
Bismillah
Paul dan Zidan masih berusaha keras untuk melumpuhkan para penjaga itu secara sembunyi-sembunyi.
Bruk!
Tak!
Dua penjaga lagi berhasil dilumpuhkan oleh Zidan dan Paul, ada puluhan penjagaan disetiap sudut ruang itu, mungkin jika dihitung-hitung ada sekitar 50 penjaga lebih yang berada disana.
Semua dari mereka diletakkan ke tempat yang strategis, masing-masing ada dua orang penjaga disetiap sudut ruangan, sekitar 20 penjaga ada di hadapan para tawanan.
Belum lagi para penjaga yang bertugas untuk memberi makan mereka semua dan membersikan tempat itu, jika di hitung lagi mungkin jumlahnya ada sekitar 100 orang lebih.
Saat ini Zidan dan Paul baru melumpuhkan 4 orang masih ada banyak sisanya, sedangkan mereka hanya berdua saja.
"Zidan bagaimana ini, aku merasa para penjaga itu semakin lama semakin banyak." keluh Paul.
Zidan menatap sekitar, dia juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan oleh Paul, tapi mereka tidak ada cara lain, mereka harus cepat menyingkirkan semua orang, jika tidak bisa bahaya. Setiap menyingkirkan satu atau dua penjaga keduanya harus memastikan mereka aman, kalau tidak ada yang mengetahui kejadian di dalam sel tersebut.
"Kita teruskan saja dulu menghabisi para penjaga ini, asal jangan sampai ketahuan dan menimbulkan kegaduhan." ujar Zidan pada akhirnya.
"Baiklah, tapi aku harap kamu segera mencari tahu cara agar kita cepat melumpuhkan para penjaga."
Zidan hanya mampu mengangguk, sedari tadi dia sedang memutar otaknya agar bisa menutup akses orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut.
Zidan ingin dia bisa menutu ruangan itu tanpa ada yang curiga, jika dirinya saat ini tengah berusaha membebaskan semua orang di dalam sana.
Deg!
'Tempat apa itu? Aku harus kesana, aku yakin sekali di tempat itu ada cara yang saat ini tengah aku pikirkan.'
Segera Zidan mendekati Paul yang masih sibuk menyingkirkan para penjaga satu persatu menggunakan cara yang lembut.
"Ada apa?" tanya Paul kala sadar akan kehadiran Zidan disisinya.
"Aku akan masuk ke ruangan itu, kamu teruslah melakukan tugasmu, tapi ingat segera singkirkan semuanya."
Paul mengangguk saat ini dia tidak boleh berlaku masa bodo, atau dirinya dalam bahaya dan berakhir dia juga Zidan menjadi salah satu tawanan bukan menyelamatkan para tawanan.
"Aku berharap kita cepat menyelesaikan semua ini."
"Itu pasti, ingat bismillah." Paul mengangguk.
"Aku pergi dulu."
Setelahnya Zidan benar-benar pergi menuju ruang yang dia maksud. Secepat kilat Zidan mencari cara agar bisa masuk ke dalam ruang tersebut, tak lupa Zidan merekayasa cctv lebih dulu, sebelumnya Herman memang sudah mengajarkan caranya pada Zidan.
Akhirnya Zidan berhasil beruntung ruang itu tidak dijaga dengan ketat, jadi dia bisa lebih leluasa masuk ke dalam.
Dahi Zidan mengerut saat melihat seorang yang tengah menatap komputer di hadapannya, orang itu menatap komputer tapi seperti sedang menunggu seorang yang sudah begitu lama tapi tak kunjung datang.
"Apa yang terjadi?" ucap Zidan lirih.
Ting!
(Zidan dekatilah orang itu, dia sudah lama menunggu kehadiranmu.)
"Apa!" kaget Zidan setelah mendengar informasi dari sistem.
"Yang benar saja, lagipula dari mana sistem tau?"
(Apa Zidan lupa ini adalah sistem rich! Sistem super kaya yang dapat mengakses informasi apapun)
"Super kaya? tapi aku kagak kaya-kaya." desisi Zidan.
(Tenang saja Zidan setelah misi kedua dari ini Zidan akan menjadi seorang miliarder.)
"Aku tidak percaya kau pasti menipuku, sudah yang penting saat ini aku bisa keluar dari sini."
Mau tidak mau Zidan mendekati laki-laki yang mungkin seumuran dengan dirinya atau bahkan lebih tua, walaupun sudah mendapatkan informasi dari sistem, tapi Zidan tetap waspada.
Zidan menodongkan senjata pada orang itu, bukanya takut laki-laki tersebut terseyum simpul dan langsung menutup akses di ruang tersebut, tanpa terlihat seperti terjadi sesuatu di tempat itu.
Bahkan laki-laki itu langsung menatap Zidan dengan senyum setelah berhasil menutup akses ruangan tempat mereka saat ini.
"Akhirnya kamu datang juga."
Hah! Cengoh Zidan.
"Sudah lupakan, aku tau kamu ada dipihakku, sekarang ayo kita selamatkan semua orang yang tidak bersalah berada di ruang ini."
Laki-laki itu mengangguk setuju, jadi saat ini Zidan dan Paul bisa lebih leluasa melumpuhkan para penjaga.
Bark!
Duk!
Tak! Tak! Tak
Duk! Duk! Duk
Brak!
Tanpa menunggu lama Zidan, Paul dan laki-laki yang sudah menolong Zidan dalam sekejap melumpuhkan para penjaga, semua orang terlihat kaget bercampur senang dan juga takut. Takut, jika Zidan mereka kira penculik yang akan menyiksa mereka lebih parah lagi..
Setelah semua beres Zidan segera menggunkan lorong waktu, "Kalian tenang saja kami akan mengembalikan kalian ke rumah kalian masing-masing."
Deg!
"Kau gila." bisik Paul.
"Kau tentang saja Paul."
Disisi lain, tepatnya di belakang gedung hitam, Herman dan ketiga teman yang lain sudah berhasil keluar dari gedung hitam. ya, Rizal dan Bagus berhasil keluar setelah memutar otak mereka, agar tidak ketahuan karena atap yang berubah transparan.
Keduanya mencari celah agar bisa sampai ke pintu keluar, hingga mereka berdua berhasil dan bertemu dengan Herman dan Aceng yang juga baru samapi di depan pintu keluar.
Mereka berempat saling melemparkan tatapan satu sama lain, tentu saja tatapan itu mengisyaratkan kebingungan.
"Bagimana dengan Zidan dan Paul?" akhirnya pertanyaan itu terlontar juga dari mulut Aceng.
Huh! Semua orang menghembuskan nafas kasar, takut terjadi sesuatu pada kedua teman mereka.
"Kalian tenanglah aku yakin Zidan dan Paul akan berhasil keluar, firasatku mengatakan jika mereka sedang membantu orang lain."
"Orang lain?" ucap ketiganya kompak.
"Tapi siapa?" tanya Rizal.
"Aku tidak tahu pasti siapa, tapi firasatku mengatakan demikian, sekarang lebih baik aku bertanya apa yang kalian dapatkan?"
Herman dan Aceng sudah menelusur ke utara dan selatan dan mereka mendapatkan semua barang ilegal di dalam gedung itu.
Huf!
"Gedung ini berbahaya, selama belasan tahun kita semua sudah ditipu oleh pemilik gedung ini, kalau kita tidak mengikuti Zidan mungkin kita akan terus ditipu." ucap Bagus.
Semua orang membenarkan perkataan Bagus, "Tapi bukankah kita lebih bejat dari pada mereka semua?"
Hening, semua orang diam membisu atas perkataan yang keluar dari mulut Rizal, memang benar itu kenyataannya, entah sudah berapa puluh nyawa atau ratusan yang tak bersalah mati di tangan mereka berlima.
"Astagfirullah." ucap keempatnya secara bersama.
Sadar betul, jika selama ini mereka telah melakukan perbuatan keji dan hina.
"Sudah membunuh orang kita makan uang haram dari hasil membunuh." timpal Herman.
"Apakah Allah akan mengampuni kita semua?" tanya mereka kompak, pertanyaan yang enta dilontarkan kepada siapa.