Super Rich System

Super Rich System
Tugas masing-masing



Bismillah.


Zidan dan yang lainnya sudah mulai melakukan tugas mereka masing-masing. Seperti pembagian tim dari awal saat ini Zidan dan Paul sedang berada di kantor polisi. Namun, Zidan tak langsung melaporkan pada pihak berwajib tentang gedung hitam. Dia masih curiga kalau salah satu dari pihak kepolisian merupakan orang dari gedung hitam pula.


"Zidan kenapa sih kita tidak langsung lapor saja." kesal Paul.


"Sabar Paul kita tidak boleh gegabah, aku merasa ada orang dari gedung hitam dari anggota polisi."


"Baiklah aku ikut saja terserah Zidan saja."


Tig!


Disaat Zidan dan Paul sedang mengawasi kantor polisi, saat itu pula sistem muncul membawa sebuah misi kembali untuk Zidan.


(Selamat Zidan mendapatkan reward penghargaan sebesar 10.000.000)


"Masya Allah." ucap Zidan tanpa sadar saking kagetnya dia mendapat pemberitahuan dari sistem.


"Ada apa?"


"Tidak ada apa-apa Paul." Zidan meruntuti kebodohannya sendiri.


"Ini ceritanya apa sistem? Kenapa sistem memberikan notifikasi kalau aku mendapatkan hadiah sebanyak itu, padahal aku belum kembali melakukan misi."


Melihat nominal yang tertulis Zidan sampai melongo sendiri, air liurnya hampir menetes, bahagia sudah jelas Zidan sangat bahagia.


Tig!


Notifikasi dari sistem rich kembali muncul untuk Zidan kembali menjalankan misi dan menjelaskan tentang hadiah reward sebesar 10.000.000 itu.


(Misi anda kembali aktif Zidan, buatlah usaha gedung indah bangkrut dan buat orang-orang yang ada di dalamnya mendapatkan balasan setimpal dari apa yang telah mereka lakukan. Zidan akan menjadi seorang milyader setelahnya. Tapi harus ingat satuhal Zidan sebelum melakukan misi ini, Jika Zidan gagal maka semua miliki Zidan harus dipertaruhkan.)


"Jika aku menolak misi ini bagaimana?"


(Seperti biasa Zidan, jika misi berat sudah aktif makan Zidan harus menyelesaikannya. Kalau Zidan mundur sudah dipastikan Zidan telah kalah dan harus menerima hukumannya.)


"Sudah aku duga."


(Untuk uang 10.000.000 yang masuk kerekening Zidan secara cuma-cuma itu hadiah dari sistem, karena sebelum misi dimuali Zidan sudah berinisiatif untuk membongkar kejahatan gedung hitam. Baiklah Zidan selamat bertugas.)


"Dasar sistem!" decak Zidan.


Lalu Zidan kembali memantau kantor polisi, rasanya Zidan seperti pernah melihat sosok Aska yang ada direkaman video Bagus di kantor polisi saat Zidan mendapatkan penghargaan dari polda.


"Apa aku masuk saja." pikir Zidan.


Tanpa mengatakan apapun pada Paul Zidan melangkah pergi masuk ke dalam kantor polisi. Sampai disana ternyata Zidan masih disambut ramah oleh para polisi yang bertugas. Jasa Zidan sama sekali tidak mereka lupakan.


"Zidan sudah lama tak bertemu, pasti ada keperluan sampai membawa anda kesini." ucap komandan polisi yang dulu menemui Zidan.


"Benar pak Apri, saya kesini ingin menanyakan satu hal. Apakah para polisi disini ada yang memiliki nama pak Aska?"


"Benar sekali Zidan, dia adalah jendral polisi disini."


Paul langsung melotot tak percaya mendengar perkataan komandan polisi di hadapannya ini. Bisa-bisanya Aska menajdi seorang jenderal.


'Aku rasa Jenderal Aska itu sudah membuat para polisi lain terkena hipnotis.'


"Apakah saya bisa bertemu beliau pak Apri?"


"Bisa saja, jika Zidan ada keperluan atau mau menunggu disini bisanya pak Aska akan datang setelah dzuhur."


"Boleh, saya dan teman saya akan menunggu beliau." putus Zidan akhirnya.


Suasana di dalam gedung hitam terlihat begitu ricuh, setelah tangan kana dari pemilik gedung hitam tau kalau 1000 lebih tawan mereka sudah menghilang tanpa jejak. Sementara para penjaga ada yang terluka para dan ada juga yang sudah tiada.


Alex mentapa tajam sekitar, dia merasa begitu tercengang sekali melihat sudah tidak ada orang di dalam sel tahan milik mereka.


"Argh! Bagaimana jika bos tau, aku harus bagaimana sekarang!" kesal Alex.


"Cepat kalian geledah tempat ini, kalau bisa temukan 1000 orang itu."


Para anak buah Alex menelan salavia mereka kasar mendengar perkataan Alex. Bagaimana cara mereka mengumpulkan 1000 orang lebih dalam waktu sekejap sedangkan saat mereka mengumpulkan orang-orang sebelumnya butuh waktu bertahun-tahun.


Tanpa disadari oleh Alex Bagus, Rizal dan Panji ada diantara mereka. Ketiga orang itu tertawa puas di dalam hati mereka melihat perlahan-lahan gedung hitam akan hancur sebentar lagi.


"Kenapa aku tak melihat keberadan Panji yang bertugas untuk menjaga tempat ini, apakah dia yang sudah menjadi pengkhianat.


Deg!


Ketiga orang yang sedang bersembunyi itu menatap satu sama lain, tak menyangka Alex akan mencari keberadaan Panji.


"Bagaimana ini?" saat ini Panji butuh masukkan dan pertolongan dari Bagus dan Rizal.


Bagus memutar otaknya agar Alex tidak curiga kalau sebenarnya Panji sudah berhasil kabur bersama para tahanan.


"Begini saja, pura-pura babakbelur seperti yang lainnya. Lalu berusaha untuk tidak bernafas dalam beberapa detik." usul Bagus.


"Caranya?" tanya Rizal dan Panji.


"Gampang." jawab Bagus enteng.


Dia memukul Panji tanpa ampun, sampai benar-benar babakbelu seperti orang yang sudah tak terlihat lagi wajahnya. Anehnya Bagus melakukan hal itu tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Panji begitu tercengang dengan keahlian Bagus yang terlihat amat sempurna di matanya.


"Sudah sekarang beraktinglah."


Bagus dan Rizal meletakkan Panji di tempat dia kerja sebelumnya di dalam gedung hitam agar bisa mengecoh Alex.


"Berjuanglah Panji."


Setelah memastikan Panji dalam posisi yang pas barulah Rizal dan Bagus segera bersembunyi.


Masih di kota yang sama, saat ini Herman dan Aceng tengah mengimbau para warga agar tidak keluar rumah dalam beberapa waktu ini. Herman mengatakan akan ada polusi yang begitu banyak akan mempengaruhi orang-orang yang menghirup polusi tersebut dan sumbernya dari gedung indah.


Saat Herman dan Aceng mengimbau para warga agar tak keluar rumah untuk sementara waktu, tepat saat itu pula asap hipnotis keluar begitu banyak dari gedung indah. Anehnya asapnya berwarna hitam pekat. Mungkin asap itu asap hipnotis yang gagal.


Para warga yang melihat kejadian itu akhirnya percaya dengan perkataan Herman dan Aceng. Mereka bahkan mengucapkan terima kasih pada kedua orang itu, karena telah memperingati para warga.


"Tidak begitu sulit rupanya." ucap Herman setelah berhasil menyebar luaskan hoax yang sudah dia dan Aceng buat.


"Benar bos, tidak ada hambatan sama sekali."


"Tugas kita sudah selesai, tapi kita harus terus mengawasi para warga agar tidak keluar rumah sembarangan dalam waktu beberapa hari ini sampai misi kita tuntas."


"Gampang itu mah bos."


Setelah itu Herman dan Aceng menunggu kedatangan teman-teman mereka yang lain. Penasaran apa yang dilakukan Zidan serta lainnya karena lama sekali menurut Herman dan Aceng.


"Mereka belum kembali rupanya. Ternyata lama juga." ucap Aceng.


"Kita tunggu saja pasti sebentar lagi mereka akan segara datang."