
Bismillah.
"Bapak, abang kita berangkat." ucap Rian dan Hana sambil menghampiri Zidan dan bapak Hajir.
Kedunya menyalami pak Hajir dan Zidan secara bergantian, "Kita berangkat Assalamualaikum." salam Rian dan Hana.
"Waalaikumsalam."
Di luar gubuk itu Herman dan keempat kawannya masih setia berdiri di depan gubuk Zidan, entah apa yang orang-orang itu lakukan.
Hana dan Rian yang takut akan penampilan Herman dan yang lainnya, karena seperti preman, pegi begitu saja tanpa pamit.
Bahkan keduanya saling dorong satu sama lain, karena tidak memiliki keberanian yang cukup.
"Mbak Hana duluan!" kesal Rian.
Sedari tadi Hana terus saja mendorong tubuh adiknya agar maju lebih dulu, "Kamu aja Rian, mbak takut." cicit Hana.
"Huft!" terpaksa sekali Rian melangkah lebih dulu.
Dia pura-pura saja tidak melihat Herman dan yang lainnya, padahal saat Hana dan Rian lewat, kelima orang itu menuduk hormat pada dua bocah tersebut.
Setelah kepergian kedua adiknya Zidan pamit untuk kembali mencari kerja, karena tidak mungkin dia mengandalkan pekerjaan yang ditawarkan pak Yuda, kepala sekolah Hana.
Sementara Zidan hari ini juga sudah sangat membutuhkan kerja, besok dia harus melunasi sisi hutangnya pada pak Maman, jika tidak segera dilunaskan, hutang itu bisa kembali menumpuk, seperti tumpukan abu yang terbuang dari pabrik.
Dibayar bukannya berkurang, malah menajdi semakin banyak saja, sebenarnya Zidan tak habis pikir tapi sudah lah ya, mau bagaimana lagi.
Zidan melangkah keluar rumahnya, "Astagfirullah." kaget Zidan.
"Huft! Kenapa kalian masih disini? kenapa tidak pulang ke rumah kalian saja? Maaf saya tidak bisa menampung orang, hidup keluarga saya saja sudah susah, tapi kalau kalian berlima mau hidup susah sama saya juga nggak papa." ucap Zidan panjang sekali.
Kelima orang itu sontak menggeleng kompak, "Kalau kalian tidak mau kenapa masih disini?" bingung Zidan.
Zidan sepertinya sudah melupakan Herman dan yang lainnya, setelah mendapatkan kejutan tak terduga dari sistem. Manusia memang ya, kalau sudah dapat uang banyak lupa segalanya. Tak apa lupa segalanya asal jangan lupakan Sang Pencipta saja.
"Kami mau pulang tapi harus izin dulu sama bos Zidan." ucap Herman mewakili teman-temannya.
Keempat yang lainnya menangguk membenarkan perkataan Herman.
'Mereka ini kembar 5 atau bagaimana, sedari tadi kompak sekali.' Zidan sampai mengaruk tengkuknya yang terasa gatal.
"Bos? Siapa yang kalian bilang bos?"
Nah kan, Zidan kembali bingung, kenapa pula dia bisa dipanggil bos Zidan oleh 5 orang yang sama sekali tidak dia kenal ini.
"Begini saja sebutkan nama kalian satu persatu dan juga jangan panggil aku bos, panggil saja aku Zidan, kalau bapak dengar kalian manggil aku bos, bisa diceramahi dari pagi sampek malem sampek pagi lagi."
Kini kelima orang itu yang dibuat bingung oleh Zidan, dari pada mereka bingung, Akhirnya mereka menyebutkan nama satu persatu.
"Saya Herman, bos dari keempat orang ini, sebenarnya kami pembunuh bayaran dari Kilat." ucap Herman tanpa ada keraguan sama sekali..
Gleg!
Zidan menelan ludahnya kasar, matanya sampai melotot sempurna, bagaimana bisa dia berhadapan dengan 5 orang pembunuh bayaran.
Tapi jika diingat-ingat lagi, kan semalam mereka kalah bertarung pada dirinya.
Herman menyenggol tangan Aceng yang berdiri disebelahnya, tanda menyuruh Aceng untuk bersaura.
"Saya Aceng, salah satu anggota inti dari pembunuh bayaran."
"Saya Paul anggota inti juga." sahut Paul cepat sekali.
Dia saja sampai memberikan senyum manis pada Zidan, keempat temannya sampai menggelengkan kepala, Zidan saja sampai menatap aneh Paul.
"Sebentar sepertinya semalam aku tidak terlalu melihat dirimu, apa kamu yang terkena kayu balok langsung pingsan?"
Paul mengangguk polos, "Astagfiurllah, kalau pemubuh bayaran macam kamu bukannya ngebunuh orang malah diajak main catur sama yang mau dibunuh."
Mendengar ucapan Zidan, Herman dan yang lainnya menahan tawa mereka, Paul memang seperti itu.
Jika memiliki misi, bersama dengan Paul, mereka semua lebih baik melihat Paul pingsan lebih dulu, dari pada mengacaukan rencana yang sudah ada.
Seperti semalam, seharusnya mereka semua mengecek situasi lebih dulu, tapi si Paul, malah main langsung melancarkan aksinya.
"Saya Bagus Zidan,"
"Bagus sekali." sambung Zidan.
Duk!
Tiba-tiba ada yang memukul kepala Zidan, "Apa sih sistem main pukul-pukul aja!" dengus Zidan.
Tentu Zidan tau siapa yang sudah memukul dirinya, tanpa ada wujudnya yang terlihat.
(Jangan tunjukkan kegilaanmu Zidan, pada orang lain, yang ada mereka akan mengira kamu benar-benar gila).
"Iya, iya."
(Dan satu lagi, sudahi lah obrolan tidak berpadehamu itu pada mereka semua, cepat selesaikan perkenalan yang sangat membosakan itu!)
"Iya, iya, aneh sistem tapi kok cerewet!"
(Bodoh amat! Sorry bukan urusan Zidan, paham!)
"Fahimna." jawab Zidan.
Zidan kembali ke dunia nyatanya, cekcek, kayak tadi bisa dari dunia mana aja, bukankah Zidan berada di dalam dunia halu, salah satu MC dinovel seorang author amatir yang tidak tahu apa-apa dan tidak memiliki ilmu.
"Aku nyata ya! Jangan salah."
(Zidan fokuslah, jangan hiraukan authormu itu! Kalau tidak urusanmu dengan 5 orang ini tidak akan selesai sampai besok, karena autornya aneh.)
"Serah sistem saja!"
"Jadi siapa nama kamu?" tanya Zidan pada Rizal, padahal sedari tadi Rizal sudah menyebutkan namanya.
"Saya Rizal, Zidan." ucap Rizal menekan katanya.
"Hmmm."
"Yasudah kalian boleh pergi."
"Astagfirullah hal-adzim." ucap Paul tiba-tiba saja dia beristighfar, entah apa yang membuat Paul beristighfar seperti barusan.
"Ada apa?"
"Bisakah Zidan memberi kami makan?" Paul ternyata sedari tadia menahan lapar, begitu juga yang lainnya.
"Heheh, maaf sudah melalaikan kalian, kalian mau makan ambil saja di dapur, hanya ada singkong bakar."
"Tadi aku bapak dan kedua adikku sarapan menggunakan singkong bakar." terang Zidan.
Mendengar perkataan Zidan mereka semua jadi tersentuh, ternyata di dunia ini masih ada orang yang sangat miskin seperti keluarga Zidan.
"Baiklah terima kasih." pasrah mereka berlima, dari pada tidak makan, pikir mereka.
Di sekolah Hana.
"Hana." panggil guru Kanza.
Hana langsung menghentikan langkahnya dan menatap ke arah ibu guru Kanza yang menghampiri dirinya, Hana tersenyum pada ibu Kanza.
"Assalamuaikum ibu Kanza." sapa Hana.
"Waalaikumsalam Hana."
"Hana ibu mau tanya sama kamu, bisa nanti pulang sekolah ibu ikut kamu ke rumah? Ada yang ingin ibu sampaikan pada abangmu."
Walaupun bingung Hana tetap mengiakan ucapan ibu Kanza, sampai obrolan kedunya terhenti, karena suara cempreng seorang yang memanggil Hana.
"Hanaaaa........! Terika orang itu sambil mendekati Hana dan ibu Kanza.
"Apa sih Melia berisik tau, teriak terus kerajaannya."
"Biarin, week!" Ibu Kanza terkekeh melihat Melia dan Hana.