"
(Tentu saja membeli kendaraan dan beberapa alat komunikasi untuk Zidan dan bapak Hajir juga Hana.)
"Lalu Rian?"
(Dia masih belum boleh menggunakan hp, nanti saja belikan Rian kalau sudah lulus sd. Lagipula sebentar lagi hari kelulusan Rian tiba. Sekarang Zidan bisa memberinya sepeda lebih dulu.)
"Bagus juga ide sistem. Sekarang pergi, tapi dimana aku harus mencari semua barang-barang itu?" bingung Zidan.
Tentu saja dia tidak tahu membeli kendaraan dan hp maupun laptop dimana tempatnya, 21 tahun Zidan belum pernah membeli semua barang tersebut. Siapa sangka diumurnya yang hampir menginjak 22 tahun, Zidan berhasil menjadi seorang milyader diusia muda. Dia juga berhasil menjadi orang kaya termuda nomor 1 di dunia.
Kekayaan Zidan memang berada diurutan nomor 5 di dunia. Tapi dia adalah orang muda terkaya di dunia. Karena semua posisi terkaya digapai oleh orang rata-rata mencapai umur 45-50 tahun.
Kembali pada Zidan.
Zidan sudah berhasil memberi rumah yang diusulkan oleh sistem. Dia membeli rumah itu secara chas tentunya, negosiasi Zidan dengan pemilik rumah juga tidak begitu sulit, pemilik rumah sebelumnya memberikan harga bagus pada Zidan.
Sekarang dia berniat untuk membeli kebutuhannya yang lani, sebelum Zidan membawa bapak dan kedua adiknya pindah rumah yang lebih layak dari pada gubuk mereka.
Tak perlu waktu lama Zidan sudah sampai dideler mobil, untung saja disebelah deler mobil itu tempat deler motor sekaligus sepeda bagus yang berkisar harga 3-4 juta rupiah kira-kira.
3-4 Juta rupiah untuk 1 unit sepeda bagi Zidan sudah terlalu mahal. Walaupun sekarang posisinya orang terkaya no 5 di dunia tetap saja Zidan masih merasa seperti orang yang belum punya uang banyak. Bayangkan saja yang tadinya orang misik tak terpandang sedikitpun kini menduduki posisi orang terkaya di dunia. Seperti sebuah mimpi bagi Zidan, tapi begitulah kenyataannya.
"Saya ingin satu unit mobil Ferrari 488 GTB berwarna hitam." Ucap Zidan langsung saja.
Saat menuju ke tempat deler mobil, Zidan sudah sempat menghafal beberapa nama mobil dari yang paling murah hingga paling mahal, sampai pilihan Zidan jatuh pada mobil Ferrari 488 GTB.
"Apakah mau lihat-lihat dulu bos?"
"Tidak perlu siapakan saja, aku mau kesebelah dulu. Tenang saja aku tidak akan kabur." Ucap Zidan pada sales penjual mobil.
Sambil menunggu para sales menyiapkan mobil pesanannya Zidan memanfaatkan waktunya untuk mencari motor dan sepeda agar bisa dipakai Hana dan Rian nantinya.
Sampai di tempat deler motor Zidan menjatuhkan pilihannya pada motor Genio keluaran terbaru untuk adik perempuannya. Sedangkan sepeda untuk Rian, Zidan jatuh pada sepeda dengan merk sepeda BMX.
Satulagi Zidan juga membeli satu unit motor sport untuk dirinya. Siapa tau tiba-tiba dia butuh motor jadi tidak susah nantinya.
Selesai memilih semua barang kebutuhan Zidan. Dia segera membayar semua kendaraan yang sudah dia beli. Zidan tak mengeluarkan uang sedikit untuk semua barang itu, tentu harganya tidak main-main. Sudah melakukan transakasi Zidan segera menuju tempat selajutnya.
Semua kendaraan yang Zidan beli, akan diantar ke rumah barunya secara langsung oleh pihak deler. Zidan membayar semuanya cahs.
Dia tidak bisa mengemudikan mobil, tapi Zidan ingin belajar maka dari itu dia membeli mobil. Kalau motor walaupun tak punya Zidan dan Hana sama-sama bisa menggunakan kendaraan roda dua satu itu, karena mereka pernah belajar sebelumnya menggunakan motor pak Rt.
Lagi-lagi Zidan kini sudah sampai di tempat penjualan barang-barang elektronik. Zidan tak membuang waktu lama, dia membeli 2 hp dan 2 unit laptop juga sebuah alat canggih untuk belajar Rian.
Setelah semuanya selesai Zidan segera kembali ke rumah, dia sibuk sendiri akan pindah rumah sampai-sampai melupakan satu hal. Kalau Zidan belum bilang sama bapak Hajir mereka sebenarnya akan pindah rumah. Saking sibuknya mencari semua kebutuhan yang diperlukan Zidan sampai melupakan hal penting satu itu.
Zidan sudah kembali ke gubuk yang selalu mereka tempati selama bertahun-tahun ini. Jujur sebenarnya Zidan sudah nyaman dengan gubuk reyot mereka. Hanya saja Zidan ingin keluarganya hidup dengan layak.
Keluarga Zidan saat ini tengah menikmati makan yang baru Zidan beli tadi saat Zidan pulang menuju rumah.
"Bapak kita besok pindah ya, Zidan sudah beli rumah untuk kita." Ucap Zidan.
"Kamu beli rumah pake uang siapa, Nak?" tanya pak Hajir khawatir.
Sedangkan Zidan menepuk keningnya sendiri, dia lupa kalau pak Hajir tidak pernah nonton tv ataupun melihat sosmed. Kalau Hana, Zidan tau pasti adiknya sudah tau kabar tentang viralnya dia di dunia maya juga layar kaca.
"Bang Zidan dapat penghargaan besar dari polisi pak, bang Zidan berhasil menangkap kejahatan orang-orang kota." Terang Hana.
"Masya Allah, kamu pemberi sekali, Nak."
"Alhamdulillah bapak, semua inu berkat doa bapak dan pertolongan dari Allah. Jadi besok kita sudah harus pindah. Zidan juga masih punya kado buat kalian semua besok."
"Aku tidak sabar menunggu besok." Celetuk Rian.
Adik bungsu Zidan itu paling suka mendengar kata kado yang abangnya katakan Rian begitu penasaran kado apa yang akan Zidan berikan pada mereka.
"Tapi besok abang jadi mulai kerja di sekolah Hana?"
Zidan tersenyum, "Insya Allah, doakan saja."
"Itu sudah pasti." Sahut Hana, dia terus menghabiskan makanannya yang masih banyak.
Sekarang keluarga pak Hajir sudah lebih sering makan-makanan yang enak ketimbang dulu yang hanya makan ubi barak saja.
Mereka bersyukur dulu pernah hidup dalam keadaan tak punya. Mereka bisa belajar dari pengalaman sebelumnya.
"Sudah habiskan makannya." Titah Zidan.
"Itu sudah pasti." Kebersamaan keluarga Zidan begitu terasa. Dulu saat mereka hidup miskin Zidan masih dapat mengayomi kedua adiknya.
Dia tidak berlaku semena-mena pada adik-adiknya walaupun tak punya apa-apa Zidan selalu memprioritaskan bapak dan kedua adiknya lebih dulu ketimbang dirinya sendiri.
(Sistem ikut bahagia melihat Zidan dan keluarga Zidan bahagia. Tidak tahu apakah perjalan sistem hanya sampai disini saja berada didekat Zidan selalu atau sistem akan segera pergi. Susah sekali mendapatkan tuan seperti Zidan.)
"Hei sistem apakah ada masalah.." Samar-samar Zidan dapat mendengar suara sistem yang sudah difilter sebelumnya.
(Tidak ada Zidan! teruskan makan kalian.)
"Ah, baik akan aku lakukan.l
Zidan kembali menikmati kebersamaan dengan keluarganya, tidak ada sosok ibu diantara mereka. Bagi Zidan pak Hajir sudah cukup menjadi dua sosok sekaligus untuk mereka bertiga.
Sedangkan bagi kedua adik Zidan. Zidan sudah seperti ibu untuk mereka yang selalu melindungi mereka.