
Bismillah.
"Hahahahahahaha." tawa Zidan dan Hana pecah juga akhirnya.
Hana dan Zidan tak bisa lagi menahan tawa mereka melihat tubuh Rian penuh dengan lumpur. Saking banyaknya lumpur di tubuh Rian yang terlihat hanya tinggal giginya saja. Baju Rian saja sudah tak berwarna.
Pak Hajir menatap ketiga anaknya sambil mengembangkan sebuah senyum, membuat semua anak-anaknya bahagia sederhana saja. Buktinya melihat Rian penuh lumpur membuat ketiga anak pak Hajir bisa tertawa bahagia, Rian juga tak marah.
"Abis berenang di sawah kamu dek?"
"Ya enggak lah bang." kesal Rian.
"Terus kenapa tuh badan udah kayak bebek, huft!" ucap Hana sambil kembali menahan tawanya.
"Nggak usah ditahan mbak ketawanya, ketawa aja sampai puas. Bukannya bantuin adeknya menderita malah ditertawakan, dasar abang dan mbak yang jahat."
"Lah marah."
"Astagfirullah, siapa yang marah bang? Peka sedikit napa, isi air buat Rian mandi, mbak Hana ambillin anduk kek, apa susahnya sih."
Zidan dan Hana terseyum melihat adik mereka sudah mulai kesal. Pak Hajir akhirnya melerai ketiga anaknya. Beliau tahu mereka sedang becanda.
"Sudah ayo masuk, Hana ambilkan adikmu handuk dan Zidan isi air untuk Rian membersihkan diri." suruh pak Hajir pada kedua anaknya.
"Baik bapak." jawab Zidan dan Hana kompak.
(Untuk bisa merasakan bahagia memang sederhana itu ternyata. Tersenyumlah setiap orang berhak tersenyum.) sistem ternyata ikut bahagia melihat Zidan dan keluarganya bahagia. Mudah bagi sistem untuk mengakses tentang keluarga Zidan.
Keluarga sesederhana yang ketulusan mereka miliki terpancar jelas. (Masya Allah)
Zidan dan Hana segera melakasakan apa yang diperintah oleh pak Hajir, sementara Rian menyusul abangnya ke sumur. Rian sudah tak betah lagi. Bauh lumpur terus masuk ke dalam indra penciumannya. Hampir saja dia tidak memakan lumpur yang menempel di wajahnya.
"Kamu kejebur dimana sih dek?" tanya Zidan masih penasaran.
Rian dan Zidan kini sudah berada di sumur. sambil bertanya pada Rian, Zidan tetap mengambil air untuk mandi adiknya.
"Kejebur di sawah belakang bang pas mancing, tadinya belum mau pulang, eh, malah kejebur sawah."
"Terus kata bapak ' udah ayo kita pulang saja, sudah sore juga, tubuh Rian sudah penuh lumpur pula' begitu kata bapak bang." ucap Rian sambil menirkuan gaya bicara bapaknya tadi.
"Hahahaha." Zidan kembali tertawa. "Kamu ada-ada saja dek, bisa-bisanya kejebur di sawah. Sudah mandi habis itu kita makan."
"Siap bang."
Rian segera membersihkan diri yang penuh dengan lumpur sawah, saat air bersih menyapa tubuh Rian, dia baru meraksan badanya lebih segar dari sebelumnya. Tentu saja begitu. Mandi air bersih lebih segar dari pada mandi lumpur bukan.
Selesai Rian membersihkan diri, kedua kakaknya dan bapak Hajir sudah menunggu kehadiran Rian. Sore ini mereka akan menikmati makana lezat.
Dengan lauk pauk yang sehat, semua makan itu terlihat begitu menggiurkan dimulut mereka semua. Hidangan begitu menggoda sudah siap disantap.
"Alhamdulillah Rian bisa makan enak." ucap bocah sd tersebut, kala melihat makan yang tersaji di hadapannya.
Zidan tersenyum melihat adiknya senang. "Sudah ayo makan, jangan sia-siakan makanan enak." ajak Zidan.
Empat orang dalam satu keluarga kini menikmati makan yang baru mereka temui, seumur hidup ini. Hana tak pernah menyangka dia dan keluarga bisa menikmati makana enak.
"Abang makana ini enak sekali." ucap Hana.
"Bapak juga senang bisa makan-makan ini, apa nama makanannya?"
"Stack pak, ada rendang juga, chiken, masih banyak namanya, tapi Zidan juga lupa."
Rasanya keluarga pak Hajir yang terdiri dari empat orang, begitu bersyukur bisa menikmati makan enak, tak henti-hentinya mereka mengucap syukur pada Sang pemberian nikmat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi hari kembali menyapa bumi, tempat Zidan dan keluarga tinggal. Pagi-pagi sekali abang dari dua adik itu sudah memasak untuk sarapan pagi mereka.
Alhamdulillah, kemarin pak Hajir dan Rian mendapatkan hasil pancingan yang lumanya banyak, bisa untuk lauk mereka di pagi sampai sore hari nanti.
Selesai menyabal ikan Zidan segera meberishkan diri, hari ini dia akan ikut ke sekolah Hana memenuhi undangan yang diberikan oleh pak kepala sekolah SMA 30.
Zidan tak berharap lebih, hanya saja pak Heru sebagai kepala sekolah di SMP 30 pernah menjanjikan pekerjaan pada Zidan. Mungkin saja karena hal itu pak Heru mengundang Zidan.
Baru setelah dari sekolah adiknya Zidan akan kembali menemui Herman beserta yang lainnya untuk melanjutkan kasus gedung hitam yang terkenal dengan nama gedung indah di kota D.
"Rapi banget bang, mau kemana?" Rian baru selesai mengenakan seragamnya.
"Mau ke sekolah mbak Hana."
"Ngapain?"
"Ciee, kepo ya si Rian."
"Serah dah bang." sahut Rian malas.
Bocah sd itu memang cepat sekali kesalnya. "Jangan ngambek." bujuk Zidan, Rian tak peduli.
15 menit berlalu mereka sudah sarapan menggunakan sambal ikan yang sepat Zidan buat sebelumnya.
"Pak Zidan pergi ke sekolah Hana dulu ya, ada perlu. Zidan diundang sama pak Heru."
"Loh, memangnya ada apa Zidan? Apa pak Heru menyuruh kamu untuk segera melunasi spp sekolah Hana?" kaget pak Hajir.
Jelas beliau tahu, jika uang spp putirnya sudah lama menunggak. Tapi pak Hajir belum tahu kalau Zidan sudah melunasi semua uang spp Hana yang sudah bertahun-tahun nunggak.
"Bukan pak, beberapa waktu lalu pak Heru menawarkan pekerjaan sama Zidan. Mungkin beliau akan membasah hal itu." terang Zidan.
Dia tidak mau bapaknya salah sangka, berujung memikirkan yang seharusnya tidak pak Hajir pikirkan.
"Alhamdulillah, bapak kira kenapa kamu dipanggil kepala sekolah Hana."
Mendengar penjelasan Zidan, pak Hajir merasa sedikit lega, tidak ada perasaan was-was lagi dalam hatinya.
"Kami berangkat pak, Assalamualaikum." pamit Zidan dan kedua adiknya.
"Waalikumsalam." jawab pak Hajir sambil mengiring ketiga anaknya sampai depan pintu rumah.
Jelas Zidan, Hana dan Rian berjalan kaki agar bisa sampai di sekolah kedua adik Zidan masing-masing. Kendaraan? tentu Zidan tidak punya. Sudah ada rumah saja Allhamadulilah.
(Tidak akan ada yang tahu, kalau sebentar lagi Zidan, Insya Allah akan menjadi seorang miliarder, waktunya sudah dekat dan hampir tiba.)
Sistem selama ini bukan hanya memberi Zidan misi dan membantu Zidan. Tapi sistem juga selalu mengawasi dan menjaga keluarga Zidan. Hal tersebut memang sudah menjadi tugas sistem untuk melindungi tuannya.
"Belajar yang benar." pesan Zidan pada Rian.
Mereka sudah sampai di depan sekolah Rian, sementara sekolah Hana ada disebelahnya, dengan jarak yang tak terlalu jauh.
"Siap bang, Insya Allah Rian akan belajar dengan benar, suatu saat nanti Rian akan membahagiakan, bapak, abang dan mbak."
"Aamiin." jawab Zidan dan Hana bersama.