Super Rich System

Super Rich System
Zigo



Bismillah.


"Alhamdulliah, kenyang juga. Makasih ya Za udah diteraktir. Kapan-kapan aku yang gantain teraktir kamu deh." Ucap Zidan sambil mengelus perutnya yang terasa kenyang.


"Siap." Sahut Kanza.


10 menit berlalu keduanya habiskan dengan mengobrol, sampai tak terasa istirahat pasa siswa dan siswi akan segera tiba.


"Za aku balik ke usk dulu ya, takut ada yang kesana malah nggak ada orang pula nanti. Hari pertama keja harus memberikan kesan baik." Ucap Zidan sambil terkekeh.


Kanza juga akhirnya itu terkekeh, "Aku juga mau ke kantor nih." Ujar Kanza.


Keduanya pergi meninggalkan kantin, tentu saja sebelum pergi Kanza sudah membayar makan mereka. Kanza dan Zidan berpisah dipersimpangan jalan. Karena arah kantor dan uks berbeda.


Zidan menikmati kesendiriannya, sambil bersandung riang. Kalau seperti ini Zidan jadi merindukan misi yang selalu diberikan oleh sistem.


"Lebih baik aku mengecek sistem diaplikasi." Zidan ingat apa yang sistem informasikan saat itu, ingatan itu terlintas begitu saja di kepal Zidan.


Segera dia merogoh saku celananya untuk mengambil hp milkinya. Zidan langsung mengotak atik hp tersebut, sambil langkahnya terus berjalan menuju uks.


"Sistem bagaimana caranya agar bisa menghubungkan sistem di hp?" tanya Zidan bingung.


Dia harus bertanya, kalau tidak nanti salah pula. Ingat kata pepatah malu bertanya sesat di jalan.


(Zidan tekan tombol share pada layar transparan yang kini sudah ada di depan Zidan.)


"Astagfirullah." Kaget Zidan, saking kagetnya Zidan sampai mengelus-elus dadanya.


Layar transparan berwarna hijau itu entah sudah dari kapan berada di hadapan Zidan, Sebelum mengikuti instruksi dari sistem Zidan mengamati lebih dulu layar transparan yang ada di hadapannya saat ini.


"Kapan layar transpara ini ada di depanku? Bukankah tadi tidak ada." Heran Zidan.


( Sistem yang membuatnya, sekarang lakukan saja apa yang sistem informasikan tadi Zidan tidak usah banyak tanya.)


"Baiklah sistem, tolong jangan esmosi seperti itu." Canda Zidan, saat ini Zidan tengah melakukan arah yang diarahkan oleh sistem barusan.


"Bagimana sudah atau belum?" tanya Zidan penasaran, dia ingin segera melihat hasilnya.


Ting!


(Pemindahan sistem sedang dalam proses. Mohon untuk Zidan menunggu sebentar.)


"Aku akan menunggu." Jawab Zidan pendek saja.


Saking asyiknya bersama sistem, Zidan baru sadar kalau dia saat ini sudah sampai di depan UKS.


"Ada apa ini?" tanya Zidan pada ketiga siswa yang berdiri di depan pintu uks.


"Ini dok teman saya perutnya sakit banget." Jawab salah satu siswa itu.


"Sudah cepat bawa masuk teman kalian biar saya periksa dulu." Suruh Zidan, sambil dia juga menolong ketiga siswa tersebut.


Anak laki-laki yang pertunya sakit tadi sudah dibaringkan diatas brankar uks di sekolah SMP 30 dengan segera Zidan memeriksa keadaan anak itu. Takut ada hal yang serius.


"Tadi kamu habis makan apa?" tanya Zidan hati-hati.


Setelah memeriksa keadan Zigo, Zidan yakin ada sesuatu yang salah. Yang dimakan oleh Zigo. Ya, sebelumnya Zidan sudah menanyakan nama terlebih dahulu.


"Saya habis beli es, diluar sekolah ada yang jual dok." Jawab Zigo tanpa ada yang ditutup-tutupi dari Zidan.


Mereka berdua saling melirik satu sama lain, sebelum mengiakan perintah dari Zidan, mereka juga mantap Zigo sejenak sebelum pergi.


"Heh! Kalian berdua tunggu apa lagi cepat lakukan apa yang saya suruh! sebelum akan ada korban lagi setelah ini." Zidan sedikit membentak kedua siswa tersebut.


Sontak langsung saja mereka berdua menuruti perintah Zidan, mereka tidak mau kena marah lagi pastinya.


"Baik dok."


Buru-buru mereka berdua keluar dari uks, tanpa basa-basi lagi mereka langsung menghampiri tempat penjual tadi. Sebenarnya mereka juga mau membeli es yang sempat Zigo minum. Hanya saja tidak jadi karena mereka harus membantu membawa Zigo ke uks terlebih dahulu.


"Untung belum beli esnya." Komentar kedua siswa itu secara bersama.


"Setuju, tapi dokter Zidan sedikit galak nggak sih." Komentar salah satu dari mereka berdua lagi.


"Udah nggak usah ngomongin orang, mending sekarang kita samperin aja tukang jual esnya."


Setelah kepergian kedua bocah tadi, Zidan kembali membantu menghilangkan rasa sakif yang Zigo rasakan diperutnya.


"Gimana udah mendingan belum?" tanya Zidan memastikan.


Zigo tak langsung menjawab dia merasakan perutnya dulu yang tadi begitu sakit kini berangsur-angsur membaik.


"Lumayan dok, dokter Zidan hebat juga ya."


"Kalau nggak bisa nyembuhin orang sakit mana mungkin saja jadi dokter kesini." Sahut Zidan sambil membereskan semua alat yang tadi sempat dia pakain untuk memeriksa keadaan Zigo.


"Heheh dokter bener juga." Jawab Zigo, dia terus memperhatikan Zidan yang sedang membereskan semua alat-alat tadi.


Perasan Zidan hanya memeriksa dirinya, tapi kenapa jadi agak sibuk begitu. Apakah banyak barang yang Zidan pakai.


"Dok, kenapa dibersihin semua sih?" tidak tahu kenapa si Zigo jadi kepo. Padahal dia termasuk siswa yang tidak banyak bertanya.


"Biar steril dan terjaga agar bisa dipakai lagi maka dari itu harus dibersihkan."


Zigoa mengangguk paham. Sakit perut Zigo juga sudah sembuh, tapi dia masih malas untuk kembali ke kelasnya.


Zigo masih ingin berlama-lama berada di uks hanya untuk sekadar beristirahat sejenak saja. Zidan telah selesai membersihkan semua alat tadi, kini dia beralih menatap Zigo yang tak kunjung bangun dari brankar uks.


"Sudah sembuh bukan?"


"Heheh, iya dok. Tapi boleh saya istirahat sebentar lagi." Cicit Zigo.


"Baiklah, kamu tunggu disini. Saya juga mau mengurus tukang jual es tadi, ingat lain kalian jangan jajan sembarang." Pesan Zidan sambil berlalu pergi dari hadapan Zigo.


Tak lupa Zidan menutup pelan pintu uks agar tidak menimbulkan suara bising. Zigo hanya menatap ke pergian Zidan sambil cengo saja.


"Cek! Dokter kayak mak gue aja." Gerut Zigo lalu dia memposisikan dirinya untuk tidur.


Ada untungnya juga dia sakit, bisa tidur di uks dan tidak ikut mata pelajaran guru kiler mereka. Padahal apa untungnya coba kalau tidak ikut kelas yang ada rugi bukan malahnya.


Anak sekolah zaman sekarang, tapi senang banget kalau nggak ada guru. Suka bolos juga mereka, tidak tahu apa yang sedang mereka pikiran.


Sudah mah tidak pintar-pintar amat ditambah sering bolos, gurunya juga jarang masuk ya sudah lengkaplah semuanya. Jadi anak sekolah semakin suka tidak belajar. Mungkin sekolah hanya formalitas mereka saja.


Kembali pada Zidan, dia sudah mengurus tukang jual es tadi. Ternyata dia tidak tahu kalau barang yang digunakan untuk membuat es ada yang sudah kadaluwarsa.